Kehidupan Nayla dan Azel sudah benar-benar berubah sejak terakhir kali bertemu. Nayla bertemu seseorang, kemudian putus dan tidak bisa move on. Azel menikah dengan seseorang, dikhianati kemudian bercerai.
Satu hari, mereka dipertemukan lagi di sebuah acara keluarga. Pertemuan itu membuat dunia mereka saling jungkir balik. Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Cover obtain from pexels, free to use.
IG author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nayla : Belum Siap
Karena pekerjaan yang membuatku berada di depan laptop terus menerus, mataku sering kelelahan. Biasanya setiap jam 4 sore, aku selalu jalan-jalan di sekitaran kantor klien, sebentar saja mengistirahatkan mataku. Ntah itu ke indomaret atau starbucks. Hal ini juga kulakukan untuk menjaga kewarasanku dari deadline dan pekerjaan menumpuk.
“Gin, mau ikut turun gak?”
“Mau kemana?”
“Gak ada sih. Pengen jajan aja. Terus duduk-duduk di taman bawah, mata gue mulai panas, butuh istirahat.”
“Gak deh, vouching-an gue masih banyak banget.”
“Nitip apa gak?”
“Cemilan dong. Apa kek."
“Chitato? Lays?”
"Lays aja. Party pack ya. I love you."
"Hahaha. Sinting."
Aku pun berjalan keluar dari ruangan auditor. Aku menekan tombol lift. Begitu lift tiba, aku pun masuk. Tapi saat pintu hampir tertutup sempurna, sebuah tangan terulur. Pintu lift otomatis terbuka.
Azel masuk.
Kalian tahu tidak background musik annoying di FTV kurang budget setiap kali ada adegan romantis? Aku bisa mendengar musik itu sekarang. Sumpah, gak bohong.
“Eh, Nayla.” Azel terlihat terkejut.
“Hi, Zel.”
Pintu tertutup. Hanya ada kami berdua di dalam lift.
“Mau kemana?” Dia bertanya.
“Starbucks, Zel. Oh iya, by the way, thanks ya buat kopinya kemarin.”
“You’re welcome. Aku juga mau ke starbucks, barengan mau?”
Aku langsung mengangguk, "Boleh."
KENAPAAAAA? KENAPA AKU TIDAK BISA MENOLAK AZEL?
Begitu pintu lift terbuka, kami berjalan ke arah Starbucks, hanya ada antrian tiga orang.
Aku melirik Azel.
“Do you mind if I pay this time?”
(Kamu keberatan gak kalau aku yang bayar kali ini?)
“With all respect, Nay, please don’t.”
(Dengan segala hormat, Nay, please jangan dong.)
“Kenapa?”
“Gak apa. Kehormatan buatku.”
“Tapi…”
“Aku tuh temen abang kamu, Nay. Biarin aja aku yang ngehandle urusan ini. Mau apa?”
“Signature chocolate aja.”
“Jangan jadi terbebani gitu dong, Nay.”
“Gak enak dibayarin terus, Zel.”
“Yauda, lain kali kamu traktir aku makan dimana deh. Deal?”
“Deal.”
Dan semudah itu kami membuat janji untuk bertemu lagi. Rasanya, begitu aku mendapat ice chocolate ku, aku ingin langsung menyiramkannya ke kepalaku sendiri agar aku bisa berpikir.
“Kamu take away atau mau disini dulu?” Azel bertanya.
“Take away deh.”
“Take away dua ya, Mas.”
Lalu kami duduk menunggu pesanan setelah Azel membayar.
“Mau langsung balik kerja? Istirahat dulu kali. Disini ada taman bagus banget, coba kesana istirahat lihat yang hijau-hijau.”
“Emang niatnya mau kesana, Zel, hehehe.”
Dia tersenyum, “Boleh gabung gak?”
“Gak enak dilihat orang gak sih?”
“Kamu peduli?”
“Aku mah tiga minggu lagi udah balik ke kantorku, Zel. Kamu yang gimana.”
“Bos mah udah biasa digosipin.”
Dia mengedip. Aku tertawa.
“Gilaaaa, kamu sombong banget.”
“Daripada minder.”
“Bener juga.”
“Jadi?”
“Ya, terserah kamu aja.”
“Mas Azeeeeel!” Seorang Barista memanggil untuk memberikan pesanan kami.
Azel menyerahkan Signature Chocolate ku, kami pun berjalan keluar dari gerai itu menuju taman. Lalu kami duduk di sebuah bangku taman.
“How’s work?”
“Work or just Ataya?”
“Hahaha. You know lah. Ataya, I mean.”
“Nemu beberapa adjustment sih, aku udah e-mail, tapi masih mau diperiksa lagi sama Bu Sinta. Kalau udah fix semua, kita bakal loop kamu di email kok.”
“Beneran? Baru tiga hari. Seberantakan itu ya pembukuan kita.”
“Sebenarnya karena tim kamu kurang orang sih, Zel. Semuanya jadi overload.”
“Iya, kita semua sadar kurang orang, tapi budget kita masih ketat banget.”
“Kamu gak mau mempertimbangkan ngehire outsource, Zel? Jadi kerjaan yang admin banget bisa dihandle sama mereka. Tim kamu yang sekarang bisa menghandle kerjaan yang lebih penting. Satu dua outsource gak bakal memberatkan perusahaan kamu sih.”
“Hm, let me think about it.”
(Hm, biarin aku berpikir dulu tentang ini.)
“Harus. Akhirnya aku ngerti kenapa Bu Sinta galak, kerjaannya buaaanyaaak banget.”
“Hahaha, aku tau. Performance dia yang paling aku perjuangin tahun ini ke HRD.”
Lalu Azel memandangku, lama.
“Berhenti ngomong soal kerjaan deh... Apa kabar hidup akhir-akhir ini?"
Matanya Azel, pandangannya… bisa tidak terkunci buatku saja?
Hahaha. Ingin kubekap saja mulut lancang ini.
“Hidup? Gak tau deh."
“Kenapa?”
“Akhir-akhir ini hambar banget rasanya, Zel.”
“Apa yang salah?”
“Kalau aku tau kenapa, aku bisa cari solusinya, Zel. Masalahnya, aku gak tau. Hahaha.”
“Middle-age crisis gak?”
“Kayaknya bukan sih. Aku cuma merasa kosong aja.”
Azel kelihatan berpikir sejenak.
“Sebenarnya, aku pernah ada di titik itu.”
“Beneran? Gimana caranya kamu keluar?”
“Nyari seseorang atau sesuatu yang kamu sukain. Dulu aku sempat kayak kamu, tapi aku sadar aku masih punya Rara. Dia membuatku terus berjalan, dia membuatku tetap waras.”
“Aku juga punya keluargaku. Tapi tetep aja rasanya ada yang hilang.”
“Coba cari hobby deh, Nay. Aku mulai olahraga juga karena itu.”
“Aku cuma suka shopping.”
Azel tertawa, “Itu mah bukan hobby. Itu penghargaan buat diri sendiri.”
“Iya juga sih.”
“Kalau hobby gak ada, gimana kalau mencari orang yang kamu sukai?”
Azel tersenyum padaku. Di ujung lidahku ini rasanya ingin melontarkan kalimat, “Mau sih, tapi kamunya mau gak?”
Tapi untung saja aku masih waras. Aku tertawa saja deh.
“Itu lebih susah kayaknya, Zel.”
“Apa susahnya, Nay, kamu masih muda dan cantik.”
“Dua puluh delapan tahun gak muda lagi sih, Zel.”
“Muda lah.”
“Dibandingin kamu sih iya.”
“Wah, mulai nih gak sopan.”
“Hahaha.”
“Tapi kadang-kadang, aku penasaran sih…”
Azel menggantungkan kalimatnya.
“Apa tuh?”
“Kenapa kamu sampe sekarang belum punya pacar, Nay? Pasti yang deketin kamu banyak deh.”
Aku tertawa lagi.
“Pertama, waktuku gak ada. Kedua, circle aku ya kantor lagi kantor lagi. Peluang buat ketemu calon pacar tuh kecil banget, Zel.”
“Masa sih? Kamu kan juga banyak ketemu klien, masa gak ada yang nyantol?”
Ini lagi nyantol, kamu merasa dicantol gak? Dalam hati saja tapi hahaha. Luarnya mah aku menggeleng.
“Serius deh Nay, spill the truth. Aku tau ada sesuatu yang lain.”
Aku tau Azel adalah orang yang bisa kupercayakan ceritaku. Tapi ternyata aku masih tidak bisa. Aku langsung membentengi diriku. Luka ku ini belum sembuh dan aku belum siap untuk membicarakannya dengan siapapun.
“Kapan-kapan deh aku cerita. Ah, uda hampir sejam ternyata. Aku balik ya, Zel. Gak enak sama Regina.”
“Kok tiba-tiba?”
“Iya nih. Gak sadar waktu. Duluan ya, Zel.”
Aku langsung berbalik, hendak meninggalkan dia.
“Nay…”
Azel memanggil. Aku berhenti, membalikkan badan lagi ke arahnya.
Dia tersenyum.
“You can talk to me about anything, anytime. I’ll listen.”
(Kamu bisa bicarain apapun dan kapanpun denganku. Aku bakal dengerin.)
Hatiku diselimuti kehangatan. OH TIDAK. TIDAK.
“Thanks.” Aku langsung berlari menjauh darinya.
Tidak. Hari ini, gue masih belum siap.
***