NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 11. Merasa Terhina

Wulan menatap wanita yang ada di hadapannya ini dengan tatapan yang sukar diartikan. Ia menatap sosok Mega dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan lekat. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, namun sepertinya Wulan teramat takjub dengan sosok wanita yang berdiri di samping suaminya ini.

"Kenalkan Lan, ini Bu Mega," ucap Awan memperkenalkan sang istri kepada Mega. "Bu Mega ini pemilik perusahaan tempatku bekerja saat ini."

Mega mengulurkan tangan yang seketika disambut oleh Wulan. Ia tersenyum manis di hadapan Wulan yang tengah menggendong bayinya ini.

"Saya Mega, Mbak. Salam kenal ya."

"Panggil Wulan saja Bu. Sepertinya usia saya jauh lebih muda daripada Bu Mega."

"Oh baiklah Lan. Senang berkenalan denganmu."

"Aku bisa bareng Bu Mega karena tadi beliaulah yang menolongku ketika motorku mogok di jalan Lan. Jadi Bu Mega lah yang mengantarku pulang."

Sebelum sang istri berpikir yang macam-macam, Awan langsung menjelaskan duduk perkara mengapa ia dan Mega bisa pulang bersama. Ia tidak ingin jika sampai Wulan berpikir yang terlampau jauh. Akan semakin membuat pusing tujuh keliling jika sampai istrinya itu salah paham.

Wulan menganggukkan kepala. "Oh seperti itu. Itu artinya Bu Mega ini malaikat penolong untuk mas Awan."

"Ah tidak seperti itu juga Lan, itu sangat berlebihan," ucap Mega mengoreksi perkataan Wulan.

"Kalau begitu mari masuk dulu Bu, saya buatkan teh hangat sebagai ucapan terima kasih saya."

Mega menoleh ke arah Awan. Dari tatapan mata wanita itu seolah ada sebuah makna jika ia khawatir akan mengganggu waktu kebersamaan antara Wulan dan Awan. Sedang Awan hanya mengangguk pelan dan tersenyum simpul.

"Betul apa yang dikatakan istriku Bu. Mari masuk dulu barang sebentar. Sebagai ucapan terimakasih karena Anda sudah menolong saya."

"Emmmm.. Baiklah kalau begitu. Tapi sebentar saja ya karena ini juga sudah malam."

"Iya Bu. Tidak apa-apa."

Awan dan Mega masuk menuju ruang tamu sedangkan Wulan menuju dapur membuatkan teh untuk Mega. Di ruang tamu, Mega mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bibirnya sedikit mencebik karena ruangan ini seperti kotor sekali.

"Ternyata istrimu itu jorok ya Mas. Rumah kotor dan banyak debu seperti ini dibiarkan begitu saja. Memang setiap hari dia mengerjakan apa saja?"

Mega berujar lirih agar pembicaraannya tidak sampai terdengar di telinga Wulan. Ia benar-benar merasa risih dengan debu-debu yang menempel di lantai juga kursi.

"Ya memang seperti ini. Dia seperti tidak punya waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah padahal setiap hari dia lebih banyak bersantai. Kamu lihat penampilannya juga kan?"

Mega menganggukkan kepala. Penampilan Wulan yang benar-benar berantakan saat menyambut kedatangan Awan. Mengenakan daster harga seratus ribu dapat tiga yang sudah lusuh. Rambut dibiarkan acak-acakan tak beraturan dan wajah yang sangat kusam.

"Pantas saja kamu bilang kalau istrimu itu persis mak Lampir, Mas. Ternyata memang berantakan sekali."

Awan mengedikkan bahu seraya membuang napas berat. Lelaki itu menyenderkan punggungnya di sandaran kursi dan sesekali memijit pelipisnya.

"Ya seperti itulah keadaannya. Bagaimana aku tidak bertambah capek melihat penampilan Wulan yang seperti itu. Dan aroma badannya itu tidak wangi seperti wanita di luar sana, tapi apek sekali."

Obrolan pelan Awan dan Mega terhenti ketika Wulan terlihat memasuki ruang tamu sembari membawakan nampan yang berisikan dua teh hangat. Dengan susah payah, ia mencoba menjaga keseimbangannya agar nampan itu tidak terjatuh mengingat saat ini ia juga tengah menggendong Bagas.

"Silakan di minum Bu," ucap Wulan mempersilahkan.

"Terima kasih Lan."

Wulan dan Awan larut dalam obrolannya. Mereka terlihat begitu akrab seperti sudah lama berkenalan. Sedangkan Wulan hanya bisa melihat keakraban suami dengan pimpinan perusahaan itu dengan perasaan yang rendah diri. Ia merasa seperti obat nyamuk karena tidak dilibatkan dalam obrolan sang suami dengan Mega.

Mas Awan nampak seperti orang yang berbeda. Dia begitu banyak bicara ketika mengobrol dengan Bu Mega. Ada saja hal-hal yang menjadi bahan obrolan. Sedangkan jika di rumah, ia tidak seperti ini. Justru malah sering uring-uringan tidak jelas.

****

Suasana rumah kembali seperti biasa setelah Mega berpamitan untuk pulang. Awan masih duduk di ruang tamu sembari fokus dengan gawai di tangannya. Saking fokusnya pada layar gawai itu, sampai membuat Wulan diabaikan keberadaannya.

"Mas, kamu baru diangkat jadi wakil direktur ya?" tanya Wulan mencoba untuk membuka pembicaraan. Kali ini ia akan berusaha untuk memperbaiki komunikasinya dengan Awan setelah beberapa minggu ini sempat berantakan.

Awan menghentikan aktivitasnya. Ia tatap Wulan dengan dahi yang sedikit berkerut. "Kok kamu tahu kalau aku baru diangkat jadi wakil direktur?"

"Risma yang memberitahuku beberapa saat yang lalu. Dia mendapatkan kabar itu dari Toni. Katanya sepulang kantor ada acara makan-makan yang dikhususkan untukmu karena diangkat sebagai wakil direktur."

"Yap itu betul. Bu Mega memang sebaik dan sepeduli itu sama bawahannya. Aku juga tidak menyangka jika Bu Mega mempersiapkan acara makan-makan itu untukku."

"Selamat ya Mas, akhirnya kamu bisa naik jabatan. Ini semua rezeki anak kita. Semoga setelah ini kehidupan kita dan kondisi perekonomian kita jauh lebih baik," doa Wulan dengan begitu tulus.

Awan terhenyak. "Apa kamu bilang? Rezeki anak kita?"

"Iya Mas. Setelah Bagas lahir kamu diangkat sebagai wakil direktur utama. Bukankah itu sama saja rezeki anak kita yang dititipkan kepadamu?"

"Ckkkckkk, gampang sekali kamu bicara seperti itu Lan." Awan berdecak kesal mendengar ocehan Wulan. "Aku bisa naik jabatan karena hasil kerja kerasku selama ini. Setiap hari aku bekerja keras memutar otak agar setiap bulan bisa kejar target eh dengan seenak jidat kamu mengatakan kalau itu rezeki anak kita."

"Tapi semua yang aku ucapkan benar kan Mas?" tanya Wulan. "Kalau Bagas tidak lahir mungkin kamu juga tidak akan mendapatkan jabatan itu."

Awan tergelak mendengar ucapan sang istri yang dirasa sangat tidak masuk akal ini. Bisa-bisanya jabatan yang ia dapat karena hasil kerja keras yang ia lakukan diaku-aku sebagai rezeki sang anak yang bahkan tidak tahu apa-apa.

"Katapun Bagas tidak lahir, aku pasti juga akan mendapatkan jabatan itu Lan. Karena itu semua berkat kerja kerasku. Jadi jangan bawa-bawa orang lain dalam hal ini."

Wulan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Awan. Lelaki itu seperti manusia yang tidak bersyukur dan manusia yang lupa bahwa ada doa dari orang-orang terdekat agar bisa sukses dalam pekerjaannya.

"Mas, aku mau minta sesuatu boleh?" tanya Wulan sangat hati-hati. Ia tidak mau mencari ribut dengan suaminya ini sehingga ia pun berusaha untuk pelan-pelan untuk mengutarakan keinginannya.

"Minta apa?"

"Karena saat ini kamu sudah diangkat menjadi wakil direktur utama, bagaimana kalau kita menggunakan jasa ART Mas? Untuk membantuku melakukan mengerjakan pekerjaan rumah."

"Apa? Kamu minta ART?" tegas Awan. "Jangan aneh-aneh kamu Lan. Lagian untuk apa sih? Manja sekali minta ART."

"Bukan manja Mas. Tapi aku sungguh merasa kerepotan jika harus mengurus semua sendiri. Jadi aku minta ART untuk membantuku."

"Tidak, tidak, tidak Lan. Aku tidak setuju," tegas Awan. "Lagipula aku baru naik jabatan permintaanmu sudah ngelunjak seperti itu. Ingat, kamu yang sudah menguras tabunganku dengan operasi sesar itu. Jadi kamu jangan terlalu ngelunjak minta ini itu."

Awan bangkit dari posisi duduknya. Mendengar sang istri yang terlalu banyak meminta, membuat lelaki itu bertambah pusing saja. Jika harus menggunakan jasa ART bisa-bisa rencananya membeli mobil baru gagal total. Lelaki itu mengambil langkah kaki lebar meninggalkan Wulan dan Bagas yang ada di gendongan sang ibu di ruang tamu.

"Jadi Mas Awan tidak ikhlas membiayai operasi sesarku? Ya Tuhan... Padahal operasi sesar itu harus dilakukan karena anakku terlilit tali pusar. Kenapa seolah-olah aku sendiri yang menghendaki operasi sesar itu?"

Tes... Tes... Tes...

"Aku bersumpah, jika aku bisa mendapatkan uang dari hasil keringatku sendiri, akan aku ganti semua uang yang sudah dikeluarkan Mas Awan untuk membiayai operasi sesar itu."

Tanpa terasa bulir-bulir bening itu berjatuhan membasahi pipi Wulan. Ia menatap lekat wajah Bagas yang terlihat begitu damai dalam lelap tidurnya. Ia tersenyum getir karena saat ini ia telah kehilangan sosok suami yang dulu begitu lembut dalam memperlakukannya. Kini lelaki lembut itu berubah menjadi sosok yang tempramen dan tidak pernah menjaga perasaan istrinya.

"Ya Tuhan... Aku benar-benar merasa terhina. Semoga suatu saat nanti aku bisa menjadi wanita mandiri yang bisa berdiri di atas kakiku sendiri agar tidak terlalu bergantung pada suami."

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!