Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siswa Baru
Hari Senin pagi dimulai dengan pengumuman yang cukup mengejutkan.
Saat bel pertama berbunyi, wali kelas masuk bersama seorang siswa laki-laki yang belum pernah dilihat anak-anak sebelumnya.
“Selamat pagi,” sapa wali kelas. “Mulai hari ini, kelas kita kedatangan murid pindahan.”
Cowok itu melangkah ke depan. Tingginya hampir sama dengan Raka, rambutnya dipotong rapi, dan wajahnya terlihat tenang meski puluhan pasang mata sedang memperhatikannya.
“Perkenalkan, nama saya Kevin. Senang bisa belajar di sini.”
Beberapa siswa langsung bertepuk tangan.
Nadya yang duduk di samping Alya berbisik, “Lumayan juga anak baru.”
Alya hanya tersenyum tipis.
“Udah, fokus.”
Karena bangku di dekat Alya masih kosong, wali kelas menunjuk ke arah sana.
“Kevin, kamu duduk di sebelah Alya saja.”
“Baik, Bu.”
Kevin berjalan menghampiri lalu duduk sambil mengangguk sopan.
“Hai, gue Kevin.”
“Alya.”
“Kalau nanti gue bingung soal pelajaran, boleh nanya?”
“Boleh.”
Percakapan mereka berhenti sampai di situ, tapi cukup untuk membuat suasana terasa tidak terlalu canggung.
---
Saat jam istirahat, Kevin masih terlihat kebingungan mencari ruang guru.
Alya yang kebetulan lewat menawarkan bantuan.
“Mau ke ruang guru?”
“Iya. Dari tadi muter-muter.”
“Lewat sini.”
Mereka berjalan bersama menyusuri koridor sekolah.
Di tengah jalan, Kevin bercerita kalau ia baru pindah karena pekerjaan ayahnya.
“Gue belum kenal siapa-siapa di sini.”
“Nanti juga terbiasa.”
“Semoga.”
Alya menunjuk sebuah pintu di ujung lorong.
“Itu ruang gurunya.”
“Terima kasih banyak, ya.”
“Sama-sama.”
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Raka melihat momen itu.
Ia sedang berjalan bersama Dion menuju kantin ketika pandangannya berhenti pada Alya dan Kevin yang mengobrol.
Dion ikut melihat.
“Itu anak baru, kan?”
“Iya.”
“Kayaknya Alya lagi bantu nunjukin jalan.”
Raka mengangguk pelan.
“Harusnya gitu.”
“Kenapa nada suara lo aneh?”
“Biasa aja.”
Dion hanya tertawa kecil.
Ia sudah terlalu mengenal Raka untuk tahu kapan temannya itu benar-benar biasa dan kapan sedang menyembunyikan sesuatu.
---
Siang harinya, guru Matematika memberikan tugas kelompok.
Tanpa banyak pilihan, Kevin bergabung dengan kelompok Alya, Nadya, dan dua siswa lainnya.
Raka yang lewat sempat melihat mereka berdiskusi sambil berbagi buku.
Entah kenapa, pikirannya langsung teringat kejadian dengan Arvin beberapa waktu lalu.
Bedanya, kali ini ia tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan.
Ia memilih menarik napas panjang dan melanjutkan langkahnya.
“Belajar dari pengalaman,” gumamnya pelan.
---
Sepulang sekolah, Alya sedang membereskan tas ketika Kevin menghampiri.
“Sekali lagi makasih ya udah bantu hari ini.”
“Nggak masalah.”
“Oh iya, lo suka fotografi ya?”
Alya sedikit terkejut.
“Kok tahu?”
“Tadi lihat gantungan kunci kamera di tas sama hasil foto lo yang dipajang di mading.”
Alya tersenyum.
“Iya, itu hobi gue.”
“Bagus banget hasilnya.”
Sebelum percakapan berlanjut, terdengar suara dari belakang.
“Lya!”
Raka datang sambil membawa bola basket di bawah lengannya.
“Ayo, Dion udah nunggu di gerbang.”
Baru setelah itu ia menyadari ada Kevin berdiri di samping Alya.
“Oh, anak baru ya?”
Kevin mengangguk ramah.
“Iya. Kevin.”
“Raka.”
Mereka berjabat tangan singkat.
Tidak ada ketegangan, tidak ada sindiran.
Hanya perkenalan sederhana.
Namun setelah Kevin pamit lebih dulu, Raka berjalan pelan di samping Alya.
“Anaknya baik ya?”
“Kayaknya gitu.”
“Cepat akrab juga.”
“Dia cuma nanya-nanya soal sekolah.”
Raka tersenyum tipis.
“Bagus kalau ada yang bantu.”
Alya meliriknya.
“Lo nggak cemburu lagi, kan?”
Raka tertawa kecil.
“Sedikit sih pengin.”
“Tuh kan.”
“Tapi gue lagi latihan buat nggak salah paham.”
Jawaban itu membuat Alya ikut tertawa.
“Bagus. Pertahankan.”
---
Malamnya, Alya menerima pesan dari Kevin yang meminta foto jadwal pelajaran minggu depan.
Setelah mengirimkannya, ia menutup chat dan tidak berpikir macam-macam.
Beberapa menit kemudian, ponselnya berbunyi lagi.
Kali ini dari Raka.
«Raka:
Besok jangan lupa bawa kamera.»
«Alya:
Memangnya kenapa?»
«Raka:
Katanya langit sore bakal bagus.»
«Alya:
Dari mana taunya?»
«Raka:
Perasaan aja.»
Alya tersenyum membaca balasan itu.
Di luar sana mungkin akan ada banyak orang baru yang datang dan pergi.
Namun sejauh ini, belum ada yang bisa menggantikan tempat Raka dalam kesehariannya.
Sementara bagi Raka, kehadiran Kevin bukan ancaman.
Justru menjadi pengingat bahwa rasa percaya harus dibangun, bukan hanya dari perasaan, tetapi juga dari keberanian untuk saling memahami.
Dan tanpa mereka sadari, babak baru dalam hubungan mereka baru saja dimulai.