NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: RIAN MULAI MERASA ADA YANG SALAH

Suasana setelah rapat usai masih terasa berdenyut. Kebenaran yang baru saja terungkap seolah membuka tirai tebal yang selama ini menutupi pandangan semua orang—terutama bagi Rian sendiri. Ia berdiri di sudut ruangan rapat yang kini perlahan kosong, menatap punggung Nadia yang sedang berbincang santai dengan beberapa rekan bisnis yang tadi sempat ragu. Setiap gerak-gerik wanita itu kini terlihat begitu jelas di matanya, tak lagi samar atau penuh teka-teki. Namun justru di saat ia akhirnya tahu segalanya, rasa gelisah yang aneh mulai merayap pelan di dadanya.

Bukan gelisah karena takut dihina atau dimusuhi, melainkan gelisah karena menyadari betapa butanya dirinya selama ini. Bagaimana mungkin ia tidak pernah menyadari hal-hal yang begitu nyata? Bagaimana mungkin ia melewati dua tahun hidup bersama tanpa pernah melihat tanda-tanda yang selama ini ada di depan matanya sendiri?

Rian mulai mengingat satu per satu potongan kejadian yang dulu ia abaikan atau salah artikan. Dulu, saat ia membutuhkan dana tambahan untuk usaha pertamanya yang hampir bangkrut, Nadia pernah menawarkan bantuan dengan cara yang halus—ia bilang “meminjam dari kerabat jauh yang percaya padaku”. Saat itu Rian justru marah, mengira Nadia meremehkan kemampuannya berdiri sendiri, dan memaksanya mengambil pinjaman berbunga tinggi yang justru menjeratnya. Padahal jika ia mau bertanya lebih dalam, atau sekadar melihat tatapan sedih yang tersembunyi di mata Nadia saat itu, ia pasti akan tahu bahwa wanita itu sebenarnya bisa memberinya lebih dari cukup—tanpa bunga, tanpa syarat, murni karena cinta.

Ia teringat juga cara Nadia berbicara tentang urusan keuangan atau pengelolaan aset. Dulu Rian sering menganggapnya hanya sekadar omongan ibu rumah tangga yang tak tahu apa-apa tentang dunia bisnis. Padahal setiap saran yang Nadia berikan selalu tepat sasaran, selalu aman, dan selalu mengutamakan kehati-hatian serta kejujuran—prinsip yang sama persis dengan yang diterapkan Grup Arka hingga kini. Bahkan cara Nadia mengatur pengeluaran harian di rumah kecil mereka pun sangat rapi dan terukur, persis seperti manajer keuangan yang handal. Dulu Rian hanya menganggapnya pelit atau terlalu berhati-hati, padahal itu adalah kebiasaan yang ia pelajari sejak kecil dalam mengelola aset keluarga bernilai triliunan rupiah.

Dan hal yang paling menyakitkan: saat ia menandatangani surat perceraian itu, Nadia tidak meminta harta sepeser pun, tidak meminta nafkah, bahkan menolak uang yang Rian tawarkan dengan nada merendahkan. Saat itu Rian berpikir wanita itu terlalu sombong menerima pemberian orang yang sudah ia tinggalkan. Padahal kenyataannya, Nadia tidak membutuhkan uang receh itu sama sekali—ia hanya ingin Rian tahu bahwa cintanya dulu tulus, bukan karena materi apa pun. Dan saat itu, Rian justru membalas ketulusan itu dengan anggapan bahwa wanita itu pasti sudah menyiapkan sandaran lain yang lebih kaya.

“Semua ini... semua tanda ini sudah ada sejak dulu,” gumam Rian pelan pada dirinya sendiri, tangannya meremas pelipisnya yang masih terasa nyeri. “Aku yang terlalu sibuk memandang ke depan, sampai lupa melihat siapa yang berjalan tepat di sampingku. Aku yang menutup mata rapat-rapat, sampai tidak sadar bahwa permata yang kucari ternyata sudah ada di genggamanku sendiri sejak awal.”

Saat ia berjalan perlahan menuju pintu keluar, matanya kembali menangkap sosok Nadia yang sedang berpamitan dengan tamu terakhir. Cahaya matahari sore yang masuk lewat jendela kaca besar memantul lembut di wajah wanita itu, menampakkan sorot mata yang tegas namun tak lagi dingin seperti minggu-minggu pertama mereka bertemu kembali. Namun di balik ketenangan itu, Rian bisa melihat jejak kelelahan yang mendalam—jejak dari dua tahun ia berjuang sendiri, menyembunyikan identitas, menyembunyikan luka, dan bangkit kembali dari kehancuran yang Rian ciptakan sendiri.

Nadia tiba-tiba menoleh, dan pandangan mereka bertemu. Rian tidak segera beralih, tidak lagi berpura-pura tidak tahu. Ia menatap lekat, mencoba menyampaikan ribuan penyesalan yang tak cukup diucapkan hanya dengan kata maaf. Nadia hanya mengangguk pelan, seolah mengerti apa yang sedang melintas di benak pria itu, lalu berbalik menuju ruang kerjanya tanpa menunggu lebih lama.

Di dalam hati Rian, kini tak hanya ada rasa bersalah. Ada rasa kagum yang mendalam, namun juga rasa takut yang perlahan tumbuh besar. Takut bahwa meskipun kebenaran sudah terbuka, meskipun ia sudah mengakui kesalahannya di depan semua orang, posisi mereka kini sudah berubah terlalu jauh. Ia yang dulu menjadi suami dan pelindung, kini harus mengakui bahwa wanita yang ia tinggalkan justru menjadi penyelamat bagi usaha yang ia banggakan. Dan yang paling menyakitkan: ia mulai sadar bahwa rasa hormat yang kini ia terima dari orang lain, datangnya bukan karena kehebatannya sendiri, melainkan karena kemuliaan hati wanita yang dulu ia hina.

“Ada yang salah bukan hanya pada masa laluku,” bisiknya pelan saat langkahnya membawanya menjauh dari ruangan itu. “Ada yang salah pada cara aku memandangmu selama ini. Dan sekarang... saat mataku akhirnya terbuka, aku tak tahu apakah aku masih punya tempat untuk berdiri di sampingmu.”

Langkah Rian terasa berat, seolah setiap lantai yang ia pijak mengingatkannya pada betapa kecil dan bodohnya dirinya dulu. Namun di sisi lain, ada secercah tekad yang tak mau padam: meskipun terlambat, meskipun penuh rasa malu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membiarkan wanita itu berjalan sendirian—bukan sebagai pemimpin atau pelindung, melainkan sebagai orang yang berusaha memperbaiki diri, dan berharap suatu hari nanti pantas mendapatkan kesempatan untuk berjalan berdampingan kembali, dengan posisi yang setara dan penuh rasa hormat.

 

(Kisah masih berlanjut ke Bab 25: Bukti Masa Lalu yang Hampir Terbongkar, jika kau ingin melanjutkannya di lain waktu)

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!