Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salam Jari Tengah
"Kalian pulang deh! Ini sudah mau malam," perintah Brigjen Victor ke Zane dan Kenzie.
"Oke Papa. Yuk Kenz, kita pulang." Zane mengajak Kenzie pulang.
"Eh, sepeda kalian masuk saja ke mobil Oom," celetuk Kombes Fariz. "Oom sekalian jemput Tante Lia."
"Eh iya, sepeda kita kan lipat ya," ujar Kenzie. "Boleh Oom ... aku males gowes."
"Dasar!" kekeh Kombes Steven.
***
Sheva sedang memeriksa laporan anggur dari Opanya, Lachlan yang berada di Palermo. Remaja itu tetap mempelajari semua bisnis keluarga karena ibunya tidak mau memegang kebun anggur de Luca di Palermo. Sheva sendiri sudah bertekad akan pindah ke Palermo jika sudah lulus menjadi sarjana studi bisnis anggur.
"Adik pulang dari sekolah?" tanya sopir taksi biru.
"Iya Pak," jawab Sheva.
"Tadi sekolah di sekolah itu?"
"Tidak. Saya ngajar di sana. Kenapa Pak?" balas Sheva.
"Keponakan saya sekolah di sana Dik. Tadinya sudah bingung karena masuk SLB cukup lumayan padahal ibunya sudah sendirian, kerjanya sebagai petugas kebersihan jalan. Terus saya melihat sekolah itu. Saya bilang sama adik saya, coba bawa ke sana. Adik saya merasa ragu karena sekolahnya bagus tapi keponakan saya harus sekolah. Eh, Alhamdulillah, malah boleh masuk dengan bayar seratus ribu."
Sheva tersenyum. "Jadi masuk dengan uang segitu?"
"Iya Dik. Sekarang keponakan saya sudah masuk SMP di sekolah yang sama tapi ibunya sudah menaikkan uang SPP nya. Yang tadinya seratus ribu tiap bulan, sekarang SMP naik dua ratus ribu. Kadang dua ratus lima puluh. Jujur saya bingung, dari mana uang buat bayar gurunya?" ujar sopir itu.
"Alhamdulillah, Yayasannya bagus kok," senyum Sheva.
Ya masa aku bilang itu sekolah keluarga klan Pratomo yang sudah diberikan uang banyak untuk tetap berjalan?
Tiba-tiba sebuah mobil main selonong boim nyaris menyerempet taksi Sheva. Keduanya terkejut dan untungnya sopir taksinya pun sigap hingga tidak terjadi tabrakan.
Sheva melihat ke arah mobil dengan plat diplomatik. Dirinya merasa kesal karena mentang-mentang plat diplomatik jadi seenaknya di negaranya. Sheva masih memegang dual kewarganegaraan, Indonesia dan Italia. Dia belum memutuskan ikut Indonesia atau Italia.
"Lihat-lihat dong!" sungut sopir taksi itu dan Sheva melihat ada seorang remaja laki-laki duduk di belakang bersama dengan remaja lainnya.
Remaja itu melihat ke arah Sheva, lalu membuang mukanya. Wajahnya khas Italiano dan Sheva merasa kesal. Gadis itu lalu mengacungkan jari tengahnya ke remaja itu yang kebetulan menoleh. Remaja laki-laki itu mendelik dan Sheva menjulurkan lidahnya.
Remaja itu hendak membuka kaca jendelanya tapi taksi biru itu sudah ke arah berbeda.
"Ada apa Alessio?" tanya sepupunya.
"Tidak apa-apa. Ada cewek menyebalkan."
***
"Cowok tadi menyebalkan ya Sheva," celetuk Abraham.
"Buanget!" balas Sheva setelah masuk ke halaman rumahnya.
"Siapa yang menyebalkan?"
Sheva dan Abraham terkejut saat melihat Shea sudah berdiri di depan pintu rumah.
"Tadi taksi aku hampir diserempet mobil plat nomor diplomatik. Ada dua remaja di belakang terus aku kasih saja jari tengah," jawab Sheva judes.
Shea menggelengkan kepalanya. "Ya Allah, Sheva. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Kan nama Papa kamu bisa kena."
"Aku kan naik taksi Mama. Jadi nggak bakalan tahu lah!" jawab Sheva sambil salim ke Shea.
"Sudah, kamu Ndang mandi sana. Mama sudah siapin makan malam," perintah Shea.
"Papa nggak pulang?" tanya Sheva.
"Papamu tadi bilang lagi briefing ke tim gabut yang mau ke gunung Kawi."
Sheva dan Abraham saling berpandangan. "Gunung Kawi?"
***
Akhirnya diputuskan kalau tim gabut akan pergi dengan pesawat ke Surabaya. Iptu Cristiano sudah menghubungi orang kepercayaannya untuk menjemput mereka di Juanda lalu berangkat ke Malang.
Kombes Steven datang menjelang pukul sepuluh malam dan disambut Shea serta Sheva. Keduanya tampak penasaran soal ke Gunung Kawi. Sadiva sendiri sudah tidur karena lelah bertanding kendo.
"Serius tuh Pa? Akbar Maulana ke Gunung Kawi?" tanya Sheva. Abraham yang berada di sebelahnya ikutan kepo.
"Memang dia cari pesugihan disana?" tanya Shea.
"Soal pesugihan, itu Papa tidak tahu. Tapi sepertinya kalau yang masuk akal ya ... pemalsuan atau penyeludupan barang seni. Kita tahu di sana baru saja ditemukan banyak artifak yang ketahuan saat tim arkeologi Unibraw dan Unair penelitian sekitar sana. Jadi hemat Papa ... ada hubungannya itu," jawab Kombes Steven.
"Kalau soal seni dan artifak begitu, harusnya tanya ke Oma Yuna. Dia kan kurator terkenal di jamannya. Bahkan karena Oma Yuna juga, kita bisa punya hubungan dengan keluarga Cheng, Blair, Mancini dan banyak keluarga yang jadi keluarga," senyum Shea.
"Apa kita harus panggil Oma Yuna?" tanya Sheva.
"Nggak gitu juga ah!"
***
Kediaman Keluarga Buwono
"El, kamu tidur sama Abon?" tanya dokter Lucky yang melihat putrinya tidur bersama anjing Red Toy Poodle kesayangannya. Anjing berusia sepuluh tahun itu, tampak manja pada Elina.
"Iya Papa. Kasihan Oma Abon. Dibully sama Rendang dan Tunjang," jawab Elina. Di kaki Elina sudah ada kucingnya yang bernama Serundeng.
"Pa, kenapa Papa kasih nama hewan peliharaan kita begitu namanya?" tanya Kenzie sambil membuat pe er di kamar adiknya. "Rendang, Tunjang, Serundeng?"
"Lho, adikmu yang kasih nama kucingnya Serundeng. Terus kamu dan mama kamu minta corgi karena Abon dipek sama Elina. Jadi biar semua makanan dan berakhiran 'ng' ya dipaskan lah. Tunjang dan Rendang. Mana bentuknya si Tunjang ya macam tunjang, ginuk-ginuk gitu ...." Dokter Lucky menatap Kenzie. "Pas dong. Tunjang, Rendang, Serundeng. Benar kan Papa?"
Kenzie menoleh ke Elina. "Makanya si Rendang makin gosong itu bulunya. Soalnya semakin gelap rendang, makin enak. Semua gara-gara kamu sih dik."
"Kok jadi salah aku Mas?" tanya Elina bingung.
Daisy memilih tertawa kecil karena kalau diteruskan, bakalan sampai besok mereka bertiga ribut unfaedah.
***
Yuhuuu up Siang yaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛