Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Valerio Tidak Pernah Mati
Hujan turun perlahan membasahi kaca gedung pencakar langit, di pusat kota Zurich.
Di lantai paling atas gedung perusahaan investasi internasional, Alessandro berdiri menghadap jendela besar dengan jas hitam rapi melekat di tubuhnya.
Tangannya menggenggam gelas whiskey, sementara pantulan cahaya kota menyorot mata abu-abunya yang dingin.
Semua orang mengenalnya sebagai Alessandro Verdan, pengusaha muda sukses. Pemilik perusahaan keamanan digital terbesar di Eropa.
Tidak ada yang tahu, bahwa nama asli dalam darahnya jauh lebih berbahaya. Nama yang sudah dikubur selama bertahun-tahun.
"Atau mungkin... nama itu memang nggak pernah mati."
Suara berat itu muncul dari belakang, Alessandro menoleh pelan.
Damian Russo. Kepala keamanan pribadinya. Pria itu berjalan masuk sambil membawa tablet hitam, wajahnya terlihat tegang.
"Apa ada masalah?" tanya Alessandro datar.
Damian diam beberapa detik, sebelum menyerahkan tablet itu.
"Kita menemukan sesuatu."
Alessandro membaca layar itu dengan wajah datar, namun perlahan rahangnya mengeras. Sebuah foto muncul, foto pria yang duduk di kursi kulit hitam, dengan tatapan dingin yang mampu membuat orang gemetar hanya dengan melihatnya.
Leonardo Valerio.
Di bawah foto itu ada pesan singkat.
THE KING LEFT AN HEIR.
Dan di bawahnya lagi.
WE FOUND HIM.
Ruangan mendadak terasa lebih dingin, Damian menelan ludah.
"Pesan ini muncul di server gelap internasional tiga jam lalu," katanya pelan. "Dan sudah menyebar ke banyak jaringan mafia lama."
Alessandro meletakkan gelasnya, "Siapa yang sudah mengunggahnya?"
"Kami belum tahu, Tuan."
Tatapan Alessandro berubah tajam, "Cari siapa pelakunya, sekarang."
"Kami sudah mencarinya, Tuan. Tapi sampai sekarang kami belum menemukannya."
"Aku bilang cari sampai ketemu," ucapnya tenang, tapi cukup untuk membuat Damian menunduk.
Seketika Damian sadar, sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan. Tatapan itu, nada suara itu, sangat mirip dengan Leonardo.
Di tempat lain, sebuah ruangan bawah tanah yang penuh dengan monitor gelap menyala redup.
Asap rokok memenuhi ruangan, beberapa pria duduk mengelilingi meja besi sambil memperhatikan layar besar di depan mereka.
Foto Alessandro terpampang jelas di sana, seorang pria tua dengan bekas luka panjang di wajah tertawa pelan.
"Anak ini benar-benar hidup."
Pria yang lain mengangguk, "Matanya sama seperti ayahnya."
"Tidak," sahut seseorang dari sudut ruangan.
Semua menoleh, di sana duduk seorang pria tinggi berambut pirang gelap, dengan mata dingin seperti es.
Viktor Karev, yang tak lain mantan tangan kanan Leonardo Valerio. Pria yang pernah menjadi monster paling ditakuti di organisasi RED ASHES.
Viktor mematikan rokoknya, "Dia belum seperti Leonardo."
"Tapi darahnya tetap darah Valerio," kata pria tua tadi.
Viktor tersenyum tipis, "Dan itu bagian yang paling berbahaya."
Ia menatap layar Alessandro tanpa berkedip, "Akhirnya aku menemukanmu," lanjutnya.
***
Malam semakin larut, saat Alessandro pulang ke penthouse pribadinya. Begitu pintu terbuka, aroma teh melati langsung menyambutnya.
Nadira duduk di sofa sambil membaca buku, namun wajah wanita itu langsung berubah pucat begitu melihat raut wajah Alessandro.
"Ada apa, Nak?"
Alessandro diam, ia meletakkan tablet di meja. Nadira mengambilnya, dan seketika napasnya tercekat.
Wajah Leonardo muncul di layar, gelas teh di tangannya bergetar.
"Tidak... ini tidak mungkin," bisiknya lirih.
"Nama Valerio terus muncul, Ma," kata Alessandro tenang.
Nadira langsung berdiri, "Kita harus benar-benar pergi, Nak."
"Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah lari, Ma."
"Kamu nggak ngerti, Ale!" ucap Nadira dengan sedikit meninggikan suaranya. "Kalau mereka mulai mencari kamu, itu berarti semuanya akan dimulai lagi! Dan mama nggak mau jika itu terjadi."
Alessandro menatap ibunya, "Mereka itu siapa, Ma? Kenapa mama sangat takut jika mereka benar-benar menemukan aku?"
Nadira terdiam, tatapan matanya dipenuhi ketakutan lama, yang belum pernah benar-benar hilang.
"Me-mereka itu monster, Ale."
Alessandro tersenyum dingin, "Kalau begitu, mungkin aku memang anak dari seorang monster."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya, ruangan mendadak sunyi. Nadira gemetar setelah menampar anaknya sendiri.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi," ucap Nadira dengan suara gemetar. "Karena kamu bukan ayahmu."
Namun Alessandro tidak menjawab, karena untuk pertama kalinya, ia mulai meragukannya sendri.
Dua hari kemudian, sebuah pesta elit berlangsung di hotel mewah Milan.
Politikus, pebisnis, dan investor. Semua berkumpul dalam kemewahan dan senyum palsu.
Alessandro berjalan masuk dengan jas hitam elegan, tatapannya tenang, dingin, dan berbahaya.
Beberapa wanita menoleh kagum, sedang para pria langsung menunduk gugup. Aura Alessandro terlalu tajam untuk pria seusianya.
Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Semua mata seperti mengawasinya, bisik-bisik mulai terdengar.
"Itu dia?"
"Anak dari Leonardo?"
"Mirip sekali."
Alessandro mendengar semuanya, tapi raut wajahnya tidak berubah sedikit pun. Sampai seorang pria tua menghampirinya, sambil memawa wine.
Pria itu tersenyum samar, "Aku pernah bekerja untuk ayahmu."
Alessandro menatapnya datar, "Ayah saya sudah mati."
"Nama Valerio tidak pernah mati, Tuan Muda," ucapnya dengan tertawa kecil.
PRANG!
Gelas wine pria itu pecah begitu saja di tangannya sendiri, karena Alessandro mengenggam tangannya terlalu kuat.
Tatapan abu-abunya berubah gelap, "Saya bukan bagian dari Valerio."
Pria tua itu menahan sakit sambil tersenyum gemetar, "Tapi dunia bawah sudah memutuskan, bahwa anda bagian dari Valerio, Tuan Muda."
Alessandro melepaskannya kasar, lalu pergi meninggalkan ballroom. Namun saat pintu lift tertutup, ia melihat seseorang berdiri di seberang lorong hotel.
Pria tinggi dengan mantel hitam panjang, mata dingin seperti es. Yang tak lain adalah Viktor Karev.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Alessandro, ia merasakan insting aneh. Bahaya, dan mematikan.
Lift tertutup, namun sebelum pintu benar-benar menutup, Viktor sempat tersenyum tipis.
Senyum seorang predator yang akhirnya menemukan pewaris mangsanya.
Malam itu Alessandro tidak bisa tidur, ia berdiri di ruang kerjanya sambil membuka file lama tentang Leonardo, yang selama ini ia simpan rapat.
Foto-foto pembantaian, dokumen organisasi, dan daftar nama musuh. Semakin ia membaca, ia semakin sadar satu hal yang mengerikan.
Leonardo bukan sekedar mafia, Leonardo adalah simbol ketakutan. Dan kini semua orang mulai melihat simbol itu dalam dirinya.
Tiba-tiba layar komputernya berkedip, semua lampu ruangan mati sesaat.
Lalu muncul satu pesan merah di monitor.
WELCOME BACK, VALERIO.
Alessandro langsung berdiri, "Sial!"
Damian masuk dengan pistol di tangan, "Sistem kita sudah diretas!"
Monitor kembali berubah, kali ini muncul lambang lama RED ASHES. Api merah berbentuk tengkorak.
Simbol organisasi yang seharusnya sudah hancur bertahun-tahun yang lalu. Hingga suara elektronik terdengar dari speaker.
"Para raja lama telah mati."
"Dunia membutuhkan pewaris baru."
"Kamu menunggu, Alessandro Valerio."
Monitor mati total. Damian terlihat panik, namun Alessandro justru diam terlalu tenang.
Tatapannya kosong menatap layar hitam di depannya, entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang justru terasa hidup saat mendengar semua itu.
Damian menatapnya hati-hati, "Tuan?"
Alessandro akhirnya bicara pelan, "Siapkan mobil sekarang."
"Tapi kita mau ke mana?"
Tatapan Alessandro berubah tajam, "Kita akan mencari tahu, siapa yang berani membangunkan nama Valerio."
Di sudut ruangan yang gelap, tanpa disadari siapa pun, kamera kecil tersembunyi dan merekam semuanya.
Dan di lokasi lain, Viktor Karev memperhatikan layar monitor sambil tersenyum puas.
"Ya... itulah tatapan Leonardo."