Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: DMAM
Suasana rumah kayu sederhana itu sangat kacau. Pecahan gelas kaca masih berserakan di atas lantai, sementara sisa-sisa jejak perkelahian antara Dimas dan Jaka meninggalkan kekacauan di area tengah.
"Aisyah... Maafkan aku..."
Suara Dimas tercekat di tenggorokan. Kedua tangannya gemetar hebat saat melingkar di bawah punggung dan lekuk lutut Aisyah.
Dengan sisa tenaga di lengannya yang tertutup bekas luka goresan pisau Jaka, Dimas mengangkat tubuh Aisyah ke dalam pangkuannya. Napas pria itu memburu, matanya merah dipenuhi rasa panik dan bersalah.
"Aisyah, tahan ya... Aku bawa kamu ke rumah sakit sekarang," bisik Dimas terengah-engah, lalu melangkah tergesa-gesa menuju pintu depan.
Namun, baru saja Dimas menapakkan kaki beberapa langkah mendekati ambang pintu, jemari Aisyah mencengkram erat lipatan kemeja Dimas. Kepala Aisyah terkulai menyandar di dada Dimas, dan dari bibirnya yang pucat terdengar bisikan lemah.
"M-mas Dimas... bawa aku ke kamar... aku mau istirahat..."
Dimas menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia kemudian menunduk dan menatap wajah Aisyah yang berada hanya beberapa sentimeter di bawahnya.
Kelopak mata Aisyah tampak setengah terbuka, layu dan berbayang oleh pengaruh zat asing yang mengalir di dalam darahnya.
"Gak bisa, Aisyah! Kita harus ke rumah sakit!" tegas Dimas, suaranya naik satu nada karena merasa takut dan khawatir. "Kamu diracun sama bajingan itu! Kamu harus diperiksa dokter!"
Dimas hendak melanjutkan langkahnya, namun tangan kanan Aisyah yang gemetar terangkat dan menahan dada Dimas secara perlahan.
Aisyah menggelengkan kepalanya dengan susah payah. Matanya memancarkan ketakutan akan pandangan tetangga dan warga sekitar jika ia dibawa keluar dalam kondisi tidak berdaya dan linglung seperti ini.
Dengan sisa kekuatan di bawah kesadarannya yang kian terkikis, Aisyah menunjuk secara acak ke arah pintu kamarnya yang sedikit terbuka di sudut lorong tengah.
"Jangan... jangan keluar... Ke kamar... tolong..." bisik Aisyah sekali lagi, kini suaranya terdengar seperti serak seakan menahan sesuatu yang amat menyiksa di dalam tubuhnya.
Dimas berdiri mematung mendengar permintaan Aisyah. Otot-otot lengannya mulai terasa kaku dan berat karena menahan bobot tubuh Aisyah.
Ia menatap wajah gadis itu, lalu beralih menatap pintu yang masih tertutup. Dimas tau betul betapa Aisyah sangat menjaga kehormatan dan nama baiknya di desa ini.
Jika warga melihat kondisi Aisyah yang aneh dan lemas dalam dekapan seorang pria, desas-desus liar akan menghancurkan hidup Aisyah.
Dimas pun menggeram pelan dan mengutuk keadaan dalam hatinya. "Sial!."
Dimas kemudian memutarkan badannya dan membelakangi pintu depan, lalu melangkah cepat membawa Aisyah masuk ke dalam kamarnya.
Kamar tidur Aisyah sangat bersahaja. Hanya ada sebuah kasur busa sederhana bermotif sprei bunga-bunga yang rapi, lemari pakaian kayu tua, meja rias kecil, serta sebuah jendela berteralis besi yang tertutup rapat.
Dimas melangkah masuk dan menyapu pandangan ke sekitar ruangan lalu perlahan menundukkan tubuhnya untuk membaringkan Aisyah di atas kasur. Ia menyangga kepala Aisyah dengan sangat hati-hati agar mendarat lembut di atas bantal.
"Napas kamu cepat banget, Aisyah... Tahan sebentar, aku telepon ambulan pribadi atau dokter langganan mami biar datang langsung ke sini," ujar Dimas panik. Sementara napasnya sendiri belum stabil akibat perkelahian tadi.
Dimas lalu menegakkan punggungnya dan merogoh saku celananya dengan canggung untuk mengeluarkan ponsel pintarnya. Jemarinya yang berdarah menari di atas layar dan berusaha mencari kontak darurat.
Namun, sebelum nomor telepon sempat terhubung, sebuah tangan yang terasa sangat panas mendadak meraih pergelangan tangan Dimas dengan cengkraman yang mengejutkan.
Srett!
"Aisyah?" Dimas terkejut.
Aisyah langsung menarik tangan Dimas, hingga Dimas kehilangan keseimbangan. Tubuh besarnya langsung terjerambab ke depan dan meluncur ke atas kasur.
Dimas membelalakkan matanya dan dengan secepat kilat ia menancapkan kedua telapak tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Aisyah, sehingga bertumpu penuh pada otot lengannya agar tidak menindih tubuh gadis itu.
Kini, jarak antara wajah mereka terpangkas habis, yang hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Hembusan napas Dimas yang hangat bertabrakan langsung dengan napas Aisyah yang memburu dan terasa membakar.
"Aisyah! Ada apa?! Apa yang sakit?!" tanya Dimas panik, matanya menyapu seluruh lekuk wajah Aisyah yang kini berubah merona merah keunguan secara tidak wajar.
Rupanya, serbuk yang dibubuhkan Jaka ke dalam gelas air minum Aisyah bukanlah sekadar obat pembius biasa. Itu adalah campuran pekat zat perangsang dosis tinggi yang dirancang untuk melumpuhkan kesadaran rasional sekaligus memicu reaksi hormonal secara paksa.
Racun itu kini telah menjalar sepenuhnya ke dalam pembuluh darah Aisyah.
Kulit di leher dan pipi Aisyah tampak memerah. Tubuhnya bergerak gelisah di atas kasur, seolah seluruh pakaian yang melekat di kulitnya terasa membakar dan menjepitnya.
"M-mas... hhh... panas..." lenguh Aisyah terputus-putus. Matanya yang sayu tak lagi memancarkan ketegasan seorang guru, melainkan menyiratkan kebingungan, kesakitan, dan dorongan gairah yang hebat akibat pengaruh obat. "Sakit... panas banget..."
Dimas mematung. Tubuhnya yang melayang tepat di atas Aisyah mendadak kaku. Otaknya berusaha mencerna reaksi yang diperlihatkan gadis di bawahnya ini.
"Panas? Tapi badan kamu..." Dimas menggantung kalimatnya. Saat telapak tangannya tak sengaja menyenggol lengan Aisyah, ia merasakan suhu tubuh gadis itu memang sangat tinggi dan bergetar hebat bagai diserang demam yang dahsyat.
Sebelum Dimas sempat menarik dirinya mundur untuk mencari air dingin atau kain kompres, jemari Aisyah yang gemetar terangkat naik. Kedua tangannya merengkuh belakang leher Dimas, dan menarik tengkuk pria itu ke bawah tanpa bisa ditahan.
Jarak mereka kini semakin terkikis. Wajah Dimas terdorong semakin rendah hingga jarak bibir mereka hanya terpisah sehelai benang. Dimas dapat merasakan hembusan napas Aisyah yang memburu menempel tepat di kulit bibirnya.
"Aisyah..." seru Dimas dengan napas yang mendadak melompat cepat.
Darah di tubuh Dimas bagaikan tersengat aliran listrik ribuan volt. Jiwa kelaki-lakiannya yang murni dan normal merespons secara spontan terhadap jarak fisik yang terlampau dekat dan godaan yang begitu intens ini.
Deg deg deg deg deg deg!!
"Sial! Apa si Jaka memberi Aisyah obat perangsang?!" batin Dimas mengumpat kasar dalam hatinya.
Matanya membelalak menyadari kejahatan Jaka jauh lebih menjijikkan dari yang ia bayangkan sebelumnya. "Brengsek kau Jaka!."
Bersambung...