NovelToon NovelToon
Terlalu Goblok Mencinta

Terlalu Goblok Mencinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Artikasari

Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?

Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Ya, semuanya memang sudah terlambat. Abahku pun hanya bisa mengucapkan kalimat 'Yah, mau gimana lagi kalau sudah tunangan orang', sembari menghisap kembali asap kematiannya yang mungkin tiba-tiba terasa tersendat.

Kuulas senyuman getir ke arah abah, lalu pamit untuk menyusul Anis. Gadis itu ... bukannya menunggu di dalam mobil, ia malah berdiri bersandar punggung dengan senyuman manis.

Apa ia sedang bahagia di atas penderitaanku? Batinku miris.

Setelah itu, aku mengantarkan Anis pulang. Dengan melakukan ramah-tamah bersama kedua orang tuanya terlebih dahulu, kemudian aku mengakhiri percakapan, lalu melenggang.

Tampaknya Anis agak berat melepas kepergianku. Namun, kucoba menenangkan kerisauannya dengan pertemuan malam ini di salah satu kafe baru. Ia mengangguk senang, lalu berdadah ria ke arahku.

Saat ini aku tak lagi memikirkan pekerjaan. Seluruh memoriku telah penuh dengan wajah dan polah dari gadis kesayangan. Biar dikata dia adalah tunangan orang, namun aku bisa pastikan bahwa hanya aku yang ia rindukan.

Eaaak!

Selepas dari rumah Anis, aku melajukan mobilku ke kediaman orang tua Didi. Kudengar anak itu sedang tidak enak hati. Dikarenakan masalah yang tidak asing lagi. Apalagi kalau bukan masalah Dini?

"Kenapa wajahmu ketekuk gitu? Banyak hutang? Atau ... diputusin pacar?" Aku yang baru saja melewati pintu kamarnya, lantas menyambarnya dengan pertanyaan setengah mengejek.

Kuhempaskan tubuh kekarku di atas kasur empuk tiga lapis miliknya. Didi adalah putra ketiga dari seorang juragan sayur-mayur dan sejenisnya. Abah dan umminya sukses dalam bisnis tersebut hingga menjadi juragan yang sangat kaya raya. Sehingga membuat pria muda yang ketampanannya hampir setara denganku itu, terbiasa hidup mewah sedari ia mulai bernyawa.

"Sombong banget kamu! Mentang-mentang lagi baikan sama mantan." Didi melengos dan memunggungiku. Benda pipih persegi panjang yang berukuran 6.5 inci itu, tergenggam posesif di dalam dekapan tangannya. Kurasa ia hanya mengalihkan kegalauan dengan melakukan aktifitas online.

Dasar maniak game-online!

"Baikan sama mantan belum tentu bisa balikan kali," cebikku seolah tertampar dengan kalimatnya.

Ia lantas menghentikan aktifitas jarinya, lalu membalik tubuh sehingga menghadap pada tubuhku yang masih anteng dengan posisi menatap langit-langit kamarnya. "Emangnya kalian gak balikan? Bukannya kamu sering ketemu sama Kak Anis, ya?" tanyanya yang mulai merasa ambigu. Pasalnya, ia tahu bahwa akhir-akhir ini aku dan Anis sering bertemu.

"Anis udah bertunangan, Di." Dalam tatapan sendu kuutarakan sudah isi hatiku. "Dan aku, udah terlambat. Aku udah gak ada harapan lagi untuk memilikinya," cakapku masih dalam mode mendayu-dayu.

Seakan terbawa suasana, Didi hanya bisa menatapku tak kalah sendu. "Udahlah, Ru. Ikhlasin aja! Mungkin Kak Anis memang bukan jodohmu." Pria berwajah imut itu mulai terdengar mengkhotbahiku.

Didi memang berwajah imut dan memesona. Matanya tampak agak sipit, kulit putih, dan bentuk bibirnya sangat kecil, persis sekali dengan wajah seorang wanita. Namun sayangnya, ia membawa burung ke mana-mana.

Namun, percayalah kalau dia kalah macho dariku. Ketampanannya juga masih berada di bawah rating-ku. Jadi, sudah sepantasnya aku yang menjadi tokoh pelaku. Pelaku utama dalam novel 'Kutunggu Jandamu'.

Ah, pasti para pembaca mulai melabeli aku dengan sebutan 'narsis akut', bukan?

Tidak masalah!

Karena aku memang begitu. Tapi tidak di depan khalayak ramai, Penggemarku. Sifat ini hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Aslinya, aku ini adalah pribadi yang sangat pemalu.

Namun, seperti yang pernah kukatakan pada bab satu, aku tidak akan merasa malu jika itu menyangkut hal yang berhubungan dengan gadisku.

Anis!

Ya, nama itulah yang selalu mengisi ruang dan waktuku, siang dan malamku, sakit dan sehatku, serta susah dan senangku.

Kuhela napas panjang yang tiba-tiba terasa pengap. Kuraup wajahku sekali lagi dengan gerakan kembali duduk tegap. Didi tampak memandangku dengan tatapan sigap. Khawatir kalau-kalau aku akan mengakhiri hidup dalam waktu sekejap.

Tenanglah, Kawan!

Aku masih punya cukup stok iman!

Dan akan selalu berjuang demi masa depan!

***

Malam ini adalah pertemuanku yang ke sekian kalinya dengan Anis. Hubungan yang terjalin di antara kami terasa semakin intim dan manis. Andai saja waktu bisa kuhentikan saat ini, maka aku akan membuatnya singgah selamanya dalam balutan hujan gerimis. Gerimis yang mengundang suasana romantis antara aku dan Anis.

"Kenapa ke tempat karaoke, Ru?" tanyanya yang mulai bingung kenapa aku membawanya ke mari.

"Bukannya kamu suka nyanyi?" jawabku enteng sembari melepas sabuk pengaman.

Ya, kami masih berada di dalam mobil ketika dialog itu terjadi. Namun, Anis tak segampang itu saja setuju tanpa melakukan sedikit negosiasi.

Begitulah dia!

"Apa gak sebaiknya ajak teman-temanmu yang lain?!" sarannya kemudian.

Aku mengangguk patuh, lalu memesan sebuah ruangan berukuran large untuk kami. Setelah check in, Anis pun mengekoriku hingga pintu ruangan tertutup kembali. Kuhubungi beberapa temanku, termasuk Didi.

Namun, setelah setengah jam berlalu, tak tampak satu pun batang hidung teman-temanku. Sepertinya mereka tahu, kalau aku memang inginnya begitu. Menghabiskan waktu bersama dengan Anis dalam lantunan syair-syair lagu. Berdua melepas rindu.

Eits, jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu!

Kami bahkan duduk dalam jarak yang cukup jauh. Jadi, hubungan kami belum seintim itu.

Kupinta pada Anis untuk melantunkan lagu favoritku yang bertajuk 'Hingga Akhir Waktu' dari grup band tanah air yang cukup tenar pada masanya. Anis mengangguk setuju, dan menyanyikannya dengan penuh rasa.

🎶🎶🎶

Kucoba untuk melawan hati

Tapi hampa terasa, di sini tanpamu

Bagiku semua sangat berarti lagi

Kuingin kau di sini, tepiskan sepiku bersamamu

Takkan pernah ada yang lain di sisi

Segenap jiwa, hanya untukmu

Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi

Kuingin kau di sini, tepiskan sepiku bersamamu

Bagiku semua sangat berarti

Kuingin kau di sini

Bagiku semua sangat berarti lagi

Kuingin kau di sini

Takkan pernah ada yang lain di sisi

Segenap jiwa, hanya untukmu

Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi

Kuingin kau di sini, tepiskan sepiku bersamamu

Hingga akhir waktu

Hingga akhir waktu, uh

Takkan pernah ada yang lain di sisi

Segenap jiwa, hanya untukmu

Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi

Kuingin kau di sini, tepiskan sepiku bersamamu

Hingga akhir waktu

🎶🎶🎶

Suara Anis begitu lembut saat menyanyikan lagi itu. Lirik demi lirik seakan menghujani hatiku yang semakin tertekuk pilu. Teringat hari dimana Anis akan pergi meninggalkanku. Menjalani hidup sebagai istri sah dari orang lain yang entah dimana aku pun tak tahu.

Tunggu!

Aku harus mencari tahu!

"Sebentar, ya!" Anis pamit keluar ruangan karena menerima panggilan suara dari seseorang. Beberapa menit kemudian, ia kembali lagi masuk dan tersenyum padaku lewat tautan pandang.

"Telepon dari siapa?" Aku dalam mode kepoku, bertanya saja.

Anis tersenyum getir seolah merasa ragu untuk menjawab. "Mas Abdi," tuturnya lirih namun masih terdengar oleh indra pendengaranku.

"Oh, nanyain apa?" tanyaku lagi yang memulai jurus pancingan.

Anis mentowel lenganku sekilas, lalu berkata; "Mau tau aja kamu!"

Aku memicingkan sebelah mataku, keheranan. Apa ia tidak ingin terbuka tentang tunangannya?

"Pingin tau soal Mas Abdi?"

Seolah bisa membaca pikiranku, ia memandangku antusias dan kembali bertanya. Aku mengangguk tegas dengan raut wajah tak kalah antusiasnya.

"Akan aku ceritakan," ucapnya sembari menyampir tas selempang pada bahunya. "Tapi ... bukan di sini!" lanjutnya lagi dengan senyuman seolah sedang memohon.

Aku yang mengerti dengan keinginannya, lantas check out dan membawanya pergi dari sana.

Di dalam mobil kami hanya berdiam diri. Sibuk dengan pikiran masing-masing di dalam sunyi. Aku tahu, Anis pasti sedang merangkai kata untuk dialog selanjutnya di dalam percakapan kami nanti.

1
Han
Aku mampir ya kak
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Ruaaarrr biassyaaahhh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!