"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Setelah beberapa jam bermain di dalam air, kami memutuskan untuk beristirahat. Berkat bimbingan sabar dari Rania, Siti, dan teman-teman lainnya, ketakutanku perlahan memudar. Aku bahkan sudah bisa mengapung sendiri sekarang—sebuah pencapaian besar yang membuat seluruh tubuhku rileks di atas permukaan air.
"Wah, gila sih, Lun! Kamu cepet banget belajarnya!" puji Fanya sambil bertepuk tangan heboh saat kami berjalan kembali ke saung.
Aku tersenyum tulus, menyeka sisa air laut di wajahku. "Ini semua berkat kalian. Kalau nggak ada kalian yang megangin, aku pasti udah kabur duluan ke daratan."
Kami menghabiskan sisa siang itu dengan penuh tawa. Kami makan semangka segar yang rasanya berlipat gampang manisnya setelah lelah berenang. Bimo yang aslinya mageran mendadak menantang anak-anak lain untuk lomba lari di atas pasir pantai—yang tentu saja dimenangkan oleh Doni, sementara Bimo sendiri berakhir tersandung kakinya sendiri dan berguling dramatis. Kami juga bermain voli pantai acak-acakan, lalu menutup sesi sore itu dengan berfoto bersama dalam berbagai gaya konyol menggunakan kamera ponsel.
Saat matahari mulai bergerak turun ke ufuk barat, melukis langit dengan semburat jingga, merah muda, dan ungu yang magis, momen yang sempat dibisikkan Rania pagi tadi akhirnya tiba.
Atmosfer di sekitar pantai mendadak berubah menjadi panggung romansa remaja. Kerumunan besar kami perlahan-lahan mulai terpecah. Beberapa anak mulai memberanikan diri mengajak orang yang mereka sukai untuk bicara berdua saja.
Dari kejauhan, aku melihat Bimo, si pelawak kelas yang biasanya tidak bisa serius, berjalan dengan langkah kaku dan wajah merah padam menghampiri Siska, sang sekretaris kelas yang sedang duduk merapikan barang-barangnya. Bimo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum akhirnya mengajak Siska berjalan menjauh menuju deretan pohon kelapa. Di sudut lain, Fanya yang terkenal populer tampak berjalan beriringan dengan seorang cowok pemalu dari kelas sebelah yang sudah lama menaruh hati padanya. Sunset yang indah ini benar-benar menjadi latar belakang yang sempurna untuk mengutarakan perasaan.
"Luna! Siti! Sini deh!" bisik Rania heboh sambil menarik-narik ujung kausku, matanya melirik tajam ke arah Fanya yang mulai menjauh. "Yuk, kita intip Fanya! Aku penasaran banget dia bakal nerima cowok itu atau nggak!"
Aku terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "Kalian berdua aja deh. Aku mau istirahat di sini dulu, kakiku masih agak lemes habis berenang tadi."
"Yah... ya udah deh, kamu jangan ke mana-mana ya, Lun!" ujar Rania kecewa, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Dia langsung menarik lengan Siti, dan keduanya bergegas mengendap-endap di balik saung untuk melancarkan aksi spionase mereka.
Sepeninggalan kedua sahabatku, aku mendudukkan diri di atas pasir yang masih menyimpan kehangatan matahari. Aku menikmati kesendirian sesaat ini, membiarkan mataku menyapu hamparan laut luas yang tenang. Desau ombak yang ritmis terasa seperti melodi yang menenangkan jiwaku.
"Luna?"
Sebuah suara berat memecah keheningan di sekitarku. Aku menoleh dan mendapati Doni sudah berdiri di sampingku. Dia tidak lagi membawa papan selancarnya, penampilannya bersih, dan ada guratan ketegangan yang sangat tidak biasa di wajah cowok yang biasanya selalu percaya diri itu.
"Hai, Don," sapaku ramah.
"Boleh... jalan sebentar di tepi pantai?" tanya Doni. Melihat sorot mata yang begitu serius dan tidak main-main di matanya, aku tahu momen ini tidak bisa kuhindari.
Aku mengangguk pelan, lalu bangkit berdiri. "Boleh."
Kami berjalan beriringan menyusuri garis pantai, membiarkan pasang surut air laut yang dingin menerpa pas-pasan di pergelangan kaki kami. Selama beberapa menit, hanya ada keheningan di antara kami, ditemani suara ombak yang memecah kesunyian.
Doni berdeham kecil, mulai memecah kebekuan. "Lun... sebenarnya, aku udah merhatiin kamu sejak hari pertama kamu pindah ke sekolah kita di kelas delapan dulu."
Aku menoleh sedikit, mendengarkan.
"Waktu itu, kamu kelihatan... beda banget dari cewek lain. Kamu punya tatapan mata yang kayak menyimpan banyak beban, misterius, tapi di sisi lain kamu juga pintar dan hebat dalam banyak hal," Doni bercerita, suaranya terdengar tulus tanpa nada gombalan murahan. "Dan waktu kamu mulai berubah, mulai senyum, mulai bergaul... jujur, aku ngerasa jantungku selalu berdegup dua kali lebih cepat tiap kali kamu lewat di depanku. Aku kagum sama kamu, Luna."
Langkah kaki Doni mendadak berhenti tepat saat matahari setengah tenggelam di batas cakrawala. Aku pun ikut menghentikan langkahku, berbalik menghadapinya.
Doni menarik napas dalam-dalam, mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh untuk mengumpulkan sisa keberaniannya. Dia menatap lurus ke dalam mataku. "Luna, aku suka sama kamu. Kamu mau... jadi pacarku?"
Aku terdiam. Kata-kata itu menggantung di udara pantai yang mulai berembus sejuk.
Di dalam benakku, labirin pikiranku mendadak berputar. Selama ini, aku memang mati-matian mengubah diriku karena sebuah keyakinan, bahwa dengan cinta, aku bisa bertahan dari rasa sakit dan menghancurkan kutukan maut ini. Aku telah mencari dan menemukan cinta itu—dalam hangatnya pelukan ayah dan ibu yang rela membagi waktu mereka demi aku, serta dalam tawa lepas Rania dan Siti yang dengan tulus melindungiku dari rasa takut.
Namun... cinta romansa? Hubungan sepasang kekasih antara laki-laki dan perempuan?
Sejauh ini, aku sama sekali tidak dapat merasakan getaran itu pada lawan jenis. Ketika Doni mengutarakan perasaannya yang begitu tulus, hatiku tetap terasa seperti permukaan danau yang tenang tanpa riak. Kosong. Aku tidak merasakan debaran, tidak juga rasa takjub.
Aku sendiri tidak tahu pasti apa alasannya. Apakah karena jiwaku sudah terlalu baal setelah berulang kali dihancurkan oleh kematian maut di lini kehidupan sebelumnya? Ataukah karena kutukan dan trauma psikologis yang merantai diriku membuatku secara tidak sadar menutup rapat gerbang hati untuk hubungan romantis, demi melindungi orang lain—atau diriku sendiri—dari takdir maut yang sewaktu-waktu bisa merenggut segalanya?
Aku menatap Doni dengan tatapan penuh rasa bersalah namun tegas. Aku menghargai keberaniannya, namun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, apalagi membohongi ketulusan hatinya.
"Doni, terima kasih banyak atas perasaanmu," ucapku lembut, senyuman tipis terukir di wajahku di bawah temaram cahaya sunset. "Tapi, maaf... untuk saat ini, aku belum bisa menerima perasaanmu. Aku belum memikirkan tentang pacaran, dan aku masih ingin fokus pada persahabatan dan sekolahku."
Doni sempat terpaku sejenak, bahunya agak merosot, namun dia melempar senyum maklum yang dipaksakan untuk menutupi rasa kecewanya. "Ah... begitu ya. Nggak apa-apa, Lun. Makasih ya udah mau dengerin dan jawab jujur."
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, menyisakan semburat garis ungu gelap di cakrawala sebelum langit malam yang pekat mengambil alih. Angin pantai berembus semakin kencang dan dingin, namun kehangatan di saung kelas kami justru semakin menyala saat semua anak kembali berkumpul.
Rania dan Siti langsung menyergapku begitu aku dan Doni kembali ke kerumunan. Doni dengan jantan langsung bergabung dengan gerombolan cowok untuk menyembunyikan rasa canggungnya, sementara Rania menatapku dengan mata memicing penuh selidik.
"Hayo... tadi ngomongin apa aja sama Doni di ujung sana?" bisik Rania jahil, menyenggol lenganku.
"Cuma ngobrol biasa, Kok," jawabku sambil tersenyum misterius. Siti yang melihat sisa-sisa ketegangan di wajah Doni dari kejauhan tampaknya langsung paham situasi, ia menepuk pundak Rania pelan. "Udah, Ran, jangan diinterogasi sekarang. Tuh, mending lihat hasil spionase kita tadi."
Suasana saung mendadak riuh oleh pengumuman hasil 'sidang cinta' sore ini. Fanya berjalan sambil menggandeng lengan Rangga, cowok pemalu dari kelas sebelah yang mukanya masih merah padam seperti kepiting rebus. Sorak-sorai langsung pecah menyambut pasangan baru itu.
Namun, nasib malang menimpa Bimo. Si pelawak kelas itu ternyata ditolak mentah-mentah oleh Siska. Begitu Bimo kembali dengan langkah gontai dan wajah memelas, seisi saung langsung meledak dalam tawa.
"Aduh Bim, muka lo melas banget kayak dompet akhir bulan!" ledek reza, si gitaris kelas, sambil memetik gitarnya asal-asalan.
"Sialan lo, Rez! Gue ini lagi patah hati tahu!" seru Bimo dramatis, pura-pura menangis di pundak Doni. Tapi tawa itu tidak bertahan lama. Doni, Reza, dan arif langsung merangkul Bimo, menyodorkan segelas es jeruk dan menepuk-nepuk punggungnya untuk menghibur sahabat mereka. Penolakan itu tidak menghancurkan pertemanan mereka, justru menjadi bumbu cerita yang akan mereka tertawakan hingga lulus nanti.
"Woy semuanya! Berhenti ngetawain Bimo! Mending bantuin bakar-bakar, perut gue udah demo!" teriak Andi, si ketua kelas yang tangannya sudah belepotan bumbu mentega.
Kami pun mulai menyalakan beberapa alat pemanggang portabel yang disewa dari pengelola pantai. Arang mulai membara, memercikkan bunga api kecil ke udara malam. Pesta barbekyu resmi dimulai.
Semua orang berbagi tugas dengan kompak. Dinda dan Tiara sibuk memotong sosis dan menusuk daging ayam ke tusukan sate. Aku, Rania, dan Siti kebagian tugas mengoleskan bumbu madu dan kecap di atas panggangan. Asap tebal beraroma gurih nan lezat langsung membubung tinggi, menantang wewangian laut.
"Luna, nih cobain sosis bakar buatan chef Andi. Dijamin dapet nilai A plus!" ujar Andi sambil menyodorkan sepiring sosis yang permukaannya sedikit gosong menggunakan capitan besi.
"Makasih, Ndi," aku menerimanya sambil tertawa. Kami makan bersama dalam lingkaran besar, duduk di atas tikar yang digelar di atas pasir. Reza mulai memainkan lagu-lagu pop populer dengan gitarnya, memicu sesi sing-along massal yang bising namun terasa sangat syahdu. Aku mengedarkan pandangan, menatap wajah-wajah ceria di sekelilingku: Rania yang mulutnya penuh daging, Siti yang tersenyum tenang, Bimo yang sudah kembali ceria setelah disuapi sosis oleh Doni. Kebahagiaan ini terasa begitu pekat, membuatku lupa sejenak pada takdir kelam yang selalu mengintai.
Setelah kenyang dan tenaga kembali penuh, Arif dan Reza mendadak berlari ke arah saung dan kembali dengan membawa beberapa kotak kardus besar.
"Saatnya pertunjukan utama!" seru Arif bersemangat.
Mereka menata deretan kembang api tabung di atas pasir, agak jauh dari tikar tempat kami duduk. Andi memegang korek api gas panjang, menyalakan sumbunya satu per satu, lalu berlari mundur dengan heboh.
SREEEEEEET... DUARRR!
Satu letupan besar memecah kesunyian malam pantai. Sepersekian detik kemudian, langit malam yang gelap gulita langsung bermekaran oleh cahaya kembang api berwarna-warni—merah, hijau, emas, dan perak—berpendar indah memantul di atas permukaan air laut yang hitam.
"Wahhhhh! Keren banget!" teriak Rania dengan mata berbinar-binar memantulkan cahaya lampu hias alami di langit. Semua anak perempuan, termasuk Tiara, Dinda, dan Fanya langsung berpelukan sambil menunjuk-nunjuk ke atas.
Aku mendongak, menatap kilatan-kilatan cahaya yang meledak lalu memudar di angkasa. Di sela-sela gemuruh suara kembang api, aku merasakan sepasang tangan Rania dan Siti menyelinap, menggenggam kedua telapak tanganku dengan erat. Aku menoleh menatap mereka, dan keduanya sedang tersenyum tulus ke arahku.
Di bawah langit yang sedang berpesta cahaya, diiringi suara tawa teman-temanku yang menggema membelah malam pantai, hatiku terasa penuh. Aku tahu kutukanku mungkin belum selesai, dan aku mungkin belum bisa merasakan cinta romantis seperti yang Doni tawarkan. Tapi malam ini, digandeng oleh sahabat-sahabat terbaikku, aku sadar bahwa cinta yang kumiliki sekarang sudah lebih dari cukup untuk membuat jiwa yang sempat hancur ini kembali bernyawa.