NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006

Sang Predator

"Pembohong," gumam Seraphina pelan.

Namun kartu nama itu tetap ia simpan.

Sore harinya, sebelum ia sempat meminta bagian legal memeriksa tawaran Hartono Group, ponselnya bergetar. Nama Hendrawan Lim muncul di layar, singkat dan berat seperti perintah.

Seraphina menatap panggilan itu sampai hampir terputus, baru mengangkatnya.

"Ya, Papa."

"Malam ini kau kosong?"

"Ada rapat legal."

"Pindahkan."

Seraphina memejamkan mata sebentar. Di meja kerjanya masih ada dokumen Hartono, laporan tim, dan daftar vendor perangkat. Semua punya tenggat jelas. Semua lebih masuk akal daripada makan malam keluarga yang pasti tidak benar-benar keluarga.

"Untuk apa?"

"Makan malam. Ada teman lama Papa yang ingin bertemu."

Teman lama.

Seraphina langsung teringat ucapan Hendrawan di meja sarapan: Jakarta punya banyak teman yang ingin mengenalmu.

"Apakah ini permintaan atau perintah?"

Di seberang sana, Hendrawan diam sesaat.

"Seraphina, jangan membuat hal sederhana menjadi rumit."

"Hal sederhana biasanya tidak membutuhkan nada seperti itu."

"Sopir akan menjemputmu pukul tujuh. Pakai pakaian yang pantas."

Telepon ditutup.

Seraphina menurunkan ponsel. Di kaca ruang kerjanya, bayangan dirinya tampak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipindahkan dari satu papan catur ke papan catur lain.

Ia mengirim pesan kepada staf operasional untuk memindahkan rapat legal ke besok pagi, lalu membuka lemari kecil di sudut ruangan. Pakaian yang ia pilih bukan gaun lembut seperti milik Yolanda, melainkan dress hitam sederhana dengan blazer putih tulang. Rapi, formal, tidak memberi ruang bagi orang untuk mengomentari kulit atau bentuk tubuhnya lebih dari yang sudah mereka niatkan.

Kalau Hendrawan ingin memamerkan barang, ia akan datang sebagai pisau.

Restoran malam itu berada di Senopati, di lantai atas gedung butik dengan lift privat dan ruang makan tertutup. Dari jendela kaca, lampu kota tampak mahal dan jauh. Di meja bundar, Hendrawan sudah duduk bersama tiga orang yang belum pernah Seraphina temui langsung, tetapi wajah mereka cukup sering muncul di media.

Herman Wijaya, pejabat senior dengan senyum politisi yang terlatih.

Cynthia Wijaya, istrinya, mengenakan set perhiasan berlian yang berkilau setiap kali ia menggerakkan tangan.

Dan Kevin Wijaya.

Kevin duduk menyandar, satu lengan di sandaran kursi, kancing atas kemejanya terbuka sedikit. Ia menatap Seraphina bukan seperti menyambut tamu, melainkan seperti menilai barang yang baru dibuka dari kemasan.

Tatapan itu bergerak dari wajah, leher, pinggang, lalu kembali ke mata.

Lambat.

Sengaja.

Seraphina berhenti di samping kursi.

Hendrawan berdiri. "Sera, ini Pak Herman Wijaya dan Bu Cynthia. Kevin pasti sudah sering kau dengar."

"Selamat malam, Pak Herman. Bu Cynthia." Seraphina menunduk sopan secukupnya.

Herman tersenyum lebar. "Akhirnya kami bertemu juga. Pak Hendrawan terlalu lama menyembunyikan putrinya."

Kata putri keluar mulus dari mulutnya, tanpa beban. Orang seperti Herman pandai memakai kata yang membuat luka terdengar seperti kehormatan.

Cynthia menilai gaun Seraphina. "Cantik. Lebih sederhana dari yang saya bayangkan."

"Terima kasih," jawab Seraphina.

Kevin tertawa kecil. "Sederhana itu bagus, Ma. Tidak semua orang cocok dibuat glamor."

Hendrawan menatap Seraphina sekilas. Sebuah peringatan sunyi.

Jaga sikap.

Seraphina menarik kursi dan duduk. "Betul. Beberapa orang juga tidak cocok diberi kekuasaan, tapi dunia tetap penuh kejutan."

Sendok di tangan Cynthia berhenti.

Kevin mengangkat alis, lalu tersenyum lebih lebar. "Ternyata tajam juga."

"Saya hanya menjawab sesuai nada pembuka."

Herman tertawa, seolah itu lelucon lucu. "Anak muda sekarang memang berani. Bagus, bagus. Keluarga Lim butuh darah segar."

Makan malam dimulai dengan sup ikan, dilanjutkan bebek panggang dan sayur kailan. Pembicaraan di meja bergerak dari proyek infrastruktur, izin kawasan industri, sampai kebijakan pengadaan teknologi. Herman berbicara seperti semua keputusan kota adalah sesuatu yang bisa dinegosiasikan di meja makan. Hendrawan menanggapi dengan senyum tipis, terlalu akrab untuk disebut kebetulan.

Seraphina mendengar lebih banyak daripada bicara.

Semakin lama, semakin jelas mengapa ia dibawa ke sana.

Wijaya punya akses politik. Lim punya kebutuhan untuk bertahan. Dan dirinya, anak yang baru dipanggil pulang setelah bertahun-tahun disembunyikan, sedang diletakkan di tengah meja sebagai pengikat yang bisa terlihat indah kalau dibungkus dengan kata pertemanan keluarga.

Kevin menuang wine ke gelasnya sendiri, lalu menoleh kepada Seraphina. "Jadi, katanya kamu punya perusahaan teknologi?"

"Ya."

"PT apa tadi? Astoria?"

"PT Astoria Teknologi."

"Lucu." Kevin memutar gelas. "Perempuan cantik biasanya lebih cocok di bisnis fashion atau beauty. Teknologi itu keras, banyak laki-laki kasar. Kamu tidak takut?"

Seraphina memegang pisau dan garpu tanpa mulai makan.

"Saya lebih takut pada laki-laki yang mengira teknologi hanya milik mereka."

Kevin tertawa. "Galak. Aku suka."

Ia mengatakan itu sambil menatap bibir Seraphina.

Di bawah meja, jari Seraphina mengencang pada gagang garpu. Bukan karena takut. Karena ia menahan dorongan untuk meletakkan garpu itu tepat di punggung tangannya.

Hendrawan berdeham. "Kevin baru saja kembali dari Singapura. Dia banyak terlibat di proyek keluarga."

"Terlibat atau difoto saat proyek selesai?" tanya Seraphina.

Cynthia menatapnya tajam. "Maksudmu?"

Seraphina tersenyum sopan. "Saya hanya bertanya. Di beberapa perusahaan, kontribusi dan dokumentasi sering tertukar."

Wajah Kevin berubah sedikit.

Herman masih tersenyum, tetapi matanya mulai dingin. Hendrawan menaruh serbet di meja, gerakannya kecil namun penuh tekanan.

"Sera."

Kevin mengangkat tangan, pura-pura santai. "Tidak apa-apa, Om Hendrawan. Aku suka perempuan cerdas. Lebih seru dijinakkan."

Kata itu membuat udara di meja mendadak beku.

Dijinakkan.

Seraphina meletakkan pisau dan garpu dengan sangat pelan. Bunyi logam menyentuh piring terdengar jernih.

"Pak Kevin," ucapnya, sengaja memakai Pak dengan nada formal yang membuat jarak semakin lebar. "Kalau cara Anda membaca proposal sama seperti cara Anda membaca perempuan, saya paham kenapa keluarga Wijaya butuh orang lain untuk menyelamatkan proyeknya."

Senyum Kevin hilang.

Cynthia menarik napas tajam. Herman memandang Hendrawan. Hendrawan tidak langsung bicara, tetapi urat di rahangnya mengeras.

Seraphina mengambil tas kecilnya.

"Terima kasih untuk makan malamnya. Saya harus kembali bekerja."

Hendrawan berdiri. "Seraphina, duduk."

"Rapat legal saya memang dipindahkan, tapi pekerjaan saya tidak menunggu izin keluarga Lim."

Ia menunduk singkat kepada Herman dan Cynthia, lalu berbalik meninggalkan ruangan. Di belakangnya, kursi Kevin bergeser kasar.

"Anak itu perlu diajari sopan santun," suara Kevin terdengar rendah.

Seraphina tidak berhenti.

Koridor menuju lift terasa panjang. Begitu pintu lift tertutup, barulah ia menarik napas. Telapak tangannya dingin, tetapi punggungnya tetap tegak. Ia tidak akan gemetar di tempat yang masih mungkin memiliki kamera.

Di lobi restoran, hujan baru saja reda. Aspal masih basah, memantulkan lampu kuning dari kanopi. Sopir keluarga Lim belum terlihat. Mungkin memang belum dipanggil. Mungkin Hendrawan sengaja membiarkannya menunggu sebagai hukuman kecil.

Seraphina berdiri di tepi kanopi, mengeluarkan ponsel.

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.

Rolls-Royce Cullinan.

Kaca belakang turun perlahan.

Di dalam, Reynard Hartono duduk dengan wajah dingin. Dasi hitamnya longgar sedikit, matanya menatap Seraphina dari atas ke bawah, berhenti pada jemarinya yang masih mencengkeram ponsel.

Suaranya rendah.

"Naik. Sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!