NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.

Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".

Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].

Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!

Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUNTUHNYA CAHAYA SUCI

Matahari pagi tidak mampu menembus keangkuhan kabut Frozen Abyss. Di bawah kepungan hawa dingin yang menggigit, lima ratus Ksatria Suci berkuda dengan zirah emas putih mereka yang berkilauan. Di tengah formasi, Uskup Agung Malakai melayang perlahan di atas kereta kencana menggunakan manipulasi mana cahaya, sementara Komandan Galahad memimpin di depan dengan pedang besar yang terus memancarkan aura suci hangat.

"Tempat ini dipenuhi oleh sisa-sisa energi kegelapan yang pekat," ucap Malakai, menyipitkan matanya yang keriput. Tangannya yang memegang tongkat emas mengetuk lantai kereta. "Gadis buangan itu pasti menggunakan pengorbanan darah untuk mengotori alam ini. Kita harus menyucikannya."

"Jangan khawatir, Uskup Agung," sahut Galahad angkuh. Aura bertarung lingkaran 7 miliknya berkobar, membentuk pelindung emas yang mencairkan salju dalam radius lima meter di sekelilingnya. "Ksatria Suci kita memiliki berkat anti-sihir. Sihir es tingkat rendah tidak akan bisa menembus zirah kami."

Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, bumi di bawah kaki mereka bergetar hebat. Dua siluet raksasa setinggi lima meter melangkah keluar dari balik badai salju. Tubuh mereka bukan lagi terbuat dari es rapuh, melainkan bongkahan berlian es hitam yang berkilau pekat, memantulkan cahaya matahari dengan cara yang mengerikan. Dua Golem Es Kuno telah memblokir jalan.

"Hanya golem es? Hancurkan mereka!" perintah Galahad tegap.

Dua puluh Ksatria Suci maju ke depan, tombak mereka dilapisi oleh api cahaya suci. Mereka menusuk tubuh golem itu secara bersamaan. Namun, suara dentingan logam keras bergaung. Tombak-tombak murni itu tidak meninggalkan goresan sedikit pun pada tubuh berlian hitam sang golem.

ROAAARRR!

Salah satu Golem Es Kuno menghempaskan lengan raksasanya. Sapuan itu menciptakan gelombang kejut es hitam yang langsung menghancurkan zirah emas para ksatria dan membekukan kuda-kuda mereka hingga pecah menjadi serpihan. Sepuluh ksatria tewas seketika tanpa sempat berteriak.

"Apa?! Kekuatan fisik setara Lingkaran 6?!" Galahad terkejut. Dia melompat dari kudanya, menebaskan pedang besarnya yang dilapisi aura emas tebal, langsung memotong salah satu lengan golem tersebut. Namun, dalam hitungan detik, es hitam di sekitar lembah merayap naik dan memulihkan lengan golem itu seperti semula.

"Makhluk-makhluk ini terhubung langsung dengan inti mana tempat ini! Mereka tidak bisa mati selama hawa dingin ini ada!" seru Malakai dari belakang. Dia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. "Mundur! Biarkan aku yang memurnikan mereka!"

"Kau ingin memurnikan siapa, Uskup Tua?"

Sebuah suara yang jernih namun penuh penindasan mutlak bergema dari atas langit.

Kabut salju terbelah, memperlihatkan Elena von Silversnow yang melayang anggun di udara. Rambut peraknya berkibar, dan di bahunya, Frost dalam wujud kecil menatap pasukan suci itu dengan pandangan penuh penghinaan. Aura Penyihir Agung Lingkaran 7 miliknya meledak, menekan seluruh area hingga membuat ratusan kuda ksatria berlutut ketakutan.

"Elena von Silversnow!" Malakai berteriak, wajahnya yang tadi tenang kini menegang. "Kau telah menyimpang ke jalan kegelapan! Menyerahlah dan bersiaplah menerima penghakiman dari Kekaisaran Suci!"

"Penghakiman?" Elena tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dingin. "Kekaisaran Suci hanyalah sekumpulan orang munafik yang menjual keadilan demi tambang kristal mana milik ayahku. Hari ini, tempat ini akan menjadi kuburan bagi kesombongan cahaya kalian."

"Bicara besar! Rasakan ini! Sacred Sun Burst!"

Malakai merapal mantra dengan cepat. Lingkaran sihir emas raksasa berlapis tujuh terbentuk di langit, menembakkan seberkas cahaya putih panas berdiameter sepuluh meter langsung ke arah Elena. Panas dari sihir itu begitu ekstrem hingga mampu menguapkan sebuah danau dalam sekejap.

Elena bahkan tidak berkedip. Dia mengangkat tangan kirinya secara santai.

[Sistem: Mengaktifkan Pertahanan Istana Fase 2 Batas Pelindung Absolut.]

Sebuah kubah energi biru muda transparan muncul di depan Elena. Ketika cahaya suci Malakai menghantam kubah tersebut, tidak ada ledakan yang terjadi. Cahaya panas itu justru terserap habis, membeku, dan pecah menjadi serpihan cahaya tak berbahaya sebelum menyentuh ujung gaun Elena.

"Bagaimana mungkin?! Sihir cahaya milikku dibekukan?!" Malakai membelalakkan matanya, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.

"Sekarang giliranku," ucap Elena datar. Matanya berkilat keperakan saat dia mulai memobilisasi mana es dewa di dalam tubuhnya.

[Sistem: Merapal Sihir Baru Spear of the Ice God.]

[Mengonsumsi 15.000 Poin Sistem. Mengunci Target: Uskup Agung Malakai.]

Udara di atas Lembah Ratapan mendadak mengkristal. Sebuah tombak es raksasa sepanjang dua puluh meter terbentuk di langit. Tombak itu tidak berwarna putih, melainkan biru gelap transparan dengan ukiran rune kuno dewa es yang memancarkan aura kematian mutlak. Tekanan dari tombak itu begitu besar hingga membuat tanah di bawahnya ambles beberapa sentimeter.

"Galahad! Lindungi aku! Bentuk formasi pertahanan terkuat!" teriak Malakai panik, merasakan ancaman kematian yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.

"Ksatria Suci, bentuk Aegis of Light!" Galahad berteriak lantang. Lima ratus ksatria sisa langsung menyatukan perisai mereka, mengalirkan seluruh mana cahaya mereka untuk membentuk perisai emas raksasa berbentuk malaikat yang melindungi seluruh pasukan.

Elena menatap pertahanan itu dengan pandangan meremehkannya. Tangannya diayunkan ke bawah. "Hancurlah."

WUUUUUSSSSHHH—BOOOMMM!

Spear of the Ice God meluncur dengan kecepatan yang melampaui suara. Saat ujung tombak es dewa itu menyentuh perisai Aegis of Light, tidak ada perlawanan yang berarti. Perisai cahaya yang diklaim sebagai pertahanan absolut kekaisaran itu langsung retak dan hancur berkeping-keping seperti kaca yang dipukul palu besi.

Tombak itu menghantam tepat di tengah formasi pasukan. Ledakan hawa dingin mutlak menyapu dalam radius satu kilometer. Cahaya suci dipadamkan seketika. Lima ratus ksatria suci beserta zirah emas mereka membeku dalam posisi bertahan, berubah menjadi patung-patung es yang diam.

Komandan Galahad, dengan kekuatan fisik lingkaran 7 miliknya, berhasil melompat mundur, namun kaki kirinya terkena serpihan es dan langsung membeku hingga hancur menjadi debu. Dia jatuh berlutut sambil memegangi kakinya yang hilang, berteriak kesakitan.

Sementara itu, Uskup Agung Malakai terbaring di atas reruntuhan keretanya, tubuhnya gemetar hebat dengan setengah badannya sudah tertutup es kristal. Tongkat emasnya telah patah menjadi dua.

Elena turun perlahan dari langit, menapakkan kakinya di atas salju yang kini dipenuhi ratusan patung ksatria suci. Dia berjalan mendekati Malakai yang sedang sekarat.

"Cahaya... cahaya suci tidak akan... memaafkanmu..." bisik Malakai dengan sisa napasnya.

"Cahayamu terlalu redup untuk menerangi Frozen Abyss ini, Uskup," balas Elena dingin. Dia mengangkat jarinya, dan sebuah tusukan es kecil menembus dahi Malakai, mengakhiri hidup sang uskup agung seketika.

Elena kemudian menoleh ke arah Galahad yang masih mengerang kesakitan di tanah. Penguasa es itu menatap sang komandan dengan tatapan yang sama seperti saat dia melepaskan Jenderal Boros dan Kaelen.

"Komandan Galahad," suara Elena beralih menjadi sangat pelan namun menusuk. "Aku membutuhkan kurir baru untuk membawa kepala uskupmu kembali ke ibukota. Sampaikan pada Alistair dan dua pengkhianat itu... waktu bermain mereka sudah habis. Dalam dua puluh hari, aku sendiri yang akan memimpin pasukan esku untuk menjemput nyawa mereka."

Galahad, yang kehilangan seluruh harga dirinya sebagai ksatria suci tertinggi, hanya bisa mengangguk pasrah sambil memeluk kepala Malakai yang telah membeku menjadi es. Dia merangkak pergi dengan satu kaki yang tersisa, meninggalkan medan perang yang kini telah berubah menjadi pameran patung es abadi.

[Sistem: Anda telah memusnahkan Pasukan Salib Kekaisaran Suci.]

[Poin Sistem yang diperoleh: 50.000 Poin.]

[Poin Sistem Saat Ini: 63.500 Poin.]

[Sistem: Persyaratan untuk membuka Istana Es Dewa Fase 3 dan Fisik Es Dewa 60% telah terpenuhi. Apakah Anda ingin melanjutkan?]

Elena tersenyum puas melihat layar virtual di depannya. "Tentu saja. Tingkatkan semuanya. Perang yang sesungguhnya menuju ibukota akan segera dimulai."

1
Sunflower_6520
Suka nih sama yang balas dendam begini...
SRIANA: terima kasih udah singgah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!