"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Malam
Tadi malam, Sekar tidak jadi ikut takbir keliling. Dira, keponakan tersayangnya itu, sudah mengantuk. Jadi, Sekar pulang terlebih dahulu sebelum takbir keliling dimulai.
Sekar masih ingat kejadian semalam. Mas Akbar, pemuda itu dengan berani menghampirinya. Padahal, banyak pemuda lain yang berada disekitar masjid hanya dapat memandang Sekar dari jauh.
Mereka, para pemuda itu ingin mendekati Sekar. Siapa yang tidak menyukai Sekar? Selama hampir satu bulan di rumah, Sekar tidak kemana-mana. Paling jauh, Sekar pergi ke tempat Mas Andra, untuk mengantarkan makanan atau ada keperluan lain.
Selama itu pula, ada beberapa dari pemuda masjid, yang mengirimkan pesan singkat kepada pemilik wajah manis itu. Sekar tidak terlalu menanggapi hal semacam itu. Mengaca dari kejadian sahabatnya, Esha. Esha pernah menjalin hubungan dengan kakak tingkatnya. Singkat cerita, Esha dihubungi oleh seorang perempuan, yang mengaku sebagai kekasih dari lelaki yang masih menjalin hubungan dengan Esha. Esha sampai menangis karena dituduh sebagai perebut kekasih orang. Akhirnya, kekasih Esha mengaku bahwa Esha hanya dimanfaatkan saja sebagai pelampiasan hati.
Sampai saat ini, Sekar masih betah menjomblo. Orang tuanya, baru-baru ini menyinggung masalah jodoh secara halus dengan Sekar. Tetap ditanggapi santai saja oleh Sekar.
Setelah membantu Ibu tercinta menata makanan ringan yang akan dihidangkan di meja untuk lebaran besok pagi, Sekar langsung membersihkan diri, lalu pamit untuk shalat Isya.
Ibu Sekar masih mengisi beberapa toples makanan dengan roti yang sudah dibeli di pasar atau dipesan khusus pada pembuat roti.
Selesai menata dan membereskan peralatan, Bu Koesuma bergegas menuju kamar putri manisnya itu.
Sekar sedang tertawa kecil sambil memandang layar gawainya. Bahkan Ibunya masukpun tidak tahu. Sang Ibu, hanya geleng-geleng melihat tingkah lucu putri kesayangan.
"Sedang apa, Mba? Kayanya serius sekali, sampai ketawa lagi?" Tanya Ibu, mendekati Sekar sambil berbisik telinga indah Sekar.
Sekar yang mendengarkan adanya sang Ibu di kamar, langsung duduk. Melihat ke arah Ibu, dan menunjukan isi layar gawainya. Sambil memicingkan matanya, Ibu Koesuma melihat nama pengirim pesan kepada anak gadisnya itu.
"Ini Akbarnya Bu Suryo, Mba? Punya nomor kamu darimana?" Tanya Ibunya lembut.
Aku menggeleng kepala. Lalu kujelaskan pada beliau, tentang Mas Akbar yang tampan itu.
Tentang pertemuan dengan Mas Akbar, yang pertama kali, bertemu di Malioboro. Mas Akbar tidak sendiri. Kami hanya berpapasan, Bu. Waktu itu, Mas Akbar sudah bersama dengan seorang wanita.
Aku menghela napas. Pertemuan kedua, waktu Mas Akbar, datang ke kosku untuk mengambil titipan dari Bu Suryo.
Pada pertemuan yang ketiga kali ini dengan Mas Akbar membuatku deg degan, Bu. Tapi kan Mas Akbar sudah ada pendamping ya, Bu.
Bu, Sekar kadang iri lihat teman membawa pasangan. Hati ini tidak munafik, Bu.
Aku juga ingin punya teman hidup. Sekali dalam seumur hidup. Mau diajak susah dan bahagia bareng.
Sekar ingin punya imam yang seperti Bapak, Bu.
Ingin yang seperti Bapak, Bu.
Itulah yang ada di benak Sekar sekarang. Setelah cerita panjang dan lebar dengan Ibua, Sekar beberapa kali terlihat menguap. Ibunya yang melihay gejala tersebut, langsung mengelus kepala Sekar pelan. Tidak lama kemudian, terdengar suara nafas yang teratur.
Ibu Sekar keluar kamar dan masuk ke kamar sendiri.
🌺🌺terima kasih sudah membaca🌺🌺