Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.
Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.
Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 : Belajar Mengendalikan Magica
Yula meyakinkan Toni dan yang lainnya untuk bercerita lebih banyak tentang keluarga kerajaan Durasec sebanyak mereka tahu. Akhirnya mereka berhenti bermain diganti dengan bercerita, bahkan gosip tentang bangsawan dan keluarga kerajaan. Yula mendengarkannya dengan baik tanpa luput satu pun informasi. Benar atau tidaknya cerita anak-anak tersebut akan ia cari tahu sendiri saat kembali ke istana Durasec.
Jika anak-anak sudah berkumpul untuk bermain dan bercerita mereka akan lupa waktu. Hingga petang tiba, langit berwarna keorenan, matahari yang akan segera terbenam menyadarkan mereka untuk segera mengakhiri permainan dan segera pulang ke rumah masing-masing. Mereka semua saling berpamitan.
Saat Toni dan Mary berniat untuk mengantar Yula ke ruma. Yula langsung menolak dengan alasan tahu jalan pulang. Ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya kalau ia pengelana yang singgah di Durasec dan menginap untuk beberapa hari di istana, begitulah Yula selalu rendah hati pada siapapun yang menjadi temannya.
Namun ia sudah berbohong, bahkan ia sadar betul pertemuan dengan teman-teman barunya itu menjadi pertama dan yang terakhir karena kemungkinan besar ia tak akan dapat waktu untuk bermain seperti hari ini. Yula melambaikan tangan pada Toni dan Mary dari seberang sungai.
Yula melangkahkan kaki untuk segera kembali ke istana. Tapi ia malah memilih berjalan sebentar menelusuri sungai. Tebakannya tak pernah salah. Ia menjentikkan jari saat menemukan sosok yang ingin ia dekati. Ia melihat Hikson di tepi sungai, sedang berlatih mengeluarkan magica api.
.
.
.
Hikson mencoba kembali mengeluarkan magica api lewat tangannya. Api pun menari di tangannya, tapi hanya api kecil dan tak bertahan lama. Secara spontan Yula menghampiri Hikson yang masih berjuang menguasai elemen apinya dengan isak tangis yang ia tahan.
“Jangan dipikirkan bagaimana cara ia keluar, tapi rasakan dan bayangkan,” kata Yula menghampiri Hikson.
Hikson terkejut. Ia menoleh ke arah Yula yang kini berada di sampingnya.
“Halo!” sapa Yula ramah. “Namaku Yula. Anak baru,” jelasnya.
Hikson hanya tertunduk lemas.
“Aku dengar kamu ingin mengendalikan elemen api, tapi tak ada yang bisa mengajarimu?” tanya Yula. Hikson tak menjawab. “Namamu Hikson, bukan?”
Hikson mengangguk. “Dari mana kamu tahu namaku?” tanyanya heran.
“Dari Toni. Kau tahu?”
“Ooh, Kak Toni.”
“Kau kenal dia?”
“Dia kakak kelasku.”
“Oh, begitu.”
Mereka terdiam sesaat.
“Bagaimana cara merasakannya?” tanya Hikson.
“Apanya?”
“Tadi bukannya kamu yang bilang, bukan dipikirkan tapi dirasakan,” Hikson mengingatkan.
“Ooh~, magica!” Yula menjentikkan jari. “Kamu harus mencoba untuk merasakan magica yang ada dalam dirimu. Jika kamu sudah merasakan magica itu ada dalam dirimu baru bayangkan bentuk seperti apa yang ingin kamu keluarkan dari tanganmu, atau dari mulut, hembusan napas bahkan bisa dari tendangan!” jelas Yula riang seakan semuanya terasa mudah.
Ekspresi Hikson tergambar jelas masih tak mengerti. Yula mencoba mencari kata-kata lain untuk penjelasan yang lebih mudah.
“Coba tutup matamu. Ambil napas panjang, keluarkan perlahan. Ulangi hingga kamu merasa tenang dan terbiasa akan bernapas seperti itu. Hilangkan semua beban dan pikiranmu. Dari gelapnya penglihatanmu akan dunia, kamu akan menemukan sesuatu yang ada dalam tubuhmu yang selama ini tak kamu sadari.”
Hikson mengikuti perintah dan saran Yula. Setelah ia merasa tenang, ia melihat setitik cahaya hangat dari pandangannya. Lama-kelamaan cahaya itu membesar dan terasa membakar tubuhnya. Hikson tak sanggup melihatnya dan ia pun membuka mata. Keringat mengalir dari tubuhnya yang gemetaran. Ia tak mengerti apa yang barusan ia lihat.
Yula tersenyum pada Hikson. “Kau melihat sesuatu, bukan? Apa yang kamu cemaskan? Apa yang kamu takutkan? Yang kamu lihat itu tak lain ialah kekuatan yang ada dalam dirimu, Hikson! Jadi tak ada yang perlu ditakutkan,” jelas Yula.
Hikson kaget. “Apa itu benar?”
Yula mengangguk.
“Apa aku bisa mengendalikannya?” tanya Hikson mencoba untuk mempercayainya.
“Ubah pikiranmu dari kata mengendalikan menjadi pertemanan. Kenali ia sebagai suatu yang kamu percayai, kekuatan magica yang kita miliki ialah satu-satunya teman yang kita miliki jika tak ada yang bisa menolong kita. Apa kamu sudah berkenalan dengan elemen magica-mu?”
Hikson mengangguk agak ragu.
“Kalau begitu cobalah bayangkan seperti apa ia keluar dari tanganmu!”
“Aku ingin membuat sebuah bola api,” jawab Hikson spontan dan semangat.
“Cobalah!”
Hikson pun berkonsentrasi mengimajinasikan sebuah bola di tangannya. Ia merasakan kakuatannya mengalir ke telapak tangannya dan api pun keluar secara perlahan. Mula-mula hanya api biasa dan kemudian menjadi bola. Kejadian itu hanya sesaat namun membuat Hikson kelelahan.
“Selamat! Kamu sudah menguasai elemen api!” seru Yula.
“Belum,” tolak Hikson lemas.
“Tinggal mempelajarinya lebih dalam. Kamu hanya perlu mengenal kemampuan yang ada dalam dirimu. Itu saja! Dan ingat, i-ma-ji-na-si!”
Hikson pun tersenyum. Ada sedikit cercah rasa percaya diri timbul dalam dirinya. Ia mengangguk, setuju dengan Yula dan bersumpah pada dirinya sendiri untuk belajar dan berlatih lebih giat akan elemen apinya tersebut.
“Terima kasih, Kak Yula! Ajaran kakak sangat membantu! Aku tak tahu harus membalasnya dengan apa,” sahutnya senang.
“Tak perlu. Berlatihlah dengan giat, itu balasannya untukku,” ucap Yula bangga. Ia bertingkah dewasa di depan anak yang lebih kecil darinya. Ia merasa seperti senior yang telah sukses mengajar juniornya.
“Baiklah! Oh, iya, ngomong-ngomong, kakak punya elemen magica apa? Apa sama denganku? Karena kupikir hanya sesama elemen saja yang bisa mengajarkan hal yang sama.”
“Aku?” Yula pun mengadahkan telapak tangannya. Angin yang berputar menjadi sebuah pusaran beliung ukuran kecil. Itu sudah cukup menjawab pertanyaan Hikson, membuat anak itu terkagum-kagum.
“Tidak harus sesama elemen untuk belajar magica. Elemen magica setiap orang memang berbeda, tapi menurutku cara menguasainya sama, yaitu mengenal dan menguasai magica kita sendiri. Karena magica telah bersatu dengan tubuh kita sejak kita lahir sebagai magicier. Tapi kalau aku sih lebih suka berimajinasi. Haha....”
Yula tertawa sendiri dengan pemikirannya, karena itu yang paling mudah, ia mengakui hal itu. Hikson terhibur dengan apa yang diajarkan oleh Yula, ia pun ikut tertawa.
Yula tersadarkan matahari yang segera tenggelam. Ia harus cepat tiba di istana sebelum jam makan malam dan ia tak boleh tercium aroma keringat matahari karena bermain seharian.
“Aku harus cepat pulang. Aku tak mau kakak memarahiku karena pulang telat,” kata Yula pada Hikson. “Kamu juga, bukan?”
“Iya. Ibu pasti akan memarahiku. Kalau begitu sampai ketemu besok, kak Yula. Terima kasih atas ajarannya!”
“Sama-sama! Dan jangan gunakan magica-mu untuk hal-hal jahat, ya! Ingat pesan dari seniormu ini!” pesan Yula membanggakan dirinya.
Hikson tertawa mendengarnya. Ia pun berlari menuju rumahnya. Yula melambaikan tangan perpisahan pada Hikson.
Walau aku tak tahu esok aku ada disini atau sudah pergi. Maaf sudah tak jujur dengan kalian semua yang sudah mau menjadi teman bermain sehari ini. Terima kasih Toni, Maria dan anak-anak Durasec lainnya. Dan juga Hikson. Semoga suatu saat nanti aku bisa bermain dengan kalian lagi.
Yula terenyak sesaat.
Hikson….
Ia baru menyadari suatu hal.
“Di desa ini hanya dua orang yang memiliki magica tersebut, Hikson dan Pangeran Esha. Sayang sekali tak ada yang bisa mengajarkannya menguasai magica api, katanya sih dari keluarganya pun tak ada yang memiliki magica seperti itu.”
Ia kembali melihat jalan yang telah dilalui Hikson.
Jika garis keluarganya tak memiliki elemen api, dari mana ia dapat elemen tersebut? Dan di kerajaan ini hanya mereka berdua?
Yula tak mau menebak lebih jauh. Karena jawabannya terlalu menyakitkan. Anak hanya akan menerima apapun magica yang dimiliki oleh kedua orang tuanya, atau pun dari garis keturunan yang ada. Jika anak tersebut memiliki magica yang berbeda dari keluarganya, sudah dapat ditebak jawabannya, bukan?
Yula memutuskan untuk kembali, berlari meninggalkan pasar. Karena hari hampir gelap, ia terpaksa mengandalkan magica-nya. Jika ia memutuskan kembali menggunakan kereta barang terlalu lama sampai ke istana. Ia pergi ke belakang sebuah rumah yang tak ada satu pun orang lewat, lalu ia melompat dengan magica angin ke atap rumah, kembali melompat dan terbang seperti angin menuju istana.
Sekitar beberapa meter dari gerbang istana, ia turun dan berlari menuju istana. Menyapa para pengawal kembali hingga membuat mereka heran. Yula membuka sepatu agar langkahnya tak bersuara, hendak berlari jika tak ada orang di koridor. Lalu mengumpat di balik tiang jika ada pengawal atau dayang yang lewat. Mengumpat agar bajunya yang kotor karena noda tanah tak terlihat. Ia kembali berlari hingga tiba di kamar istirahatnya dan Lacus. Di sana Lacus telah menunggunya sambil berkacak pinggang kesal.
“Kau terlambat, Putri Yula!”
Yula tertunduk lemas. Ia menunduk hormat, “Maafkan saya, Tuan Putri. Maaf~,” sesalnya dengan gaya agak berlebihan.
Lacus menghela napas berat, ia memaklumi sifat Yula dan memaafkannya. Ia mulai tersenyum, “Lalu, apa yang kamu dapatkan dari berkeliling desa?”
Yula tersenyum lebar, “Oh, sangat banyak, Yang Mulia Tuan Putri~,” jawabnya membanggakan diri.
Lacus ingin mendengar segala informasi yang didapat oleh Yula, tapi ia menyuruh anak itu untuk bersegera mandi terlebih dahulu, lalu menukar pakaian karena mereka akan segera menghadiri jamuan makan malam bersama dengan keluarga kerajaan Durasec. Lacus akan mendengarkan Yula setelah makan malam, dan semoga saja ia tidak ketiduran karena sekali Yula bicara, anak itu tak akan berhenti hingga bisa dipastikan ceritanya akan menjadi pengantar sebelum tidur. Bahkan bisa lebih panjang daripada cerita sebagai pengantar tidur biasanya.