Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Janji Lagi
Matahari pagi kota London menembus jendela kaca apartemen Rangga, memantulkan cahaya di atas meja makan yang sudah dipenuhi dua cangkir kopi hitam hangat dan beberapa potong roti. Cinta duduk diam, pandangannya tertuju pada syal hitam tebal milik Tasya yang diletakkan Rangga di atas sofa sejak semalam.
Cinta menghela napas panjang, lalu menatap mata Rangga yang tampak kelelahan karena kurang tidur. Dia melangkah mendekat, menggenggam kedua tangan Rangga dengan erat.
"Ngga, gue gak mau kita mulai lembaran baru di sini dengan perasaan bersalah yang lu sembunyiin di dalam jas mewah lu," ucap Cinta, suaranya terdengar sangat dewasa. "Tasya berhak dapetin penjelasan yang terhormat. Pergi balik ke Jakarta, selesain urusan lu sama dia secara langsung sebagai seorang pria. Gue bakal nunggu lu di sini."
Rangga tertegun menatap kedewasaan gadis di depannya. Dia mengangguk pelan, mengepalkan tangannya dengan tekad yang bulat. Dua hari kemudian, Rangga mengambil cuti darurat dari kantornya. Dia memesan tiket pesawat pertama menuju Jakarta, bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menuntaskan sebuah janji yang tertinggal.
Aroma khas kota Jakarta—perpaduan antara debu jalanan, asap knalpot, dan hawa panas yang menyengat—menyambut kedatangan Rangga begitu dia melangkah keluar dari Bandara Soekarno-Hatta. Penampilannya yang mengenakan kemeja kasual rapi dengan jam tangan berkelas sempat membuat beberapa supir taksi bandara memandangnya segan, mengira dia adalah eksekutif muda ekspatriat.
Malam harinya, Rangga berjalan kaki menyusuri gang sempit menuju bengkel "Bina Karya Motor". Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, dan pintu besi bengkel sudah tertutup setengah. Aldi sengaja pergi lebih awal setelah menerima pesan singkat dari Rangga, memberikan ruang yang sangat dibutuhkan untuk sahabatnya.
Rangga mendorong pintu besi yang berderit pelan. Di dalam, di bawah pendar lampu neon yang agak redup, Tasya sedang duduk sendirian di depan meja kayu, sibuk merapikan tumpukan nota dan kalkulator.
Tasya mendongak karena mendengar suara pintu. Detik itu juga, pulpen di genggamannya terlepas. Matanya membelalak, tubuhnya membeku menatap sosok pria tegap bercelana kain rapi yang kini berdiri di depan pintu bengkelnya.
"Rangga...?" desis Tasya, suaranya hampir tidak terdengar. Dia buru-buru berdiri, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mendadak panik. "Ngapain lu di sini? Bukannya lu harusnya di London sama Cinta? Gak usah bercanda ya, Ngga."
Rangga tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah mendekat, menarik kursi plastik kosong, lalu duduk tepat di hadapan Tasya, persis seperti yang sering dia lakukan tiga tahun lalu saat mereka masih merintis bengkel ini dari nol.
"Gue balik cuma buat nemuin lu, Sya," ucap Rangga, nadanya sangat rendah dan tenang. "Gue gak bisa tenang di sana kalau cuma kirim pesan sampah kayak kemarin. Lu terlalu berharga buat digituin."
Tasya memalingkan wajahnya ke samping, menggigit bibir bawahnya dengan kuat demi menahan air mata yang mulai menggenang di pelupisnya. "Gue gak butuh kasihan lu, Ngga. Gue udah biasa sendiri di sini."
"Ini bukan kasihan, Tasya," potong Rangga tegas, namun lembut. Dia meraih jemari tangan Tasya yang dingin dan gemetaran di atas meja. "Gue datang buat bilang makasih secara langsung. Tanpa lu yang jagain bengkel ini, tanpa lu yang semangatin gue pas gue hancur, gue gak akan pernah bisa injak tanah London. Hati gue emang cuma buat Cinta dari dulu, dan gue gak bisa bohongin itu. Tapi posisi lu sebagai penyelamat hidup gue, gak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun di dunia ini, termasuk Cinta."
Air mata yang sejak tadi ditahan Tasya akhirnya tumpah juga membasahi pipinya. Bahunya terguncang hebat. Namun, kali ini bukan lagi tangisan duka yang menyesakkan, melainkan sebuah keikhlasan dari sebuah akhir yang jelas. Penghormatan jantan dari Rangga yang rela terbang belasan ribu kilometer hanya untuk berbicara langsung dengannya telah menyembuhkan luka di harga dirinya.
Tasya menyeka air matanya dengan kasar, lalu menatap Rangga sambil memaksakan sebuah senyuman tipis yang manis. Dia memukul bahu Rangga dengan kepalan tangan kecilnya, pelan.
"Dasar cowok berengsek," umpat Tasya lirih, namun ada kelegaaan di matanya. "Ya udah, sana pergi balik ke London. Bawa Cinta pulang ke Jakarta dengan terhormat. Jangan bikin pengorbanan gue selama tiga tahun ini sia-sia, Ngga."
Rangga tersenyum lebar, merasakan beban berat di pundaknya runtuh seketika. Dia berdiri, memberikan pelukan persahabatan terakhir yang sangat hangat kepada Tasya sebelum akhirnya melangkah keluar dari bengkel.
Saat Rangga berjalan di bawah rintik gerimis malam jalanan Jakarta menuju mobil jemputannya, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah panggilan internasional dari nomor kantor pusatnya di London.
Rangga menggeser layar ponselnya. "Ya, ini Rangga."
"Sir," suara sekretaris eksekutifnya di London terdengar panik dari seberang saluran telepon. "Kami baru saja menerima laporan dari otoritas bursa efek. Perusahaan investasi raksasa milik keluarga Nicholas di Jakarta baru saja melakukan aksi *hostile takeover*—mereka membeli secara paksa tiga puluh persen saham diler utama kita di Asia Tenggara. Mereka sengaja mengincar posisi Anda untuk membatalkan proyek kendaraan listrik ini!"
Tatapan mata Rangga yang tadinya hangat seketika berubah menjadi sedingin es. Dia menghentikan langkah kakinya di pinggir jalan, menatap langit malam Jakarta yang pekat.
Perang kasta versi anak sekolahan memang sudah selesai, namun perang korporasi yang sesungguhnya di level internasional baru saja dimulai. Nicholas tidak berniat membiarkan Rangga menang dengan mudah.
btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/