Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Zakia, bangun!"
Mimpi indah Zakia tentang hidup penuh ketenangan dan dilimpahi kebahagiaan langsung buyar ketika suara menggelegar sang ibu masuk menembus pintu kamar yang tertutup rapat.
Wanita itu perlahan membuka mata dan menghela nafas lelah, menyadari bahwa kehidupannya ternyata belum ada perubahan. Ia harus bekerja selayaknya laki-laki demi bisa menikmati hidup sebagai perempuan.
"Zakiaa!" Sekali lagi, suara penuh kemarahan itu kini kembali terdengar, tak sampai di situ kali ini bahkan pintu berwarna coklat itu ikut digedor kuat.
"Ck!" Tangan mungil itu terpaksa membuka selimutnya, meletakkan kembali boneka yang ia peluk semalaman dengan rapi dan mengambil ikat rambut demi menghilangkan risih yang ia rasakan.
Tungkai kecil itu mulai berdiri, menopang tubuh yang dipaksa kuat demi mencari selembar uang, sebelum ia ke luar, Zakia berdiri dulu menghadap cermin dan memperhatikan wajahnya.
"Lo itu kuat, lo itu cantik, lo itu keren, so mari berharap bahwa suatu hari nanti bisa dapat hal yang baik yang bisa merubah sedikit kehidupan anjay ini. Fighting Zakia!"
Zakia meregangkan tubuhnya dan langsung ke luar dari kamar, bisa bahaya jika dia tidak cepat ke luar, maka bukan lagi pintu yang akan menjadi korban melainkan telinga cantik wanita itu.
"Duh! Anak gadis ga mau bangun pagi, maunya bangun siang terus! Rezeki kamu keburu dipatok ayam! Malu sama si endut yang subuh-subuh udah bangunin mama!" seru ibunya. Zakia yang sedang memakan kue basah langsung melihat makhluk berbulu yang sedang makan di ujung sudut rumah.
"Ini udah siang bukannya langsung bangun malah ngelamun dulu di kamar, gimana entar kalau udah punya suami? Gimana kalau nanti pas bulan puasa, kalian payah bangun ga usah ikut puasa sekalian!"
Seolah menjadi santapan harian, hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan rumah Zakia pada pagi hari. Ibu yang selalu marah, ia dibandingkan dengan si Endut yang merupakan seorang kucing dan jangan lupa dengan masalah satu lagi.
"Rega! Kamu tu ya! Udah dibilangin rambut itu dipotong jangan kayak anak punk! Kamu mau ngepunk apa mau sekolah sih?"
Langkah kaki Zakia yang ingin masuk ke dalam kamar mandi langsung terhenti, topik yang satu ini terdengar sangat menarik, adik laki-lakinya yang satu itu memang selalu membuat sang ibu darah tinggi.
"Apaansih mah, ini tuh namanya fesyon!"
"Pesyon pesyon mata lu lima!"
"Akh!"
"Mau jadi apa lo ha? Ngikuti peraturan sekolah ga mau, omongan mama dilawan, sini lo lawan gue! Gue tarik gigi lo sampe maju nangis lo!"
"Apaansih lo! Sana lo mandi biar kerja! Heran gue semua mau diurusin!"
Darah Zakia seketika mendidih mendengar kalimat kurang ajar yang ke luar dari mulut adiknya itu. Handuk yang tadinya diletakkan di bahu kini diambil dan diputar-putar dengan kuat.
"Semua mau diurusin lo bilang?"
"Mati gue!" gumam Rega. Matanya melotot, mulutnya ternganga saat sang kakak melompat tinggi dan memukulkan handuk tersebut tepat ke bokongnya.
Plak!
"Aduhh pantat gueee!" Tangannya langsung mengusap-ngusap bokong yang kemungkinan sudah memerah dan terasa panas itu. Gilak memang, selain harus menghadapi ocehan ibunya maka dia harus kebal menghadapi pukulan sang kakak.
"Mama!"
"Zakia! Rega!" Sang ibu menegur, tapi apalah arti teguran saat tangan Zakia sudah mengapit leher adiknya yang lebih tinggi dan menariknya ke belakangan.
"Ngomong apa lo tadi! Ha? Ngomong apa?"
"Enggak, udah, ampun. Entar pulang sekolah gue potong rambut, janji, jangan tarik leheri gue please!"
Wanita paruh baya yang menyaksikan kejadian gragas itu menggeram kesal, tidak bisa begini! Ke dua manusia gen z ini susah dinasehati dengan lembut, maka parenting VOC akan dia keluarkan agar mereka diam.
"Nih ambil masing-masing satu, saling bunuh, cepet!"
Perkelahian itu terhenti saat sang ibu menodongkan dua buah pisau kepada sepasang manusia yang sedang beradu kekuatan itu. Zakia melepaskan pegangannya dan membiarkan Rega yang berlari dari sana, tak ingin kalah, Zakia ikut masuk ke kamar mandi. Semakin lama berdiri di depan ibunya, maka rasa takut itu semakin menggelegar.
***
Suasana toko sembako tempat Zakia bekerja tidak terlalu ramai, pintu sudah terbuka dan barang sudah dipajang sesuai tempatnya masing-masing, Zakia melihat jam dan mulai mengangguk.
"Pantes belum ramai, ternyata masih jam segini," gumamnya.
"Ya semoga hari ini hari sabtu tenang," lanjutnya.
Seseorang ke luar dari balik tumpukan makanan dan melotot ke arah Zakia. Zakia yang saat itu ingin berbalik langsung terkejut dan memegang dadanya.
"Gila! Lo ngapain di situ Dinda!" seru Zakia. Jantungnya serasa mau lepas, ia kira tidak ada orang dan tiba-tiba timbul seonggok manusia dengan tatapan melototnya.
"Jangan ngomong kayak gitu kak Zak, engar kita semua dalam bahaya," bisiknya pelan.
"Tau! Si kak Zak, asal ngomong aja, sabtu tenang minggu tenang, ga taunya orang tiba-tiba membludak!" sahut temannya.
"Za, lo juga jangan ngomong gitu elah, mending fokus beresin mie instan sono! Tuh pak Jamrud udah marah-marah dari semalam karena mie instan yang belum diberesin," kata Dinda.
"Iya ini juga lagi diberesin Din, sabar elah tangan gue cuman dua," jawab Reza kesal. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya untuk memberesi mie instan dengan segala macam merk yang sangat banyak, kebetulan semalam barang mereka masuknya di sore hari dan tak mungkin dilanjutkan sampai ke malam hari.
Grosir pak Jamrud, itu nama toko sembako tempat Zakia mencari nafkah demi menyambung hidup, akibat kejadian beberapa tahun lalu yang tidak bisa lagi disesali membuat Zakia berakhir di toko dan berteman dengan mereka dan bahkan menjadi karyawan yang paling tua di antara mereka.
"Zakia."
"Iya pak?" Sebuah tangga menjadi pijakan Zakia untuk menyusun jajanan di rak agak sedikit bergoyang saat pak Jamrud memegang tangga tersebut.
"Buka HP kamu, saya udah kirim pesan punya pak Dadang, itu pesanan dia mau diantar sekarang, tolong cepat siapin yah," kata pak Jamrud. Zakia mengangguk mantap dan turun pelan-pelan dari tangga. Ia membuka ponselnya, membuka pesan dari Pak Jamrud dan mengirimkannya ke grup obrolan mereka.
"Dinda Reza bantuin gue, barangnya banyak ini."
"Iya."
"Siap."
"Tuh kan udah gue bilang jangan sebut hari ini hari tenang, pasti bakal ada aja gebrakannya, duh mana gue entar malem mau jalan lagi sama pacar, kalau kecapekan gini gimana mau ngedate," celetuk Dinda. Tawa renyaha terdengar dari bibir Zakia, Dinda ini paling tua dua tahun dari dirinya tapi mereka merasa seumuran karena jokes yang nyambung dan kelakuan tak jauh beda.
"Huu banyak ngeluh lo kadal gosong," cerca Reza tepat di telinga Dinda. Wanita yang dicerca kesla bukan main, alhasil ia menendnag pelan betis Reza dan langsung berlalu dari sana. Dari pada menghadapi ocehan Reza, mending ia mengerjakan pesanan mereka biar bisa duduk sebentar sambil milih outfit gemas untuk malam ini.