Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012
Tamu yang Terlalu Sering Datang
Naomi datang lagi dua hari kemudian dengan alasan mengembalikan wadah kue.
Wadah itu bahkan bukan milik keluarga Liem.
Yola mengetahuinya begitu melihat kotak plastik merah muda di tangan Naomi. Sari juga mengetahuinya, tetapi ia hanya menunduk untuk menyembunyikan senyum. Mama Liem yang sedang membaca di ruang keluarga malah langsung meminta dapur menambah teh dan kue.
"Naomi, kamu tidak perlu mencari alasan untuk datang," kata Yola setelah mereka duduk di ruang kecil sayap timur.
Ruang itu awalnya hanya ruang baca kosong, tetapi Mama Liem mengizinkan Yola memakai meja dekat jendela untuk membersihkan botol-botol kaca antik dari Papa Hartono. Sejak itu, ruangan tersebut mulai berbau alkohol pembersih, bunga kering, dan sedikit pear blossom dari saputangan kain yang Yola gunakan untuk mengelap.
Saputangan biasa.
Bukan saputangan Kevin.
Yola masih berusaha tidak memikirkan benda putih yang belum dikembalikan Rayhan.
Naomi meletakkan kotak plastik di meja, lalu duduk di kursi seberang. "Kalau aku bilang langsung mau main, nanti kedengeran manja."
"Memang."
Naomi membuka mulut, lalu tertawa. "Kak Yola ternyata bisa nyerang juga."
"Saya hanya menjawab jujur."
"Nah, itu. Aku suka." Naomi menopang dagu. "Ngomong-ngomong, boleh nggak kalau aku pakai gue-lo kalau cuma berdua? Kalau di depan Mama Liem, aku tetap sopan. Tapi kalau terus pakai saya-kamu, rasanya kayak wawancara beasiswa."
Yola menatapnya beberapa detik. Naomi menunggu dengan mata terlalu serius untuk permintaan sekecil itu.
"Kalau hanya berdua," kata Yola akhirnya.
Naomi langsung tersenyum lebar. "Deal. Tapi Kak Yola boleh tetap pakai apa pun yang nyaman. Gue fleksibel."
"Katamu kamu tidak manja."
"Manja dan fleksibel bisa satu paket."
Yola tidak bisa menahan senyum.
Naomi memperhatikan botol-botol kaca di meja. "Ini sudah dibersihin semua?"
"Sebagian. Botol lama harus hati-hati. Kalau masih ada residu aroma lama, campuran baru bisa rusak."
"Kayak hati orang?"
Yola berhenti mengelap.
Naomi sadar ia bicara terlalu cepat. "Maaf. Refleks sok puitis."
"Tidak apa-apa." Yola mengangkat satu botol kecil ke arah cahaya. "Kadang memang mirip. Aroma lama tidak selalu hilang. Kita hanya belajar mengenalinya, supaya tidak merusak yang baru."
Naomi menatapnya diam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Naomi tidak langsung bercanda.
"Kak Yola masih sering sedih karena Kak Kevin?"
Pertanyaan itu lembut. Tidak seperti pertanyaan socialite di Hartono Estate yang mencari celah untuk menusuk. Naomi bertanya seperti seseorang mengetuk pintu sebelum masuk.
Yola meletakkan botol kaca. "Iya."
"Maaf."
"Kenapa kamu minta maaf?"
"Karena aku baru ingat, selama ini orang mungkin lebih sering lihat Kak Yola sebagai janda daripada sebagai orang yang kehilangan seseorang."
Yola menatap Naomi.
Gadis itu menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. "Semalam setelah pulang, aku kepikiran. Waktu tante-tante itu nanya soal rumah Liem, mereka nggak peduli Kak Yola selamat dari kejadian itu atau nggak. Mereka cuma cari bahan gosip."
"Kamu sudah membelaku."
"Harusnya lebih galak."
"Sudah cukup galak."
"Belum. Kalau Mama nggak melarang, aku bisa sebut nama mereka satu-satu di grup keluarga."
Yola tertawa pelan. "Jangan. Nanti Papa Hartono pusing."
"Papa sudah pusing karena aku."
"Kamu anak bungsu?"
"Kelihatan banget?"
"Sedikit."
Naomi pura-pura tersinggung, lalu mengambil satu botol kosong. "Ajari aku. Kalau aku bantu, aku punya alasan lebih valid buat sering datang."
"Alasanmu belum valid?"
"Belum. Aku butuh status resmi. Asisten botol."
Mereka bekerja hampir satu jam. Naomi ternyata ceroboh tetapi patuh. Ia salah mengambil kain dua kali, hampir menjatuhkan tutup perak sekali, dan bertanya terlalu banyak tentang fungsi setiap botol. Namun ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh setiap kali Yola menjelaskan.
Perlahan, ruangan kecil itu dipenuhi suara kaca bersentuhan halus dan tawa pendek Naomi.
Yola tidak sadar betapa lama ia tidak punya teman perempuan yang datang hanya untuk duduk bersamanya tanpa meminta ia menjadi kuat.
Pintu ruang baca diketuk dua kali.
Yola menoleh. "Masuk."
Rayhan berdiri di depan pintu.
Perban di bahu kanannya tidak terlihat di balik kemeja gelap, tetapi gerakan lengannya masih lebih kaku daripada biasa. Di belakangnya, Ardi menunggu dengan map tipis.
Naomi langsung duduk lebih tegak. "Kak Rayhan."
Suaranya berubah.
Yola mendengar perubahan itu sebelum ia melihat wajah Naomi. Nada yang tadi ringan menjadi lebih rapi, lebih manis, seperti gadis kecil yang tiba-tiba ingat sedang berdiri di depan seseorang yang ingin ia buat terkesan.
Rayhan hanya mengangguk. "Naomi."
"Bahunya sudah mendingan?"
"Tidak parah."
Yola menutup botol kecil sedikit lebih keras daripada perlu.
Rayhan menoleh padanya.
Naomi menatap Yola, lalu Rayhan. "Kayaknya kalau Kak Rayhan bilang nggak parah, artinya parah tapi gengsi."
"Kamu terlalu sering bicara dengan Denny," kata Rayhan.
"Denny lebih jujur dari Kak Rayhan."
"Itu bukan standar tinggi."
Naomi tertawa.
Yola memperhatikan wajah Naomi saat tertawa. Ada warna merah tipis di pipinya. Bukan karena malu pada leluconnya sendiri. Lebih seperti seseorang yang bahagia karena mendapat jawaban, sekecil apa pun, dari orang yang ia tunggu sejak lama.
Yola menunduk pada botol di tangannya.
Aneh, pikirnya. Kenapa dadanya terasa sedikit tidak nyaman?
"Mama mencari kamu," kata Rayhan kepada Yola.
"Mama?"
"Dokter menelepon soal kontrol lukaku. Mama ingin kamu dengar instruksinya."
Yola berdiri. "Baik."
Naomi ikut berdiri terlalu cepat. "Aku tunggu di sini."
Rayhan menatap meja penuh botol. "Jangan pecahkan apa pun."
"Kak Rayhan, aku bukan anak lima tahun."
"Aku bicara berdasarkan kemungkinan, bukan usia."
Naomi membuka mulut, lalu tertawa lagi. "Nyebelin."
Rayhan sudah berbalik.
Yola mengikuti sampai pintu, tetapi sebelum keluar, ia menoleh kepada Naomi. Gadis itu masih melihat punggung Rayhan dengan senyum yang belum sempat disembunyikan.
Saat itulah Yola mengerti.
Naomi Hartono tidak hanya kagum kepada Rayhan.
Ia menyukainya.
Kesadaran itu turun pelan, seperti setetes aroma asing ke dalam botol yang sedang Yola bersihkan.
Tidak kuat.
Tapi cukup untuk mengubah seluruh campuran.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅