Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUMPAH DIATAS PUING PUING JIWA
Tiga minggu berlalu seperti di neraka tanpa akhir. Tubuh Kirana kini dipenuhi luka-luka baru yang tumpang tindih dengan luka lama yang belum sempat mengering. Jiwanya dipaksa mati rasa, dikuliti lapis demi lapis oleh kekejaman mahluk-mahluk menyimpang yang dikirim Broto setiap malam. Setiap kali pintu besi itu berdentang terbuka, Kirana hanya bisa mematung, menyerahkan raganya menjadi wadah pelampiasan nafsu binatang, sementara pikirannya ia paksa terbang jauh, keluar dari dinding-dinding The Velvet Rose yang laknat.
Siang itu, pintu sel bawah tanahnya kembali terbuka. Bukan tamu kasar yang masuk, melainkan Broto sendiri, didampingi dua anak buahnya yang berwajah beringas.
Broto melempar selembar koran lokal Valerion tepat ke wajah Kirana yang sedang duduk meringkuk di pojok ruangan.
"Lihat itu, Jalang. Donatur besarku, Tuan Muda Baskara, baru saja merayakan kemenangannya," kata Broto sambil terkekeh gembira, menyalakan cerutunya.
Dengan jemari yang gemetar dan kuku yang patah, Kirana membalik koran tersebut. Di halaman dalam, terdapat foto Baskara yang sedang tersenyum culas di depan kamera, memegang dokumen peresmian proyek baru. Di bawah foto itu tertulis berita utama:
"PT Jaya Megah Sentosa Resmi Mengambil Alih Lahan Desa dan Memulai Pembangunan Pabrik Pengolahan Modern."
Dada Kirana berdenyut nyeri, seolah dihantam godam tak kasat mata. Baskara benar-benar melakukannya. Pria itu telah meratakan gilingan padi desa, merebut tanah warga, dan menghancurkan perjuangan yang selama ini ia bangun dengan darah.
"Oh, ada satu kabar lagi dari desamu," Broto sengaja menjeda kalimatnya, menikmati perubahan ekspresi di wajah Kirana. "Anak buahku bilang, dua adik kecilmu itu... siapa namanya? Danu dan Lestari? Mereka luntang-lantung di jalanan desa seperti pengemis. Rumah panggungmu sudah dirobohkan. Warga desa yang dulu kamu bela? Tidak ada satu pun yang mau menampung mereka karena takut pada Baskara. Lucu, kan?"
Mendengar nasib Danu dan Larasati, sesuatu di dalam diri Kirana mendadak patah. Kehampaan yang selama berminggu-minggu ini menyelimuti matanya seketika runtuh, tergantikan oleh luapan emosi yang begitu pekat dan hitam. Adik-adiknya telantar. Rumahnya hancur. Ibunya tewas. Dan warga desa memilih menutup mata.
Uhuk! Uhuk!
Kirana terbatuk, memuntahkan sedikit darah ke lantai, namun matanya yang bengkak kini menatap Broto dengan sorot yang belum pernah dilihat pria itu sebelumnya. Itu bukan lagi tatapan wanita yang ketakutan atau hancur, melainkan tatapan seekor predator yang sedang sekarat namun siap mengoyak leher mangsanya.
Broto yang melihat sorot mata itu mendadak merasa tengkuknya mendingin. Seringainya memudar. "Kenapa melotot begitu? Mau melawan?"
PLAAKK!
Broto menendang bahu Kirana hingga gadis itu terguling ke lantai, lalu melangkah keluar bersama anak buahnya, mengunci kembali pintu besi dengan dentuman keras.
Di dalam kegelapan yang kembali merajai, Kirana tidak menangis. Air matanya sudah habis dibakar oleh api dendam yang kini berkobar hebat di dalam dadanya. Rasa sakit dari tubuhnya yang telah dinodai, rasa hina dari perlakuan menyimpang para tamu, kini bertransformasi menjadi kekuatan magis yang mengerikan.
Ia merangkak perlahan, mendekati dinding semen yang lembap. Dengan ujung kuku jarinya yang tajam dan berdarah, Kirana mulai menggores dinding itu, membentuk dua buah nama: BASKARA, BROTO.
"Kalian salah... kalian salah karena tidak membunuhku malam itu," bisik Kirana, suaranya parau, rendah, dan bergetar seperti bisikan iblis dari kerak bumi.
Ia menempelkan keningnya pada dinding yang dingin, bersumpah demi arwah ibunya yang tewas mengenaskan, demi air mata adik-adiknya yang telantar, dan demi harga dirinya yang telah diinjak-injak sampai ke dasar bumi.
"Mulai detik ini, aku bukan lagi Kirana anak Pak Suryo yang malang. Aku adalah kutukan yang kalian ciptakan sendiri. Aku bersumpah... demi setiap tetes darah dan kehinaan yang aku terima di kamar ini, aku akan merobek kedok kalian, menghancurkan harta kalian, dan memastikan kalian memohon kematian di hadapanku."
Malamnya, saat pintu kembali terbuka dan seorang lelaki hidung belang dengan sabuk kulit di tangannya masuk dengan senyum mesum, Kirana tidak lagi gemetar. Ia berdiri tegak di tengah ruangan. Di balik kegelapan wajahnya, sebuah senyuman mengerikan terpahat. Sumpahnya telah bulat. Untuk menghancurkan monster, ia harus menjadi monster yang jauh lebih kejam. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Kirana tidak akan menyisakan ruang untuk belas kasihan.