Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelecehan
Visual Erika
Bab ini mengandung sedikit kekerasan. Mohon bijak dalam membaca.
"Bagaimana kalau aku yang jadi pacarmu mulai sekarang?" tanya Evans cepat.
"Apa?" Erika terkejut betapa cepatnya laki-laki di hadapannya ini mengatakan hal itu.
"Apa kamu mau jadi pacarku?" Evans menghentikan makannya lalu menatap Erika dengan wajah yang serius.
"Eum.. Aku.. Aku... " Erika tampak ragu. Bagaimana ini? Rasanya terlalu cepat. Tapi, bukankah ini yang Erika inginkan?
Evans yang melihat Erika tampak bingung kembali membuka suara. "Ya sudah kalau tidak ma...."
"Mau kok, Kak," sambar Erika cepat.
"Sudah kuduga." Senyum sinis sempat terlihat di wajah Evans, sayang Erika tak menangkapnya. Erika terlalu sering menunduk malu. Karena memang itulah gerak alami dari si gadis polos yang baru gede ini.
"Makasih." Evans tersenyum manis sekali. Erika dengan tulus ikut tersenyum.
Sehabis makan, mereka pergi berjalan-jalan dan berbelanja. Mereka memilih baju-baju dan dress yang cantik-cantik untuk Erika. Lalu di satu tempat, karena merasa lelah, Erika duduk di sebuah kursi panjang, sementara Evans masih sibuk memilih sepatu yang cocok untuk Erika bersama pelayan yang juga membantu memilihkannya. Padahal Erika sudah menolak, tetapi Evans tetap mengajak Erika ke toko sepatu itu. Tak berapa lama Evans melangkah mendekati Erika. "Kamu harus mencoba ini. Sepatu ini sangat imut, cocok untukmu." Evans tersenyum lalu tiba-tiba berjongkok di hadapan Erika yang masih dalam posisi duduk.
"Eh? Kakak mau apa?" Erika terkejut melihat Evans menyentuh kakinya. Perasaannya tidak enak. "Kak, biar aku saja yang..."
"Tidak apa-apa, biarkan aku memakaikannya untukmu, Tuan Putri." Wajah Erika merona merah melihat perlakuan Evans yang lembut dan sangat romantis menurut Erika, rasanya seperti berada di dalam drama Korea.
"Wah imut sekali! Makasih, Kak Evans," ucapnya ceria. Erika berdiri dan berputar-putar lincah dengan sepatu imut itu. Dia benar-benar merasa sangat diistimewakan hari ini.
***
Hari sudah sore. Begitu keluar dari pusat perbelanjaan, ternyata suasana di luar sudah mendung.
Setelah di dalam mobil.
"Kenapa Kakak membelikan aku banyak begini? Aku jadi merasa tidak enak, Kak." Sebenarnya Erika merasa kurang nyaman karena hari pertama kencan saja, Evans sudah keluar uang banyak.
"Memangnya salah ya?"
"Bukan salah, tapi kan ini....."
"Kamu kan pacarku sekarang. Wajar kalau aku membelikanmu."
"Eum, makasih ya, Kak." Wajah Erika kembali lagi merona mendengar kata pacar. Sungguh, sampai sekarang saja Erika masih merasa berada di dunia dongeng. Seorang pangeran telah jatuh cinta padanya dan sekarang menjadi pacarnya. Benar-benar bahagia sekali hatinya.
"Cuaca semakin dingin, pakailah ini." Evans mengambil paper bag yang berisi pakaian luar yang sebelumnya dikembalikan Erika padanya tadi pagi.
"Tidak usah, Kak," ucap Erika sambil mendorong tangan Evans yang menyodorkannya paper bag. Melihat Erika menolak, Evans langsung saja mengambil pakaian luar tersebut dan memakaikannya ke tubuh Erika dengan sikap lembut dan hangat.
"Aku tidak mau gadisku kedinginan," ucap Evans sambil mengecup singkat sisi kepala Erika. Erika terkejut dikecup seperti itu, dia kembali tersipu malu. Bagi Erika yang masih polos, Evans benar-benar sangat romantis.
Beberapa waktu kemudian mereka telah sampai di depan gang rumah Erika. Erika dan Evans sama-sama keluar dari mobil. Evans terlihat membawa semua belanjaan Erika.
"Ayo Kak mampir ke rumah!" ajak Erika penuh semangat karena dia juga sudah memberitahu ibu dan kakaknya akan kedatangan Evans.
"Lain kali saja, Erika. Soalnya masih ada urusan," jawab Evans lembut sambil memberikan belanjaan tersebut ke tangan Erika. Erika menerima belanjaan itu. Kedua tangan Erika jadi penuh tas belanjaan.
"Kalau boleh tahu, ada urusan apa, Kak? Bukannya waktu itu Kakak ingin mampir ke rumah?" tanya Erika sedikit kecewa.
"Ada urusan pekerjaan. Lain kali aku pasti mampir," jawab Evans berbohong.
Sebenarnya Evans memang tidak ingin mampir karena dia sama sekali sudah tidak berniat lagi mengenal keluarga Erika. Evans mengajak Erika berpacaran saat ini pun cuma sebentar saja. Sekedar bermain-main, untuk memberi pelajaran pada gadis itu karena telah berani mencoba untuk mempermainkannya.
Namun, dari kejauhan tanpa sengaja, Evans melihat seseorang yang berjalan ke arah mereka. Seseorang yang sepertinya Evans pernah melihatnya. Ya, seseorang yang memakai pakaian persis seperti yang dipakai pria yang ada bersama Erika dalam foto-foto yang dilihat Evans dari ayahnya. Foto-foto itu jelas dapat dipercaya, karena ayahnya sendirilah yang memberikan padanya. Evans sangat mengenali bagaimana ayahnya. Jika ayahnya menyelidiki sesuatu biasanya hasilnya selalu akurat dan terpercaya. Dengan segera Evans langsung menebak bahwa dialah pria yang di foto itu walau jaraknya masih cukup jauh dan pastilah pria itu berada di sekitar tempat ini karena ingin bertemu Erika.
Tak banyak berpikir, Evans kembali menatap wajah Erika. "Erika," ucap Evans lembut sambil menangkup wajah Erika dan dengan cepat menempelkan bibirnya ke bibir Erika. Sontak Erika terbelalak. Semula Evans bermaksud mengecupnya saja, dengan tujuan agar membuat laki-laki yang ada di foto itu cemburu. Tetapi bibir Erika begitu ranum, sehingga membuat Evans sulit untuk berhenti.
"Mmmmmhhh! Mmmmhh....!" Erika berteriak di dalam ciuman itu sambil mengatupkan mulutnya. Ciuman itu dalam dan cukup kasar sampai-sampai membuat Erika menangis.
Semua tas belanjaan jatuh terlepas dari genggaman Erika. Dalam keadaan panik, kedua tangan Erika dengan cepat langsung berpindah ke dada bidang Evans, berupaya mendorong tubuh kekar itu. Tapi salah satu tangan Evans langsung cepat merengkuh pinggang Erika sehingga merapat ke tubuhnya. Erika sama sekali tak berpengalaman, karena itu, ciuman Evans yang baru sebentar saja sudah membuat tubuh Erika bergetar hebat. Air mata Erika mengalir bercampur rasa takut.
Melihat Erika yang tak berdaya, bukannya berhenti, Evans justru semakin menggila. Tanpa memikirkan situasi dan tempat, dengan kurang ajarnya tangannya turun menjamah dada Erika. Erika pun berteriak sekali lagi karena rasa terkejut yang luar biasa.
Pada saat itulah seseorang menarik kasar tubuh Evans. Dan.. Buagggghhhhh!!
Evans jatuh terpental karena pukulan yang cukup keras.
"Apa yang kau lakukan, brengsek?!" teriak pria itu yang tak lain adalah Danish. Suara keributan, mulai menarik perhatian orang-orang.
Sebelumnya dari kejauhan Danish sudah melihat Erika dengan seorang pria. Danish bisa menebak kalau pria itu adalah Evans. Dia hendak akan menyapa mereka. Tetapi sekejap dia memperhatikan dari jauh, pria itu sepertinya bertindak tak senonoh pada adiknya. Danish terkejut bukan main. Dia berlari sekencang mungkin dan begitu sampai dia langsung menarik pria kurang ajar itu dan menghantam perutnya hingga Evans terjatuh.
Danish menatap tajam penuh amarah pada Evans yang terduduk masih kesakitan memegang perutnya. Sementara Erika hanya menangis, membuat Danish menoleh dan segera menghampirinya.
"Kamu tidak apa-apa kan, Erika? Mana yang sakit?" tanya Danish memegang sambil memperhatikan wajah lalu bibir Erika yang berdarah. Mata Danish membulat sempurna. Menoleh dan berjalan cepat ke arah Evans yang baru saja berhasil berpijak dengan susah payah.
"Kau? Beraninya melakukan itu!" bentak Danish dengan suara menggelegar
Buuughhh buuugghh buughh
"Akkhhh! Akkhhh!" teriak Evans kesakitan.
Danish meninju perut dan wajah Evans. Erika yang melihatnya terkejut dan langsung menahan Danish.
"Sudah Kak, jangan!" teriak tangis Erika sambil menarik tangan Danish. Tetapi, Danish masih emosi. Ditepisnya tangan Erika, dan kembali menarik tubuh Evans.
Buuuggghh! Buuuggghh! Buuuggghh!
"Aakkhhh! Akkhhh!..." Entah berapa kali pukulan, Evans sudah tak berdaya.
"Pergi kau dari sini dan jangan muncul lagi!" kata Danish dengan suara keras sambil memeluk adiknya yang menangis dengan sebelah tangan. Orang-orang yang berada di sana, sibuk menonton kejadian itu tanpa melakukan apa-apa. Mungkin karena takut terlibat.
Evans yang kembali terduduk, bersusah payah untuk kembali bangkit. Lalu membuka pintu mobilnya. Sesaat sebelum masuk dia menoleh ke arah Erika yang berada di pelukan Danish.
"Kita putus." Kalimat itu meluncur dari mulut Evans. Sontak membuat Erika terperangah. Kakinya lemas hendak jatuh terkulai. Untung ada Danish menopangnya. Sementara Evans masuk ke dalam mobilnya dan berlalu begitu saja.
***
Evans