NovelToon NovelToon
Penyesalan Yang Terlambat

Penyesalan Yang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:580
Nilai: 5
Nama Author: Amak Mpis

"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."

"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."

Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejailan Black pada Bintang.

“BLACK AWAS!”

BRUK. 

Sebuah mobil dari arah kiri jalan berjalan sangat kencang menuju Black, tapi untungnya Bintang sigap langsung menarik badan Black, pada akhirnya mobil itu menabrak pembatas jalan. 

“Lo gak apa-apa, Black?” Black hanya diam, dia  merasa sedikit tidak enak di perutnya tapi dia mencoba menahan agar Bintang tak curiga. 

“Gue gak apa-apa, Terima kasih ya.” Black tersenyum sekilas meski sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan anak yang dia kandung. 

“Syukur deh kalau  lo gak apa-apa, tapi gue kaya kenal sama mobilnya,” Ucap Bintang terputus seakan mengingat siapa pemilik mobil itu, mobil itu sekarang sudah kabur meskipun sempat menabrak pembatas jalan. 

“Udah biarin nanti biar gue suruh orang cari tahu siapa orang yang berniat mau nabrak gue, gue yakin dia sengaja.”

“Pasti sengajalah orang dia langsung mengarah ke lo sedangkan jalanan cukup sepi dan lebar.”

“Nah iya makanya, udah yuk anterin jemput Naren,” Black merasa perutnya sudah cukup membaik dan tidak terasa keram lagi. 

Black dan Bintang masuk ke mobil Bintang, mobil yang sebelumnya pernah Black kendarai untuk membawa Bintang dan Kevin. 

Di dalam mobil keadaan hening, Black yang sibuk dengan ponselnya sedangkan Bintang yang sibuk dengan pikirannya. 

POV BLACK. 

“Pin, gue boleh minta tolong gak? tapi, lo jangan marah!” tulis Black setelah beberapa kali dia menghapus pesan yang sudah ditulis karena dia tahu kalau Alvin pasti akan sangat marah dengan apa yang akan Black katakan. 

“Minta tolong apa? Lo baik-baik saja kan, Black?” Balas Alvin setelah beberapa kali teleponnya dimatikan sama Black. Black tahu kalau dia pasti akan diberondong dengan banyak pertanyaan andai saja dia angkat telepon Alvin. 

“Gue baik-baik saja, cuma tadi sempat hampir ada yang mau nabrak gue di depan resto Semampu, gue yakin dia sengaja karena langsung mengarah ke gue, cuma untung Bintang sigap menarik gue jadi gue selamat.” 

Semua pertanyaan yang sudah Alvin pikirkan saat membaca awal chat beralih dengan pertanyaan tentang part terakhir dari chat yang Black kirim. “Lo lagi sama Bintang? Dia nyakitin lo gak? Gue jemput lo sekarang ya?”

“Gue kira jawaban gue sudah aman untuk tidak mendapat berondongan pertanyaan dari lo, nyatanya gue lupa kalimat terakhir chat gue yang malah semakin membuat pertanyaan lo lebih banyak.”

“Lagian lo ngapain sama Bintang?”

“Masalah Bintang gue bisa jelasin nanti, dan tenang gue aman gak lecet, dia juga gak nyakitin gue malah gue khawatir kalau dia yang nantinya akan gue jailin,” Emot ketawa ngakak tak luput mengakhiri chat yang Black kirim membuat Pin paham alasan Black sekarang menerima Bintang. 

“Bagus, keluarin kejailan lo, biar gue bantu nanti.”

“Harus dong, enak aja dia mau enaknya sedangkan gue di masa lalu tersakiti, yang terpenting sekarang tolong lo cari tahu siapa yang mau nabrak gue tadi, punya masalah apa dia sama gue yang sekarang maupun gue yang dulu?”

“Gampang itu biar gue yang urus, sekarang apa yang bisa gue bantu buat jailin Bintang?”

“Sebentar gue mau cari ide dulu, gue pengen yang sampai dia benar-benar kapok.”

“Gue tunggu kabar lo.”

“Siap bos.”

POV BINTANG. 

“Gue yang salah lihat atau memang perut Black buncit? Cuma buncitnya bukan kaya buncit lemak, lebih ke orang yang lagi hamil besar, apa mungkin Black hamil? Kalau hamil kok dia mau jalan sama gue, apa gak jadi salah paham sama suaminya?” Pertanyaan itu terus berputar di pikiran Bintang apalagi setelah dia melihat cara Duduk Black dimobil, saking asyiknya Black dengan ponselnya sampai dia tak menyadari cara duduknya dan itu membuat Bintang curiga. 

“Apa nantinya gue akan punya masalah sama suaminya Black? Sesusah inikah gue yang ingin menebus kesalahan gue sama Rain. Gue tahu gak seharusnya gue melakukan ini karena sampai kapanpun kesalahan gue sama Rain tak akan pernah bisa dimaafkan tapi setidaknya gue mau berbuat baik sama orang yang wajahnya mirip sama Rain ‘kan?”

Saking sibuknya mereka dengan pikiran dan ponselnya masing-masing sampai mereka tak sadar jika mereka melewati tempat les Naren. 

“Eh, kok lurus aja, harusnya tadi disana kita belok kiri, lo tahu kan dimana tempat lesnya Naren?” Protes Black sesaat setelah dia sadar jika mereka sudah melewati tempat les Naren. 

“Bukannya masih didepan lagi kita baru belok?”

“Yang di depan itu sudah tutup, pindah  ke gang sebelahnya, sudah sekarang putar balik, kita udah telat.”

“Di Depan ada lampu merah, gak akan cukup waktunya, kita akan tetap tertahan sama lampu merah dan jarak muternya juga sangat jauh.”

“Sudah, sekarang mending lo minggir terus berhenti biar gue yang nyetir.”

“Gak bisa gitu, masa lo yang nyetir?”

“Udah si cepet, lo gak akan tahu apa yang akan Naren alami kalau sampai gue telat.” Suara Black sedikit meninggi dan itu membuat Bintang mengikuti permintaan Black. Setelah mobil berhenti, Bintang turun dan masuk ke kursi penumpang. 

“Pegangan!” Satu kata yang belum sempat Bintang jawab dan Black sudah menancap gas dengan kecepatan sangat tinggi sampai akhirnya dia bisa melewati lampu merah dan aksi kebut-kebutannya belum selesai sampai disana, Black masih menancap gasnya dengan tatapan sangat tajam hanya berharap kalau dia tidak akan telat terlalu lama untuk menjemput Naren, bayangan apa yang dua hari lalu dia lihat saat dia telat menjemput Naren terus terbayang dan itu membuatnya sakit. 

“Black, pelan-pelan, bukan hanya kita yang bisa celaka tapi juga orang lain bisa saja ikut celaka karena lo.” Bintang berpegangan sangat erat karena meskipun dia cowok, kecepatan Black dalam menyetir ini sudah sangat tidak wajar. 

“Black, pelan-pelan, Naren masih akan menunggu lo jemput disana sama gurunya.”

“Dia akan dibully, dia akan dijelekkan bahkan sama gurunya, andai gak harus menunggu persetujuan orang tuanya sudah gue pindahin Naren ke tempat les lain, tapi kalau sampai kejadian dua hari lalu terulang lagi gue pastikan besok tempat les itu tutup.” Emosi terlihat jelas di wajah Black. 

“Tempat les Naren salah satu tempat les terbaik, gak mungkin ada kasus pembullyan.”

“Itu karena lo gak tahu dan itu karena lo yang gak peduli sama keponakan lo sendiri, lo akan lihat nanti, seberapa gak pedulinya kedua orang tua Naren sama anaknya sendiri.”

“Rio peduli tapi tidak dengan Helena.”

“Kalau dia memang peduli pasti selama seminggu ini meskipun itu sekali harusnya dia ada jenguk Naren ataupun ingin menjemputnya kan, tapi nyatanya gak ada dari mereka berdua yang berniat menjemput Naren, lantas dari segi mana gue harus percaya kalau mereka gak akan menyia-nyiakan Naren lagi?”

Bintang diam karena dia juga merasa setelah Rain meninggal, kasih sayang Rio kepada Naren juga seakan berkurang seiring berjalannya hari dengan alasan yang Bintang sendiri tak tahu. 

Meskipun pernikahan Bintang dan Rain sudah berjalan 4 tahun dia tak pernah tahu apa hubungan Rain dan Rio di masa lalu. 

“Lo akan lihat nanti apa yang gue ucapkan ini benar atau tidak.”

Setelah sampai di depan tempat les, Black langsung turun dan berlari mencari Naren diikuti Bintang yang ikut berlari. 

“STOP, JANGAN SAKITI NAREN!”

BERSAMBUNG.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!