Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 - Sentuhan Max
Jemari dingin Max bergerak perlahan, menelusuri jalur logam ritsleting yang macet di tengah punggung Nami. Setiap gesekan kecilnya terasa seperti sengatan listrik yang membuat bulu kuduk Nami meremang sempurna.
Jarak mereka terlalu dekat. Nami bisa merasakan dada bidang Max sesekali bersentuhan dengan punggung polosnya yang terekspos ketika pria itu mencoba membenarkan posisi kain gaun satin yang tersangkut.
Nami memejamkan mata rapat-rapat, meremas bagian depan gaunnya dengan tangan gemetar. Jantungnya berdentum begitu nyaring di dalam rongga dada, hingga ia takut Max bisa mendengarnya.
Sialan, batin Nami merutuk. Kenapa pria ini bisa setenang ini di saat atmosfer di dalam ruang ganti sudah terasa begitu panas dan menyesakkan?
Srek.
Suara ritsleting yang berhasil diturunkan hingga ke batas pinggang terdengar halus. Nami mengembuskan napas pendek yang sempat tertahan.
Namun, alih-alih menjauh, Max justru bergeming di posisinya selama beberapa detik. Embusan napas hangatnya menerpa kulit tengkuk Nami, menciptakan ketegangan baru yang membuat Nami menahan napas kembali.
Tanpa sepatah kata pun, Max tiba-tiba berbalik membelakangi Nami dan langsung melangkah keluar dari ruang ganti. Pintu kayu bergeser tertutup dengan ketukan pelan.
Nami seketika lemas. Kedua lututnya terasa seperti jeli. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding ruang ganti yang dingin, mencoba meredakan debaran gila di dadanya. Wajahnya dipastikan sudah semerah tomat.
"Brengsek", umpat Nami lirih sambil memegangi dadanya yang masih bergemuruh. "Kau benar-benar tidak punya perasaan, hah?"
Nami menggerutu kesal, buru-buru mengganti gaun mewah itu kembali dengan pakaian kasualnya.
Sifat Max yang dominan, dingin, namun tiba-tiba bisa mengikis jarak fisik seperti tadi benar-benar mengacaukan kewarasan logikanya.
Siang harinya, Nami sudah kembali berada di koridor Lotus Medical Center. Karena izin daruratnya baru berlaku besok menjelang hari pernikahan, ia tetap memiliki kewajiban profesional untuk menyelesaikan laporan medis dan melakukan operan tugas jaga dengan sesama dokter residen.
"Nami, kau serius mengambil izin tiga hari penuh di minggu krusial ini?"
Sebuah suara familier menghentikan langkah Nami di depan meja administrasi. Dokter Brian, sahabat sesama residen kardiologi, berdiri di sana sambil memegang selembar berkas disposisi resmi.
Tatapan matanya tidak hanya menyiratkan rasa penasaran, tapi ada kecemasan mendalam yang tertahan di sana. Brian sudah lama menyimpan rasa pada Nami, merawat perhatian-perhatian kecil di sela-sela jadwal dinas mereka yang melelahkan.
"Iya, Brian. Ada urusan yang sangat mendesak dan tidak bisa kutunda," jawab Nami, mencoba tersenyum sealami mungkin meski ia merasa gugup.
Brian melangkah mendekat, menurunkan volume suaranya seraya menunjukkan tanda tangan di ujung kertas. "Urusan macam apa yang sampai membuat jajaran Direksi VIP Rumah Sakit menandatangani langsung surat izinmu tanpa lewat ketua departemen dulu? Nami, kau tahu kan aku bisa membantumu kalau kau punya masalah?"
Tangan Brian bergerak maju, menyentuh lengan Nami pelan, sebuah gestur protektif yang biasa ia lakukan saat Nami sedang kelelahan setelah operasi panjang. Matanya menatap Nami lekat-lekat, menyalurkan rasa peduli yang lebih dari sekadar teman sejawat. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
Nami panik. Ia menarik lengannya perlahan dari sentuhan Brian, pura-pura merapikan jas putihnya. "Itu... utang budi keluarga pasien lama! Ya, pasien kaya yang dulu pernah kubantu administrasinya. Kebetulan mereka punya koneksi ke direksi. Kau jangan berpikir yang tidak-tidak."
Brian menatap Nami lama, seolah tahu ada benteng rahasia yang baru saja dibangun oleh gadis itu. Ia menghela napas kecewa yang samar. "Baiklah kalau kau tidak mau cerita. Tapi ingat, ponselku aktif dua puluh empat jam jika kau membutuhkan bantuan apa pun. Jaga dirimu, Nami."
"Terima kasih, Brian. Aku pergi dulu untuk operan pasien di bangsal," ucap Nami, buru-buru melangkah pergi sebelum Brian mengajukan pertanyaan lebih jauh yang tidak bisa ia jawab.
Selesai menyerahkan seluruh rekam medis pasien kelolaannya ke ruang perawatan, Nami berjalan menyusuri lorong sepi menuju lift. Pikirannya masih berkecamuk antara rasa bersalah pada Brian dan ketakutan menyambut hari Jumat yang kian dekat.
Tuk. Tuk. Tuk.
Suara ketukan sepatu hak tinggi yang tegas menggema di koridor sunyi itu. Langkah Nami mendadak terhenti ketika seorang wanita berpenampilan sangat modis dengan setelan blazer formal rancangan desainer ternama menghadang jalannya.
Wanita itu membawa tas mewah bermerek, rambutnya disanggul rapi, dan sepasang matanya menatap Nami dengan pandangan menyelidik yang teramat sinis dari balik kacamata hitam yang baru saja ia turunkan ke ujung hidung.
Nami mengerutkan keningnya, reflek melangkah mundur satu jengkal. Aura permusuhan yang dipancarkan wanita asing ini begitu pekat hingga membuat atmosfer koridor mendadak mencekam.
Wanita itu maju satu langkah, menipiskan jarak. Ia memindai penampilan Nami yang hanya mengenakan flat shoes usang dan jas dokter yang tampak biasa saja dengan pandangan merendahkan.
"Jadi kau perempuan murahan yang tiba-tiba merayu bibiku agar bisa menikah dengan Max?" bisik wanita itu dengan nada suara yang sangat rendah, namun setiap katanya terdengar begitu tajam dan menusuk ulu hati.
Nami seketika membeku di tempatnya berdiri. Darahnya berdesir hebat, wajahnya memucat mendengar kalimat yang menghantam harga dirinya tanpa peringatan. Otaknya mendadak macet total. Bingung, syok, dan heran bercampur menjadi satu kepanikan baru yang melanda dadanya.
Siapa orang ini?
Bagaimana dia bisa tahu tentangnya dan rencana pernikahannya dengan Max?
Nami mematung dengan napas yang mendadak tercekat, menyadari bahwa ia baru saja melangkah masuk ke dalam sarang serigala yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.