Peringatan Misi Kematian! Sisa waktu: 10 menit.
Tugas: Hadapi Dewi Kuno, atau jantungmu meledak.
Sebagai murid buangan yang tertindas, Lin Huang mendadak memiliki kekuasaan instan berkat "Tanda Batas Batil" di pergelangan tangannya. Tidak butuh waktu ratusan tahun, kultivasinya meningkat eksponensial dalam hitungan detik—tetapi harganya adalah risiko nyawa yang mengerikan!
Setiap detik adalah pertarungan. Setiap misi adalah perjudian.
Fast-Paced Xianxia | Kultivasi Ekstrem | Romansa Paksaan Dewi
Rasakan adrenalin tanpa jeda di setiap bab!
"Ini bukan tentang menjadi abadi, ini tentang bertahan hidup di detik berikutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori Kuno dan Pelarian ke Gurun
Angin malam menderu kencang, membawa aroma pasir kering yang mulai menggantikan hawa dingin sisa-sisa badai es Kota Gales. Di bawah kegelapan langit bertabur bintang, dua bayangan melesat dengan kecepatan tinggi melewati perbatasan barat kekaisaran. Kota Gales kini berada jauh di belakang mereka, menyisakan keremangan lampu kota yang perlahan tenggelam di kaki cakrawala.
Lin Huang memimpin di depan. Setiap kali kakinya menginjak tanah tandus, kekuatan Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Sembilan Sempurna miliknya berdenyut, mendorong tubuhnya maju belasan meter dalam satu lompatan. Di sampingnya, Ye Qingyue melayang dengan anggun. Gaun biru langitnya berkibar pelan, tidak menyentuh sebutir debu pun seolah-olah dia memiliki jalur udara sendiri.
"Kita sudah keluar dari jangkauan Formasi Mata Langit Kekaisaran," Ye Qingyue membuka suara, suaranya terdengar jernih menembus desau angin. "Kau bisa memperlambat langkahmu sekarang, Lin Huang."
Lin Huang menghentikan lompatannya, mendarat di atas sebuah gundukan batu besar di tepi gurun. Dia mengembuskan napas panjang, menoleh ke arah pergelangan tangan kirinya. Tato jam pasir mistis itu kini bersinar dengan warna hijau yang tenang, menandakan status nyawanya masih dalam batas aman.
"Hebat juga pelacak kekaisaran itu, hampir saja kita terjebak," gumam Lin Huang. Dia kemudian duduk bersila di atas batu, menatap ruang penyimpanan jiwanya melalui kesadaran ilahi. Di sana, sebotol cairan berwarna perunggu keemasan yang kental melayang—Ramuan Pemurni Darah Perunggu (Fase 2), hadiah dari misi sebelumnya.
Tanpa ragu, Lin Huang mengeluarkan botol tersebut dan meminumnya dalam satu tegukan.
Boom!
Detik berikutnya, Lin Huang merasa seolah-olah dia baru saja menelan sebongkah logam cair yang membara. Rasa panas yang teramat dahsyat meledak dari tenggorokannya, mengalir deras ke seluruh pembuluh darah dan langsung menghantam sumsum tulangnya. Kulit perunggunya yang semula normal kini memancarkan pendaran cahaya keemasan yang jauh lebih pekat dan padat dari sebelumnya. Tulang-tulangnya mengeluarkan suara gemertak seperti batu giling yang sedang berputar, menempa ulang seluruh struktur fisiknya ke tingkat ekstrem.
"Ugh!" Lin Huang mengerang, keringat dingin bercampur kotoran hitam pekat keluar dari pori-pori kulitnya—sebuah proses pemurnian tubuh (Impurity Cleansing) tingkat tinggi.
Ye Qingyue yang berdiri di dekatnya menyipitkan mata. Dia bisa merasakan bahwa setiap kali Lin Huang meminum ramuan aneh dari tatornya, esensi kehidupan pemuda ini melompat ke tingkat yang tidak masuk akal. Fisik Perunggu miliknya kini telah berevolusi ke Fase 2, sebuah ketahanan fisik yang bahkan sanggup menahan hantaman senjata spiritual tingkat bumi tanpa tergores.
Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai.
Tepat saat rasa panas di tubuh Lin Huang mereda, tato jam pasir di tangannya mendadak bergetar hebat. Sebuah gelombang energi spiritual berwarna hitam pekat mengalir langsung ke dalam lautan kesadaran Lin Huang, memicu sebuah kilasan memori kuno yang teramat masif.
Zuuuum!
Pandangan Lin Huang seketika menjadi gelap. Saat dia membuka mata di dalam kesadarannya, dia melihat sebuah medan perang langit yang teramat mengerikan. Istana-istana megah di atas awan hancur berantakan, dewa-dewa bertubuh raksasa tumbang dengan darah emas yang mengalir membentuk sungai.
Di tengah kekacauan itu, melayang seorang pria paruh baya mengenakan jubah perang hitam legam bercorak bintang. Wajahnya dipenuhi kelicikan dan ambisi yang tak terbatas. Tangan kanan pria itu memegang sebuah jam pasir mistis berwarna merah darah—benda yang persis sama dengan tato di tangan Lin Huang!
"Ye Qingyue! Kau terlalu naif!" pria berjubah hitam itu tertawa terbahak-bahak, suaranya mengguncang seluruh dimensi kesadaran Lin Huang. "Kau mengira kau adalah pelindung hukum langit? Hari ini, dengan Tanda Batas Batil ini, aku akan mengunci seluruh energimu dan membuang jiwamu ke alam fana yang paling kotor! Kau tidak akan pernah bisa kembali ke Alam Atas!"
Di depan pria itu, sosok Ye Qingyue dalam wujud dewi purnanya tampak terluka parah, tubuhnya terjerat oleh rantai energi merah yang keluar dari jam pasir tersebut sebelum akhirnya terlempar jatuh menembus ruang dan waktu menuju bumi.
Hah!
Lin Huang tersentak, kesadarannya kembali ke dunia nyata dengan sentakan keras. Napasnya memburu, dan wajahnya dipenuhi oleh ekspresi keterkejutan yang mendalam. Dia menatap pergelangan tangan kirinya dengan pandangan yang sama sekali berbeda sekarang. Benda ini... tato ini bukan sekadar kutukan acak.
"Lin Huang? Apa yang kau lihat?" Ye Qingyue melangkah mendekat, menyadari bahwa aura spiritual Lin Huang sempat bergejolak tidak stabil seolah-olah baru saja mengalami trauma jiwa.
Lin Huang mendongak, menatap mata perak Ye Qingyue dengan tatapan yang sangat rumit. "Dewi Ye... aku baru saja melihat masa lalumu. Di dalam kilasan memori yang diberikan oleh tato ini."
Mata perak Ye Qingyue seketika menyipit tajam, aura dingin kembali meledak dari tubuhnya. "Apa maksudmu? Apa yang kau lihat?!"
"Aku melihat medan perang di langit. Istana awan yang hancur... dan seorang pria berjubah hitam bercorak bintang yang memegang jam pasir merah," Lin Huang menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Dia menyebut namamu, lalu menggunakan jam pasir itu untuk menyegel kekuatanmu dan membuang jiwamu ke dunia fana ini. Nama benda itu... adalah Tanda Batas Batil. Persis seperti tato yang ada di tanganku sekarang."
DEG!
Kata-kata Lin Huang bagai sambaran petir di siang bolong bagi Ye Qingyue. Tubuh anggun sang Dewi bergetar hebat, dan wajah cantiknya yang seputih porselen seketika menjadi pucat pasi.
"Dewa Pengkhianat... Cang Xuan!" Ye Qingyue berbisik, suaranya dipenuhi oleh kebencian yang begitu pekat hingga membuat batu besar di bawah kaki Lin Huang mulai retak dan membeku. "Benda di tanganmu itu... adalah Pusaka Takdir milik Cang Xuan?! Bagaimana bisa barang terkutuk itu berada di tubuhmu?!"
Ye Qingyue menatap tato di tangan Lin Huang dengan pandangan yang dipenuhi amarah sekaligus kewaspadaan yang tinggi. Cang Xuan adalah musuh bebuyutannya, sosok yang menusuknya dari belakang dan menghancurkan Istana Es Abadi miliknya di Alam Atas. Mengetahui bahwa pria yang menciumnya dan kini jiwanya terikat dengannya membawa pusaka milik musuh besarnya adalah kenyataan yang teramat ironis.
"Aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa, Qingyue," Lin Huang mengangkat kedua tangannya, tersenyum pahit. "Aku hanya seorang sampah pengumpul obat yang didorong ke jurang. Benda ini meresap ke tubuhku dari sebuah pecahan batu hitam di dasar tebing sekte. Tampaknya... setelah Cang Xuan membuangmu, pusaka ini entah bagaimana caranya pecah atau terjatuh ke alam fana ini dan memilihku sebagai inangnya."
Lin Huang bangkit berdiri, melangkah mendekati Ye Qingyue hingga jarak mereka hanya satu jengkal. "Tetapi ada satu hal yang pasti. Sistem di dalam tato ini menyuruhku menciummu, menyerap energimu, dan melindungimu. Seolah-olah... benda ini sengaja ingin mengunci takdir kita bersama. Jika kau ingin membalas dendam pada Cang Xuan di Alam Atas nanti, kau membutuhkan aku. Karena kunci dari kekuatannya... ada di pergelangan tanganku."
Ye Qingyue menatap langsung ke dalam mata Lin Huang. Kegilaan dan keberanian yang terpancar dari mata pemuda fana ini entah mengapa perlahan meredakan amarah di dadanya. Takdir ini terlalu rapi untuk disebut sebagai kebetulan. Musuh lamanya menyegelnya menggunakan benda ini, dan kini seorang pemuda nekat menggunakan benda yang sama untuk menyelamatkannya dari kepungan dunia fana.
"Takdir memang suka bercanda," Ye Qingyue membuang muka, mendengus pelan dengan nada dingin yang kembali menghiasi suaranya. "Baiklah, Lin Huang. Jika tato itu adalah kunci menuju Cang Xuan, maka aku akan memastikan kau tetap hidup sampai kita bisa naik ke Alam Atas dan menghancurkan kepalanya."
Lin Huang terkekeh, senyuman mukanya yang tebal kembali muncul. "Itu baru wanitaku yang tangguh. Nah, sekarang mari kita lihat ke mana peta ini membawa kita."
Lin Huang membuka gulungan kulit tua milik Tuan Besar Gao. Di bawah sinar rembulan, garis-garis emas di peta tersebut tiba-tiba memancarkan cahaya, beresonansi dengan tato di tangan Lin Huang. Koordinat peta itu menunjuk tepat ke pusat Gurun Barat Daya.
Mereka melanjutkan perjalanan menembus perbatasan gurun. Beberapa jam kemudian, hamparan pasir tak berujung membentang di depan mereka. Namun, yang membuat langkah mereka terhenti bukanlah luasnya gurun, melainkan pemandangan mengerikan di ufuk barat.
Di sana, sebuah badai pasir raksasa setinggi ratusan meter sedang berputar dengan kecepatan yang menakutkan. Anehnya, badai pasir itu berputar searah jarum jam, menciptakan pusaran hampa udara di bagian tengahnya yang membentuk pola mistis yang sangat akrab—pola jam pasir Tanda Batas Batil.
"Kita sudah sampai," Lin Huang menyipitkan mata, merasakan tato di pergelangan tangannya mulai berdenyut panas, memancarkan pendaran cahaya merah yang menandakan pintu gerbang Makam Dewa Kuno telah mendeteksi kehadirannya. Badai baru yang jauh lebih gila siap menyambut langkah kaki mereka.