Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.
Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bibit Masalah yang Tersembunyi
Malam itu, setelah berpamitan dengan sopir dan meletakkan barang-barang bawaannya di kamar, Dika duduk sejenak di tepi tempat tidur. Rasa lelah setelah perjalanan pulang-pergi terasa menjalar di seluruh tubuhnya, tapi hatinya terasa jauh lebih ringan dan tenang daripada sebelumnya. Bertemu ibunya, melihat kondisinya yang sudah jauh membaik, serta mendengar nasihat sederhana namun penuh makna itu memberinya kekuatan baru untuk menghadapi hari-hari yang tidak selalu mudah di rumah besar ini.
Ia mengeluarkan bungkusan teh dan madu pemberian Kirana dari dalam tas, lalu menyimpannya dengan hati-hati di sudut lemari, di antara pakaiannya yang sedikit. Ia berjanji dalam hati, suatu saat nanti ia akan membalas kebaikan itu — meski hanya dengan cara yang sederhana, tidak mencolok, dan tidak menimbulkan kecurigaan siapa pun.
Namun, suasana di ruang kerja terpisah di ujung halaman terasa sangat berbeda. Di sana, Paman Arga duduk bersandar di kursi besar kulit, wajahnya terlihat gelap dan penuh kekesalan. Dari balik jendela gorden yang sedikit terbuka, ia sudah melihat sendiri saat mobil mengantar Dika pulang tadi sore, dan melihat pemuda itu melangkah masuk kembali ke dalam pekarangan dengan tenang, bahkan terlihat lebih segar dan bersemangat dibandingkan saat berangkat.
“Kenapa dia bisa terus bertahan? Malah semakin dipercaya dan semakin dekat dengan mereka,” gumamnya pelan, suaranya terdengar geram. Ia memutar pena di tangannya dengan kasar, seolah benda itu adalah penyebab kekesalannya.
Selama ini, rencananya sudah disusun perlahan. Ia berharap dengan memberikan tekanan, pandangan dingin, dan ucapan yang menyakitkan, Dika akan merasa tertekan, tidak betah, dan pergi sendiri tanpa perlu ia bersusah payah. Tapi kenyataannya justru sebaliknya: Dika semakin rajin bekerja, hasil kerjanya semakin memuaskan, membuat Nyonya Wijaya semakin percaya, dan bahkan perlahan mendapatkan simpati dari Kirana — satu-satunya pewaris harta keluarga ini. Bagi Paman Arga, kehadiran Dika sudah menjadi batu sandungan yang mengganggu langkahnya untuk menguasai sebagian besar aset keluarga Wijaya.
Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum miring — senyum yang tidak membawa kebaikan. “Kalau jalan halus tidak berhasil, harus dicari jalan lain. Tidak mungkin aku membiarkan orang luar itu mengganggu rencanaku. Dia harus pergi, secepatnya.”
Ia lalu menekan bel di mejanya, dan tak lama kemudian masuklah Sari, salah satu pembantu yang sudah lama bekerja dan sering menuruti segala keinginannya. Wajah wanita itu terlihat ragu-ragu, seolah sudah tahu apa yang akan diperintahkan.
“Dengarkan baik-baik,” kata Paman Arga dengan nada rendah namun tegas. “Mulai sekarang, perhatikan setiap gerak-gerik Dika. Ke mana dia pergi, apa saja yang dia kerjakan, dengan siapa dia bicara, bahkan apa yang dia bawa masuk atau keluar dari kamarnya. Catat semuanya, dan kalau ada hal yang sedikit pun terlihat mencurigakan, segera laporkan padaku. Jangan sampai ada yang tahu soal ini, paham?”
Sari menunduk takut, lalu menjawab pelan: “Siap, Pak. Saya akan perhatikan baik-baik.”
Keesokan harinya, suasana di rumah terasa sedikit berbeda. Dika bangun seperti biasa sebelum matahari terbit, mencuci muka, lalu langsung menuju taman untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, sejak pagi ia merasa ada yang mengawasi. Sari, yang biasanya hanya sibuk di dapur atau di ruang dalam, kini sering lewat di dekat taman dengan alasan yang tidak jelas — kadang membawa kain lap, kadang membawa ember kosong, tapi matanya selalu melirik ke arah Dika seolah sedang mengamati setiap gerakannya.
Dika menyadarinya, tapi memilih pura-pura tidak tahu. Ia tetap fokus menyiram tanaman, memotong ranting yang kering, dan membersihkan rumput liar dengan teliti. Ia sadar, saat ini ia sedang diawasi ketat, dan satu kesalahan sekecil apa pun bisa dijadikan alasan untuk menjatuhkannya.
Menjelang waktu istirahat siang, saat Dika baru saja selesai membereskan alat-alat kebun dan memasukkannya ke dalam gudang, Bu Marni datang dengan langkah cepat dan wajah yang terlihat serius. Ia berdiri di ambang pintu gudang, menatap Dika dengan pandangan yang tidak biasa.
“Dika, ada hal yang ingin saya tanyakan,” katanya langsung tanpa basa-basi. “Tadi pagi saat akan mempersiapkan kebutuhan taman, saya mendapati satu kotak berisi peralatan baru — sekop, garpu tanah, dan selang air yang baru dibeli dua hari lalu — sudah tidak ada lagi di rak tempat penyimpanannya. Apakah kamu melihatnya, atau memindahkannya ke tempat lain?”
Dika terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia mengerutkan dahi, lalu menjawab dengan jujur: “Tidak, Bu. Saya tidak melihatnya, apalagi memindahkannya. Sejak kemarin sore setelah pulang, saya hanya menyimpan alat yang sudah dipakai saja, dan tidak menyentuh barang-barang yang masih terbungkus rapi. Saya tidak tahu di mana barang itu sekarang.”
Bu Marni mengangguk pelan, tapi nadanya masih penuh keraguan. “Tadi Sari melaporkan bahwa dia melihatmu masuk ke gudang saat hari mulai gelap kemarin sore, tepat sebelum kamu masuk ke kamar. Apa yang kamu lakukan di sana saat itu?”
Dika mengingat-ingat kejadian kemarin. “Saya memang masuk sebentar, Bu. Setelah selesai bekerja, saya hanya menyimpan sekop dan cangkul yang baru dipakai, lalu langsung keluar lagi. Tidak ada yang lain, dan saya tidak membawa apa pun keluar dari gudang itu.”
Bu Marni terdiam sejenak. Selama ini ia mengamati Dika dan tahu pemuda itu tidak pernah berbuat curang, jujur, dan pekerjaannya rapi. Tapi laporan yang masuk membuatnya harus bertanya dan menyelidiki. “Baiklah, saya akan periksa lagi dengan teliti. Tapi ingat, kalau sampai barang itu benar-benar hilang dan tidak ditemukan, kamu yang akan dimintai pertanggungjawaban, karena kamu yang paling sering berada di sini.”
Setelah Bu Marni pergi, Dika berdiri diam di tempat, memandangi rak-rak kosong di sudut gudang. Hatinya mulai merasa gelisah. Ia merasa ada yang tidak beres. Barang itu tidak mungkin hilang begitu saja, dan kebetulannya terasa terlalu pas — tepat setelah ia pulang menengok ibunya, dan saat Paman Arga semakin terlihat tidak senang dengan kehadirannya. Ia mulai menyadari, ini bukan sekadar kesalahpahaman biasa.
Sore harinya, saat Dika sedang duduk beristirahat sejenak di bangku kayu di sudut taman yang agak sepi, Kirana datang dengan langkah pelan. Wajahnya terlihat cemas, seolah sudah mendengar kabar yang beredar.
“Kamu diduga mengambil barang yang hilang di gudang?” tanyanya dengan suara rendah, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
Dika mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang. “Saya tidak melakukannya, Non. Tapi rasanya ini seperti jebakan yang sengaja dibuat. Tiba-tiba saja barang itu hilang, dan saya langsung dituduh lebih dulu tanpa ada bukti yang jelas.”
Kirana mengerutkan dahi, matanya terlihat marah namun berusaha menenangkan diri. “Saya juga merasa aneh. Barang itu baru dibeli, masih terbungkus rapi, dan tidak ada orang lain yang membutuhkannya selain untuk keperluan taman. Tidak mungkin hilang begitu saja dalam semalam. Saya akan coba bicara dengan Ibu, supaya diperiksa lebih teliti, bukan hanya menuduh sembarangan.”
“Terima kasih banyak, Non. Tapi tolong hati-hati saja,” pesan Dika dengan nada khawatir. “Jangan sampai Anda terlibat terlalu dalam dan dianggap membela saya secara berlebihan. Nanti justru menimbulkan masalah baru untuk Anda sendiri.”
“Tenang saja, saya tahu cara bicara pada Ibu. Yang penting kebenaran harus terungkap, bukan hanya mendengarkan omongan orang yang ingin mencari kesalahan,” jawab Kirana dengan tegas, lalu segera pergi sebelum ada yang melihat mereka berdua mengobrol.
Namun, percakapan singkat itu ternyata tidak luput dari pantauan. Sari yang sedang mengintip dari balik semak bunga di ujung taman segera berlari melaporkannya ke ruang kerja Paman Arga.
Tidak lama kemudian, Paman Arga datang menghampiri Dika sendirian. Wajahnya terlihat sedikit puas, seolah sudah memegang semua bukti yang dibutuhkan. Ia berdiri tepat di hadapan Dika, menatapnya dengan pandangan merendahkan.
“Kamu benar-benar tidak tahu malu, ya?” katanya dengan nada mengejek. “Baru saja dituduh mengambil barang, malah diam-diam mengobrol dengan keponakanku lagi. Apa yang kalian bicarakan? Mau memutarbalikkan keadaan supaya kamu terlihat bersih dan tidak bersalah?”
Dika tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang. “Saya tidak berbohong, Pak. Saya tidak mengambil barang apa pun, dan kami hanya bicara soal hal yang berkaitan dengan pekerjaan saja. Tidak ada yang lain.”
Paman Arga mendekat lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan yang berat dan penuh ancaman. “Kamu pikir semua orang akan percaya pada omonganmu yang manis itu? Tunggu saja sampai besok. Kalau barang itu tidak ditemukan, kamu akan diusir dari rumah ini dengan cara yang sangat memalukan — bahkan sampai dicatat sebagai pencuri, sehingga tidak ada tempat lain yang mau menerima kamu bekerja. Ingat, aku sudah menyiapkan semuanya supaya kamu tidak punya kesempatan untuk membela diri.”
Ia berbalik pergi dengan langkah tegap, meninggalkan Dika yang kini semakin yakin akan satu hal: tuduhan ini memang sengaja dibuat untuk menjatuhkannya.
Malam itu, setelah suasana di rumah menjadi sangat sunyi dan semua orang sudah terlelap, Dika duduk di tepi tempat tidurnya. Ia menyalakan lampu meja kecil, mengeluarkan buku catatan lusuh pemberian ibunya, lalu mulai menulis dengan tulisan tangan yang tenang meski hatinya sedang gelisah:
“Hari ini saya dituduh mengambil barang yang tidak pernah saya sentuh. Saya merasa seperti sedang terjebak dalam jaring yang sengaja dipasang untuk menjerat saya. Semua kebetulan terasa terlalu pas, dan saya tahu siapa yang berada di balik semua ini. Tapi saya tidak akan menyerah atau melarikan diri, karena itu sama saja dengan mengakui kesalahan yang tidak saya lakukan. Ibu pernah bilang, kebenaran itu mungkin terpendam lama, tapi tidak akan pernah hilang selamanya. Saya akan tetap bersabar, tetap jujur, dan menunggu saat yang tepat untuk membuktikan bahwa saya tidak bersalah. Semoga Tuhan memberikan jalan keluar yang terbaik.”
Setelah selesai menulis, ia menutup buku itu rapat-rapat, lalu meletakkannya di bawah bantal. Ia berbaring memandangi langit-langit kamar yang gelap, menyadari bahwa ujian yang dihadapinya baru saja memasuki babak yang lebih sulit. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan membiarkan kebaikan hatinya tergantikan oleh rasa takut atau dendam.