Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaman Sesaat
Setelah kejadian tadi, hingga pulang sekolah, Azula dan teman temannya tidak membullynya lagi. Wanda merasa lega. Teman temannya yang lain mulai menatap sungkan padanya. Tidak ada lagi tatapan mengejek atau meremehkannya,.
Ternyata bersama Keyra, Dira dan Vira tadi membuat keadaannya jadi lebih aman. Untung saja ketiganya memaksanya berjalan bersama dengan mereka tadi.
Tapi kenyamanan sesaat ini akan hilang besok, karena Aditama akan masuk sekolah lagi. Hukuman skorsingnya berakhir.
Kian juga akan sekolah lagi. Secercah kebahagiaan mengisi jiwanya.
Setelah kehilangan perhatian dan kasih sayang dari mamanya, kepedulian Kian dan juga kini ditambah Keyra, Dira dan Vira sedikit menyingkirkan kesedihannya.
"Seragam baru?"
Wanda terdiam mendengar teguran dingin neneknya. Wanita tua yang katanya ada ikatan darah tapi tidak pernah menyukainya.
Wanda lupa mengganti seragam pemberian Dira dengan seragam kotornya tadi. Pasti mata tua neneknya dengan mudah membedakannya.
"Dibelikan teman. Seragamku kotor." Wanda menunjukkan goodie bag yang dia bawa.
"Teman?" Nenek Sunarmi menatapnya heran dan meremehkan.
"Ya." Wanda berjalan melewati neneknya.
"Laki laki, ya?" tuduh Nenek Sunarmi, menjejeri langkah Wanda.
"Sudah nenek bilang, jangan ganjen ganjen dengan teman sekolah lawan jenismu. Kamu ha---"
"Perempuan." Wanda sudah berada di depan pintu kamarnya, saat memotong ucapan neneknya yang menyakitkan hatinya.
Kapan dia ganjen? Protesnya dengan perasaan sesak.
Tidak terdengar lagi suara neneknya. Wanda langsung masuk ke dalam kamarnya, dan cepat cepat menutup pintu.
Tanpa setau Wanda, Nenek Sunarmi menatap sedih pintu unit yang sudah tertutup itu.
Maafkan nenek, batinnya pilu. Beliau hanya tidak ingin kemalangan mendiang anaknya jadi menurun ke Wanda.
Nenek Sunarmi menyusut air mata yang siap mengalir di sudut sudut matanya.
Teringat permintaan mendiang putrinya.
"Tolong jaga Wanda, ya, bu."
Dia merasa tak berguna karena tidak bisa memenuhi permintaan anaknya. Nenek Sunarmi tidak berani menentang kemarahan nyonyanya. Dia terpaksa menerima saja Wanda dijadikan pelayan tuan mudanya.
*
*
*
Kian mengamati rekaman kamera cctv yang barusan dikirimkan petugas keamanan yang diminta tolong olehnya. Dia menghela nafas panjang ketika melihat kejadian buruk yang menimpa Wanda.
Dia bersyukur melihat Keyra, Dira dan Vira sudah beberapa kali menolong Wanda.
"Kekasihmu dibully?" Denish sudah berada di dekat Kian. Dia baru saja habis keluar dari kolam renang. Niatnya mau mengambil handuk jadi tertahan karena melihat layar ponsel yang sedang ditatap Kian.
"Azula, Raya, Dona , Richi." Emil menyebutkan keempat nama teman perempuan mereka. Dia juga sudah berada di dekat Kian, mengamati video pembullyan terhadap Wanda. Dalam hatinya terbit perasaan kesal.
"Kekasihmu selalu mengkhawatirkan, ya, sampai harus selalu dipantau," ejek Denish yang kini sudah bergerak mengambil handuknya.
"Kita benra benar jadi tumbalnya Kian," gerutu Alen yang juga sudah keluar dari dalam kolam renang. Dia masih ngga terima dengan hukuman yang akan dijalaninya besok.
Azka dan Naresh yang masih berada di dalam kolam renang tertawa pelan.
"Sudah telanjur, bagaimana lagi." Reyhan mengedikkan bahunya. Dia sudah duduk di kursinya. Mengelap rambutnya dengan handuk kecil.
"Cewe cewe itu kenapa kasar dan bringasan." Emil masih menatap kesal aksi tak pantas keempat temannya.
Kian juga ngga mengerti alasan keempat cewe itu menjahati Wanda.
"Cewe mana?" Gio bertanya dengan tatapan ingin tau. Dia masih berenang bersama kembarannya.
"Cewe cewe pembully," sahut Alen.
BYUR!
Alen menceburkan.dirinya lagi ke dalam kolam. Rasanya belum.pu@s dia berenang. Ditambah memikirkan hukuman yang akan mereka jalani besok. Alen ingin menikmati hari ini selama yang dia bisa.
"Sementara udah aman. Ada Keyra, Dira dan Vira yang menjaga Wanda," cibir Denish.
"Kamu sudah minta bantuan mereka, ya?" Dylan menatap Kian penuh selidik.
"Ngga perlu dijawab, Sudah sangat jelas," pungkas Denish kemudian tergelak.
*
*
*
Malik yang sedang bersama Dewa, tersenyum setelah membaca pesan dari putrinya.
"Keyra sudah dapatkan sample dna Wanda."
"Anak yang pintar. Kamu yang minta Keyra melakukannya, kan?" tawa Dewa pelan.
"Begitulah. Ngga nyangka secepat ini." Senyum Malik masih belum lekang dari bibirnya.
"Genmu sebagian besar menurun pada Keyra ," puji Dewa lagi apa adanya.
Malik hanya mengangguk. Bagian yang terpenting, mereka akan semakin cepat bisa menguji dna Panji dan Wanda.
"Kalo terbukti anaknya Panji, kasian sekali nasib anak perempuan itu," tukas Malik. Tidak diakui papanya dan dibully saudara satu papanya pula.
"Ya." Dewa teringat Kian. Anak itu beneran suka atau kasian, ya? batin Dewa penuh tanya.
*
*
*
"Key, terimakasih sudah membantu Wanda." Malamnya Kian menelpon Keyra.
"Bukan aku saja. Ada Dira dan Vira juga," sahut Keyra datar.
"Sampaikan ucapan terimakasihku pada mereka, ya."
"Sampaikan sendiri aja."
Kian tersenyum ketika Keyra sudah memutuskan telponnya. Nanti dia akan berterimakasih, janjinya dalam hati.