"Kenapa semua orang bertanya, kapan nikah... kapan nikah. Nanti jika sudah saatnya aku akan menikah juga." rutuk Zahira kesal.
Seorang gadis yang sudah berusia 25 tahun. Belum menikah sehingga kedua orang tuanya mencarikan jodoh untuknya.
Gadis itu bernama Zahira Banafsha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata perhatian juga
Dengan santai mengendarai sepeda motornya, Zahira berangkat ke tempat kerjanya. Di belakangnya Adam juga berangkat bekerja. Laki-laki tampan itu menjajarkan motornya ke motor Zahira membuat Zahira harus menoleh begitu motor sport yang tak asing di pandangannya bersisian dengan motornya.
"Zahira berhentilah!" Panggil Adam dengan suara keras membuat Zahira menghentikan laju motornya.
"Ada apa Kak?" Tanya Zahira setelah membuka helm dan mematikan mesin motor.
"Nanti saat makan siang, kita bertemu di warung bakso yang kemarin." Ucap Adam dengan suara dingin.
"Cuma berdua saja nih?" Tanya Zahira memastikan.
"Iya." Angguk Adam.
"Apa boleh kalo aku mengajak Dini, temanku?" Tanya Zahira.
"Tidak bisa." Dingin Adam.
Zahira menghela nafas. "Ya udah deh." Pasrahnya kemudian.
"Ya sudah hanya itu yang mau aku bahas. Ayo berangkat biar tidak telat." Ucap Adam sambil menyalakan sepeda motornya. Melajukan kendaraannya beriringan dengan Zahira. Lebih tepatnya Adam di belakang Zahira.
Mereka pun berpisah saat di tengah jalan, karena berbeda arah tujuan. Zahira sudah sampai di tempat kerjanya. Kemudian memakirkan sepeda motornya di tempat parkir. Setelah melepas helm, Zahira langsung berjalan ke dalam Swalayan.
"Selamat pagi Neng cantik." Sapa Pak Satpam pada Zahira yang berdiri di depan pintu.
Zahira pun tersenyum ramah kepada pria paruh baya itu. Selalu saja Pak Satpam ini memanggil dirinya dengan sebutan cantik.
"Selamat pagi juga Pak." Jawab Zahira sopan.
"Pak Satpam ini tahu aja mana yang cantik mana yang enggak." Sahut Eko terkekeh menggoda Pak Satpam.
Eko yang juga baru tiba langsung ikutan nimbrung.
"Ya jelas toh Mas Eko, Neng Zahira ini kan memang cantik orangnya." Akui pria paruh baya itu, juga dengan kekehan.
"Iya, makasih ya Pak Satpam atas pujian setiap paginya pada saya." Sahut Zahira tersenyum.
"Sama-sama Neng." Jawab Pak Satpam.
"Ayo Ko kita masuk, kita bersih-bersih dulu membantu yang lain." Ajak Zahira menghentikan obrolan mereka.
"Kami masuk dulu Pak Satpam. Yang semangat Pak kerjanya." Ucap Eko seraya menepuk bahu pria paruh baya itu. Satpam tersebut mengangguk mengiyakan.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam Swalayan. Meletakkan tas mereka ke dalam loker masing-masing. Setelah itu membantu rekan-rekan lainnya mengelap rak-rak yang sedikit berdebu.
***
Jam istirahat tiba. Zahira melaksanakan sholat Dzuhur di musholla Swalayan. Begitu juga dengan teman-teman lainnya yang juga bergantian untuk melaksanakan sholat.
"Ra.. kamu makan siang di mana, aku ikut ya." Ucap Dini melepas mukenah.
"Maaf ya Din, untuk hari ini aku nggak bisa ngajak kamu. Aku udah ada janji dengan seseorang." Ucap Zahira sambil melipat mukenah.
Kening Dini mengkerut. Tumben Zahira ada janji makan siang biasanya juga tidak pernah.
"Ya udah deh jika tidak bisa." Jawab Dini santai.
"Eh, tapi aku penasaran, cewek apa cowok yang makan siang sama kamu?" Goda Dini menaik turunkan alisnya.
Zahira tersenyum lucu. "Apa sih, kepo kamu." Jawab Zahira.
"Ayolah Ra.. kasih tahu aku?" Dini menggoyang lengan Zahira.
Tapi Zahira tidak menjawab dan membiarkan Dini dengan rasa penasarannya.
"Kamu mah, nggak asyik." Manyun Dini kesal.
Zahira hanya tertawa karena Dini terus-terusan membujuknya agar memberitahu.
"Udah ya, aku harus pergi. Takut dia nunggu lama, Bye bye bestie.." Lambai tangan Zahira meninggalkan Dini. Barlari kecil menuju parkiran motor.
Setibanya di warung bakso. Zahira mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Adam. Melihat Adam yang melambaikan tangan membuat Zahira tersenyum lalu mendekat ke arahnya.
"Udah lama Kak?" Tanya Zahira lalu duduk di depan Adam dengan mengulas senyum manis.
"Baru saja." Jawab Adam dingin.
Pelayan datang menghidangkan dua mangkuk bakso beserta es teh. Sebelum Zahira datang Adam sudah memesan duluan makanannya itu.
"Makanlah." Ucap Adam mendekatkan mangkuk bakso kepada Zahira.
Tentu saja dengan senang hati Zahira langsung memakan baksonya yang menurutnya sangat-sangat spesial, bagaimana tidak ternyata Adam perhatian juga.
"Tumben Kakak ngajak aku makan siang?" Tanya Zahira di sela-sela suapannya.
"Hanya ingin saja." Jawab Adam singkat lalu meminum es teh-nya. Zahira menganggukkan kepalanya.
Melihat Zahira yang menghabiskan makanannya dengan begitu cepat membuat Adam tersenyum tipis.
"Alhamdulillah kenyang." Ucap Zahira seraya mengelus perutnya lalu menyenderkan punggungnya di kursi.
"Lapar ya? Cepat sekali kamu menghabiskan semangkuk bakso itu. Punyaku saja masih banyak." Kata Adam melihat bakso Zahira yang hanya tinggal kuahnya saja itu pun cuma sedikit.
"Hehe.. iya Kak. Lapar banget aku. Di tempat kerja tadi pembelinya sangat rame." Jawab Zahira kikuk.
"Apa mau nambah lagi." Tawar Adam.
"Eh, tidak usah Kak." Tolak Zahira dengan cepat, merasa sungkan.
"Aaa.. malu banget aku..." Jerit hati Zahira. Harusnya tadi ia bisa berlagak anggun sedikit saat makan.
.
.
.
Bersambung..
kemunafikan dalam novel ini yang di benarkan oleh wanita2
*pelakor dilaknat tapi pebinor dibela
*pelakor suka pada suami orang dianggap menjijikan sedangkan pebinor suka pada istri orang hal biasa
*pelakor diperlakukan sangat2 kasar tapi pebinor dibela
*suami cemburu dibilang cemburu buta dan salah suami tapi istri cemburu dibilang dibilang normal dan tetap salah suami
*istri boleh cemburu sedangkan suami tidak boleh
*istri boleh baik pada lelaki lain tapi suami tidak boleh
*istri boleh lembut pada lelaki tapi tapi suami tidak boleh
*istri boleh membela pria lai tapi suami tidak boleh
*suami membela pria lain dinggap keslahan fatal tapi istri membela pria lain adalah hal biasa
Thor novel mu hanya menunjukkan keegoisan mu dan kemuna..kan mu dalam berkatya
contoh pria munafik adalah
melaknat pebinor tapi lembut pada pelakor
contoh wanita munafik adalah melaknat pelakor tapi lembut pada pebinor
dan dari novel kelihatan jelas cara kau memperlakukan pelakor dam pebinor
sekian dan Terima kasih
tapi saat posisi pemeran utama wanita yang tidak tegas pada pebinor, semua reader wanita bungkam dan anggap itu bukan masalah besar
ini pebinor diperlakukan lembut
ini kehebatan wanita kalau buat novel
otomatis semua reader langsung ngegas, menghujat dan melaknat habis habisan
tapi kalau pebinor yang berulah
para reader tenang2 aja kayak tidak ada masalah