Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007: Racun di Dalam Gelas
Darmawan tidak langsung membentak. Ia justru tersenyum, dan senyum itu membuat Bu Sri bergerak gelisah di kursinya.
Orang yang masih punya kendali sering lebih berbahaya daripada orang yang sudah kehilangan suara.
"Bima," kata Darmawan, "kamu pintar bicara. Om akui. Tapi laki-laki tidak cukup cuma pintar bicara. Laki-laki harus kuat menanggung suasana. Harus bisa minum pahit. Jangan cuma menyemprot orang dengan kata-kata."
Ia memberi isyarat kepada pelayan. "Mas, ambilkan bir dingin satu botol. Yang besar."
Pak Harto langsung mengangkat kepala. "Dar, saya tidak minum."
"Ah, Mas Harto." Darmawan tertawa. "Hari Lebaran, makan keluarga, masa segelas saja tidak bisa? Kita bukan anak kecil."
Bu Sri cepat berkata, "Mas Harto sedang minum obat. Dari klinik. Antibiotik."
"Obat apa?" tanya Darmawan.
"Cefadroxil," jawab Pak Harto pelan. "Gusi saya bengkak kemarin. Dokter bilang jangan sembarangan makan minum dulu."
Bima melihat perubahan kecil di wajah Darmawan. Kelopak mata bergerak setengah detik lebih lambat. Sudut bibirnya naik; ia menemukan celah baru.
[Pembaca Mikro-ekspresi aktif.]
[Niat agresif terselubung terdeteksi.]
Darmawan menerima botol dari pelayan, lalu menuang cairan berbusa ke gelas kosong. "Justru itu, Mas. Kalau cuma sedikit tidak apa-apa. Jangan terlalu dimanja. Nanti anak-anak melihat ayahnya takut sama gelas."
Pak De Hartono menimpali, "Harto, minum sedikit saja. Darmawan sudah menuang. Tidak enak kalau ditolak."
Tidak enak.
Dua kata itu selalu menjadi tali yang dipasang di leher orang sabar.
Pak Harto memandang gelas itu. Tangannya belum menyentuh, tetapi tekanan dari kiri kanan sudah seperti paku. Bu Sri memegang lengan suaminya. Ratna menatap Darmawan dengan jijik yang hampir tidak bisa disembunyikan.
Bima mengusap layar ponselnya di bawah meja.
[Toko Tukar Poin]
[Item: Kapsul Vitamin Reaktif - tampilan mirip kapsul antibiotik umum. Efek: menghasilkan busa warna saat kontak dengan alkohol. Tidak beracun.]
[Harga: 100 Poin]
[Beli?]
Bima menekan pilihan tanpa ragu.
[Pembelian berhasil. Poin -100]
Sebuah kapsul kecil muncul di saku celananya, seolah sejak tadi memang ada di sana. Bima tidak menunduk. Tangannya bergerak ketika semua mata tertuju pada Pak Harto.
Darmawan mendorong gelas ke arah Pak Harto. "Ayo, Mas. Sedikit saja. Jangan bikin suasana tidak enak."
Bima berdiri.
"Om Dar," katanya.
Darmawan menoleh. "Apa lagi?"
Dalam satu gerakan cepat, Bima mengambil gelas itu lebih dulu. Semua orang mengira ia akan membuang isinya. Darmawan bahkan sudah siap marah.
Namun Bima hanya mengangkat gelas, seolah ingin melihat warnanya. Jari kirinya menyentuh bibir gelas. Kapsul kecil jatuh tanpa suara ke dalam busa.
Detik berikutnya, cairan di dalam gelas mendesis. Busa naik lebih tinggi, berubah kekuningan pekat, lalu mengeluarkan bau vitamin yang tajam.
"Eh?" Bu De Sumiyati menutup hidung.
Bima menatap gelas itu dengan wajah kaget yang sangat tenang. "Aduh. Sepertinya obat Bapak jatuh ke gelas Om Dar."
Darmawan memucat.
"Om," lanjut Bima, suaranya cukup keras untuk seluruh meja. "Bahaya, lho. Tadi Om bilang sedikit tidak apa-apa. Kalau begitu, silakan Om minum gelas ini. Anggap saja contoh laki-laki kuat."
Gelas itu ia letakkan di depan Darmawan.
Tidak ada yang bicara.
Darmawan menatap cairan berbusa itu seperti menatap lubang di lantai. Tangannya bergerak sedikit, lalu berhenti. Pembaca Mikro-ekspresi membuat Bima melihat semuanya: takut, panik, marah, dan kesadaran bahwa jebakannya sendiri baru saja diputar menghadap wajahnya.
"Itu bukan obat," kata Darmawan serak.
Bima tersenyum. "Oh? Om tahu? Bagaimana Om bisa yakin? Dari tadi kan Om bilang obat dan alkohol tidak masalah. Kalau tidak masalah, minum saja."
Pak De Hartono membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Bulik Tini menatap Darmawan lama. Ia sedang menilai ulang orang di depannya.
Lina mencoba menyelamatkan suasana. "Bima, kamu ini main-main dengan makanan. Tidak lucu."
"Yang tidak lucu itu memaksa orang sakit minum alkohol supaya terlihat lemah di depan keluarga," jawab Bima. "Apalagi setelah tahu orang itu sedang minum obat. Kalau Papa saya sampai kenapa-kenapa, apakah Om Dar mau tanda tangan surat tanggung jawab? Atau nanti bilang kami terlalu sensitif lagi?"
Pak Harto menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menggeser gelas itu menjauh dari dirinya dengan tangan sendiri.
"Saya tidak minum," katanya.
Darmawan menatapnya tajam. "Mas Harto, ini cuma bercanda."
"Saya tidak tertawa," jawab Pak Harto.
Kalimat itu sederhana. Meja panjang seperti retak.
Bu Sri langsung berdiri. "Mas, kita pulang."
Lina ikut berdiri. "Sri, jangan drama. Masa gara-gara anakmu bicara macam-macam, kita jadi rusak suasana Lebaran?"
Bima mengambil amplop merah dari tengah meja, lalu meletakkannya kembali tepat di depan Lina. Ia tidak merobek, tidak melempar. Justru karena pelan, gerakannya terasa lebih menghina.
"Tante," katanya, "bantuan yang butuh penonton lebih cocok disimpan untuk panggung. Keluarga kami tidak butuh."
Pak Harto menatap amplop itu, lalu menatap Lina. "Simpan saja, Lin. Warung kami kecil, tapi masih bisa membeli gula sendiri."
Wajah Lina berubah. Kalimat Harto pelan, dan bagi Lina lebih menyakitkan daripada semua ucapan Bima. Suara itu datang dari adiknya sendiri, orang yang akhirnya menutup pintu.
Ratna berdiri dan meraih tas Bu Sri. "Ayo, Ma."
Siska tiba-tiba mengangkat ponsel. "Kalian mau pergi begitu saja? Setelah bikin kacau?"
Bima menatap lensanya. "Rekam yang jelas, Siska. Pastikan juga gelas Om Dar masuk frame. Orang suka konteks."
Siska menurunkan ponsel seketika.
[Konflik perlindungan keluarga selesai.]
[Peringkat evaluasi: S]
[Hadiah menunggu klaim.]
[Poin bonus proteksi keluarga +3.000]
Bima membimbing Bu Sri melewati kursi. Pelayan di dekat pintu menunduk cepat. Di belakang mereka, tidak ada satu pun anggota keluarga besar yang berani memanggil keras.
Di luar restoran, udara malam Waringin terasa lebih lega. Lampu jalan memantul di kaca Fortuner Darmawan yang terparkir dekat pintu. Di mata Bima, kemegahan mobil itu sudah habis. Mobil mahal pun tidak bisa menutupi orang yang takut pada gelasnya sendiri.
Mereka naik angkot terakhir yang lewat ke arah rumah. Bu Sri duduk di dekat jendela, diam sambil menyeka mata. Ratna memegang tangannya. Pak Harto duduk di samping Bima, lama tidak berbicara.
Setelah beberapa menit, suara Pak Harto terdengar pelan.
"Bima... sejak kapan kamu jadi seperti ini?"
Bima menatap lampu toko yang bergerak mundur di luar jendela.
"Sejak saya sadar, Pak," jawabnya, "diam tidak selalu berarti sabar. Kadang diam itu artinya membiarkan orang jahat menang."
Pak Harto tidak menjawab. Namun tangannya, yang selama di restoran terus mengepal di atas lutut, perlahan terbuka.
Panel SBE berkedip di tepi penglihatan Bima.
[Misi Gathering Lebaran Selesai]
[Peringkat: S]
[Hadiah Menunggu Klaim]
Bima menyandarkan punggung. Malam ini, mereka pulang tanpa amplop merah itu.
Dan yang paling penting, amplop itu tertinggal di meja orang yang salah.