NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kopi sore dan pertanyaan

Kafe kecil itu berjarak lima menit jalan kaki dari gedung Cahaya Abadi Investama, tempat yang biasa dipakai Dimas untuk rapat santai dengan klien yang tidak ingin terlalu formal. Sore itu, saat Dimas tiba, Alya sudah duduk di meja pojok dekat jendela, dua cangkir kopi sudah terhidang di depannya.

"Aku pesenin kamu americano," kata Alya begitu Dimas duduk. "Semoga nggak salah tebak."

"Kok bisa tahu aku suka americano?" tanya Dimas, sedikit heran.

"Kamu selalu pesan itu tiap kali kita rapat di studio dan aku suruh staf beliin kopi," jawab Alya, tersenyum tipis. "Aku ingat hal-hal kecil kayak gitu."

Dimas tersenyum, merasakan kehangatan kecil dari perhatian sederhana itu—sesuatu yang jarang ia dapatkan dari relasi kerja formal sebelumnya.

"Jadi," kata Alya, menyandarkan diri ke kursi, "gimana rasanya jadi kepala tim baru?"

"Masih kaget sebenarnya," jawab Dimas jujur. "Tiga tahun lalu aku cuma analis magang yang gugup tiap kali disuruh presentasi. Sekarang tiba-tiba dipercaya pimpin tim khusus."

"Kamu pantas dapat itu," kata Alya. "Aku udah ketemu banyak orang finance sepanjang karier aku bangun studio ini. Kamu satu-satunya yang bener-bener dengerin, bukan cuma nunggu giliran ngomong."

Percakapan mereka berlanjut santai, jauh dari topik pekerjaan yang biasanya mendominasi setiap pertemuan mereka sebelumnya. Alya bercerita soal awal mula ia jatuh cinta pada dunia desain, sejak kecil suka menggambar di pinggir buku pelajaran sampai akhirnya nekat kuliah desain meski keluarganya awalnya menentang, berharap ia mengambil jurusan yang "lebih jelas masa depannya".

"Orang tua aku maunya aku jadi dokter kayak kakak aku," kata Alya, tertawa kecil mengenang masa lalu. "Tapi aku keras kepala. Aku bilang, aku mau buktiin desain juga bisa jadi karier serius, bukan cuma hobi."

"Sekarang mereka udah setuju?" tanya Dimas.

"Perlahan," jawab Alya. "Apalagi setelah studio mulai dapet klien internasional. Tapi tetap aja, kadang mereka masih nanya kapan aku 'cari kerja beneran'." Ia tertawa, meski ada sedikit kelelahan di balik tawanya.

Dimas mendengarkan dengan penuh perhatian, teringat kembali perjalanan kariernya sendiri yang juga tidak mudah—bagaimana ia dulu sempat diragukan banyak orang karena latar belakang universitas yang tidak sementereng rekan-rekan analis lain di dunia investasi.

"Aku ngerti perasaan itu," katanya. "Waktu pertama kali diterima kerja di Cahaya Abadi Investama, beberapa rekan kerja lama sempat meragukan aku, karena aku bukan lulusan universitas ternama kayak mereka. Tapi Bu Kirana selalu bilang, yang penting bukan dari mana kamu berasal, tapi seberapa keras kamu mau belajar."

"Bu Kirana kedengarannya orang yang keren," komentar Alya.

"Dia memang keren," jawab Dimas, tersenyum bangga. "Aku belajar banyak hal dari dia, bukan cuma soal bisnis, tapi soal cara menghadapi hidup juga."

Percakapan santai itu terus berlanjut sampai langit di luar jendela mulai berubah warna jingga, menandakan senja yang perlahan turun. Tanpa mereka sadari, waktu berlalu jauh lebih cepat dari yang mereka kira.

"Astaga," kata Alya, melirik jam di ponselnya. "Udah hampir dua jam kita di sini. Padahal niatnya cuma rayain kabar baik sebentar."

"Nggak apa-apa," jawab Dimas, tersenyum. "Aku juga nggak sadar waktu jalan secepat ini."

Ada jeda canggung sesaat, keduanya saling menatap sebelum akhirnya sama-sama tersenyum kikuk, menyadari momen yang tercipta terasa lebih personal dari yang mereka rencanakan sebelumnya.

"Kita harus lanjutin obrolan kayak gini lagi kapan-kapan," kata Alya, mencoba terdengar santai meski ada sedikit keraguan dalam suaranya. "Di luar urusan kerja, maksudku."

"Aku juga mau," jawab Dimas, spontan, sebelum sempat memikirkan implikasi kalimat itu lebih jauh.

Namun, kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama. Keesokan harinya, saat Dimas kembali mengunjungi studio Alinea untuk rapat rutin, suasana terasa berbeda. Reza, yang biasanya hanya menunjukkan sikap dingin, kali ini terang-terangan mengajak bicara empat mata begitu Alya keluar sebentar untuk menerima telepon klien.

"Aku lihat kalian ketemu di luar jam kerja," kata Reza, nada suaranya serius, bukan lagi sekadar sindiran seperti biasanya.

Dimas terkejut sesaat, tidak menyangka Reza mengetahui pertemuan itu. "Kami cuma ngobrol santai soal hasil kerja sama. Nggak ada yang salah dari itu."

"Aku bukan mau nuduh macam-macam," jawab Reza, menghela napas. "Tapi aku kenal Alya udah lama, Dimas. Dia orang yang gampang percaya kalau udah nyaman sama seseorang. Dan terakhir kali dia terlalu percaya sama orang dari dunia bisnis, dia hampir kehilangan segalanya."

Dimas terdiam, mencerna kekhawatiran Reza yang, kali ini, terdengar lebih tulus daripada sekadar profesional. "Aku ngerti kekhawatiran kamu, Reza. Tapi aku janji, aku nggak akan mainin perasaan Alya, atau manfaatin posisi aku buat kepentingan lain."

"Aku harap kamu serius soal itu," kata Reza, menatap Dimas lurus. "Karena kalau kamu sampai bikin dia kecewa lagi, bukan cuma kerja sama bisnis yang bakal berantakan."

Percakapan itu meninggalkan kesan mendalam bagi Dimas sepanjang sisa hari itu. Ia menyadari, hubungan yang mulai tumbuh antara dirinya dan Alya bukan sekadar urusan personal biasa—ada risiko yang menyangkut kepercayaan bisnis yang susah payah mereka bangun bersama, dan ada kekhawatiran tulus dari orang-orang di sekitar Alya yang ingin melindunginya dari kekecewaan yang sama seperti sebelumnya.

Sore itu, sebelum pulang, Dimas mengirim pesan singkat ke Kirana, meminta waktu bicara empat mata keesokan harinya—bukan soal laporan bisnis, melainkan soal sesuatu yang jauh lebih personal, yang ia rasa perlu didiskusikan dengan orang yang paling ia percaya sebagai mentor sekaligus atasannya.

"Bu, besok ada waktu buat ngobrol sebentar? Bukan soal kerjaan."

Balasan Kirana datang cepat, singkat tapi hangat seperti biasanya:

"Ada. Besok pagi sebelum rapat, ya. Kelihatannya penting."

Dimas menatap balasan itu lama, menghela napas panjang sebelum akhirnya memutuskan pulang, pikirannya penuh dengan pertanyaan yang belum sepenuhnya bisa ia jawab sendiri—tentang perasaannya pada Alya, tentang risiko yang menyertainya, dan tentang bagaimana ia harus menyeimbangkan semuanya tanpa mengecewakan siapa pun.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!