NovelToon NovelToon
Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos

Status: tamat
Genre:CEO / Romansa / Rumah Tangga / Romantis / Tamat
Popularitas:345k
Nilai: 4.9
Nama Author: Gledekzz

(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)

Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~Halaman~

...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...

Suara azan kembali berkumandang dari ponsel Zahra, memecah keheningan pagi di dalam kamar.

Zahra masih terbaring dengan mata terpejam, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang terasa berat.

Tubuhnya seperti habis dipaksa berlari jauh tanpa jeda. Resepsi yang panjang ditambah olahraga semalam, jelas meninggalkan sisa lelah yang baru benar-benar terasa pagi ini.

Meski begitu ada perasaan lain yang ikut muncul, yaitu rasa bersalah. Ia sadar semalam sikapnya pada Abyan sangat berlebihan.

Namun saat ia hendak bergerak, ada yang janggal. Seolah ada beban yang menindih tubuhnya. Zahra langsung mengernyit pelan lalu perlahan membuka mata.

Seketika itu juga napasnya tertahan, Abyan ternyata memeluknya dengan sangat nyaman. Tangannya melingkar erat di tubuh Zahra, seolah menemukan bantal guling paling sempurna di dunia.

Zahra hanya menatap Abyan dengan ekspresi datar, meski dalam hati mulai tidak tenang.

Pelan-pelan Zahra mencoba melepaskan tangan Abyan yang melingkar di tubuhnya. Perbedaan tinggi di antara mereka cukup jauh, namun dalam posisi itu justru terasa pas, membuat tubuh Zahra yang lebih kecil seolah benar-benar terkunci rapat di dalam pelukan Abyan.

Saat pelukan mulai sedikit longgar tiba-tiba kembali mengerat. Zahra langsung tersentak dalam diam.

Jantungnya berdebar kencang, lebih cepat dari biasanya, bahkan terasa dua kali lipat. Napasnya ikut tak teratur. Ia bisa merasakan hangat tubuh Abyan dengan jelas, terlalu jelas sampai membuat pikirannya sulit fokus.

Pelukan itu terlalu nyaman untuk ditolak, tapi juga terlalu berbahaya untuk dibiarkan. Zahra menelan ludah pelan, ia tidak tahu harus dengan cara apa untuk melepaskan diri. Sedangkan detak jantungnya sendiri yang sekarang terdengar begitu keras di telinganya.

“Mas bangun.” Zahra tidak ada pilihan lainnya selain membangunkan Abyan.

“Sebentar lagi, Ay.”

Alih-alih melepaskan Abyan justru makin mempererat pelukannya.

Zahra mulai kesulitan bernapas. “Aku nggak bisa bernafas, Mas.”

“Hah, apa? Kamu nggak apa-apa, Ay?” Abyan langsung tersentak, buru-buru melepaskan pelukannya dan duduk, memeriksa Zahra dengan wajah panik.

“Hampir kehabisan napas, Mas.” Zahra ikut duduk dengan masih mengatur napasnya.

“Jangan Ay, baru juga tiga hari kita menikah.”

Zahra melirik Abyan tipis. “Nggak jadi Mas, masih beruntung cepat di lepas.”

“Maaf, Mas kirain bantal kaki.” Abyan terlihat benar-benar merasa bersalah.

Zahra menahan ekspresi. “Iya Mas nggak apa-apa. Lebih baik kita shalat.”

Zahra beranjak turun dari ranjang, tapi tangannya langsung tertahan.

“Ay kamu marah?” Abyan menggenggam tangan Zahra.

“Sedikit, sudah ah entar kesiangan lagi.” Zahra melepaskan tangannya pelan.

“Maaf.” suara Abyan terdengar tulus.

Zahra menghela napas kecil. “Sudahlah Mas, aku hanya bercanda.” Ia berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Abyan yang masih duduk diam, seolah sedang mencerna situasi barusan.

...***...

Zahra duduk di tepi ranjang dengan tubuhnya sudah siap berangkat, tapi pikirannya masih tertinggal di banyak hal yang belum selesai.

Libur yang didapatkan secara tiba-tiba seharusnya terasa menyenangkan. Namun hal itu malahan meninggalkan kekosongan aneh di dalam dadanya. Ia tidak suka perasaan itu makanya ia memilih kembali bekerja hari ini.

Tangannya meraih ponsel. Satu pesan dari Zainisa muncul.

“Ra, bajumu semuanya ada di kamar aku. Ambil aja kalau kau maunya sekarang. Nomor empat ratus lima.”

Zahra menatap layar itu sejenak, kemudian ia bangkit. Lebih baik diselesaikan sekarang sebelum semuanya terasa semakin rumit. Ia pun langsung menoleh ke arah Abyan yang masih sibuk dengan laptopnya. “Aku ke kamar yayuk bentar ya, Mas?”

“Ada perlu apa, Ay?” jawab Abyan tanpa mengalihkan fokus dari layar.

“Ambil bajuku, Mas. Katanya kalau mau ambil aja sekarang.”

“Iya sudah, Mas ikut." Abyan langsung menutup laptop tanpa ragu.

Zahra sedikit mengernyit. “Nggak usah Mas, hanya ambil baju aja kok.”

“Siapa tau baju kamu banyak. Nanti apa kata mereka jika kamu aja yang bawa semua itu. Kamu mau nama baik Mas buruk di mata keluarga kamu.” ucapan Abyan membuat Zahra terdiam sesaat.

“Tapi aku nggak memaksa kamu loh, Mas.”

Abyan tersenyum tipis sambil berjalan mendekat. “Ingat! Tidak ada kata istri itu menyusahkan suaminya dalam bentuk apapun.”

Zahra menatap Abyan sekilas. Entah kenapa kalimat itu terasa asing tapi juga menghangatkan di waktu yang sama. Ia pun menganggu saja.

Mereka berjalan keluar kamar. Lorong hotel terasa sunyi, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan pintu bernomor empat ratus lima.

Zahra langsung mengetuk pintu pelan, tak lama pintu terbuka setengah.

“Eh pengantin baru, mau ambil baju ya?” sambut Zainisa dengan senyum yang terlalu penuh arti.

Zahra hanya mengangguk. Walaupun bayangan kejadian semalam sempat melintas di kepala Zahra, ia hampir tersenyum.

“Sebentar.” Zainisa masuk lagi dengan kembali sambil membawa koper besar dan satu tas tambahan. “Ini semuanya sudah aku lipat.”

Zahra benar-benar tidak menyangka sebanyak itu.

“Sisanya kau ambil aja di rumah bi Rosida, kalau ada waktu.”

“Iya yuk, terimakasih. Aku ke kamar dulu.”

“Iya! Eh kalau sudah mandi ke kamar yayuk Dina di sebelah kamarnya, kita kumpul di sana.”

“Ada apa, Yuk?”

“Datang aja ada sesuatu yang penting pokoknya.”

Perkataan Zainisa membuat dada Zahra mengencang. Instingnya berkata ini bukan sekadar kumpul biasa.

“Mmmm, setelah aku nganterin barang dulu.”

“Lama sedikit nggak masalah, kalau mau menuntaskan sesuatu.”

Zahra mengangguk kecil. Ada sesuatu yang tidak ia suka dari cara Zainisa bicara.

Abyan langsung mengangkat semua barang Zahra. “Sini biar Mas bawa,”

Zahra hanya diam sejenak, jika ia menentang, maka Abyan akan menolak. “Terimakasih, Mas.”

Abyan hanya tersenyum. Lagi-lagi senyum Abyan membuat Zahra refleks menahan napas. Seolah ada sesuatu yang terus mengganggu keseimbangannya setiap kali lelaki itu tersenyum. Ia pun cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Namun langkahnya terasa sedikit lebih berat, seperti benar-benar akan meninggalkan sesuatu yang selama ini ia anggap berharga.

...***...

“Masuk, Ra.” pintu terbuka dengan Rosida berdiri di sana.

Begitu Zahra masuk suasana langsung terasa berbeda. Ruangan itu sudah terisi Zainisa, Diyah, Dina, dan Nur. Semua ada dengan mereka semua diam.

“Ada apa?” tanya Zahra pelan.

“Itu Ra, kami semua mau ngomongin masalah maharmu.”

Zahra langsung siaga. “Kenapa memangnya?”

“Uang satu milyar, emas lima puluh gram buat kami bagi-bagi ya.”

Zahra terdiam sejenak untuk benar-benar mencerna apa yang baru saja ia dengar. “Kenapa begitu, Bi?”

“Kaukan sekarang jadi orang kaya. Kau juga bisa minta lagi sama Abyan. Nah... yang di rumah buat kami. Lagian rumah, sawa dan peralatan shalat cukup besar untuk kau dapatkan. Anggap aja itu balasan budi kami semua yang telah menjagamu selama ini. Apalagi kau terbebas dari laki-laki yang nggak tau malu itu.”

Dada Zahra seperti diremas. Pikirnya, jadi selama ini ia hanya dianggap sebagai bebankah?

“Oh ya, ambil aja. Aku mau berangkat kerja.” Zahra begitu saja berbalik ingin pergi. Ia sudah tidak tahan berada disana.

“Kenapa masih mau kerja sih? Kaukan sudah dipastikan menjadi orang kaya raya, Ra. Kalau butuh apapun, tinggal minta sama Abyan," ucap Nur.

Zahra begitu saja berhenti melangkah, dan langsung berbalik. “Bukannya kalian sendiri yang bilang, jangan berharap dengan laki-laki.” Zahra tertawa sinis. “Lagian kalian juga harus tau, aku perlu, bahkan harus mengembalikan semua pemberian Mas Abyan, agar aku juga bisa bebas dari semua beban yang kalian buat.”

“Jangan berani-beraninya kau membuat kami semua malu. Seharusnya kau bersyukur. Lagian Abyan dan mantanmu itu jauh berbeda,” ucap Rosida.

“Apa Bi yang berbeda?”

“Keluarga angkasa earld group terkenal akan setia dengan pasangan. Nggak ada mereka berpikir rendahan sampai-sampai ingin mengeluarkan kata cerai. Mereka juga siap menanggung semua yang kau perlukan.”

Zahra tersenyum tipis. “Kalau misal aku yang ingin cerai bagaimana?”

“Kau yang gila berarti! Dapat berlian malah ambil sampah,” jawab Rosida.

Kalimat itu seperti tamparan, tapi kali ini Zahra tidak melawan, ia hanya mengangguk pelan. “Sekarang ini terserah di aku. Beban yang kalian anggap susah payah selama ini, sudah terbayarkan lunas diantara kita. Kalian nggak berhak mengatur aku lagi.”

Zahra berbalik untuk pergi dari tempat itu. Langkahnya cepat seolah jika ia berhenti selangkah saja, ia akan runtuh di sana.

Begitu ia sampai ke kamarnya, Zahra langsung masuk ke kamar mandi. Air dinyalakan untuk menutupi suara yang tidak ingin Abyan dengar. Tangisnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.

...***...

Zahra keluar dari kamar mandi dengan langkah tenang, wajahnya sudah kembali rapi, seolah tidak ada yang baru saja pecah di dalam dirinya.

Sisa air di pelipisnya sudah ia keringkan, dan ekspresinya kembali netral untuk menyembunyikan apa pun yang tidak perlu orang lain lihat.

Di sisi lain kamar Abyan masih duduk dengan laptop di pangkuannya. Suara ketikan sempat terdengar, sebelum akhirnya berhenti saat ia menyadari Zahra sudah keluar.

“Ay, mau berangkat kerja sekarang?” tanyanya sambil menoleh.

“Iya, Mas.”

Abyan menatap Zahra sejenak. “Kamu nggak ambil cuti aja dulu hari ini, kamu pasti capek, Ay.”

Zahra langsung menggeleng pelan, langkahnya sempat terhenti sebelum kembali berjalan kecil ke arah meja. “Nggak kok, Mas.”

“Izin dulu, Ay.”

“Nggak Mas, aku udah libur tiga hari. Lagian nggak enak sama teman aku yang kerja. Mereka juga nggak mungkin harus menghandle pekerjaan aku terus.”

“Kamu aja bisa lembur, masa mereka nggak bisa, Ay.”

“Berbeda Mas, mereka sudah pada menikah.”

Abyan berdiri dari duduknya, berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapan Zahra.

“Kamu juga sudah menikah Ay sama Mas,“ ucapnya tenang.

Zahra terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan. “Mas, mereka juga udah punya anak, kasihan, Mas.”

“Kamu—”

“Belum tentu, Mas,” jawab Zahra spontan.

Abyan sempat terdiam untuk menangkap maksud di balik kata-kata itu. “Maksudnya bukan itu, Ay. Kamukan pasti capek, belum juga istirahat full.”

“Sedikit kok Mas, masih bisa di tahan. Lagian pekerjaanku nggak terlalu banyak.” Zahra tetap berdiri pada keputusannya. Bekerja dalam kondisi seperti ini, justru terasa lebih aman daripada diam dan memikirkan semuanya.

“Iya sudah jika itu maumu, tapi Mas antar ya?”

“Nggak usah, Mas.”

Abyan menghela napas pelan. “Ay, kamu itu istriku.”

“Jadi kalau istri aku harus manja, nggak kan, Mas?”

“Tapi itu tanggung jawab Mas, Ay.”

“Nggak juga Mas, banyak di luar sana jalan sendiri tanpa suami.”

“Berbeda, Ay.”

Zahra menarik napas dalam menahan sesuatu yang hampir keluar. “Mas, aku mohon, tolong mengerti. Aku masih dalam fase menikmati hari-hariku sebagai pegawai yang sebentar lagi akan menjadi pengangguran.”

“Kata siapa kamu nganggur?”

“Terus, aku harus apa?”

“Banyak kerjaan kamu di rumah.”

Zahra langsung menoleh dengan alisnya sedikit terangkat. “Mas mau jadiin aku pembantu? Mmmm.... kira-kira... di gaji nggak, Mas?”

“Maunya berapa?”

“Mmmm... cukup nggak beli cilok.”

“Gerobaknya Mas beli.”

“Kalau orangnya?”

“Buat apa, Ay?”

“Suami ke dua.”

“Emangnya Mas aja belum cukup, Ay?”

"“Mas kerja, akang bakso di rumah.”

“Ngapain dia di rumah?”

“Berantem sama aku.”

“Mas juga bisa.”

“Jangan, takut aku Mas. Belum berantem udah kalah duluan.”

Abyan tersenyum-senyum, tapi cukup untuk merenggangkan ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka. “Iya udah kamu boleh berangkat kerja sendirian.”

“Terimakasih ya, Mas.”

“Mmmm, sama-sama.”

Zahra mulai mengambil tasnya, memastikan semua sudah siap. Rutinitas sederhana yang terasa menenangkan. “Oh iya, Mas nggak berangkat kerja?”

“Nggak Ay, masa pengantin baru langsung kerja, apa kata mereka? Kalau kamu kan memang tertutup identitasnya, kalau Mas nggak.”

“Iya juga sih. Tapi gimana kerjanya Mas di kantor, entar numpuk loh?”

“Ada Aziz yang handle, sisanya Mas kerjakan di rumah selama libur.”

Penjelasan itu terdengar biasa, tapi cukup menunjukkan bahwa dunia Abyan tetap berjalan hanya saja dengan cara berbeda.

“Iya udah aku berangkat dulu ya, Mas.”

Zahra mengangkat tangan, refleks kebiasaan yang masih ia jaga. Tetapi Abyan menyambutnya tanpa ragu.

“Nggak sarapan dulu, Ay?”

“Sarapan di rumah sakit aja Mas, ambil di kantin nanti. Aku pergi dulu ya, Mas.”

“Eh tunggu, pergi naik apa?”

“Taksi online.”

“Iya sudah hati-hati.”

“Iya Mas, assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.”

...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...

1
Yani Cuhayanih
Ko ada lllakiyg langka suka sama cewe matre kayak zahra....thor masih punya stock gk aku juga mo cowo kayak abyan hahaha
Yani Cuhayanih
ini acara nikahan yg paling aneh bin ajaib bisa dapet suami kayak opa ...gk mesti pdkt dulu langsung sah.....hebaaat
Alexa Juliana
Waahh Zahra koma 2 bulan...Tp syukurlah dia selamat dan bangun dalam keadaan baik2 saja..
Alexa Juliana
Kematiaj yg terlalu mudah buat Cherly, harusnya dia di siksa ala2 mafia dulu sampai dia meminta kematiannya sendiri..Duuuhhh knp aku juga psikopat yaaa?Efek sebel dan kesal sama si Cherly..
Alexa Juliana
Hadeuh si Zahra ini keras kepala juga, jalan saja sdh mulai susah Krn perut hamilnya malah pengen ke pasar tradisional, blm lg ancaman dr si ulat bulu yg pasti lg nunggu lengahnya buat ngelancarin aksinya..
Alexa Juliana
Msh berharap klo Zahra hamil bayi kembar, apalagi Hanum anaknya kembar jd biar tambah seru aja, blm nanti anak dr Falisha dan Mika semakin rame aja rumah utama..
Alexa Juliana
Klo klrg sdh ngumpul adaaaa ajaaaa bahan pembicaraan yg bikin seru..
Alexa Juliana
Fadeeeelll kamu dimana? Itu ulat bulu lepas dr pengawasan kamu, sampai2 udh nemplok aja meluk Mas Abyan..
Alexa Juliana
Berarti saat Zahra di culik itu kecebong sdh tumbuh..Alhamdulillah kecebongnya kuat, kualitas premium jd g kenapa2..
Alexa Juliana
Ishh Zahra katanya perawat tp g tau yg namanya Couvade Syndrome..
Alexa Juliana
Semoga saja Zahra benar2 hamil cuma gajala kehamilannya Abyan yg ngerasain..😁
Alexa Juliana
Ternyata Cherly ga metong...Hmmm berarti selama ini Abyan menangisi dan maratapi org yg salah sampai di rawat di RSJ..Kasihan Abyan ditipu mentah2, untung ada Fadel yg membongkar kebusukan Cherry..
Alexa Juliana
Tuuhhh kaannn bnr yg nyelamatin Zahra saat di culik adalah Mas Abyan, tp g nyangka juga ternyata dia punya geng mafia yg di pimpin oleh Fadel, sepupunya...
Alexa Juliana
Ngebayangin para suami yg ditinggal istrinya liburan, mana lama lagi 2 Minggu kelimpungan2 deh..dan udh pasti para suami pun nyusul para istri...😁😁
Alexa Juliana
Kartu unlimited..
Alexa Juliana
Makan malam Thor bukan sarapan malam..
Alexa Juliana
Mrk yg unboxing knp aku yg nahan nafas yaaa? 🤭😄
Alexa Juliana
Kenapa bukan Zen yg jd wali nikahnya Mika, kan dia kakak kandungnya Mika?
Alexa Juliana
Baca novel ini berasa baca buku hariannya Zahra deh..🤭🤭
Alexa Juliana
Abyan dan pasukannya yg nolong Zahra and the geng, makanya mata Zahra di tutup..lalu dianya pingsan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!