Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teori Penulis Novel Misteri dan Jurnalis Berita Kriminal
"Terimakasih. Saya masih tidak menyangka ternyata unit sebelah tempat terjadinya pembunuhan adalah tempat tinggal penulis cerita misterius yang sedang saya gemari," kata Anjas sambil menyimpan kembali novel karya Misty ke dalam tasnya. Misty tersenyum tipis.
"Ah! Saya punya ide! Bagaimana kalau kita mendiskusikan tentang kasus ini? Saya punya beberapa informasi yang mungkin bisa Anda jadikan referensi menulis cerita selanjutnya," kata Anjas, menyarankan. Misty terlihat berpikir.
"Saya rasa Anda akan menyukai misteri kasus ini. Polisi cukup kesulitan mencari tersangkanya," lanjut Anjas.
"Polisi kesulitan?" tanya Misty, heran. Anjas mengangguk dengan mata berbinar.
Misty berpikir sejenak. Dia merasa tak ada salahnya mengetahui perkembangan kasus unit dua kosong lima dari Anjas. Selain itu, dia juga butuh teman malam ini.
"Silakan masuk," kata Misty, akhirnya mempersilakan Anjas masuk ke unit apartemennya.
"Terimakasih," ucap Anjas sambil melangkah masuk mengikuti Misty.
Begitu memasuki apartemen, Anjas disuguhi dengan ruang tamu yang menyatu dengan ruang kerja. Sebuah sofa abu-abu dua dudukan menghadap ke arah rak televisi sederhana yang lebih banyak dihuni buku-buku daripada perangkat elektronik.
Di sudut dekat rak televisi, Anjas melihat meja yang dipenuhi kertas dan buku-buku yang mengelilingi sebuah laptop yang tertutup di atasnya, membuat Anjas seketika mengenalinya sebagai meja kerja Misty.
Di samping meja kerja, sebuah rak buku tinggi terlihat penuh dengan buku psikologi kriminal, novel misteri, dan tumpukan kliping koran yang dikumpulkan untuk bahan riset.
"Silakan duduk," kata Misty.
"Terimakasih," ucap Anjas sambil duduk di atas sofa ruang tamu.
"Teh atau..."
"Air putih," kata Anjas sambil tersenyum ramah.
Misty duduk agak berjarak dari Anjas setelah meletakkan dua gelas air putih di atas meja tamu.
"Apa yang menyebabkan polisi kesulitan mencari tersangka kasus unit sebelah? Bukankah polisi hanya tinggal melihat rekaman CCTV semalam?" tanya Misty heran. Anjas menggelengkan kepalanya.
"Saya rasa, kasus ini tak semudah itu," kata Anjas sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Misty. Misty mengerutkan kedua alisnya.
"Kamera pengawas tidak berfungsi sedari kemarin sore hingga saat tadi pagi polisi menanyakan rekaman CCTV di area ini," kata Anjas.
Misty terlihat berpikir. Seandainya Misty menanyakan tentang rekaman kemarin petang saat paket berisi naskah lamanya datang, Misty juga tidak mendapatkan apapun karena kamera CCTV di koridor depan unitnya tidak berfungsi sedari sore.
"Bagaimana dengan sidik jari?" tanya Misty pada Anjas.
"Tentu saja nihil. Bersih. Terlu bersih seolah unit dua kosong lima tidak pernah didatangi orang selain pemilik unit sendiri," kata Anjas. Misty manggut-manggut pelan.
"Dia memang jarang terlihat membawa tamu. Bahkan tidak pernah, saya rasa," kata Misty terlihat mengingat-ingat.
"Bagaimana Anda tahu? Bukankah Anda biasa di dalam kamar seharian?" tanya Anjas. Anjas melihat Misty kembali waspada mendengar pertanyaannya.
"Saya masih bisa mendengar seseorang datang sendiri atau bersama orang lain jika berjalan di koridor. Jika berjalan bersama orang lain, mereka terkadang ngobrol, jika tidak, saya akan mendengar langkah kaki lebih dari satu orang dari meja kerja saya di sudut sana," kata Misty sambil menunjuk meja kerja yang memang terletak dekat dengan dinding koridor.
"Tapi, jika saya di kamar, saya sama sekali tak bisa mendengar apapun yang terjadi di koridor," lanjut Misty sambil menunjuk satu kamar di sudut lain ruang tamu, tepatnya di belakang Anjas duduk.
Anjas menoleh ke arah belakangnya —arah yang ditunjuk Misty. Ada dua buah kamar yang saling berhadapan, dipisahkan oleh lorong sempit.
"Jadi, menurut Anda, wanita penghuni kamar dua kosong lima itu tidak pernah membawa tamu ke apartemen?" tanya Anjas sekali lagi, memastikan bahwa keterangan penghuni unit lain di lantai itu benar. Misty mengangguk.
"Dia selalu pulang dengan suasana tenang," kata Misty.
"Seperti yang diharapkan dari penulis cerita misteri! Anda benar-benar memperhatikan detail kecil," puji Anjas. Misty menaikkan kedua alisnya.
"Kebiasaan yang susah dihilangkan," kata Misty sambil tersenyum kikuk.
"Menurut saya itu kebiasaan yang luar biasa keren," puji Anjas sekali lagi.
"Terimakasih,"
Hening. Anjas melihat Misty yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Korban wanita yang baik dan ramah. Saya masih bingung, kenapa orang seperti dia dibunuh," kata Misty lebih kepada dirinya sendiri.
"Terkadang, menjadi orang baik pun tetap salah di mata orang lain," kata Anjas membuat Misty menoleh menatapnya.
"Misalnya, ada seseorang yang melakukan kesalahan terhadap korban. Seseorang itu berharap korban membencinya, sangat membencinya. Baginya, kebencian korban adalah hukuman yang pantas atas kesalahan yang dia lakukan," kata Anjas. Misty menyimak.
"Namun, apa jadinya jika korban justru memaafkan orang itu? Bersikap seolah tak pernah terjadi apapun?" tanya Anjas pada Misty.
"Saya rasa itu hal yang baik. Dan bukankah sudah semestinya?" jawab Misty, sedikit ragu.
"Bagi sebagian orang mungkin. Tapi sebagian yang lain, saya rasa, tidak," kata Anjas. Misty mengernyit.
"Saya pernah membaca sebuah artikel, rasa bersalah bisa berubah menjadi kebencian. Bukan karena korban melakukan kesalahan, melainkan karena kehadiran korban —yang bersikap seolah tak pernah terjadi apapun— yang terus mengingatkan orang itu pada kesalahan yang ingin dia lupakan," lanjut Anjas.
"Dan membunuh jadi satu-satunya cara untuk menghapus rasa bersalahnya?" tanya Misty, seolah tak bisa memahami teori itu.
"Bisa jadi," jawab Anjas. Anjas melihat ketidakpuasan di wajah Misty.
"Kita sedang coba memahami cara berpikir seorang pembunuh, Nona Misty, yang saya yakin Anda pasti tahu, bahwa logika mereka terkadang berbeda dengan kebanyakan orang," kata Anjas. Misty terdiam.
"Itu baru kita simpulkan dari keterangan Anda terkait sifat korban. Kita belum mendapat keterangan tentang korban dari penghuni lain di lantai ini, yang mungkin bisa membuat kita menarik beberapa teori tentang motif pelaku," kata Anjas.
Misty berpikir sejenak. Dia hanya sesekali bicara dengan korban, itupun saat korban memberinya bingkisan. Misty hampir tidak berbicara dengan penghuni unit lain di lantai yang sama. Dia hanya akan tersenyum jika kebetulan berpapasan dengan mereka di koridor tanpa ada inisiatif membuat obrolan ringan atau hanya sekedar basa-basi.
Anjas beranjak dari duduknya setelah menghabiskan segelas air putih yang disuguhkan Misty padanya.
"Saya rasa saya akan mulai mengumpulkan informasi besok pagi. Sekarang sudah terlalu malam. Dan saya rasa mereka tidak akan mau membuka pintu untuk orang asing malam-malam setelah ada kejadian semalam," kata Anjas. Misty ikut berdiri.
"Terimakasih, Nona Misty. Senang sekali dapat mendiskusikan tentang kasus ini dengan orang yang tajam seperti Anda," kata Anjas sambil mengulurkan tangannya. Misty tersenyum kikuk mendengar pujian Anjas.
"Bolehkah saya datang lagi untuk meminta pendapat Anda setelah saya mendapat informasi lebih banyak?" tanya Anjas.
Misty menaikkan kedua alisnya. Dia tidak menyangka jurnalis di hadapannya itu begitu menikmati diskusi tentang pembunuhan di unit sebelah. Misty tidak mungkin menolak. Hal itu akan menimbulkan kecurigaan Anjas padanya.
'Mungkin lewat dia, aku bisa mengetahui pengirim naskah itu,'
***