Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di dalam kamar mandi, aku menggosok tubuhku perlahan. Rasa risau tak henti-hentinya menghampiri benakku, apalagi saat memikirkan nasib Jalal di depan sana.
Apakah Bapak akan memarahinya? Atau malah mengusirnya keluar dari rumah ini? batin Yasita terus berkecamuk penuh kekhawatiran.
Cukup lama aku menyelesaikan ritual mandi soreku kali ini. Mulai dari mengeramasi rambut, menyabuni seluruh badan, hingga tak lupa menggosok gigi, semuanya kulakukan dengan saksama sembari menenangkan pikiran.
Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan selembar kain sarung yang melilit tubuh, serta sehelai handuk yang tersampir lebar menutupi sebagian pundakku. Aku berjalan pelan menuju kamar, di mana langkahku otomatis harus melewati area ruang tengah.
Eh, kenapa ramai betul? batinku heran. Pasalnya, telingaku sayup-sayup mendengar suara tawa dan obrolan yang begitu renyah.
Begitu melangkah sedikit lebih dekat, aku seketika terkejut mendapati pemandangan di depan mataku. Jalal, Bapak, dan Mama ternyata sedang duduk melingkar sembari asyik bercerita. Tidak ada ketegangan sama sekali di antara mereka.
Ah, syukurlah tidak ada keributan, ucapku dalam hati, bernapas lega.
Tanpa berniat mengganggu, aku langsung berjalan cepat menuju kamar. Namun, sepanjang langkahku melintas di ruang tengah tadi, aku bisa merasakan sepasang netra Jalal terus mencuri-curi pandang ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aku sendiri tidak tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan seserius itu. Sayup-sayup dari balik pintu kamar, aku hanya bisa mendengar potongan kata seperti 'suling', 'lumayan', dan 'harga naik'. Karena enggan ambil pusing, aku memilih fokus bersiap-siap.
Kuambil selembar daster bertali satu koleksiku. Panjang daster rumahan itu sebetis, berbahan jatuh yang mencetak jelas lekukan tubuhku. Setelah mengenakannya, aku mengambil rangkaian perawatan kulit tubuh alias body care milikku, lalu membalurkannya ke permukaan kulit dengan telaten.
Tak lama berselang, terdengar suara pintu kamar dibuka dari luar. Sosok Jalal melangkah masuk. Aku menatapnya dengan raut wajah santai. Syukurlah penampilannya masih rapi dan tenang, itu artinya dugaanku salah besar; dia sama sekali tidak terkena amukan singa dari Bapak.
"Yas, malam nanti kita pergi ke pasar malam ya? Ajak juga Bapak sama Mama," ucap Jalal pelan. Langkah kakinya mendekat, sementara matanya terus memandang ke arahku tanpa berkedip sedikit pun.
"Pergi ke pasar malam? Terus Mama sama Bapak mau naik apa? Lagian motor adikku cuma ada dua, Pak. Tidak tahu juga barangkali mau mereka pakai, soalnya anak muda di sini suka keluar malam kalau mingguan begini," jawabku pelan sembari menutup botol losion.
"Kita tidak naik motor, Yas... Kita naik mobil saja. Kasihan juga Jayan kalau dibawa naik motor malam-malam, udaranya dingin dan jalannya gelap," kata Jalal ringan dengan nada penuh perhatian.
Pria itu melangkah semakin dekat hingga mengikis jarak di antara kami. Tanpa aba-aba, dia meraih kedua tanganku yang baru saja selesai kuolesi losion pemutih badan. Jalal menunduk, lalu mencium punggung kedua tanganku dengan teramat lembut dan lama.
Sentuhan bibirnya yang hangat, berpadu dengan gesekan halus dari bulu-bulu tipis di sekitar rahang tegasnya, seketika membuat sekujur tubuhku meremang hebat untuk kesekian kalinya hari ini.
•••••••••••••••
Jalal pada kedua tanganku, hingga tanpa sadar pria itu kini sudah ikut mendongak dan menatap wajahku dengan tatapan dalam. Perlahan, dia menarik tengkukku, mengikis jarak di antara kami sebelum akhirnya menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang teramat lembut.
Aku terbuai lalu perlahan membalas lumatan hangat itu. Entah sejak kapan, rasa nyaman ini mulai menghampiriku dan mengikis dinding pertahanan yang kubangun selama tiga tahun ini. Apakah aku mulai menyukainya kembali?
Kedua tanganku perlahan hinggap di bahu tegapnya, sementara lengan kokoh Jalal merengkuh pinggangku dengan semakin erat, menarik tubuh dasterku merapat pada dadanya.
"Eumh..." sebuah lenguhan pelan lolos dari sela bibirku.
Mendengar desahanku, Jalal perlahan melepaskan ciuman kami. Dia menatap wajahku yang kini bernapas sedikit tersengal, lalu menyatukan jidat kami yang terasa hangat. Pria itu terkekeh pelan sebelum akhirnya menarik seluruh tubuhku ke dalam pelukan dadanya yang bidang.
"Habis Maghrib kita berangkat, ya? Tapi saya mau salat dulu. Di rumah ini ada tempat khusus untuk salat?" tanya pria itu lembut sembari mengelus punggungku.
Aku mendongak, menatap dagunya yang kokoh. "Pak, di rumah ini tidak ada musala atau tempat khusus salat. Tapi kalau Bapak mau salat di dalam kamar, biar saya siapkan sajadah dan kain sarung bersih sekarang," ucapku pelan.
Jalal berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan. "Kalau begitu tidak usah repot-repot, Yas. Biar saya pergi ke masjid saja. Tadi waktu mobil kita masuk ke desa ini, saya lihat ada masjid yang tidak terlalu jauh dari sini," ucapnya santai.
Pria bertubuh matang itu kemudian merebahkan dirinya di atas kasur kapukku yang sudah agak tipis namun masih menyisakan sedikit rasa empuk. Dia telentang memandang langit-langit anyaman bambu rumahku, lalu tak lama kemudian menoleh kembali ke arahku. Dengan lambaian tangan yang lembut, dia menyuruhku ikut berbaring di sampingnya, membawaku masuk ke dalam dekapan lengannya yang protektif.
"Dulu... waktu saya masih bersama Laila, jarang sekali saya bisa punya waktu berdua seperti ini," ucap Jalal dengan suara rendah, mengawali cerita masa lalunya. "Kami berdua hanya sama-sama fokus dengan urusan dan ambisi masing-masing. Sampai pada saat Laila hamil Zulaikha, saya sempat berharap bayi itu laki-laki. Tapi ternyata yang lahir perempuan..."
Aku menatap dadanya yang naik turun seiring dengan helaan napas pelan yang diembuskannya. "Terus, Bapak kecewa?" tanyaku penasaran.
Jalal tersenyum tipis, lalu menunduk menatapku. "Saya tidak kecewa karena bayi yang lahir itu perempuan, Yas. Saya hanya kecewa saat saya mengatakan pada Laila untuk mencoba program anak kedua agar bisa mendapatkan bayi laki-laki, dia langsung menolak tegas. Dia menolaknya tanpa mau berdiskusi. Jujur, sifatnya saat itu sangat egois dan kekanak-kanakan."
Jalal menjeda kalimatnya sejenak, mengelus lenganku pelan. "Makanya, waktu dia menyuruh saya untuk menikahimu, saya sempat dilema hebat. Bukan karena saya membencimu... tapi karena saya berpikir, apakah pria berumur 40 tahun seperti saya ini masih pantas bersanding dengan gadis muda sepertimu? Tapi, setelah malam pertama kita terjadi... rasa percaya diri saya langsung tumbuh begitu melihat perawakan saya di cermin. Rupanya saya ini masih kelihatan muda, masih bisalah kalau cuma untuk memanjakanmu lahir batin," ucapnya beralih dengan nada tengil disertai senyuman menggoda.
Wajahku seketika memerah. Aku memukul dadanya pelan karena gemas dengan tingkat kepedeannya. "Tapi kan sekarang Bapak sudah punya anak laki-laki dari saya. Apa masih merasa kurang?" tanyaku, mengingatkan tentang keberadaan Jayan.
"Tidak, Sayang... Saya sudah sangat puas dan bersyukur. Padahal malam itu kita cuma melakukannya sekali, tapi ternyata langsung jadi," bisik Jalal dengan suara rendah yang terdengar seksi.
Jantungku berdegup kencang. Aku tertegun sesaat, merasa ada desiran aneh yang membuncah di dalam dada ketika mendengar kata 'Sayang' keluar begitu alami dari bibirnya.
Tak lama, kami kembali berpelukan erat menikmati keheningan sore yang damai. Namun, ketenangan surga itu tiba-tiba kembali terusik oleh suara berisik dari luar.
GEBRAK! TOK, TOK, TOK!
"Mama! Kenapa dikunci terus pintunya? Aku mau masuk!"