Dia terlihat piawai bermain dengan ekspresi dan gesture tubuhnya. Bergaya dengan busana elegant dan mewah. Ketampanannya adalah anugerah dan ekspresi adalah bahasa jiwa. Membuat semua wanita dan rekan bisnisnya berdecak kagum.
Namun siapa sangka, di balik kegemilangan kariernya, ia menyimpan sisi gelap yang hidup di alam bawah sadarnya. Latar belakangnya Kesepian dan kepedihan hidupnya ia sembunyikan dengan sekeras-kerasnya hingga nyaris tidak memiliki kehidupan pribadi. Bahkan ia tidak mengerti apa itu cinta. Yang ia pahami hanya rasa sakit dan tersisih.
Dalam perjalanan alam bawah sadar ia menciptakan pribadi lain di saat ada guncangan emosional datang. Entah saat sedih atau gembira, bahkan saat bercinta,
ia menjelma menjadi pribadi lain yang bernama Rava Alexi Ortama, dengan sifat yang sangat cerdas, licik, dingin, psikopatik dan sangat bengis.
Saat menjadi Rava, yang ia pikirkan adalah mencari teman untuk dirinya di masa lalu. Semua orang harus mengalami rasa sakit, penderitaan, kesepian, ketakutan, sama seperti yang dirasakannya selama ini.
Penasaran dengan kisahnya, yuk simak jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu lagi
"Beb, ke kantin yuk. Aku lapar nih." Ajak Rina di jam istirahat.
"Rin, kayanya aku izin pulang. Ibuku sakit, dan aku sudah janji mau mengantarnya ke rumah sakit siang ini." Kata Beby lalu meletakkan alat alat kebersihan di tempatnya lagi.
"Ibumu sakit apa?" tanya Rina sambil berjalan bersama menuju ruangan Galih.
"Beberapa hari ini, ibu sering mengeluhkan sakit di kepalanya. Aku takut terjadi sesuatu, kau tahu bukan? aku tidak punya siapa siapa lagi selain ibu." Jawab Beby.
"Baiklah, kau izin saja dulu. Nanti kalau kau butuh bantuan katakan saja, kali aja aku bisa bantu kamu." Tawar Rina.
"Terima kasih!" sahut Beby tersenyum merangkul bahu Rina sesaat.
Kemudian Rina dan Beby berpisah di ujung lorong. Rina menuju kantin, sementara Beby menuju ruangan galih. Namun langkahnya terhenti berpas pasan dengan Rava.
"Siang Pak!" sapa Beby.
Namun Rava terlihat cuek, tidak menanggapi sapaan Beby dan berlalu begitu saja. Berbeda saat ia berpas pasan dengan bawahannya yang lain, Rava tersenyum dan menyapanya.
"Huh dasar aneh, bodolah emang gue pikirin." Umpat Beby. Lalu melangkah lagi menuju ruangan Galih.
***
Setelah mendapatkan izin, Beby langsung pulang kerumah. Lalu membawa ibunya ke rymah sakit. Beruntung ia masih punya uang yang di ambil sewaktu audisi semalam.
Sesampainya di rumah sakit. Beby berpas pasan lagi dengan Rava yang tengah mendorong kursi roda. Seorang wanita berparas cantik duduk di kursi roda dengan tatapan kosong.
"Pak Rava?" sapa Beby.
Namun Rava hanya diam, lalu mendorong kursi roda lagi menuju lorong rumah sakit. Beby menoleh ke belakang menatap punggung Rava.
"Siapa wanita itu? cantik biarpun sudah tua." Gumam Beby.
"Hah? ibuku kemana?" Beby terkejut saat melihat ke samping Ibunya sudah tidak ada. "Oh ya ampun ibu, pasti kau kumat lagi."
Beby bergegas mencari ibunya di setiap sudut ruangan rumah sakit. Dia sudah berkeliling namun tidak menemukan ibunya.
Namun tak lama kemudian, ia dapat bernapas lega. Mendapati ibunya tengah bersama seorang Dokter yang ia kenal.
"Ibu!"
"Beby?" sapa Aditya yang ternyata dokter ganteng itu bertugas di rumah sakit tersebut.
"Eh Pak Dokter, ternyata tugas di sini?" sapa Beby lalu menarik tangan Ibunya dan menggenggamnya erat supaya tidak hilang lagi.
"Aku baru tugas di sini satu bulan yang lalu." Jawab Aditya dengan ramah.
"Pantas saja aku tidak pernah melihatmu," timpal Beby.
"Dia, ibumu?" tanya Aditya.
"Benar Dok!" sahut Beby.
"Ayo masuk ke ruanganku, kita bicara di dalam." Usul Aditya.
"Baiklah Dok!"
Kemudian Beby mengikuti langkah Aditya menuju ruangannya. Di sela sela langkahnya, Aditya bertanya tentang ibunya Beby.
Beby menceritakan kalau ibunya mengidap alzheimer, tidak hanya itu. Ibunya juga sering mengeluhkan sakit di kepalanya.
"Di mana ruanganmu, Dok?" tanya Beby.
"Di lantai dua." Kata Aditya.
Kemudian mereka masuk ke dalam lift menuju lantai dua. Tak lama lift terbuka, dan langkah mereka terhenti saat berpas pasan dengan Rava lagi.
"Pak Rava!" sapa Beby.
Namun Rava hanya menatap tajam kearah Beby, lalu beralih menatap Aditya Pratama. Kemudian ia mendorong lagi kursi rodanga, dan berbisik di telinga Aditya.."Kau lupa? sudah kukatakan jauhi gadis itu."
Rava tersenyum sinis di sudut bibirnya lalu masuk ke dalam lift. Aditya menoleh ke arah Beby.
"Apa yang dia bisikkan?" tanya Beby.
"Kau mengenal pria tadi?" tanya Aditya.
"Iya, dia atasanku di tempatku bekerja. Apa kau tidak mengenalnya? dia Rava Alexi Ortama, pemilik agensi terbesar di kota ini.
"Rava Alexi Ortama..?" Aditya mengulang nama yang di sebutkan Beby.
"Kenapa?" tanya Beby.
"Tidak apa apa." Kata Aditya, lalu ia mengajak Beby dan ibunya masuk ke dalam ruangannya.