NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 Kembalinya Eyang Maha

"Yang ingin menahanku bukan orang luar. Ia duduk di dalam istana."

Ucapan Eyang Maha tidak hilang bersama angin malam.

Arjuna memandang anak panah berbulu merah di tangan lelaki tua itu. Warna merahnya kusam, tetapi bentuk ikatannya terlalu rapi untuk pekerjaan perampok jalan. Ikatan seperti itu diajarkan kepada prajurit keraton agar panah latihan mudah dikenali di tanah.

"Eyang akan masuk Kota Raja sebelum matahari tinggi," kata Arjuna.

Eyang Maha menatapnya. "Kau ingin menyembunyikanku dulu?"

"Tidak."

Jawaban itu membuat mata tua tersebut sedikit menyipit.

Arjuna mengambil surat penjemputan asli dan papan catatan pos. "Eyang akan masuk melalui gerbang utama. Dengan kereta Cendekia. Dengan pengawal Puri Timur. Semua orang harus melihat siapa yang kembali, dan semua orang harus bertanya siapa yang berani menahannya."

Eyang Maha tersenyum tipis.

"Baru sekarang kau terdengar seperti cucu Candra Dewi."

Nama ibunya membuat dada Arjuna sakit, tetapi ia tidak menunduk. "Hamba terlambat terlalu lama."

"Kalau tahu terlambat, berjalanlah lebih cepat. Jangan hanya menyesali tanah yang sudah terbakar."

Itu bukan hiburan. Eyang Maha tidak pernah memberi hiburan yang lembut. Tetapi justru karena itu, Arjuna merasa sesuatu di dalam dirinya kembali lurus.

***

Kota Raja belum sepenuhnya bangun ketika kereta tua Kadipaten Cendekia memasuki gerbang utama.

Namun kabar selalu lebih cepat daripada roda.

Pedagang yang baru membuka kain dagangan berhenti. Penjaga gerbang saling menatap. Beberapa orang tua yang mengenali lambang Cendekia di pintu kereta langsung berdiri lebih tegak, seolah melihat nama lama yang mereka kira sudah dikubur.

"Adipati Cendekia..."

Bisik-bisik itu menyebar dari gerbang ke pasar, dari pasar ke halaman kantor, dari halaman kantor ke tangga Balai Agung.

Arjuna berkuda di sisi kereta. Ia tidak memakai pakaian perang, tetapi jubah Pangeran Mahkota yang gelap dan rapi. Di belakangnya, Garuda dan orang-orang Puri Timur mengawal tanpa banyak suara.

Eyang Maha duduk di dalam kereta dengan jendela terbuka.

Ia bisa saja menutup tirai. Ia bisa saja menyembunyikan luka kecil di pelipis. Namun lelaki tua itu justru membiarkan semua orang melihat wajahnya.

Wajah seorang adipati yang dibuang bertahun-tahun, lalu pulang bukan sebagai pemohon ampun.

Di depan tangga Balai Agung, Raden Harsa sudah menunggu dengan beberapa petugas Pengadilan Kerajaan. Matanya langsung tertuju pada papan catatan pos di tangan Adi.

"Catatan asli?" tanyanya.

Adi menyerahkan papan itu. "Dari pos jalan utara. Surat pembatalan tanpa nama pembawa."

Harsa membaca cepat. Garis di antara alisnya makin dalam.

"Ini bukan kesalahan kecil," katanya. "Jika surat pembatalan palsu bisa membuat pos menahan seorang adipati, besok surat palsu bisa memindahkan pasukan."

"Itu yang harus didengar Baginda," jawab Arjuna.

Pintu Balai Agung dibuka.

Suara gamelan upacara belum sempat dimainkan. Para pejabat yang baru datang terkejut melihat Pangeran Mahkota masuk membawa seorang lelaki tua berambut putih di sisinya.

Beberapa langsung mengenali.

Beberapa pura-pura tidak.

Baskara berdiri di sisi kanan balai. Senyumnya hilang begitu ia melihat Eyang Maha. Permaisuri Ratih tidak hadir, tetapi Arjuna tahu kabar ini akan mencapai Puri Ratih sebelum matahari menyentuh puncak.

Prabu Naradewa duduk di singgasana dengan wajah yang tidak berubah.

Hanya jari tangan kirinya yang menekan sandaran kursi sedikit lebih keras.

"Pangeran Mahkota," kata Naradewa. "Kau datang lebih pagi dari biasanya."

Arjuna berlutut. "Ananda datang membawa Adipati Cendekia Mahadewa, Baginda."

Balai Agung bergemuruh.

Eyang Maha berlutut perlahan. Gerakannya tidak cepat, tetapi setiap orang melihat bahwa ia berlutut karena aturan, bukan karena takut.

"Hamba menghadap Baginda," katanya.

Naradewa menatap lelaki tua itu. Untuk sesaat, ruangan seperti mundur bertahun-tahun. Di wajah Eyang Maha, Naradewa mungkin melihat bayangan masa ketika Candra Dewi masih hidup, ketika keluarga Cendekia masih berdiri di samping takhta, ketika dosa belum semuanya memiliki kuburan.

"Adipati Cendekia," kata Naradewa akhirnya. "Aku belum menerima kabar kau tiba hari ini."

"Hamba juga belum menerima kabar bahwa surat penjemputan Pangeran Mahkota telah dibatalkan, Baginda," jawab Eyang Maha.

Beberapa pejabat menunduk lebih dalam.

Naradewa menatap Arjuna. "Apa maksudnya?"

Arjuna memberi isyarat. Harsa maju membawa dua catatan dan anak panah berbulu merah di atas nampan.

"Baginda, rombongan Eyang Maha diserang di jalan utara. Pos penjaga menahan beliau berdasarkan surat pembatalan yang tidak tercatat nama pembawanya. Catatan asal dari Puri Timur menyatakan tidak ada pembatalan. Catatan pos menyatakan pembatalan datang lebih dulu. Di tempat serangan, ditemukan anak panah dengan tanda latihan keraton."

Harsa meletakkan semua bukti di tengah balai.

"Ananda memohon izin agar Pengadilan Kerajaan membuka pemeriksaan resmi," kata Arjuna.

Baskara tertawa kecil. "Kakanda baru saja menjatuhkan Kertanegara. Sekarang semua goresan panah juga ingin dibawa ke Pengadilan?"

Arjuna menoleh. "Adinda menganggap surat palsu atas nama kerajaan sebagai goresan kecil?"

Baskara berhenti tersenyum.

Eyang Maha tidak melihat Baskara. Ia hanya memandang Naradewa.

"Baginda," katanya, "jika surat pembatalan itu palsu, ada orang memakai suara Baginda untuk menahan hamba. Jika surat itu benar, hamba mohon diberitahu kesalahan apa yang membuat hamba harus dihentikan di jalan seperti tahanan."

Kalimat itu tidak keras.

Justru karena tidak keras, semua orang mendengarnya dengan jelas.

Naradewa tidak bisa marah tanpa terlihat bersalah. Tidak bisa tertawa tanpa terlihat meremehkan cap kerajaan. Tidak bisa mengusir Eyang Maha tanpa membenarkan dugaan bahwa keluarga Cendekia memang sengaja dijauhkan.

Ia menatap lelaki tua itu lama.

"Surat pembatalan itu bukan titahku."

Bisik-bisik meledak seperti kain robek.

Naradewa mengangkat tangan. "Cukup."

Balai kembali sunyi.

"Pengadilan Kerajaan akan memeriksa surat palsu dan serangan di jalan utara. Pangeran Mahkota, karena kau yang mengirim penjemputan, kau boleh menyerahkan bukti. Namun pemeriksaan tetap di bawah titah raja."

"Ananda mengerti."

Naradewa memandang Eyang Maha lagi. "Adipati Cendekia Mahadewa, selama pemeriksaan berjalan, kau boleh kembali ke Kadipaten Cendekia. Gelarmu tetap dicatat. Namun jangan lupa, Kota Raja bukan tempat untuk membangkitkan dendam lama."

Eyang Maha menunduk.

"Hamba sudah terlalu tua untuk membangkitkan dendam, Baginda."

Naradewa baru saja hendak mengalihkan pandangan ketika Eyang Maha melanjutkan.

"Tetapi hamba belum terlalu tua untuk mengingat siapa yang berutang keadilan."

Tidak ada yang bernapas terlalu keras.

Arjuna menahan tatapannya tetap rendah. Di sampingnya, Harsa menggenggam papan catatan sampai buku jarinya memutih.

Naradewa tersenyum.

Senyum itu membuat udara di balai lebih dingin daripada marah.

"Keadilan adalah milik raja."

Eyang Maha mengangkat wajah. "Karena itu hamba kembali menghadap raja."

Dua kalimat itu bertemu di tengah Balai Agung seperti dua keris yang tidak bersentuhan, tetapi semua orang mendengar bunyi besinya.

Pada akhirnya, Naradewa mengangkat tangan.

"Bawa Adipati Cendekia beristirahat."

Keputusan itu terdengar sederhana. Namun semua orang tahu apa artinya.

Keluarga Cendekia kembali ke Kota Raja.

Puri Timur tidak lagi hanya berdiri dengan keluarga Jayawardana, Pengadilan, dan pasar. Mulai hari ini, darah Candra Dewi yang pernah dibuang telah kembali menjejak di dekat takhta.

Seorang pejabat tua di barisan belakang tiba-tiba berlutut lebih dalam. Dahulu ia pernah belajar membaca naskah hukum di bawah bimbingan Eyang Maha. Selama bertahun-tahun, ia tidak berani menyebut nama gurunya di Balai Agung. Hari ini, ketika lelaki tua itu berdiri lagi di hadapan raja, bahunya bergetar seperti orang yang baru mengingat bahwa diam juga bisa menjadi dosa.

"Selamat kembali, Adipati Cendekia," ucapnya lirih.

Ucapan itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh.

Lalu satu pejabat lain ikut menunduk. Kemudian seorang lagi. Tidak semua. Banyak yang masih takut pada tatapan Naradewa. Namun cukup banyak untuk menunjukkan bahwa keluarga Cendekia tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Kota Raja.

Baskara melihatnya dengan wajah yang makin tertutup.

Selama ini ia menghitung kekuatan Arjuna dari prajurit, pengadilan, dan bukti dagang. Ia lupa bahwa ada kekuatan yang tidak tercatat di buku besar, yaitu rasa hormat yang tertimbun lama. Jika Eyang Maha kembali berbicara di balai, orang-orang yang selama ini diam mungkin mulai mengangkat kepala.

Naradewa juga melihat.

Raja itu tidak menegur. Ia hanya memanggil Ki Ageng Purwa dengan gerakan jari.

"Siapkan pengumuman," katanya. "Adipati Cendekia kembali ke kediamannya untuk masa pemeriksaan. Tidak ada yang boleh mengganggu rumah Cendekia tanpa izin raja."

Perintah itu terdengar seperti perlindungan.

Arjuna mendengar lapisan lainnya. Naradewa menempatkan nama raja di atas pintu Cendekia, bukan hanya untuk melindungi, tetapi juga untuk mengawasi. Bahkan ketika memberi jalan, ayahnya selalu memasang pagar.

Eyang Maha menunduk. "Hamba berterima kasih atas perhatian Baginda."

"Jangan membuat aku menyesal memanggilmu pulang."

"Hamba tidak pernah meminta Baginda menyesal," jawab Eyang Maha. "Hamba hanya berharap Baginda ingat."

Lagi-lagi, kata itu jatuh terlalu dekat dengan luka lama.

Baskara menunduk, menutupi wajahnya. Namun jari-jarinya bergerak pelan di balik lengan jubah, menghitung ulang semua jalan yang baru saja tertutup.

Arjuna membantu Eyang Maha berdiri.

Lelaki tua itu berbisik cukup pelan sehingga hanya Arjuna yang mendengar.

"Jangan biarkan raja menentukan arti keadilan sendirian."

Arjuna menatapnya.

Eyang Maha melangkah keluar dari Balai Agung dengan punggung tetap tegak. Di luar, matahari akhirnya naik di atas genting keraton, menyentuh lambang Cendekia yang lama pudar.

Di ujung tangga, Garuda mendekat dengan wajah serius.

"Yang Mulia," katanya lirih, "orang yang membawa surat pembatalan palsu sudah ditemukan."

Arjuna berhenti.

"Siapa?"

Garuda menatap pintu balai yang masih terbuka, lalu menunduk.

"Abdi dalam dari Puri Candra."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!