Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Aroma rempah mahal dan masakan koki bintang lima membumbung di ruang makan utama keluarga Valeria. Namun, alih-alih hangat, suasana di meja makan panjang itu terasa sedingin ruang otopsi.
Vanya—yang kini menghuni tubuh Aura—duduk di salah satu kursi kayu jati berukir. Ia sudah berganti pakaian menggunakan gaun santai warna krem yang simpel. Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan terurai bebas.
Di ujung meja, duduk Hermawan Valeria, ayah kandung Aura yang matre dan keras kepala. Di samping Hermawan, ada Siska, ibu tiri Aura yang anggun tapi berhati licik, serta Clara yang masih menatap Vanya dengan tatapan benci tertahan.
"Aura," suara Hermawan memecah keheningan, terdengar berat dan penuh wibawa palsu. "Papa mendengar dari Clara soal kejadian di kolam renang tadi. Kenapa kamu makin hari makin tidak sopan? Sudah bagus keluarga Vane mau menampung kamu, sekarang kamu malah bikin ulah di depan Adrian!"
Siska buru-buru menyahut dengan nada mengelus dada yang dibuat-buat, "Iya, Aura... Ibu tahu kamu frustrasi karena Adrian tidak pernah menyentuhmu sejak menikah. Tapi jangan limpahkan kemarahanmu pada Clara dong. Kasihan adikmu, dia kan cuma khawatir saat melihat kamu tenggelam."
Vanya yang sedang menikmati sup krimnya terhenti sejenak. Ia meletakkan sendok dengan dentang halus yang menggema.
*Ah, drama teratai putih klasik,* batin Vanya terkekeh. *Ibu dan anak sama saja, pinter banget memutarbalikkan fakta.*
Sesuai tabiat aslinya yang serba cepat dan tidak tahan dengan basa-basi, Vanya langsung menyambar tanpa memberikan jeda satu detik pun untuk mereka bernapas.
"Khawatir?" Vanya terkekeh sinis, matanya menatap Siska dan Hermawan bergantian dengan tatapan tajam yang membuat Hermawan tersedak udara. "Khawatir itu memanggil tim medis atau melempar pelampung. Bukan berdiri di tepi kolam sambil senyum-senyum nungguin paru-paru orang lain kepenuhan air kaporit. Dan Papa, daripada sibuk menyalahkan aku tanpa bukti, lebih baik Papa periksa CCTV area kolam jam delapan malam tadi. Tapi oh ya, aku lupa, kabel CCTV area sana sengaja dicabut jam tujuh malam, kan? Siapa lagi yang punya akses ke ruang kontrol kalau bukan putri kesayangan Papa ini?"
Satu rentetan kalimat secepat senapan mesin meluncur dari bibir Vanya hanya dalam waktu tiga detik!
Wajah Clara seketika pucat pasi. Siska terperangah sampai mulutnya sedikit terbuka, sementara Hermawan melotot kaget.
"K-kamu... bicara apa kamu secepat itu?!" Hermawan menggebrak meja, berusaha mengembalikan wibawanya yang mendadak terkikis. "Sejak kapan kamu jadi berani memotong omongan orang tua?!"
"Sejak aku hampir mati dan sadar kalau berbakti pada orang tua yang cuma memanfaatkan anaknya itu adalah kebodohan tingkat dewa," balas Vanya secepat kilat. Ia mengambil gelas air putih di samping piringnya.
Namun, karena refleks tubuh dan otaknya yang terlalu cepat tidak seimbang saat ia sedang santai berbicara, tangan Vanya menyenggol pinggiran piring.
*Pyar!*
Gelas air putih itu terguling, menyiram sup krim mahal milik Hermawan hingga meluber ke celana pria paruh baya itu!
"AARGH! Panas! Celanaku!" Hermawan langsung berdiri panik, mengibaskan celananya dengan wajah merah padam.
Siska dan para pelayan buru-buru mengerumuni Hermawan dengan tisu dan kain lap.
Vanya yang mematung menatap tangan kirinya sendiri hanya bisa meringis konyol dalam hati. *Aduh, sialan... kenapa sifat cerobohku harus kumat di saat aku lagi keren-kerennya menutori mereka?!*
"A-aduh, maaf ya Pa," ujar Vanya dengan nada polos yang dibuat-buat, berdeham pelan untuk menutupi kecerobohannya. "Tanganku licin. Anggap saja itu bonus air doa supaya pikiran Papa agak adem dan tidak gampang dibodohi anak tiri."
"Kamu... kamu benar-benar melunjak, Aura!" Siska berteriak penuh emosi sambil menunjuk wajah Vanya. "Kurang ajar! Biarkan Adrian menceraikanmu! Kita lihat bagaimana kamu bisa bertahan hidup tanpa uang keluarga Valeria dan keluarga Vane!"
"Siapa bilang aku takut diceraikan?" Vanya bersedekah dada, menegakkan punggungnya. "Malah surat cerainya sudah aku tanda tangani tadi. Kalian tidak usah repot-repot memikirkan caraku bertahan hidup. Pikirkan saja nasib bisnis Papa yang pusing mencari suntikan dana baru setelah Adrian resmi mendepak keluarga ini!"
*Degh!*
Kalimat Vanya menghantam titik terlemah Hermawan. Pria itu seketika berhenti mengelap celananya. "A-apa kamu bilang? Kamu sudah menandatangani surat cerai?!"
"Tentu saja. Kenapa? Papa pikir aku mau bertahan di pernikahan dingin demi membiayai gaya hidup Clara yang hobi beli tas premium KW?" cetus Vanya tanpa ampun.
Sebelum Hermawan sempat meledakkan kemarahannya lebih jauh, suara langkah kaki berwibawa kembali terdengar dari pintu ruang makan.
Adrian Vane berjalan masuk dengan tenang. Ia sudah melepas jas luarnya, kini hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan garis otot tangannya yang kokoh.
Kehadiran sosok penguasa mafia itu langsung menyerap seluruh keberanian di ruangan tersebut. Hermawan yang tadi mengamuk mendadak menundukkan kepala, memaksakan senyum ramah yang terlihat sangat konyol.
"T-Tuan Adrian..." Hermawan menyapa gagap. "Ada apa kembali lagi ke sini? Apakah... apakah proses perceraian Aura sudah selesai?"
Adrian tidak menjawab Hermawan. Matanya yang tajam langsung terarah pada Vanya yang sedang mengelap jarinya yang terkena cipratan air.
"Perceraian ditunda," kata Adrian dingin. Suaranya datar, tetapi memotong seluruh harapan keluarga Valeria.
Clara dan Siska melotot tidak percaya. "A-apa? Ditunda?"
Adrian melangkah mendekati Vanya, lalu berdiri tepat di samping kursi wanita itu. Ia meletakkan sebuah berkas baru di atas meja makan, tepat di depan Vanya.
"Berdasarkan klausul tambahan yang baru saya masukkan, kamu harus tinggal di mansion Vane selama tiga bulan ke depan sebelum berkas perceraian bisa diproses oleh pengadilan," ujar Adrian sambil menatap Vanya dari atas.
Vanya mendongak, matanya membelalak kaget. "Tiga bulan?! Tadi di surat yang pertama tidak ada pasal konyol begitu! Kamu main ubah-ubah dokumen seenaknya?!"
"Ini bisnis, dan saya pemegang kendalinya," balas Adrian tenang tanpa beban. Ada kilatan provokasi yang sangat tipis di matanya. "Kecuali kalau kamu takut tidak bisa bertahan tinggal bersamaku?"
Vanya memicingkan matanya. Sebagai mantan agen rahasia yang pantang menerima tantangan, kata 'takut' adalah tabu terbesar dalam kamusnya.
"Takut? Sama kamu?" Vanya langsung berdiri, menantang tatapan mata Adrian dari jarak dekat. Bicaranya meluncur deras seperti senapan mesin lagi. "Dalam kamusku tidak ada kata takut pada pria bersetelan hitam yang sukanya main gertak! Tiga bulan? Oke! Jangankan tiga bulan, tiga tahun juga aku layani! Tapi ingat ya, sediakan makanan yang enak dan pastikan di mansionmu tidak ada lantai licin!"
Adrian alisnya terangkat sebelah. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat tipis—hampir tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat asistennya di belakang menjerit kaget dalam hati. *Tuan Besar... baru saja tersenyum?!*
"Kemasi barang-barangmu sekarang," perintah Adrian singkat. "Kita pulang ke mansion malam ini."
"Sekarang banget? Aku belum beres-beres!" protes Vanya cepat.
"Waktumu lima menit," jawab Adrian dingin lalu berbalik arah, berjalan meninggalkan ruang makan.
Vanya menatap punggung Adrian dengan gemas. "Cepat banget lima menit! Pikirnya aku robot apa?!" gumam Vanya mengomel, tetapi langkah kakinya langsung bergerak secepat kilat menuju kamarnya.
Di belakangnya, keluarga Valeria hanya bisa berdiri mematung dengan wajah syok. Rencana mereka untuk mendepak Aura dan menguasai harta kompensasi hancur berantakan dalam semalam—hanya karena sifat "Aura Baru" yang sama sekali tidak bisa diprediksi!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘