Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Vila untuk Aira
Aira membulatkan kedua matanya. Di hadapannya kini berdiri sebuah vila megah dengan tiga lantai. Halamannya sangat luas, dilengkapi kolam ikan yang panjang serta beberapa air mancur. Ada beberapa baris bunga mawar yang ditanam rapi, sebuah kursi putih panjang di halaman, dan satu meja putih berukuran sedang.
"Sayang, kamu suka?" tanya Azam lembut.
"Mas, ini...?"
"Mulai sekarang, vila ini untuk kamu, Sayang," kata Azam lembut.
Aira menoleh ke arah sang suami.
"Kamu serius? Ini...,"
Azam mengangguk lalu mengajak Aira masuk.
"Iya, Sayang," kata Azam sembari tersenyum.
"Makasih..." kata Aira kembali menangis bahagia.
"Sama-sama, Sayang," kata Azam.
"Aku boleh keliling gak? Yuk, temenin aku," ajak Aira senang.
Azam mengangguk.
***
Aira menatap takjub ke sekeliling bagian dalam vila. Di lantai satu, ada ruang makan yang luas, bioskop pribadi, ruangan untuk olahraga, dan empat kamar pembantu yang letaknya tidak jauh dari dapur basah.
Aira berjalan ke halaman belakang. Di sana terdapat kolam renang yang cukup panjang namun tidak begitu luas, karena kolam itu memang dirancang sebagai hiasan agar vila terlihat semakin asri.
"Di belakang vila ini ada danau," kata Azam sembari menunjuk ke arah jalan yang berada di balik vila.
Aira mengangguk, lalu mereka beralih menuju lantai dua.
"Waww!" kagum Aira saat melihat taman kecil yang dilengkapi dengan air mancur di lantai tersebut.
Mereka kembali menelusuri lantai dua.
"Di sini juga ada perpustakaan pribadi untuk kamu, dapur pribadi, dan ruang privat khusus buat kamu," jelas Azam saat mereka berada di dalam ruang perpustakaan pribadi Aira.
"Oh, ya?" kata Aira takjub.
Azam mengangguk.
"Di lantai dua ini juga ada tiga kamar tidur, ruang TV, dan ruang keluarga."
***
Setelah puas menelusuri lantai dua, mereka melanjutkan langkah ke lantai tiga.
"Di sini ada kolam renang khusus untuk kamu, serta taman yang tak kalah luas dan indah. Di lantai ini hanya ada satu kamar, yaitu kamar ka...?"
"Kamar kita!" sahut Aira cepat.
Azam mengangguk.
"Ya, kamar kita," kata Azam yang tiba-tiba menggandeng erat tangan Aira.
"Ikut aku ke balkon, yuk," ajak Azam yang langsung diiyakan oleh Aira.
"Mas," kata Aira takjub.
Dari atas balkon, mereka bisa melihat danau dan indahnya alam sekitar.
"Cantik..." kata Aira takjub.
Azam membawa Aira untuk duduk di kursi dan meja yang sudah dihias dengan cantik. Di sana sudah tersedia beberapa hidangan buah, minuman, dan satu vas bunga mawar tepat di tengah meja.
"Sayang, terima kasih sudah menjadi istri yang baik. Sudah mau menjadi teman seumur hidup aku. Semoga pernikahan kita sakinah, mawadah, warahmah ya, hingga ke surga Allah kelak," kata Azam tulus.
Aira tersenyum lalu mengangguk.
"Aamiin. Makasih juga udah sabar punya istri kayak aku yang baik dan tidak sombong ini," kata Aira senang.
"Aku punya hadiah buat kamu, Sayang," kata Azam lalu mengeluarkan beberapa kotak beludru. "Lihatlah."
Aira menurut, lalu perlahan-lahan membuka satu per satu kotak pemberian suaminya tersebut.
"Cincin sama gelang tangan!" kata Aira antusias.
Azam hanya tersenyum. Laki-laki tampan itu diam sembari terus memperhatikan raut wajah bahagia istrinya.
"In... ini... kalung berlian?" kata Aira dengan tangan gemetaran.
Azam mengangguk.
"Semua ini berhak untuk kamu miliki, Sayang," kata Azam tulus. "Sama satu lagi ini."
Azam menyodorkan sebuah dokumen penting ke arah Aira.
"Mulai sekarang, vila ini resmi menjadi milikmu, Sayang."
Mata Aira kembali berkaca-kaca. Perempuan itu tidak pernah menyangka jika suaminya akan memberinya hadiah sebesar dan seindah ini.
"Maaf..." lirih Aira yang tiba-tiba teringat jika dirinya belum menyiapkan kado pernikahan sama sekali untuk suaminya.
"Gak apa-apa, Sayang. Jangan sedih gitu, kan kado untukku bisa diganti dengan cara lain," kata Azam dengan nada penuh misteri.
Aira cemberut mendengarnya. Perempuan itu tahu betul ke mana arah pembicaraan suaminya yang mulai menggoda itu.
***
"Sayang, bangun. Sudah siang," dengan lembut Azam membangunkan Aira yang masih tertidur pulas.
"Ah, masih ngantuk, Sayang..." kata Aira dengan suara serak.
"Hari ini hari terakhir kita di Surabaya, loh. Kamu gak mau jalan-jalan dulu sebelum kita balik ke Jakarta? Apa mau kita lanjutin yang tadi malam...?" goda Azam.
Aira yang kesal langsung melemparkan bantal bonekanya ke arah Azam.
"Aku capek, Mas! Aku kayak gini juga gara-gara kamu!" omel Aira dengan kedua mata yang masih terpejam erat.
Azam terkekeh geli melihat tingkah gemas istrinya.
"Ya sudah, kamu lanjut tidur saja. Biar aku yang masak sarapan, ya," kata Azam lembut.
Laki-laki itu lalu mengecup kening Aira sebelum melangkah keluar kamar untuk memasak hidangan sederhana bagi sarapan mereka berdua.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍