"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Bayangan Ketiga
Malam bergerak dalam ritme yang nyaris statis di Kota Valerika.
Di luar dinding kaca penthouse The Obsidian, kerlip lampu dari gedung-gedung pencakar langit tampak seperti permata buatan yang tertanam di atas beludru hitam.
Arus lalu lintas di jalan-jalan protokol mulai menipis, menyisakan deru samar yang teredam oleh struktur bangunan yang kokoh.
Namun, ketenangan visual itu adalah fatamorgana.
Jauh di balik lapisan kaca dan beton, sebuah pusaran tak kasatmata baru saja melepas jangkarnya.
Di kediaman utama keluarga Corisand, kesunyian malam terasa begitu pekat di beranda belakang lantai dua.
Angin malam yang berembus dari arah perbukitan membawa aroma tanah basah, melewati labirin tanaman yang terpangkas rapi di bawah sana.
Eleanor Corisand duduk menyendiri.
Sebuah cangkir porselen berisi teh kamomil hangat berada di genggamannya, memberikan sedikit kehangatan pada jemarinya yang mendadak terasa dingin.
Tatapan wanita tua itu awalnya begitu tenang, mencerminkan kedewasaan seorang matriark yang telah melewati puluhan badai bisnis dan intrik keluarga.
Namun, ketenangan itu hancur berantakan dalam hitungan detik ketika telepon pribadinya sebuah perangkat dengan enkripsi khusus yang hanya diketahui oleh lingkaran terdalamnya bergetar di atas meja kaca.
Satu pesan masuk.
Tanpa nama pengirim.
Tanpa nomor yang terdaftar.
Hanya ada sebuah file audio digital yang melampirkan durasi statis: 20 menit.
Eleanor membeku.
Detak jantungnya berdegup satu kali lebih keras saat ibu jarinya bergerak ragu di atas layar.
Dengan helaan napas berat, ia menekan tombol putar.
Suara pertama yang keluar dari pelantang suara teleponnya begitu jernih, bebas dari distorsi, seolah-olah direkam di dalam ruangan yang sama dengannya.
Suara itu berat, memiliki intonasi berwibawa yang sangat ia kenal, bahkan dalam tidurnya sekalipun.
George Corisand.
Mendiang suaminya.
Lalu, sedetik kemudian, suara kedua menyahut. Nada bicaranya lebih cepat, penuh dengan kalkulasi tajam yang menjadi ciri khasnya semasa hidup.
William Hutama.
Mendiang sahabat sekaligus mitra bisnis yang telah lama tiada.
Eleanor mendengarkan bait-bait kalimat yang mengalir selama beberapa menit pertama.
Wajahnya yang semula anggun perlahan kehilangan seluruh rona alaminya.
Kulitnya berubah pucat pasi, dan bibirnya sedikit mengatup rapat.
Isi rekaman itu bukan sekadar percakapan biasa. Itu adalah konspirasi, sebuah kesepakatan gelap di balik layar yang terjadi puluhan tahun lalu sebuah rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh empat orang di dunia ini: George, William, dirinya sendiri, dan Raymond Hutama.
Lebih mengerikan lagi, rekaman itu mendadak terputus.
Klik. Senyap. Tepat pada detik sebelum nama krusial atau entitas yang menjadi inti dari kesepakatan itu disebutkan. Pola pemotongan audio ini terasa begitu disengaja, sebuah intimidasi psikologis yang dirancang untuk memicu kepanikan.
Eleanor segera berdiri dengan sentakan yang begitu mendadak hingga cangkir porselen di tangannya tergelincir.
Prang!
Teh hangat dan pecahan keramik berserakan di atas lantai marmer putih yang dingin.
Eleanor tidak peduli. Tangannya gemetar hebat saat ia mencari sebuah kontak di daftar panggilan cepatnya sebuah nomor yang dalam situasi normal sangat jarang ia hubungi secara langsung demi menjaga jarak publik di antara kedua keluarga.
Panggilan itu tersambung.
Hanya butuh dua nada sambung sebelum sebuah suara berat dan serak menyahut dari ujung sana.
"Raymond." Suara Eleanor bergetar, kehilangan seluruh wibawa kediktatorannya.
Raymond Hutama tidak langsung menjawab dengan pertanyaan.
Suaranya di seberang telepon terdengar sangat tenang, namun ada nada kelelahan yang sangat dalam di sana. "Aku baru saja akan menghubungimu, Eleanor."
Langkah kaki Eleanor terhenti di ambang pintu beranda.
"Kau... kau juga menerimanya?"
Hening. Keheningan di seberang garis telepon terasa begitu mencekam hingga Eleanor bisa mendengar suara napasnya sendiri yang memburu.
"Ya," jawab Raymond singkat.
Untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade, sejak badai finansial dan konspirasi yang merenggut nyawa pasangan mereka, Eleanor Corisand merasakan sesuatu yang asing namun mengerikan menjalar di sepanjang tulang belakangnya: ketakutan murni.
Setengah jam kemudian, sebuah mobil sedan hitam tanpa atribut mewah meluncur masuk melalui gerbang belakang Kediaman Keluarga Hutama.
Eleanor turun dengan langkah tergesa, selendang sutranya berkibar ditiup angin malam yang kian menusuk.
Ia langsung dituntun menuju ruang cerutu pribadi Raymond di lantai dasar sebuah ruangan yang dirancang dengan dinding kedap suara berlapis beludru tebal dan kayu mahoni tua.
Di dalam ruangan itu, aroma tembakau premium bercampur dengan aroma kecemasan yang pekat.
Raymond Hutama berdiri memunggungi pintu, menatap keluar jendela kecil yang mengarah ke taman dalam. Ketika Eleanor masuk, pria tua itu berbalik.
Wajahnya yang biasanya keras kini tampak seperti guratan batu karang yang terkikis badai. Di atas meja mahoni besar di tengah ruangan, sebuah laptop perak menyala, menampilkan visualisasi gelombang audio yang statis.
File yang sama. Durasi yang sama. Terpotong di titik yang sama.
Eleanor duduk di kursi lengan kulit di seberang meja tanpa menunggu dipersilakan. Keduanya terdiam selama beberapa menit yang terasa seperti keabadian.
Di antara para penguasa bisnis Valerika, diam sering kali berarti sedang menyusun strategi. Namun malam ini, diam mereka adalah bentuk dari ketidakberdayaan yang membingungkan.
"Itu bukan ulahmu?" Eleanor memecah keheningan, suaranya menuntut namun ada nada memohon di dalamnya.
"Kau tidak sedang mencoba memeras posisi Corisand dalam merger ini, kan, Raymond?"
Raymond menatap Eleanor dengan mata elangnya yang tajam, merasa tersinggung sekaligus memahami kecurigaan wanita itu.
"Tentu saja tidak. Jangan konyol, Eleanor. Pernikahan Adrian dan Alea adalah investasi terbesarku untuk masa depan Hutama. Aku tidak akan menghancurkan fondasinya sendiri dengan memunculkan hantu dari masa lalu."
Raymond mengembuskan napas panjang, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursinya.
"Itulah pertanyaan yang membuatku bersedia menemuimu di jam seperti ini. Jika bukan aku, dan jelas bukan kau... lalu siapa yang memiliki akses ke rekaman ini?"
Eleanor merasakan hawa dingin yang kian menjadi.
Selama beberapa bulan terakhir, di balik layar, kedua sesepuh ini memang menyusun sebuah skenario besar.
Mereka sengaja mengatur perjodohan dan pernikahan Adrian dan Alea. Mereka sengaja menciptakan beberapa riak kecil dalam operasional bisnis seperti sabotase logistik kecil atau kebocoran informasi minor untuk memaksa kedua cucu mereka yang keras kepala itu belajar bekerja sama, saling melindungi, dan akhirnya menyatu secara emosional demi kekuatan dinasti.
Namun, semua itu hanyalah permainan catur yang terkendali.
Mereka tidak pernah mengirimkan foto-foto misterius yang mengintai aktivitas pribadi Adrian dan Alea.
Mereka tidak pernah mengirimkan ancaman fisik.
Dan yang paling penting, mereka sama sekali tidak pernah menyentuh arsip rahasia tingkat tinggi yang melibatkan mendiang George dan William.
"Itu berarti..." bisik Eleanor, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan,
"ada pihak ketiga. Ada orang lain yang tidak hanya mengetahui isi rekaman itu, tapi juga memiliki salinan fisiknya."
Raymond mengangguk pelan. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja mahoni dengan ritme yang lambat dan berat.
"Dan orang itu sangat cerdas. Dia memotong rekaman itu tepat di bagian krusial, lalu mengirimkannya kepada kita dan aku berani bertaruh dia juga sedang mengarahkan Adrian dan Alea untuk menemukan potongan sisanya.
Dia ingin anak-anak itu mempercayai bahwa seluruh konflik ini bersumber dari dosa masa lalu kita terkait merger pertama."
"Dia ingin mengadu domba anak-anak kita dengan kita sendiri," sela Eleanor, menyimpulkan dengan cepat.
"Dia ingin Adrian dan Alea berbalik menyerang kita atas nama mencari kebenaran."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini dengan bobot yang jauh lebih menindas. Mereka berdua menyadari satu fakta brutalis yang tidak pernah mereka pertimbangkan dalam kalkulasi bisnis apa pun: selama ini mereka mengira merekalah para dalang yang menggerakkan bidak-bidak di papan catur Valerika.
Namun kenyataannya, mereka juga hanyalah bidak yang sedang digiring menuju tepi jurang oleh tangan yang tak terlihat.
Raymond berdiri, berjalan menuju sebuah lukisan minyak besar yang menggambarkan lanskap pelabuhan tua Valerika. Ia menyentuh sudut bingkai emasnya, memicu mekanisme klik mekanis yang halus.
Lukisan itu bergeser, menampakkan sebuah brankas baja kecil yang tertanam di dalam dinding.
Setelah memasukkan serangkaian kode numerik dan memindai sidik jarinya, Raymond mengeluarkan sebuah map tua berwarna cokelat dari dalamnya.
Map itu terlihat usang, pinggirannya sedikit menguning dan berdebu, menandakan bahwa benda itu telah disimpan di sudut tergelap selama bertahun-tahun tanpa pernah tersentuh.
Eleanor langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat map tersebut. Matanya melebar.
"Jangan bilang kalau itu..."
Raymond tidak menjawab.
Ia membawa map itu ke meja, meletakkannya di bawah cahaya lampu kerja yang temaram, lalu membukanya dengan perlahan. Di halaman pertama, tidak ada grafik saham, tidak ada dokumen legal, ataupun laporan keuangan.
Di sana hanya ada satu lembar kertas berisi biodata singkat dengan satu nama yang dicetak tebal di bagian atas.
Thomas Armand.
Melihat nama itu, tatapan Eleanor berubah dari ketakutan menjadi kombinasi antara kemarahan dan ketidakpercayaan.
"Kau masih menyimpan berkas tentang dia? Raymond, kita sudah sepakat untuk menghapus seluruh jejak pria itu dari sejarah Valerika!"
"Aku tidak pernah membuang sesuatu yang belum benar-benar selesai, Eleanor," sahut Raymond dengan nada dingin.
"Thomas Armand bukan jenis pria yang bisa kau hapus begitu saja dengan membakar dokumen atau menutup rekening banknya."
"Tapi Thomas tidak mungkin melakukannya! Dia sudah hancur. Bisnisnya, keluarganya, reputasinya... kita memastikan dia tidak memiliki apa-apa lagi untuk kembali ke kota ini!" Suara Eleanor meninggi, menahan kepanikan yang mulai menguasai dirinya.
"Tiga tahun lalu, ketika kita merayakan runtuhnya faksi Armand, aku juga berpikir begitu," kata Raymond sambil menatap tajam ke arah nama yang tertera di kertas.
"Kita merasa menang. Kita merasa aman dalam aliansi kita. Lalu, beberapa bulan setelah itu... George meninggal secara mendadak. Disusul oleh William yang mengalami kecelakaan tragis."
Eleanor tersentak, tangannya menutup mulutnya sendiri.
"Kau... kau menyiratkan bahwa kematian mereka..."
"Aku tidak menyiratkan apa-apa tanpa bukti," potong Raymond cepat, meski matanya memancarkan keyakinan yang kelam.
"Namun melihat bagaimana file audio ini muncul malam ini file yang berada di dalam brankas pribadi milik George dan William sebelum mereka tiada aku mulai berpikir bahwa runtuhnya keluarga Armand hanyalah babak pertama dari rencana yang jauh lebih besar."
Raymond menutup map cokelat itu dengan hentakan keras, menimbulkan suara bising yang memutus ketegangan di udara.
"Thomas Armand, atau siapa pun yang kini bergerak atas namanya, sedang menagih utang darah kepada kita. Dan dia menggunakan Adrian serta Alea sebagai alat eksekusinya."
Sementara konspirasi tingkat tinggi sedang bergolak di kediaman Hutama, di sudut lain Kota Valerika yang jauh dari kemegahan distrik finansial, sebuah realitas yang berbeda sedang berjalan.
Di dalam sebuah ruangan bawah tanah yang luas dan kedap cahaya, satu-satunya sumber penerangan berasal dari pendaran biru belasan monitor berukuran besar yang terpasang di dinding.
Ruangan itu terasa dingin, dipenuhi oleh dengung konstan dari kipas pendingin server-server komputer yang bekerja di bawah kapasitas penuh.
Layar-layar monitor tersebut menampilkan siaran langsung dari berbagai sudut kota secara real-time.
Beberapa di antaranya adalah kamera lalu lintas publik, namun sebagian besar berasal dari peretasan jaringan CCTV privat yang sangat terproteksi.
Di salah satu layar sudut kiri, terlihat visualisasi gerbang depan penthouse The Obsidian.
Di layar tengah, kamera pengawas menangkap siluet mobil Eleanor Corisand yang baru saja memasuki pekarangan rumah Raymond Hutama.
Di layar lainnya, grafik transfer data digital menunjukkan bahwa dokumen audio berdurasi 20 menit telah sukses diunduh di beberapa perangkat target.
Seorang pria duduk di kursi kerja ergonomis di depan meja kendali utama. Wajahnya tersembunyi sepenuhnya dalam bayangan tudung jaket hitam yang dikenakannya.
Cahaya monitor hanya mampu menerangi garis rahangnya yang tegas dan jemarinya yang panjang, yang kini bergerak dengan ketenangan luar biasa di atas keyboard mekanis.
Sebuah notifikasi pesan instan dengan enkripsi militer muncul di monitor utama bagian tengah:
[OPERATOR-02]: TARGET A (ELEANOR) DAN TARGET B (RAYMOND) TELAH MENERIMA REKAMAN DAN SEDANG MELAKUKAN PERTEMUAN DARURAT.
Pria itu tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin dan penuh arti. Ia meletakkan jemarinya kembali ke atas keyboard dan mengetik balasan singkat:
[COMMAND]: Fase pertama berhasil. Biarkan mereka saling melempar kecurigaan.
Beberapa detik kemudian, baris pesan baru muncul dari ujung jalur komunikasi yang lain:
[OPERATOR-02]: APAKAH KELUARGA SUDAH MULAI BEREAKSI TERHADAP NAMA 'ARMAND'?
Jemari pria itu kembali bergerak, mengetik dengan ritme yang konstan tanpa keraguan sedikit pun:
[COMMAND]: Ya. Mereka mulai mengingat masa lalu. Tepat seperti yang kita inginkan. Ketakutan akan membuat mereka mengambil keputusan yang ceroboh.
Senyuman di wajah pria itu semakin lebar. Namun, itu bukan senyuman kemenangan yang meledak-ledak atau penuh kesombongan. Itu adalah senyuman tipis dari seorang pemburu yang telah memasang perangkapnya dengan sangat presisi, seseorang yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam kesunyian malam hanya untuk menunggu momen ketika mangsanya berjalan sendiri menuju jerat.
Bagi pria di dalam kegelapan ini, waktu tunggu yang terlampau lama itu kini telah berakhir. Waktunya untuk eksekusi telah tiba.
Kembali ke dalam ruang kerja penthouse The Obsidian.
Suasana di dalam ruangan itu masih dicekam oleh kebingungan teknis yang buntu.
Adrian Hutama masih duduk di depan laptopnya, dahinya berkerut dalam saat ia menganalisis visualisasi gelombang suara dari rekaman misterius yang mereka temukan.
Jari-jarinya sesekali menekan tombol spasi untuk mengulang detik-detik terakhir sebelum audio itu mendadak mati menjadi gelombang statis.
"Ini bukan kerusakan file, Alea," kata Adrian, suaranya memecah keheningan ruangan dengan nada frustrasi yang tertahan.
"Seseorang sengaja menggunakan perangkat lunak enkripsi tingkat tinggi untuk memotong bagian akhirnya. Ini adalah sebuah pesan, atau lebih tepatnya, sebuah umpan."
Di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke panorama Valerika, Alea Corisand berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Gaun malamnya sedikit bergoyang ditiup udara dari ventilasi, namun tubuhnya sendiri tampak kaku.
Pandangannya kosong, menatap lampu-lampu kota namun pikirannya tertuju pada konspirasi yang kian menjerat mereka sejak hari pertama pernikahan mereka diumumkan.
"Jika ini umpan, lalu siapa yang ingin kita memakannya?" tanya Alea tanpa berbalik.
"Kakekmu? Atau nenekku? Apakah ini bagian dari ujian aneh mereka untuk melihat apakah kita cukup kompeten memimpin hasil merger ini?"
Adrian bersandar pada kursi kerjanya, memijat pelipisnya yang mulai terasa pening.
"Awalnya aku berpikir begitu. Tapi ini terlalu berisiko, bahkan untuk standar orang tua seperti Raymond Hutama. Rekaman ini... jika bocor ke publik atau otoritas federal, bisa menghancurkan valuasi kedua perusahaan dalam semalam. Mereka tidak akan berjudi seberbahaya ini hanya untuk menguji kita."
Tak satu pun dari dua pewaris muda itu yang menyadari bahwa malam ini, peta permainan di atas papan catur mereka telah berubah secara radikal.
Selama ini, Adrian dan Alea mengira mereka sedang berhadapan dengan konflik internal yang klise sebuah sabotase bisnis antar-korporasi, ancaman dari kompetitor yang iri, atau manipulasi psikologis dari para tetua keluarga yang ingin mengendalikan hidup mereka.
Mereka merasa cukup cerdas untuk mengurai dan memenangkan permainan tersebut dengan kekuatan aliansi baru mereka.
Padahal kenyatannya, apa yang sedang bergerak mendekati mereka jauh lebih besar daripada sekadar urusan nilai saham.
Jauh lebih tua daripada usia pernikahan mereka, dan jauh lebih mematikan daripada persaingan bisnis apa pun yang pernah diajarkan di sekolah bisnis mereka.
Untuk pertama kalinya sejak genderang perang tak kasatmata ini ditabuh di Kota Valerika, seorang pemain baru dari masa lalu telah melangkah keluar dari bayang-bayang dan menggerakkan bidak utamanya.
Pemain yang kehadirannya saja sudah cukup untuk meruntuhkan tembok ketenangan Eleanor Corisand dan membuat Raymond Hutama menyembunyikan rasa takutnya di balik asap cerutu.
Dan jika kedua patriark yang dikenal berdarah dingin itu sudah mulai merasakan kecemasan, maka apa pun yang kini sedang meluncur deras ke arah Adrian dan Alea bukan lagi sekadar teror psikologis atau gertakan sambal.
Itu adalah awal dari sebuah perang total sebuah dendam lama yang telah dikubur dalam-dalam di bawah fondasi kejayaan keluarga Hutama dan Corisand, yang kini perlahan-lahan bangkit dari kuburnya, menuntut balasan yang setimpal dalam setiap tetes darah dan air mata yang tersisa.
Di tengah ketidaktahuan mereka, Adrian dan Alea baru saja melangkah masuk ke dalam episentrum badai yang siap meratakan seluruh dunia yang mereka kenal.