Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.
Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.
Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.
Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12 Kejutan
"Dek, tolong jangan percaya. Itu hanya jebakan yang sengaja dibuat oleh Ibu." Aku mencoba meminta Arini untuk mengerti, berharap ia mampu memilah siapa yang benar dan siapa yang salah.
Tak pernah aku sangka kalau ibu akan menggunakan video rekaman itu di saat-saat Arini sedang begitu romantisnya denganku. Sepertinya ini adalah cara wanita licik itu untuk merusak hubunganku dengan Arini. Mungkin ia cemburu.
Arini masih tak mempedulikan ucapanku, ia masih saja fokus dengan video dalam gawai itu. Sungguh ini membuatku ingin menghabisi wanita itu. Apalagi saat kulihat lengkungan bibir menghias wajah wanita barbar yang seolah menyiratkan ia sedang mengejekku.
"Arini, sekarang kamu lihat sendiri bagaimana suami memperlakukan aku. Aku ini hanya wanita tua yang lemah, dia pukul pun aku tak kuasa membalas." Wanita iblis itu kembali mengompori peri baik hati yang masih saja bersikap tenang dengan posisi duduk manisnya.
Ah, Arini. Kamu ini makhluk apa? Tak ada ekspresi terkejut ataupun marah. Selalu seperti itu, tenang tanpa emosi meledak-ledak. Mudah sekali kamu mengontrol emosi dan pikiranmu.
"Bu, tolong jangan fitnah saya. Kalau Ibu tidak membocori ban motor, aku nggak akan marah. Ibu yang keterlaluan!" Sanggahku mencoba membela diri.
"Aku membocori ban motor? Kapan? Memangnya kamu lihat? Punya bukti?"
Huff ... lagi-lagi aku kalah. Benar, aku tak punya bukti apapun. Posisiku yang sekarang justru benar-benar terpojok. Bagaimana aku harus membela diri dan membuktikan bahwa semua itu hanyalah akal-akalan wanita licik yang kegatelan itu.
"Aku memang tidak ada bukti, Bu. Tapi yang di rumah hanya aku dan Ibu. Nggak mungkin aku yang bocorin ban motor sendiri, kan?"
"Danu, kamu itu sudah salah. Bukan mengaku tapi malah mencoba membalikkan fakta."
"Fakta apa? Ibu yang licik sudah menjebakku!"
"Apa untungnya aku menjebakmu? Aku tahu kamu itu hanya ingin menguasai harta Arini dan kamu berusaha menyingkirkan aku!"
Deg!
Sungguh terlalu fitnah kejam ibu mertua yang sedang berdiri di hadapanku ini. Hampir saja tanganku melayang ke pipi wanita tak tahu malu itu, kalau saja Arini tidak berteriak memintaku berhenti.
Muak dan benci seketika merayap ke seluruh sudut hati. Rasa tertarik yang dulu sempat muncul kini beralih menjadi dendam yang tak akan aku biarkan begitu saja.
"Mas Danu, Ibu ... silahkan duduk dulu. Aku tidak mau ada pertengkaran di rumah ini. Bikin rumah tidak berkah!" pinta Arini tegas.
Aku dan wanita itu menurut, aku duduk di sebelah Arini dan wanita licik itu duduk di sofa yang ada di sebelah kiri Arini. Kulihat ekspresi wanita itu masih tersenyum penuh ejek, sedangkan wajahku sudah tak mampu kuungkapkan.
Hatiku sudah tak karuan rasanya, ingin sekali menghajar mulut rombeng si wanita ****** yang super duper licik itu. Sungguh di luar dugaan, liciknya seorang Hera ternyata melebihi Gayus Tambunan.
Kulihat Arini menghela napas, jelas ada yang bergemuruh di dadanya, namun ia berusaha untuk meredam. "Wanitaku, aku tak bermaksud menyakiti hatimu dengan cara ini. Tolong ... jangan percaya," bisikku dalam hati.
"Mas, bisa jelaskan ini?" Tangan Arini menunjukkan video dalam gawai ke arahku.
"Apalagi yang harus dijelaskan, Arini? Itu video sudah sangat jelas gimana ...."
"Ibu bisa diam?" potong Arini dengan pandangan tajam ke ibunya, wanita itu langsung terdiam tanpa berani melanjutkan ucapan.
"Jelaskan, Mas. Aku mau dengar langsung dari kamu."
"Iya, Dek. Jadi begini ...."
Aku jelaskan awal mula kenapa aku marah-marah seperti itu. Emosi karena didorong oleh rasa jengkel yang berlebih membuatku khilaf. Aku yang diburu waktu justru menemukan ban motor kempes depan belakang dengan dua paku masih menancap.
"Kamu tahu siapa yang melakukan?" tanya Arini menyelidik.
"Dek, di rumah ini kalau kamu pergi yang ada hanya aku dan ibu. Terus siapa lagi kalau bukan ibu yang ngelakuin itu?"
"Jadi, Mas Danu hanya menduga-duga saja? Menuduh tanpa bukti bisa jadi fitnah, lho, Mas."
"Betul itu, dengar tuh, Danu. Kalau kamu menuduh Ibu tanpa bukti, itu namanya kamu sedang fitnah Ibu." Celoteh wanita tak tahu diri itu dengan angkuhnya.
"Duh, Arini! Sungguh terlalu kamu ini. Makin ngelunjak dia," gerutuku dalam hati. Kutepuk jidat karena tetiba bintang dan lebah sepertinya sedang berputar di kepalaku.
"Sekarang Arini tanya ke Ibu."
"Boleh, Arini mau tanya apa aja nanti Ibu jawab. Arini tahu kalau Ibu ini selalu jujur, kan?" ucap wanita itu sembari mengulas senyum penuh kepalsuan yang membuatku semakin ingin mengoles sambal satu cobek ke mulutnya.
Geram sangat aku dibuatnya. Seharusnya dia itu mending ikut kontes pencarian bakat akting, karena dia sangat pantas jadi ratu drama dengan peran bermuka dua. Akting di film dapat honor, lha kalau ini? Hanya bikin kisruh rumah tangga anak saja.
Kembali kuperhatikan Arini yang masih mencoba untuk tetap tenang, namun ada getar dalam suara dan juga helaan napas. Terkadang ia mengalihkan pandangan ke langit-langit rumah. Ya, ada yang ia tahan.
"Bu, benar Mas Danu marah-marah ke ibu?"
"Ya benar lah ... kamu kan bisa lihat sendiri itu videonya."
"Terus yang rekam video itu siapa, Bu?"
"Duuh ... Arini, kamu itu bodoh atau bagaimana? Sudah jelas-jelas ibu yang didzolimi, masih saja mengajukan pertanyaan konyol."
"Jawab saja, Bu. Nggak usah panjang lebar."
"Ibu yang rekam, kenapa?" Wanita itu mulai sewot dan menujukkan sikap tak ramah.
"Ibu yang didzolimi tapi kok bisa merekam adegan itu? Gimana caranya, Bu?"
"Ya sebelumnya ibu siapkan kamera laah ...."
"Berarti sudah direncana?" tanya Arini sembari memicingkan mata.
Skak matt! Pertanyaan yang menjebak. Bola mataku membeliak menatap tajam wanitaku yang super cerdas ini. Tak kusangka Arini mampu mengurai benang kusut tanpa memaksa pelaku untuk mengaku.
Kulihat wanita licik itu kelabakan, ekspresi bingung dan merasa terjebak jelas terlihat. Rasanya aku ingin tertawa keras melihat wajah pias yang menahan antara malu dengan amarah.
"Ma-maksud kamu apa, Arini?" Dia masih saja berpura-pura tak mengerti.
"Katakan kenapa Ibu memasang kamera?"
"Ya ... ya karena Ibu tahu dia akan marah-marah."
"Darimana ibu tahu?"
"Da-da-dari ... Ah, sudahlah, Arini. Percuma Ibu jelaskan." Wanita itu mengibas tangan dan hendak berdiri.
"Tidak ada yang pergi dari sini sebelum masalah selesai! Duduk atau pergi dari rumah ini!" tegas Arini membuat wanita itu menghempas kembali tubuhnya ke sofa dengan dengkusan kesal.
"Kenapa Ibu tidak menjawab? Jadi, benar ibu yang membuat ban motor Mas Danu bocor?"
"Terserah apa katamu!" ketus wanita tak tahu malu yang sudah ketahuan akal busuknya itu.
"Baiklah, sekarang aku hapus video ini. Sebagai gantinya akan aku kirim video lain untuk Ibu." Jari Arini dengan cepat menekan tombol delete pada gawai, kemudian mengirimkan video lain ke gawai Bu Hera.
Video? Video apa ya? Kenapa begitu banyak hal yang disembunyikan Arini dariku. Bikin aku kepo maksimal saja.
Dasar, wanita! Tak bisa aku tebak jalan pikirannya. Arini yang begitu kalem dan tenang pembawaannya selalu membuatku terkejut dengan sikapnya.
Sekarang ia membuatku tak sabar menanti untuk tahu apa isi video itu.