Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Sepihak
Langkah kaki Kayla terasa berat saat ia melintasi pintu depan rumahnya. Suasana rumah terasa begitu sunyi, namun ada ketegangan yang tidak kasat mata bergelantungan di udara. Begitu Kayla melewati sekat ruang tamu, langkahnya terhenti. Pak Hendra sudah duduk di sana, di ruang tengah, menunggunya dengan raut wajah yang tampak gelisah dan dipenuhi beban pikiran.
"Kay, sini! Ada yang mau Papih bicarain sama kamu," panggil Pak Hendra, suaranya terdengar agak berat.
Kayla menghentikan langkahnya sejenak, menatap figur ayahnya yang tampak menua. Meskipun hatinya masih dipenuhi sisa-sisa kemarahan dari kejadian kemarin, Kayla menarik napas panjang dan memilih untuk tidak langsung kabur. Ia berjalan mendekat.
"Apa?" ucap Kayla datar, namun ia masih mengiyakan untuk menghampiri Papihnya dan berdiri beberapa langkah di depan meja kopi.
Pak Hendra menautkan jemari tangannya di atas pangkuan, mencoba mencari kekuatan untuk memulai kalimatnya. "Eumm... Papih tahu kamu gak akan suka dengan apa yang Papih omongin sekarang, tapi... Papih harus ngomong ini ke kamu, Nak."
Melihat keraguan dan sikap bertele-tele dari ayahnya, Kayla merasakan dadanya mulai berdenyut nyeri. Sisa-sisa kelelahan dari sekolah dan teror pesan misterius tadi pagi membuat kesabarannya menipis. "Cepetan ngomongnya, aku capek," potong Kayla tanpa basa-basi, tatapannya menuntut kejelasan.
Pak Hendra menghela napas panjang, lalu menatap langsung ke dalam manik mata anak perempuan satu-satunya itu. "Minggu depan Papih mau menikah sama Tante Hesti."
Deg.
Dunia Kayla seolah runtuh seketika mendengarnya. Kata 'menikah' yang keluar dari mulut ayahnya terasa seperti hantaman gada besi yang telak menghujam dadanya.
Meskipun ia sudah menduga hal ini sejak melihat Hesti kemarin, mendengar konfirmasi bahwa pernikahan itu akan digelar seminggu lagi tetap saja membuatnya syok setengah mati. Waktu satu minggu terasa begitu singkat, seolah-olah ayahnya memang sengaja ingin buru-buru menyingkirkan bayang-bayang Mommy-nya dari rumah ini.
Napas Kayla sempat tertahan di tenggorokan, namun ia mengencangkan rahangnya, sekuat tenaga mempertahankan topeng dingin di wajahnya.
"Terserah," ucap Kayla datar, menekan kuat-kuat getaran di suaranya demi menyembunyikan luka yang teramat dalam di hatinya. "Toh kalau Kayla nolak juga Papih gak bakal dengerin, kan?"
Bagi Kayla, kehadiran orang baru sebagai pengganti sosok Mommy di rumah ini adalah hal yang paling ia benci di dunia ini. Kursi makan tempat ibunya dulu duduk, dapur tempat ibunya dulu memasak, semuanya akan segera diambil alih oleh wanita asing bernama Hesti itu.
Pak Hendra tampak mengendurkan bahunya yang tegang, mengira reaksi datar Kayla adalah tanda kepasrahan. "Papih harap kamu bisa menerima calon istri Papih dengan baik, Kay. Dia orang baik. Dia juga mau berusaha buat dekat sama kamu."
"Orang baik, huh?" Kayla tersenyum sinis, sebuah tawa hambar yang sarat akan rasa sakit lolos dari bibirnya. "Siapa tahu dia bakal jadi ibu tiri jahat buat aku."
"Kayla, jaga ucapan kamu—"
Belum sempat Pak Hendra menyelesaikan tegurannya, Kayla sudah membalikkan badan dengan cepat. Ia mengabaikan panggilan ayahnya, melangkah lebar menaiki anak tangga menuju lantai dua, dan menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras yang menggema ke seluruh sudut rumah.
Begitu kunci pintu kamarnya berbunyi cklek, pertahanan yang Kayla bangun mati-matian di lantai bawah runtuh seketika. Tubuhnya merosot di balik pintu, lututnya lemas tak sanggup lagi menopang berat badannya sendiri.
Kayla menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut, dan tangisannya pecah sepenuhnya. Isak tangis yang tertahan sejak tadi malam kini meledak, memenuhi keheningan kamar tidurnya yang sepi. Rasa tidak rela untuk membiarkan Papihnya menikah lagi menyergap seluruh tubuhnya, membuat dadanya terasa begitu sesak hingga ia kesulitan bernapas.
Luka karena ditinggal pergi oleh sang ibu satu tahun lalu belum benar-benar mengering, dan kini ayahnya justru bersiap menaburkan garam di atas luka tersebut. Yang paling menyakitkan bagi Kayla adalah kenyataan bahwa opininya sama sekali tidak dianggap penting. Ia tahu, dengan atau tanpa izin darinya pun, Papihnya akan tetap menikahi perempuan itu.
Kayla menatap foto masa kecilnya yang terbingkai di atas meja belajar—foto di mana ia, Papih, dan Mommy-nya masih tertawa lepas bersama di pantai. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi pipi hingga menetes ke lantai kayu kamarnya.
Dari dulu memang gitu kan, Papih egois, batinnya perih.
Di tengah isak tangisnya yang memilukan, Kayla merasakan kesepian yang teramat sangat. Di rumah ini, ia merasa benar-benar sendirian dan tidak lagi memiliki tempat untuk bersandar. Pikirannya yang kalut perlahan melayang, mengingat letupan perhatian kecil dari Gavin tadi pagi di koridor sekolah, serta pesan-pesan teror misterius yang masih tersimpan di dalam saku ponselnya. Hidupnya terasa seperti benang kusut yang semakin hari semakin kencang menjerat lehernya sendiri.