NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:43.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Perangkap di Ujung Jarum

Udara di dalam kamar batu itu terasa semakin membeku, berbanding terbalik dengan ketegangan yang mendidih di dalam nadi Genevieve. Tangan kirinya menjumput potongan roti gandum yang telah ia celupkan ke dalam piala perak berisi air jernih. Roti itu kini lembek, hancur, dan sama sekali tidak terlihat meyakinkan. Namun, di mata Martha yang akal sehatnya telah dirampas oleh teror kematian, gumpalan roti basah itu adalah emas murni.

"Kemari, Martha," perintah Genevieve pelan. Suaranya mengalun seperti melodi kematian yang lembut.

Pelayan itu merangkak maju tanpa ragu sedikit pun, mengabaikan lututnya yang bergesekan kasar dengan lantai batu yang sedingin es. Wajahnya yang basah oleh air mata menengadah dengan penuh keputusasaan, matanya terpaku pada tangan majikannya seolah Genevieve adalah seorang dewi yang memegang kunci kehidupan dan kematian.

"Buka mulutmu," titah Genevieve.

Martha membuka mulutnya dengan patuh, bibirnya bergetar hebat. Genevieve meletakkan gumpalan roti basah itu ke atas lidah pelayan tersebut. Martha menelannya nyaris tanpa mengunyah, tersedak pelan, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya kembali menyentuh lantai. Sugesti adalah racun yang jauh lebih kuat daripada ramuan botani mana pun. Martha benar-benar percaya bahwa air putih dan roti itu telah dicampur dengan penawar rahasia.

"Dengarkan aku baik-baik," kata Genevieve, mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan bayangan dari kanopi ranjang menutupi separuh wajahnya. "Penawar itu hanya akan menahan efek Silvershade selama dua puluh empat jam. Besok malam, jika kau masih berguna bagiku, kau akan mendapatkan dosis berikutnya."

"S-saya mengerti, Nyonya. Saya akan mengabdi hanya pada Anda," isak Martha, napasnya terdengar sedikit lebih lega meskipun tubuhnya masih gemetar.

"Bagus. Sekarang, bawa nampan perak itu dan kembalilah ke kamarmu. Jika kau bertemu penjaga di lorong, katakan kau baru saja mengambil sisa makananku karena Tuan Gideon memerintahkan agar kamarku dibersihkan sebelum tengah malam," Genevieve memberikan instruksi dengan presisi seorang jenderal perang. "Dan Martha... malam ini, apa pun suara yang kau dengar dari sayap barat, apa pun keributan yang terjadi di lorong, kau tidak mendengar apa-apa. Kau tertidur lelap. Kau mengerti?"

"Saya tuli dan buta malam ini, Nyonya," sumpah Martha dengan cepat. Pelayan itu segera bangkit, meraih nampan perak beserta mangkuk kosongnya, dan mundur perlahan menuju pintu. Ia membungkuk dalam-dalam sekali lagi sebelum akhirnya keluar, menutup pintu ek raksasa itu rapat-rapat, meninggalkan Genevieve sendirian dalam pelukan malam.

Begitu pintu tertutup, Genevieve segera membuang postur aristokratnya. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding kayu ranjang dan memejamkan mata, membiarkan otot-otot tubuhnya rileks sejenak. Ia telah menghabiskan setengah dari makanan yang dibawa Martha, memberikan tubuhnya kalori yang sangat dibutuhkan. Perutnya terasa penuh dan hangat, mengalirkan energi baru ke seluruh jaringan selnya yang kelaparan.

"Sistem," bisiknya ke udara kosong. "Status pemulihan energi?"

**[Memproses Kondisi Fisik Tuan Rumah...]**

**[Asupan nutrisi makro terdeteksi. Proses regenerasi sel dimulai. Kelelahan otot menurun hingga 55%.]**

**[Kalkulasi Taktis: Tuan Rumah kini memiliki kapasitas untuk melakukan serangkaian gerakan motorik halus dan SATU manuver fisik berintensitas sedang selama maksimal 15 detik sebelum risiko pingsan kembali muncul.]**

Lima belas detik. Waktu yang jauh lebih dari cukup jika ia tidak membuangnya untuk adu kekuatan fisik dengan seorang pria dewasa. Tabib Silas bukanlah seorang pejuang, melainkan pria tua yang mengandalkan tipu muslihat dan racun. Namun, bagaimanapun juga, Silas adalah pria yang bobot dan tenaganya pasti melampaui tubuh rapuh Lady Genevieve. Konfrontasi langsung adalah tindakan bunuh diri. Ia harus menggunakan otaknya, bukan ototnya.

Genevieve menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang. Rasa kebas di kakinya sudah jauh berkurang. Ia melangkah ke arah jendela batu yang sempit. Di luar, badai salju utara mulai mengamuk. Angin melolong dengan nada tinggi yang menyayat hati, menghantam kaca jendela tua hingga bergetar hebat. Cuaca ini adalah sekutu yang sempurna; deru angin akan meredam suara apa pun dari dalam kamarnya.

Ia membalikkan badan dan menatap ranjang raksasa berkanopi merah usang itu. Panggung harus disiapkan.

Genevieve mulai bekerja dalam diam. Ia menarik tiga buah bantal bulu angsa yang tebal, lalu menyusunnya memanjang di tengah-tengah kasur. Dengan sisa tenaganya, ia menggulung salah satu selimut cadangan berbahan wol kusam yang ia temukan di lemari, menempatkannya di samping susunan bantal untuk memberikan ilusi lekuk tubuh manusia. Terakhir, ia menarik selimut utama yang tebal dan menutupinya hingga ke ujung atas bantal pertama.

Dari kejauhan, di bawah penerangan kamar yang sangat minim, tumpukan itu terlihat persis seperti tubuh seorang wanita kurus yang meringkuk di bawah selimut, menyembunyikan wajahnya dari hawa dingin. Untuk menyempurnakan ilusinya, Genevieve menarik beberapa helai rambut peraknya sendiri yang rontok di sisir kayu di atas meja rias, lalu menyebarkannya dengan hati-hati di tepi bantal teratas, membiarkannya menyembul keluar dari balik selimut.

Mahakaryanya telah selesai. Decoy yang mematikan.

Sekarang, ia membutuhkan senjatanya. Genevieve berjalan ke arah meja nakas dan mengambil tusuk konde perak murni yang ia gunakan untuk melukai Martha pagi tadi. Ia membersihkan sisa darah yang mengering pada ukiran mawar hitamnya dengan ujung gaun tidurnya. Kemudian, ia merogoh saku dalamnya dan mengeluarkan botol kaca gelap berukuran kecil—botol yang berisi sisa teh beracun Silvershade konsentrat tinggi yang ia selamatkan.

Dengan tangan yang sangat stabil, ia membuka sumbat gabus botol tersebut. Ia mencelupkan ujung runcing tusuk konde perak itu langsung ke dalam cairan pekat berwarna kecokelatan di dalamnya. Ia membiarkannya terendam selama beberapa detik, memastikan cairan itu melapisi logam peraknya dengan sempurna. Tabib Silas sangat mengenal racun ini. Tabib itu tahu betul betapa mematikannya akar Silvershade murni jika masuk ke dalam aliran darah tanpa penawar. Dan malam ini, Silas akan merasakan racun ciptaannya sendiri dari jarak yang sangat intim.

Genevieve menutup kembali botol itu dan menyimpannya di saku. Ia menggenggam tusuk konde beracun itu di tangan kanannya. Kini, ia harus mencari tempat persembunyian yang paling tak terduga.

Ia tidak memilih untuk bersembunyi di balik pintu ek raksasa, karena siapa pun yang masuk pasti akan mengunci atau mendorong pintu itu hingga membentur dinding, yang akan menjepit tubuhnya. Ia juga tidak bersembunyi di dalam lemari besar, karena suara decit engselnya terlalu berisiko. Matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya tertuju pada sepasang tirai beludru tebal berwarna merah marun yang menggantung menjuntai dari langit-langit hingga ke lantai, tepat di sebelah kanan ranjang kanopi. Tirai itu sudah sangat berdebu dan jarang ditarik, menciptakan ceruk gelap yang sangat pekat di sudut ruangan.

Sempurna.

Genevieve menyelinap ke balik tirai beludru tersebut. Bau debu tua dan ngengat mati seketika menyengat hidungnya, memancing rasa gatal yang hebat di tenggorokannya, namun ia menekan insting untuk batuk dengan sekuat tenaga. Ia memosisikan dirinya dalam bayangan terdalam, punggungnya menempel rapat pada dinding batu yang beku. Dari celah kecil di antara lipatan kain, ia memiliki pandangan yang jelas dan lurus ke arah pintu masuk dan sisi kanan ranjang.

Ia diam mematung, layaknya patung gargoyle yang menunggu mangsa.

Waktu merangkak maju dengan kelambatan yang menyiksa psikologis. Detik demi detik berlalu, diukur oleh detak jantungnya sendiri yang sengaja ia pelankan. Suhu udara di balik tirai terasa jauh lebih dingin karena dinding batunya langsung berbatasan dengan badai salju di luar. Ujung jari kaki dan tangannya mulai terasa kebas kembali, namun matanya tetap terbuka lebar, memancarkan kilau biru es yang tajam dan tak berkedip.

1
Memyr 67
𝗃𝗂𝗄𝖺 𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉 𝖺𝗀𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖻𝗂𝖼𝖺𝗋𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗍𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝖺𝗇𝖺. 𝗄𝖾𝗍𝗂𝗄𝖺 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖽𝖺𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖾𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺𝖺𝗇, 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎, 𝗍𝗎𝗆𝖻𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉𝖺𝗇, 𝗁𝗂𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗒𝖺𝗄𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗈𝗅𝗎𝗍.
Endang Sulistia
keren
Memyr 67
𝗈𝗐 𝗍𝖺𝗆𝖺𝗍. 𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅𝗇𝗒𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝗎𝖺𝗋 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝗂𝗇𝗂
Yue Li MZy
Manarik juga~
Putri Amalia
kak author ini serius kan gak Hiatus? please smpe end
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗊 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝗎𝖻𝗎𝗁 𝗒𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗎𝗁 𝗋𝖺𝖼𝗎𝗇 𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋?
Memyr 67
𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋 𝗍𝖾𝗅𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗍𝗎 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗒𝖺? 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗄𝗎 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗈𝗆𝖺 𝖻𝗎𝗌𝗎𝗄. 𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗄𝖾 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗂𝗇𝗍𝖾𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝖾𝖽 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗌𝗄𝗋𝗂𝗉𝗌𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗇𝗀𝖾𝗋𝗂𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗅𝖺𝗆𝗂 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗄𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉 𝗉𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗄𝖾𝖻𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝖽𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝖺𝗇 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Endang Sulistia
nahan nafas bacanya ...
Memyr 67
𝖽𝖾𝗇𝖽𝖺𝗆 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗀𝗎𝖺𝗌𝖺 𝗄𝖾𝗀𝖾𝗅𝖺𝗉𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗃𝗎𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗁𝗂𝗍𝖺𝗆 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗆𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!