Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.
Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.
Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 Chika
Langkah kaki Arka terasa begitu ringan saat ia berjalan meninggalkan area komersial Serikat Userator. Setelah membagi komisi yang sangat besar dan berpisah dengan Handji, perhatian Arka sepenuhnya teralih pada layar semi-transparan yang sejak tadi berkedip-kedip di sudut retinanya.
Dengan antusias, ia memanggil panel [Toko Istri]. Deretan angka poin kontribusinya kini telah melonjak drastis setelah ia berhasil menumbangkan tirani Ular kelas Overlord berkepala tiga di dalam dimensi Sonoro.
‘Poinnya sudah lebih dari cukup,’ batin Arka, seulas seringai puas terukir di wajahnya. ‘Saatnya membeli ini.’
Tanpa ragu, Arka menekan ikon bertuliskan menu properti domestik yang berada di daftar teratas barang premium.
[Ting! Pembelian Berhasil!]
[Anda telah menukarkan poin untuk: 1 Unit Vila Mewah Sektor Eksklusif di Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2.]
Arka menahan napas sejenak. ‘PIK 2...’
Kawasan itu adalah salah satu megapolitan paling elite di wilayah Indonesia pada tahun 2050 ini. Tempat berkumpulnya para konglomerat, pejabat tinggi benua, dan para Userator papan atas. Sistem keamanannya tidak main-main—seluruh distrik PIK 2 dikelilingi oleh benteng pelindung magis dan dijaga ketat oleh puluhan Userator 4 Stars di bawah komando langsung Serikat.
‘Tempat yang sangat sempurna untuk Sisil,’ pikir Arka, matanya melembut. ‘Di sana, dia akan mendapatkan keamanan dari ancaman monster di luar sana.’
Mengingat ia juga masih memiliki hadiah bonus berupa mobil sport mewah yang belum diklaim, Arka segera mempercepat langkahnya menuju pusat distrik otomotif terdekat.
Sementara itu, di sudut pemukiman padat distrik bawah. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap tampak kontras saat melambat dan berhenti di depan kompleks rumah susun tempat kontrakan Arka berada.
Pintu kemudi terbuka, menampilkan seorang gadis muda modis dengan pakaian desainer ternama dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Gadis itu adalah Chika, sahabat lama Sisil sejak masa sekolah.
Begitu melangkah masuk ke dalam kontrakan sempit milik Arka, Chika langsung melepaskan kacamatanya dan menghambur memeluk Sisil yang sudah menunggunya.
"Sisil! Aku kangen banget! Akhirnya setelah sekian lama kita bisa ketemu lagi!" seru Chika girang, menggenggam kedua tangan sahabatnya itu dengan erat.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Chika," balas Sisil dengan senyum manisnya yang khas.
Chika melepaskan pelukannya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang hanya berisi kasur lantai, meja kayu kecil, dan tumpukan barang yang mulai dikemas. Dahinya berkerut dalam. "Sil... kamu beneran tinggal di tempat sekecil dan sesempit ini sekarang?"
Sisil mengangguk pelan, tidak merasa terganggu. "Iya. Tapi di sini nyaman kok, Chika. Suasananya tenang."
"Dan... berita itu beneran? Kamu... sudah menikah?" tanya Chika, suaranya merendah, dipenuhi nada tidak percaya.
"Iya, aku baru saja menikah hampir sebulan yang lalu," jawab Sisil tulus.
Mendengar konfirmasi itu, dada Chika mendadak terasa sesak. ‘Gila... Suami Sisil semiskin ini?’ jerit Chika dalam hati, menatap miris kondisi ruangan tersebut.
‘Ibu tiri Sisil benar-benar keterlaluan karena sudah membuang dan menikahkannya secara paksa. Aku tidak tahu seberapa baik laki-laki yang menjadi suaminya sekarang, tapi di era baru yang kejam ini, modal cinta dan kebaikan saja tidak akan bisa memberi sahabatku kehidupan yang layak!’
"Chika? Kenapa melamun?" tanya Sisil, melambaikan tangan di depan wajah sahabatnya.
"Ah, tidak apa-apa!" Chika buru-buru mengubah ekspresinya menjadi ceria.
"Ayo, kita berangkat sekarang! Kita harus balas dendam untuk waktu kita yang hilang!"
Kedua gadis itu pun berangkat menggunakan mobil mewah milik Chika. Sepanjang perjalanan menyusuri pusat kota, mereka tertawa lepas, bernostalgia, dan bersenang-senang mengitari pusat perbelanjaan. Untuk melepas penat setelah lelah berkeliling, Chika membawa Sisil ke sebuah kafe estetik bernuansa kaca di distrik tengah.
Sembari menunggu pesanan kopi mereka datang, Chika menopang dagunya, menatap Sisil penuh rasa ingin tahu. "Jadi... suamimu itu sebenarnya kerja apa, Sil?"
"Dia—"
BZZZT! BZZZT!
Belum sempat Sisil menyelesaikan kalimatnya, ponsel milik Chika di atas meja berdering nyaring, menampilkan panggilan masuk.
"Eh, sebentar ya, Sil. Aku angkat telepon dulu," pamit Chika, yang langsung diangguki maklum oleh Sisil.
Begitu melihat nama sang pemanggil di layarnya, mata Chika berbinar. Ia langsung menggeser tombol hijau dengan penuh semangat. "Halo! Ada angin apa nih kamu tiba-tiba telepon aku?"
"Aku sedang berada di wilayah Indonesia sekarang. Kebetulan urusanku baru selesai, mau ketemuan?" sahut sebuah suara pria yang terdengar tenang namun berwibawa di seberang sana.
"Eh, seriusan kamu di sini?! Boleh banget! Kebetulan aku lagi di kafe distrik tengah bersama sahabatku. Aku kirimkan titik lokasinya sekarang ya!" ucap Chika antusias.
"Oke. Aku akan langsung ke sana."
"Sip, ditunggu ya! Bye~" Chika menutup panggilannya dengan senyum lebar.
Sisil yang duduk di hadapannya mengerjap pelan. "Siapa, Chika?"
"Temanku dari wilayah Korea. Dia seorang Userator kelas atas yang sedang ada tugas di Indonesia. Katanya mau gabung ke sini," jelas Chika gembira.
Mendengar hal itu, raut wajah Sisil mendadak berubah agak gelisah. Pikirannya langsung melayang pada janji yang ia ucapkan kepada suaminya semalam. "Emm... Chika, soal itu..."
"Kamu kenapa, Sil? Kamu merasa tidak nyaman ya kalau ada orang lain? Kalau kamu keberatan, aku bisa kirim pesan dan menolaknya sekarang kok," ucap Chika tulus, jemarinya sudah bersiap di atas layar ponsel.
"Bukan begitu... soalnya aku sudah izin sama Suamiku kalau hari ini kita hanya akan jalan-jalan berdua saja," bisik Sisil cemas. Sebagai istri yang sangat berbakti, ia tidak ingin melanggar batasan yang sudah disepakati dengan suaminya.
"Tenang saja, dia orangnya baik dan sangat sopan kok. Aku akan langsung bilang ke dia kalau—"
Belum sempat jemari Chika mengetik pesan pembatalan, sebuah bayangan tegap sudah berdiri di samping meja mereka. Atmosfer di sekitar kafe mendadak terasa sedikit bertekanan—sebuah sisa aura dari seseorang yang berada di puncak hierarki kekuatan.
"Halo, Chika."
Pria itu mengenakan pakaian kasual yang modis, namun gurat wajahnya yang tampan khas oriental dan sorot matanya yang tajam langsung mengindikasikan identitasnya. Dia adalah Min Suho, sang Userator 6 Stars yang diutus oleh markas pusat Serikat untuk menyelidiki hilangnya retakan dimensi di Indonesia.
Chika tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya melihat kedatangan Suho yang begitu cepat. "Kamu... ke-kenapa cepat sekali sudah sampai di sini?"
"Hehe, kebetulan posisiku memang hanya berada di blok sebelah," jawab Suho dengan senyum tipis yang menawan.
Chika merasa sangat tidak enak pada Sisil. Ia melemparkan pandangan penuh rasa bersalah ke arah sahabatnya, mencoba mencari solusi lewat tatapan mata.
Menyadari adanya interaksi canggung di antara kedua gadis itu, Suho mengalihkan pandangannya. "Apakah... kehadiranku mengganggu waktu kalian?"
"Eh, tidak kok! Sama sekali tidak mengganggu! Iya kan, Sil?" sahut Chika buru-buru, mencoba mencairkan suasana yang mendadak kaku.
"I-Iya, tidak apa-apa," jawab Sisil ragu, memberikan senyuman formal yang sangat tipis.
"Beneran? Kalau begitu, aku izin bergabung ya," ucap Suho sopan, lalu menarik kursi dan duduk di meja yang sama.
Chika bergegas memperhitungkan situasi dan mulai memperkenalkan mereka. "Suho, perkenalkan, ini sahabat terbaikku sejak SMP, namanya Sisil. Dan Sil... pria di depanmu ini namanya Min Suho. Dia adalah salah satu Userator 6 Stars dari Korea. Ya... bisa dibilang dia ini pahlawan yang sangat terkenal di sana."
"Hai, cukup panggil Suho saja," ucap Suho, mengulurkan tangannya dengan gestur yang sangat ramah ke arah Sisil.
Sisil menerima uluran tangan itu sekilas, memberikan jabat tangan formal yang sangat singkat demi menjaga jarak. "Sisil."
Chika tersenyum melihat keduanya saling menyapa. Namun, di dalam hatinya, Chika mendadak memiliki pemikiran lain saat melihat keserasian visual di depannya. ‘Astaga... Bukankah Sisil terlihat cocok bersanding dengan pria sekelas Suho? Tampan, dan mapan,’ batin Chika senang.
"Jadi, apa yang membawamu sampai ditugaskan ke wilayah Indonesia, Suho?" tanya Chika memecah keheningan.
"Perintah langsung dari atasan Serikat," jawab Suho tenang, matanya sesekali melirik ke arah Sisil yang tampak diam dan menjaga sikap. "Aku ditugaskan untuk menyelidiki fenomena aneh mengenai banyaknya retakan dimensi kelas Common yang mendadak menutup secara misterius disini."
"Oh ya? Jadi kamu akan menetap lama di sini?" Chika tampak tertarik.
"Tergantung seberapa cepat aku menemukan penyebab di balik semua kejadian ini. Tapi, aku berencana untuk mengambil cuti dan menikmati liburan sedikit lebih lama di Indonesia," ucap Suho sembari melemparkan senyum tipisnya.
Obrolan di kafe itu berlanjut selama beberapa saat. Chika dan Suho mendominasi percakapan tentang masa-masa kebersamaan mereka, sementara Sisil lebih banyak diam dan menyesap minumannya, merasa makin tidak nyaman berada di situasi tersebut.
DRRR! DRRR!
Ponsel Chika kembali bergetar hebat. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Apa?... Bisakah kamu menyuruhnya menunggu? Aku akan segera kesana!" ucap Chika panik.
Chika segera berdiri dengan wajah yang tampak panik dan buru-buru.
"Aduh! Maaf banget, Suho, Sisil! Ada urusan bisnis mendadak yang sangat darurat di kantorku. Aku harus pergi sekarang juga!" ucap Chika, merapikan tasnya dengan terburu-buru.
"Iya, tidak apa-apa. Selesaikan saja urusanmu," jawab Suho santai.
Mereka bertiga melangkah keluar kafe menuju area parkir. Chika membuka pintu mobilnya dengan tergesa-gesa. "Ayo, Sil! Aku antar kamu pulang ke kontrakanmu dulu sekarang!"
Melihat kepanikan sahabatnya, Sisil merasa tidak tega. "Chika, kalau kamu sedang sangat buru-buru, kamu tidak perlu mengantarku kembali. Urus saja dulu urusanmu, aku bisa memesan taksi dari sini untuk pulang."
Chika menimbang sejenak. "Kamu beneran tidak apa-apa, Sil?"
"Iya, tidak apa-apa kok. Sungguhan," meyakinkan Sisil dengan senyum hangat.
"Aduh, maaf banget ya, Sil! Kita beneran tidak bisa mengobrol lama hari ini. Nanti aku hubungi lagi untuk kencan pengganti! Suho, aku pergi dulu ya!" seru Chika sembari menginjak pedal gas, membuat mobil mewahnya melesat membelah jalanan dalam sekejap.
Kepergian Chika yang mendadak menyisakan keheningan yang canggung di trotoar depan kafe. Sisil segera mengeluarkan ponsel barunya, membuka aplikasi transportasi, dan mulai mencari taksi daring yang bersedia menjemputnya.
Saat melirik ke samping, Sisil menyadari bahwa Min Suho masih berdiri diam di dekat pilar kafe, melipat kedua tangannya di dada tanpa ada niat untuk beranjak pergi.
"Emm... Tuan Suho, kenapa Anda belum pergi?" tanya Sisil sesopan mungkin, berharap pria itu segera menjauh.
Suho menoleh, memberikan senyuman pria sejati yang protektif. "Oh, aku akan menunggumu sampai taksimu datang dan kamu naik dengan aman. Hari sudah mulai sore, dan di era sekarang, sangat berbahaya membiarkan seorang perempuan sendirian."
"Eh, tidak usah repot-repot. Saya benar-benar bisa menjaga diri saya sendiri kok," tolak Sisil halus, detak jantungnya berdegup cemas memikirkan jika Arka melihatnya berduaan dengan pria lain.
"Lebih baik aku temani dulu sampai jemputanmu tiba. Kebetulan jadwalku hari ini sedang kosong, dan aku tidak ingin disalahkan oleh Chika jika terjadi sesuatu padamu setelah dia meninggalkanmu bersamaku," jawab Suho bersikeras, nadanya terdengar mutlak dan tidak menerima penolakan.
Sisil hanya bisa terdiam dengan bibir yang terkatung rapat. Di dalam hatinya, rasa cemas dan bingung berkecamuk hebat. Ia terus menatap layar ponselnya, berharap taksi daring pesonanya tiba dalam hitungan detik agar ia bisa segera pergi dari tempat itu.
Bersambung...
like+ bunga🌹✍️
kalo berkenan mmpir y thor😉
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/