Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023
Setelah Lelah
Reynard berjalan masuk dan menutup pintu kantor sangat pelan.
Suara klik pintu itu kecil, tetapi di ruang meeting Astoria yang hampir gelap, ia terdengar seperti batas antara dunia luar dan tempat Seraphina akhirnya boleh berhenti berpura-pura.
Ia duduk di kursi paling ujung, blazer tersampir di sandaran, rambutnya sedikit berantakan setelah tiga hari nyaris tidak tidur. Di layar besar, email dari Dinas masih terbuka. Update diterima. Jadwal pilot tidak berubah.
Kalimat itu seharusnya membuatnya bahagia.
Yang ia rasakan pertama kali justru kosong.
Reynard meletakkan termos dan kotak makanan di meja. "Bubur ayam. Tidak pedas. Ada teh hangat."
Seraphina menatap kotak itu. "Kau datang jam tiga pagi membawa bubur."
"Kau menang jam tiga pagi. Perayaan harus menyesuaikan."
Ia ingin tertawa, tetapi terlalu lelah. "Aku bahkan tidak yakin ini menang."
Reynard duduk di seberangnya, tidak terlalu dekat. "Pilot tetap jalan. Tim-mu masih hidup. Dinas menerima demo. Itu menang."
"Untuk sekarang."
"Untuk sekarang cukup."
Seraphina membuka kotak makanan. Uap hangat naik, membawa aroma jahe dan kaldu. Perutnya baru sadar bahwa ia belum makan dengan benar sejak siang.
Reynard mendorong sendok ke dekat tangannya.
"Makan dulu. Setelah itu kau boleh membenci dunia lagi."
"Kau semakin lancar memberi instruksi."
"Aku menyebutnya dukungan logistik."
Seraphina menyendok bubur. Suap pertama terasa terlalu hangat di tenggorokan, dan anehnya hampir membuat matanya panas. Bukan karena sedih. Karena tubuhnya yang keras kepala akhirnya menerima bahwa ia butuh sesuatu.
Reynard memperhatikan tanpa komentar.
"Jangan lihat aku seperti itu," gumamnya.
"Seperti apa?"
"Seperti aku akan pecah."
Reynard menurunkan pandangan ke tangannya sendiri. "Aku sedang menahan diri agar tidak memelukmu sebelum kau mengizinkan."
Sendok Seraphina berhenti.
Ruang meeting mendadak terasa lebih kecil.
"Kau selalu mengatakan hal seperti itu setelah aku terlalu lelah untuk membalas."
"Kalau kau terlalu lelah, aku bisa diam."
"Jangan."
Kata itu keluar lebih cepat daripada yang ia rencanakan.
Reynard mengangkat mata.
Seraphina menatap bubur di depannya. "Kalau kau diam, ruangan ini terasa terlalu besar."
Itu bukan pengakuan yang rapi. Tidak elegan. Tidak cocok untuk seorang CEO yang baru menyelamatkan proyeknya dari sabotase. Namun setelah tiga hari menahan semua orang agar tidak panik, ia tidak punya tenaga untuk menyusun kalimat yang aman.
Reynard berdiri, berjalan mengitari meja, lalu berhenti di sampingnya.
"Boleh?"
Seraphina mengangguk.
Ia menarik kursi di dekat Seraphina, duduk di sisinya, lalu menyentuh punggung tangannya. Tidak menggenggam dulu. Hanya menunggu.
Seraphina yang membalik telapak tangan dan membiarkan jari mereka bertaut.
Napas Reynard berubah.
"Aku takut," kata Seraphina pelan.
Jari Reynard mengencang sedikit. "Pada apa?"
"Pada betapa mudahnya aku mulai menunggumu."
Kejujuran itu membuat wajah Reynard kehilangan semua ketenangan yang biasa ia pakai.
Seraphina tertawa kecil, tanpa humor. "Lucu, ya. Aku bisa menghadapi Hendrawan, Kevin, vendor yang mundur, server yang hampir terbakar. Tapi menunggu pesanmu membuatku merasa bodoh."
"Kau tidak bodoh."
"Aku tahu. Itu masalahnya. Aku tahu, tapi tetap begitu."
Reynard menatap tangan mereka yang saling menggenggam. "Aku juga menunggu."
"Kau?"
"Setiap malam."
Seraphina menoleh.
Reynard tidak tersenyum. "Aku menunggu kau selesai rapat. Menunggu kau makan. Menunggu kau marah padaku, lalu menunggu kau memaafkan. Menunggu kau berkata berhenti. Menunggu kau tidak berkata berhenti."
Dadanya bergerak pelan.
"Aku sudah menunggu terlalu lama untuk berpura-pura ini hanya suka."
Seraphina nyaris tidak bernapas.
Di luar ruang meeting, kantor Astoria sunyi. Beberapa staf tidur di ruang istirahat. Lampu kota di luar jendela mulai pudar menjelang subuh. Dunia seperti sengaja mengecil menjadi satu meja, satu kotak bubur, dan jari Reynard yang menggenggam tangannya.
"Rey..."
"Aku jatuh cinta padamu, Sera."
Kalimat itu jatuh tanpa perhiasan.
Tidak ada musik. Tidak ada bunga. Tidak ada panorama Jakarta. Hanya pria yang duduk di sampingnya pukul tiga pagi, setelah menunggu ia menang dengan caranya sendiri.
Justru karena itu, kalimat tersebut menghantam lebih dalam.
Seraphina menutup mata.
"Sejak kapan?" tanyanya hampir tanpa suara.
Reynard tidak menjawab dengan cepat. "Kalau kubilang sejak empat tahun lalu, itu terdengar seperti dongeng yang terlalu mudah."
"Lalu?"
"Empat tahun lalu aku melihatmu. Itu awalnya." Ia menatapnya, tidak berusaha membuat kalimat itu lebih ringan. "Tapi aku jatuh cinta setiap kali kau memilih berdiri ketika orang lain menyuruhmu menunduk. Saat kau menolak memakai namaku untuk menyelamatkan Astoria. Saat kau memarahiku karena melewati batas. Saat kau menangis dan tetap meminta hak untuk memilih."
Seraphina merasa tenggorokannya mengencang.
"Kau membuatnya terdengar seperti daftar kesalahan."
"Bagiku itu daftar alasan."
"Aku tidak selalu sekuat itu."
"Aku tidak jatuh cinta pada kekuatanmu saja."
"Lalu pada apa?"
Reynard menunduk, ibu jarinya bergerak pelan di punggung tangannya. "Pada caramu tetap lembut kepada orang yang kau percaya, meski dunia memberimu banyak alasan untuk menjadi keras selamanya."
Bagian dirinya yang takut langsung ingin mundur. Terlalu cepat. Terlalu dalam. Terlalu banyak musuh di luar sana. Namun bagian lain, yang selama ini berdiri sendirian di teras, di ruang makan Lim, di depan papan tulis Astoria, tiba-tiba sangat lelah menolak tempat untuk bersandar.
"Jangan jawab sekarang kalau kau belum siap," kata Reynard, suaranya lebih serak. "Aku hanya harus mengatakannya sebelum aku menjadi pengecut di depanmu."
Seraphina membuka mata. "Kau? Pengecut?"
"Dalam halmu, iya."
Ia tertawa pelan, dan kali ini air matanya tidak jatuh.
"Aku belum tahu apakah aku bisa mencintai seseorang dengan benar," katanya. "Aku bahkan belum tahu bagaimana hidup tanpa merasa harus siap ditinggalkan."
"Kalau begitu kita mulai dari hal yang lebih kecil."
"Apa?"
"Besok pagi, aku masih di sini."
Seraphina menatapnya.
"Lusa, kalau kau mengizinkan, aku masih di sini. Minggu depan, bulan depan, sampai kau bosan melihatku atau sampai kau percaya aku tidak pergi hanya karena kau lelah."
Seraphina menggenggam tangannya lebih erat.
"Itu tidak kecil."
"Bagi aku, itu dasar."
Matahari belum terbit, tetapi langit di luar jendela mulai berubah warna. Biru gelap menjadi abu-abu lembut.
Seraphina menarik napas.
"Aku tidak bisa menjawab aku mencintaimu sekarang."
Reynard mengangguk, rasa sakitnya ia sembunyikan terlalu cepat.
Seraphina melihatnya, lalu melanjutkan sebelum ia menarik diri.
"Tapi aku ingin mencoba."
Reynard berhenti bernapas.
"Mencoba apa?" tanyanya sangat pelan.
Seraphina menatap tangan mereka.
Di luar jendela, garis pertama matahari menyentuh kaca gedung seberang. Kantor Astoria yang berantakan mendadak tampak seperti tempat lahirnya sesuatu yang baru.
Termasuk keberanian kecil yang belum punya nama sama sekali.
"Mencoba tidak lari saat kau datang."