NovelToon NovelToon
Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Amor Prohibido (Cinta Terlarang)

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Kantor / Tamat
Popularitas:27.5k
Nilai: 5
Nama Author: J.E.A strange

Walau’pun tidak di setujui oleh sang ibu, Nathan tetap menikahi Alice. Hidup pasangan suami istri ini sangat bahagia, apalagi mereka di karuniai dua orang anak. Asher dan Zelda.

Tapi Naas di saat kedua anak itu berumur 10 tahun dan 7 tahun, Nathan dan Alice di bunuh oleh adik tirinya. Untuk menyelamatkan kedua anak ini, tuan Smith meminta pelayan setianya untuk membawa Asher dan Zelda ke Madrid tempat asal dari pelayan itu.

Awalnya kedua anak ini baik-baik saja di Madrid, sampai pada akhirnya terpisah karena serangan sekelompok orang bersenjata di stasiun kereta bawah tanah Barcelona saat mereka berlibur di kota itu yang mengakibatkan pelayan mereka meninggal dan Asher terkena tembak.

Sedangkan Zelda yang sudah berada di dalam kereta tidak bisa keluar lagi dan akhirnya dia dibawah oleh sepasang suami istri.

Bagaimanakah kisah mereka? Yuk di baca saja ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J.E.A strange, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecat saja kalau ada yang tidak suka

Nathan dan Alice menghadiri pemakaman Rosse, kini mereka berdua duduk di samping tuan Frank. Banyak rekan-rekan bisnis Rosse dan ayahnya hadir di pemakaman itu termasuk tuan Smith. Sementara putra Nathan dan Alice di tinggalkan kepada pengasuh.

Nampak kesedihan di wajah Alice, bagaiman’pun Rosse adalah sahabat yang sudah dianggap sudara. Begitu juga dengan tuan Frank, dia terlihat sangat sedih. Putri satu-satunya telah tiada.

Alice menggenggam tangan tuan Frank untuk menguatkan pria itu. Saat ini pastor sedang memimpin doa, begitu selesai ayah Rosse berdiri dan meletakkan bunga di atas peti putrinya.

Begitu juga Alice dan Nathan mereka ikut meletakkan bunga di atas peti Rosse, lalu petugas makam menurunkan peti itu ke dalam liang. Alice memeluk Nathan dan menangis, untuk selamanya dia tidak akan melihat lagi sahabatnya itu.

Sedangkan tuan Frank, dia hanya menatap kosong saat peti itu sudah masuk ke dalam liang lahat. Pria itu berusaha tegar dengan kepergian sang putri.

Selesai Rosse di makamkan, mereka kembali ke Mansion milik tuan Frank, saat pria itu masuk ke ruang kerja Alice mengikutinya. Tuan Frank berusaha tersenyum dan mempersilahkan Alice duduk.

“Tuan, apakah Anda baik-baik saja?” Alice bertanya begitu karena melihat wajah tuan Frank seperti pucat.

“Iya, aku hanya butuh istirahat saja,” jawab tuan Frank dengan suara yang pelan tapi masih bisa di dengar oleh Alice.

Alice berdiri dan meninggalkan tuan Frank, dia mengambil air minum untuk pria itu lalu kembali ke ruang kerja. Alice memberikan gelas itu kepada tuan Frank.

“Minum terlebih dahulu lalu Anda beristirahat, aku dan Nathan sudah memutuskan untuk tinggal sementara di sini kalau tuan mengijinkan.” Wajah tuan Frank terlihat berbinar mendengar putusan Alice.

“Tentu saja, aku sangat bahagia kalau kalian tinggal disini. Aku tidak akan kesepian.” Alice tersenyum dan memeluk hangat pria itu.

“Sekarang Anda harus beristirahat, aku harus menjemput putraku dan kembali ke sini.” Tuan Frank menganggukkan kepala dan tersenyum kepada Alice.

Alice mengantar tuan Frank ke kamar dan membaringkan pria itu di ranjang. Dia memakaikan selimut kepada tuan Frank dan meninggalkan kamar menemui sang suami.

****

Setelah putra mereka berumur tiga bulan Alice kembali bekerja, saat dia tiba di kantor sang asisten memberitahukan kalau ada pertemuan dewan direksi. Mereka meminta agar Alice ikut serta dalam rapat tersebut.

Alice masuk ke ruang kerja dan meletakan tas di meja kemudiam  duduk, wanita itu sangat penasaran mengapa dewan direksi memintanya untuk ikut dalam rapat.

"Ada apa ya, apakah aku berbuat kesalahan? Tapi itu tidak mungkin semua yang aku kerjakan selalu mendapat pujian dari pimpinan. Ah sayang saja Rosse telah tiada." Alice menarik napas panjang lalu pintu di ketuk.

Alice menyuruhnya masuk lalu dia melihat sang asisten berdiri di depan pintu dan berjalan menghampiri dirinya lalu meletakan map berwarna coklat di meja.

"Jam berapa rapatnya, Megan?" tanya Alice seraya mengambil map itu dan membukanya.

"Sebentar lagi, Nyonya," jawab Megan kemudian dia meninggalkan Alice.

Wanita itu memeriksa laporan yang di berikan asisten kemudian meletakan kembali di meja. Dia berdiri dan pergi ke ruang meeting di sana sudah hadir beberapa anggota dewan di reksi. Alice masuk dan memberi salam kepada mereka, salah satu anggota dewan menyuruh wanita itu duduk di dekatnya.

Alice menarik kursi kemudian dia duduk, dia merasa canggung karena hanya dia karyawan yang hadir di ruangan itu selebihnya adalah dewan direksi.

Tidak lama kemudian masuk seorang pria dia adalah pemilik perusahan juga ayah dari Rosse, dia datang bersama pengacara. Pria itu menarik kursi dan duduk, matanya menatap satu persatu anggota dewan direksi memastikan apakah mereka semua sudah hadir.

"Semuanya sudah hadir?" tanya pria itu lalu mereka dengan serempak menjawab.

"Sudah, Tuan Frank.” Pria itu menatap Alice kemudian dia tersenyum.

"Seperti yang kalian ketahui, tiga bulan yang lalu putriku meninggal karena sakit kanker." Pria itu menatap Alice dan melanjutkan bicaranya.

"Kamu sudah tahukan, Alice?" tanya pria itu dengan memegang beberapa lembar surat.

"Iya, Tuan," jawab Alice dengan gugup lalu dia membetulkan duduknya.

"Sebelum meninggal putriku berpesan padaku untuk memberikan kepercayaan padamu." Wajah Alice berubah menjadi tegang, dia ingin tahu kepercayaan apa yang di berikan Rosse.

"Alice, putriku mempercayakan perusahaan ini di tanganmu, dia ingin kamu menjalankannya dengan baik." Alice terkejut, dia menatap pria itu dengan heran. Begitu juga dengan anggota dewan direksi mereka saling bertatap juga heran  kenapa Alice yang di tunjuk.

"Tapi, Tuan. Aku belum pantas untuk menduduki posisi itu, masih ada mereka-mereka ini yang lebih baik." Pria itu tertawa kemudian dia menatap Alice.

"Putriku memilihmu bukan karena persahabatan kalian, tapi dia melihat kamu begitu gigih memajukan perusahan ini. Lagipula kamu sudah menjadi bagian dari Miller.” Alice terdiam mendengar penjelasan tuan Frank lalu dia menatap beberapa anggota dewan, wajah mereka tampak lain.

 “Lagi pula aku memiliki beberapa usaha penting yang harus aku perhatikan. Jadi aku minta agar kamu mengurus perusahaan ini. Jangan menolaknya." Alice hanya diam, dia tidak percaya kalau Rosse memberi wasiat seperti itu.

"Hanya itu yang ingin aku sampaikan kepada kalian, mulai saat ini Alice menjadi pimpinan di perusahaan ini." Tuan Frank berdiri lalu  memberi selamat kepada Alice.

Begitu juga para anggota dewan direksi langsung berdiri dan memberikan ucapan selamat kepada Alice, hanya ada beberapa yang tidak senang kepada wanita itu.

“Oh ya, Alice. Kalau ada yang tidak suka dengan kepemimpinanmu, keluarkan saja,” pesan tuan Frank seraya meninggalkan ruang meeting. Dia sengaja berkata begitu di depan para anggota dewan direksi karena pikirnya pasti ada yang tidak akan suka dengan Alice. Wanita itu hanya tertegun mendengar perkataan tuan Frank.

Alice kembali ke ruang kerja, saat masuk wanita itu terkejut melihat ayah dari Rosse sudah duduk di sofa. Alice menjadi gugup, dia terpaku di depan pintu dengan mengernyitkan dahi.

"Tuan?" Pria itu tersenyum kemudian  berdiri menghampiri Alice.

"Tolong jaga apa yang dia titipkan padamu, aku sudah  tua dan tidak sanggup lagi. Ah ... putriku yang malang." Wajah pria itu terlihat sangat sedih kemudian dia meninggalkan Alice.

Alice duduk di kursi, dia masih tidak percaya dengan keputusan yang di ambil oleh almarhuma dan ayahnya. Wanita itu tahu pasti banyak yang tidak akan suka atas penunjukan dirinya.

Pintu terbuka lalu Alice berdiri dan menyapa anggota dewan direksi yang berjalan ke arahnya. Wajahnya terlihat tegang, karena perusahan yang di percayakan kepadanya bukan kecil tapi besar.

"Tuan, Jose." Jose tersenyum kemudian dia memberikan selamat sekali lagi kepada Alice.

"Selamat Alice, kamu pantas menerima posisi itu." Wajah Alice berubah menjadi murung, dia merasa berat menerima tanggung jawab yang besar itu.

"Tapi, Tuan. Aku merasakan pasti ada yang tidak suka dengan penunjukan atas diriku." Jose tertawa kemudian dia duduk di sofa.

"Kamu tidak usah khawatir, selama ada aku di sini tidak akan ku biarkan mereka menganggumu. Lagi pula kamu memegang jabatan tertinggi di sini, kalau ada yang mencari masalah denganmu keluarkan saja." Alice menjadi tenang karena Jose mendukung dirinya.

Lalu masuk lagi beberapa anggota dewan direksi, mereka berbincang-bincang di ruangan kerja wanita itu.

"Alice, kamu harus pindah ruangan. Jangan gunakan tempat ini lagi, tidak cocok bagimu," canda salah satu anggota dewan.

"Oh iya benar, Alice. Kamu harus pindah, jangan gunakan ruangan ini lagi. Pakai saja tempat almarhuma." Alice hanya tersenyum mendengar penawaran Jose.

"Iya, nanti aku pindah," ujar Alice sambil berjalan memanggil asistennya dan meminta dia untuk memesan kopi buat dewan direksi.

Mereka masih berbincang-bincang di ruang kerja, sementara Megan sang asisten mencari office boy. Tidak sengaja dia mendengarkan perbincangan di ruangan.

Asisten itu menguping pembicaraan mereka, raut wajahnya beruba saat mendengar rencana-rencana dari salah satu anggota dewan direksi

"Aku mempunyai rencana untuk menjatuhkan Alice, dia tidak pantas untuk memimpin perusahaan ini." Megan tetap menguping pembicaraan mereka.

Saat salah satu pria akan keluar, asisten itu langsung pergi menemui Alice. Tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk. Alice dan beberapa dewan direksi menatap Megan dengan heran. Alice berdiri dan menghampiri wanita itu.

"Ada apa, Megan." Sang asisten terlihat ragu menyampaikan apa yang dia dengar. Jose berdiri dan menghampiri Megan.

"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Alice?" Megan menatap Alice dan meremas jemarinya, dia terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan apa yang dia dengar.

“Megan?” asisten itu melihat ke pintu,dia tidak ingin ada yang mendengarnya.

"Nyonya, aku mendengar perbincangan beberapa anggota dewan." Alice dan Jose saling tatap.

"Perbincangan apa?" tanya Jose, dia sangat penasaran dengan apa yang ingin di katakan Megan.

"Tuan, aku mendengar mereka merencanakan yang tidak baik untuk nyonya Alice." Anggota dewan yang mendukung Alice saling tatap.

"Rencana apa?" tanya Alice dengan penasaran.

"Mereka ingin menjatuhkan Anda, Nyonya." Jose tertawa mendengar rencana orang-orang itu.

"Tenang saja, Alice. Selama masih ada kami disini, tidak ada satupun yang akan menggeser posisimu." Alice merasa senang karena mendapat dukungan dari Jose dan kedua rekannya.

Dia berterima kasih kepada Megan kemudian dia duduk kembali dan berbincang-bincang dengan mereka.

"Aku sudah katakan pasti ada yang tidak suka." Jose tertawa dan memegang tangan Alice.

"Kamu tidak usah khawatir ada kami di sini. Baiklah, aku harus pergi sekarang." Mereka berdiri kemudian keluar dari ruang kerja. Saat berada di depan pintu Jose tersenyum kepada Megan dan berpesan padanya.

"Megan, tolong kamu bersihkan ruangan milik almarhuma. Alice akan menggunakan tempat itu, dan ingat beritahu kepadaku siapa yang berencana jahat kepada Alice, dia akan berhadapan denganku." Megan hanya menganggukan kepala mendengar perintah Jose.

Alice berdiri di depan pintu dan tersenyum melihat Jose memberikan perintah kepada Megan, dia tahu pria itu sedang menyindir orang-orang yang tidak suka kepadanya.

Jelang sore Alice meninggalkan kantor dan kembali ke rumah, dia langsung menuju ke kamar  putranya. Alice tersenyum melihat Nathan sedang tertidur bersama Asher.

Dia mengecup pipi Asher dan mengambilnya dari Nathan kemudian dia meletakan di box. Alice mencium bibir Nathan lalu pria itu terbangun.

"Kamu sudah pulang, Sayang." Alice tersenyum dan mengecup kembali bibir suaminya.

"Iya, kamu pulang cepat?" Nathan berdiri dan memeluk istrinya.

"Iya aku rindu putraku dan dirimu tapi saat tiba di rumah kamu tidak ada." Alice tertawa kemudian  melepaskan pelukan Nathan dan pergi ke kamarnya.

Nathan mengikutinya dari belakang dia masuk dan melihat Alice melepaskan pakaiannya satu persatu. Pria itu memeluk sang istri dari belakang dan mencium tengkuk leher wanita itu.

"Beb, tadi aku hadir di rapat dewan direksi." Nathan melepaskan pelukannya kemudian  duduk di sofa.

"Oh ya? Rapat mengenai apa?" tanya Nathan seraya memperhatikan istrinya sedang mengganti pakaian.

"Aku di tunjuk menjadi pimpinan di perusahan tempat aku bekerja." Nathan terkejut, dia sangat senang mendengar istrinya naik jabatan lagi.

"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya." Nathan berdiri kemudian memeluk dan mencium bibir wanita itu.

"Tapi, Beb. Ada yang tidak suka." Nathan membelai rambut istrinya dan tersenyum.

"Sayang, dimana’pun pasti ada orang-orang seperti itu. Anggap saja itu suatu tantangan buat kamu." Alice membenamkan wajahnya di dada Nathan.

Dia sangat senang pria itu selalu mendukung dirinya, Alice menatap Nathan lalu dia mencium bibir yang sedikit tertutup dengan kumis dan jenggot tipis itu.

Jangan Lupa Like dan Komentarnya ya

Terima kasih

1
Eka Aphalah Aphalah
mabuk Taek lah,,emng dr awal Lo ketemu Ama rekan bisnis Lo otak Lo udah kotor zelo
jd jgn salahkan Lo mabok
salahin az burung murahan looo
GOD BLESS
hadeh...nyonya smith ga lbh rendah derajatmu drpd alice, cuma pembantu/ pengasuh dikeluarga tuan smith. ini ni...kacang lupa sama kulitnya
Sri Rahayu
pindah kemana ?
Agni amrin
bagus
Agni amrin
bagus
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
jangan bilang klo mereka Asher Zelda versi dewasa thor.. jangan biarkan mereka saling jatuh cinta ya.. 😓
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
sumpah ya itu c Danny bener2 udah kerasukan iblis😤
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
dirumah tuh ga ada CCTV kah, sampai Danny aman2 aja menuang racun🤔
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
hadeeehh rombongan manusia2 rakus.. yang ada di otak nya cuma harta tahta doank.. buta hati buta fikiran dah ga bisa bedakan baik n buruk lagi🤦‍♀️🤧
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
Dany tuh adik tiri kah thor.. karena, watak nya mirip sama emak nya, serakah n licik
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
wkwkkk kompor mledug keburu ke siram karung basah tuh duo keong racun🤭🤣🤣
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
waadduuhhh ternyata tikar butut naik ke dipan.. mantan orang susah juga dy🤦‍♀️
Garang Anggriawan
Ceritanya menarik, nih! Boleh kali thor dilanjut?
MouthofMexico
Ah, lanjutannya gimana nih? Aku udah kepo pake banget huhu
GOD BLESS
rpnya hanya seorang pengasuh. lebih rendah la level pengasuh di bandingkan sama yg kuliah sdh hmpir mendapat titel sarjana. nyonya smith jgn lupa kacang sm kulitnya ya. jgn sdh krn sdh dinikahi tuan smith kau jd lupa kau sm asal mu😠😠
booksand peonies
Hai 🙋 Aku datang lagi nih.. Dengan membawa semangat dan dukungan.. Ayo barengan berkarya dengan hati suka cita,dan jaga kesehatan selalu.
Eja Drajat Adriansyah
seru banget novelnya, semangat terus buat author, ku tunggu karya indahnya☺
SongbirdGarden
Thor, kamu mau ngeluarin berapa karya pun pasti aku baca!
Intan Haryanti
Sambil nunggu kelanjutan cerita aku sampe baca ulang bab-bab yg aku suka nih
SecretGiggle
Hari ini aku mantengin HP ku karena nunggu update-an dari author :( Suka banget :( lanjutannya jangan lama-lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!