Kehidupan dua insan manusia yang berbeda latar belakang namun saling berkaitan secara tidak langsung.
Sahabat Pena...
Mungkin itulah yang membuat mereka terhubung hingga sekarang. Diawali dengan sebuah pertemanan melalui surat semenjak kecil namun tidak pernah sekalipun bertemu.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan pekerjaan.
Akankah mereka saling mengenali satu sama lain???
Serta, apakah surat yang selama ini mereka tulis dan terima hanyalah sebuah mainan belaka atau adakah diantara mereka yang menuangkan perasaan di setiap baitnya.
Dan bagaimanakah akhir dari pencarian mereka satu sama lain???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SANG PURNAMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Untung saja Jessica sudah memeluk ibu tersebut dan melindunginya dari barang-barang yang sedang terjatuh dari atas akibat susunan barang yang terlalu tinggi dan tidak rapi hingga membuat barang-barang itu berjatuhan.
Naas sekali barang yang berjatuhan itu berupa kaleng-kaleng yang sangat keras. Ikan kaleng yang lebih tepatnya jatuh menimpa punggung Jessica yang melindungi ibu tadi.
Sang ibu yang dipeluk dan dilindungi Jessica sangat terkejut dengan apa yang sedang terjadi.
Berjatuhannya barang-barang tersebut menimbulkan suara yang sangat gaduh hingga mengundang beberapa pengunjung dan pegawai supermarket datang ke sumber suara dan melihat dengan jelas kejadian tersebut. Tidak ada yang berani mendekat karena mereka takut kaleng itu juga akan melukai diri mereka.
Di rasa kaleng-kaleng ikam tadi sudah tidak lagi berjatuhan, banyak orang yang mendekati Jessica dan ibu-ibu tadi.
Ibu itu sangat kaget melihat keadaan Jessica yang sangat kesakitan menurutnya dan terlihat ada robek sedikit di kening atas Jessica yang membuat darah mengalir di wajahnya.
Ibu itu pun langsung berteriak meminta tolong kepada orang-orang disana.
"Tolong??.." teriak ibu tersebut.
"Tenang bu, saya tidak apa-apa. Bagaimana dengan ibu, apakah ada yang sakit" ucap Jessica dengan mengusap aliran darah di keningnya menggunakan baju lengan panjang yang sedang ia pakai saat ini.
Mata ibu itu nampak berkaca-kaca. "Kamu kenapa menyelamatkan saya, lihatlah sekarang kamu yang jadinya terluka. Ayo sekarang kita kerumah sakit sekarang" ajak ibu tersebut.
"Tidak bu, tidak usah, saya benar-benar tidak apa-apa sekarang" tolak Jessica secara halus.
Namun usahanya sia-sia, ibu tersebut nampak ngotot dengan ucapannya.
Jessica pun mengambil kembali mengambil troli belanjaannya dan membawa barang-barang tersebut ke kasir bersama ibu yang tadi ia selamatkan yang juga ikut membayar barang belanjaannya.
Mereka berdua sudah keluar dari supermarket dengan menenteng belanjaan masing-masing, penampilan Jessica nampak lusuh dengan beberapa anggota tubuhnya yang kemerahan dan bisa saja sekarang sudah membiru.
Untunglah Jessica sekarang menggunakan baju dan celana panjang yang dapat menutupi memar di tubuhnya tersebut. Namun bagian atas keningnya nampak darah yang tadi sempat mengalir sudah terlihat mengering.
"Tunggu sebentar ya nak, anak ibu sedang dalam perjalanan untuk menjemput kita" ucap si ibu.
"Saya sudah tidak apa-apa bu, ibu jangan merasa bersalah. Lagian saya ikhlas menolong ibu tadi" jawab Jessica yang merasa tidak enak.
Ibu tersebut menggelengkan kepalanya dengan jari telunjuk tangan kanan yang juga ikut bergerak searah dengan kepala tersebut yang menandakan jika dirinya sedang tidak menerima penolakan.
Akhirnya Jessica pun mengalah saja dan tidak lagi mau mendebat si ibu tersebut.
Tidak seberapa lama sebuah mobil terlihat berhenti tepat didepan mereka, Jessica yang menundukkan kepalanya tidak menyadari hal tersebut.
"Ibu tidak apa-apa, apa yang terjadi sebenarnya??" tanya seseorang kepada ibu yang berada di samping Jessica.
"Ibu tidak apa-apa karena perempuan ini yang tadi membantu ibu" jawab ibu tersebut.
Mendengar hal tersebut Jessica lantas mengangkat kepalanya dan memalingkan wajahnya kearah samping.
Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci.
"Nona Jessica??"
"Sekertaris Ren??"
Keduanya berbicara serempak, hingga membuat ibu yang berada ditengah mereka menjadi kebingungan.
"Kamu mengenal perempuan ini nak??" tanya sang ibu.
"Ah iya bu, kami bekerja di Perusahaan yang sama" sahut Sekertaris Ren yang tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Jessica.
Sedangkan Jessica yang di tatap intensif seperti itu menjadi malu dan langsung memalingkan wajahnya kearah lain. Hal itu tidak lepas sedikitpun dari tatapan curiga sang ibu hingga memunculkan senyuman diwajah ibu Sekertaris Ren.
Bagaimana tidak malu jika sekarang saja ia terpesona dengan penampilan Sekertaris Ren yang sangat berbeda ketika bekerja. Berpakaian kasual begitu sangat menambah daya tarik bagi wanita mana saja yang melihatnya.
"Ayo nak, kita bawa perempuan ini ke rumah sakit, dia begini gara-gara menolong ibu tadi" ucap sang ibu.
"Benarkah, apa Nona tidak apa-apa??" tangan Sekertaris Ren refleks memegangi kening Jessica yang masih nampak darah kering disitu.
"Saya sudah tidak apa-apa, anda tidak usah khawatir" sahut Jessica sungkan atau lebih tepatnya malu karena harus berada di jarak sedekat ini dengan Sekertaris Ren.
"Ah maaf, saya tidak sengaja. Maafkan kelancangan saya barusan"
"Tidak apa-apa"
Disaat kedua insan tersebut saling melemparkan pandangan malu-malu, sang ibu yang sedari tadi diam pun angkat bicara karena sudah merasa gemas dengan tingkah mereka berdua.
"Ayo nak kita antarkan dulu dia kerumah sakit baru setelah itu kita antar dia kerumahnya" ucap ibu.
"Dan ibu tidak menerima penolakan" sahut ibu cepat ketika melihat Jessica yang sudah siap mengeluarkan suara.
Apalah daya, Jessica pun ikut masuk ke mobil Sekertaris Ren setelah barang belanjaannya di taruh Sekertaris Ren di bagasi bersama belanjaan sang ibu.
Jessica dan ibu Sekertaris Ren duduk di bangku penumpang dengan Sekertaris Ren yang mengemudikan mobil tersebut menuju rumah sakit. Tidak ada pembicaraan diantara ketiganya, mereka semua hanya fokus pada pikiran masing-masing.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hanya ada keheningan menemani, sesekali Jessica melirik kearah depan di mana terlihat Sekertaris Ren yang fokus terhadap kemudi.
Namun beberapa kali pandangan mereka bertemu ketika ketahuan sedang melirik kearah masing-masing dan hal itu tentu saja membuat Jessica makin malu dan merasa canggung.
Berbeda dengan Jessica yang malu, Sekertaris Ren nampak biasa saja dengan wajah datarnya dan kembali fokus kearah jalanan sembari memegang kemudi mobil tersebut.
Sampai dirumah sakit, mereka bertiga bergegas turun dan dengan cepat Jessica mendapatkan perawatan. Sebenarnya luka Jessica tidaklah parah namun karena permintaan ibu Sekertaris Ren yang mengharuskan dirinya kerumah sakit, mau tidak mau Jessica menurutinya.
Terlihat dokter wanita itu begitu telaten membersihkan luka dari Jessica dan mengamati seluruh tubuh Jessica seperti sedang menaruh curiga. Tatapan mata dokter wanita itu langsung berubah tajam ketika melihat kearah Sekertaris Ren.
"Ibu bisa katakan yang sebenarnya, tidak perlu takut karena ibu sekarang sudah aman. Kita dirumah sakit dan saya jamin akan melindungi ibu" ucap dokter wanita itu kepada Jessica.
Sedangkan orang yang sedang di ajak bicara terbengong tak berdaya alias tidak mengerti kemana arah pembicaraan dokter tersebut.
Bukan hanya Jessica, bahkan Sekertaris Ren dan ibunya pun ikut bingung tidak mengerti mendengarnya.
"Maaf dok, saya tidak mengerti apa yang dokter maksud tadi??" tanya Jessica sopan.
Karena memang dirinya tidak mengerti sama sekali apa maksud dokter wanita itu.
"Ibu tidak perlu takut, saya pasti akan melindungi ibu. Saya tau ibu ini barusan mengalami KDRT kan. Dengan bukti sebanyak ini suami ibu bisa dituntut, kami akan melakukan visum ditubuh ibu untuk menjadikannya bukti di pengadilan nanti" tutur dokter wanita itu panjang lebar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nah hayoloh Ren, elu ngapain anak orang sampe disangka kdrt 🙄🤣🤐🤣
tp itu siapa yg kirim surat nya?