Chen Mo terlahir kembali di dunia kultivasi dengan sebuah sistem yang awalnya dianggap rusak dan tak berguna. Namun, seiring perjalanannya, ia menemukan bahwa sistem itu sebenarnya adalah Sistem Pemurnian Langit—warisan kuno yang bertujuan menjaga keseimbangan energi dunia.
Dengan fondasi yang disempurnakan secara unik, Chen Mo melewati berbagai tantangan: memenangkan kompetisi, masuk sekte terkuat, mengungkap rencana jahat organisasi kegelapan, hingga akhirnya memahami misi sejatinya. Ia tidak hanya berjuang untuk menjadi kuat, tapi juga mempelajari bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan, bukan penaklukan.
Cerita ini mengikuti perjalanannya dari pendatang tak dikenal hingga menjadi penjaga keseimbangan yang dihormati, melintasi alam yang lebih luas dan memegang tanggung jawab menjaga harmoni seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DARK SISTEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: PERJALANAN KE TEMPAT UJIAN
BAB 23: PERJALANAN KE TEMPAT UJIAN
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Sejak pagi buta, Gerbang Utama Sekte Awan Hijau sudah dipenuhi murid.
Para wakil yang terpilih berdiri rapi dalam barisan.
Masing-masing membawa perlengkapan perjalanan.
Suasana dipenuhi semangat sekaligus ketegangan.
Bagaimanapun, Ujian Antar Sekte bukan acara biasa.
Itu adalah ajang yang menentukan reputasi sebuah sekte.
Bahkan hasilnya dapat memengaruhi jumlah sumber daya yang diperoleh setiap sekte untuk beberapa tahun ke depan.
Di depan rombongan berdiri Penatua Li.
Tatapannya menyapu seluruh peserta.
"Kalian mewakili Sekte Awan Hijau."
"Jangan mencari masalah."
"Jangan mempermalukan sekte."
"Dan jangan mati."
Para murid langsung menjawab serempak.
"Baik, Penatua!"
Sementara itu, Chen Mo mengangkat tangan.
Penatua Li memijat pelipisnya.
Ia sudah tahu siapa yang akan bertanya.
"Apa lagi?"
"Kalau ada yang mencari masalah dengan kami duluan bagaimana?"
"Hadapi dengan bijaksana."
"Kalau mereka tetap mencari masalah?"
"Hadapi dengan kemampuanmu."
"Kalau mereka lebih kuat?"
Penatua Li terdiam beberapa saat.
"Lari."
Chen Mo mengangguk puas.
"Itu nasihat yang sangat bijaksana."
Beberapa murid langsung menahan tawa.
Bahkan Lin Qingyue sampai memalingkan wajah.
Tak lama kemudian, perjalanan dimulai.
Tujuan mereka adalah Pegunungan Tengah.
Sebuah wilayah netral tempat berbagai sekte berkumpul untuk mengikuti ujian.
Perjalanan diperkirakan memakan waktu beberapa hari.
Di sepanjang jalan, para murid memanfaatkan waktu untuk berlatih atau bermeditasi.
Namun Chen Mo justru sibuk mengamati pemandangan.
"Kalau di dunia asalku tempat seperti ini pasti jadi objek wisata."
gumamnya.
Lin Qingyue yang berjalan di sampingnya sudah terbiasa mendengar kalimat aneh seperti itu.
Ia bahkan tidak repot bertanya lagi.
Di bahu Chen Mo, Rubah Awan Kecil duduk santai.
Sesekali binatang roh itu melihat ke kanan dan kiri dengan penasaran.
Beberapa murid masih belum terbiasa melihat keberadaannya.
Namun karena Chen Mo terus membawanya ke mana-mana, semua orang mulai menerima kenyataan tersebut.
Hari pertama berjalan lancar.
Hari kedua juga cukup tenang.
Namun memasuki hari ketiga, rombongan akhirnya bertemu peserta dari sekte lain.
Di sebuah jalan pegunungan yang cukup lebar, beberapa kelompok sekte terlihat sedang beristirahat.
Bendera berbagai sekte berkibar tertiup angin.
Aura para murid di sana jelas lebih kuat dibanding murid biasa.
Begitu rombongan Sekte Awan Hijau mendekat, beberapa tatapan langsung mengarah kepada mereka.
Sebagian biasa saja.
Sebagian penuh rasa ingin tahu.
Dan sebagian...
Penuh penghinaan.
Seorang pemuda berjubah biru tertawa kecil.
"Oh?"
"Itu Sekte Awan Hijau?"
Beberapa murid di belakangnya ikut tertawa.
"Katanya sekte itu selalu berada di peringkat bawah."
"Aku dengar benar."
"Mungkin mereka datang hanya untuk meramaikan acara."
Beberapa murid Sekte Awan Hijau langsung menunjukkan ekspresi marah.
Namun Penatua Li memberi isyarat agar mereka tetap tenang.
Sementara itu, Chen Mo terus berjalan seolah tidak mendengar apa pun.
Lin Qingyue meliriknya.
"Kau tidak marah?"
Chen Mo mengangkat bahu.
"Aku pernah diejek tiga tahun penuh."
"Kalimat mereka masih kelas pemula."
Lin Qingyue tidak bisa membantah.
Dibanding pengalaman hidup Chen Mo sebelumnya, ejekan itu memang tidak terlalu berarti.
Namun berbeda dengan Chen Mo...
Rubah Awan Kecil tidak memiliki kesabaran yang sama.
Telinganya langsung berdiri.
Bulu di ekornya mengembang.
Lalu ia memperlihatkan taring kecilnya.
"Grrr..."
Pemuda berjubah biru itu tertawa.
"Lihat."
"Bahkan hewan peliharaan mereka marah."
"Grrr!"
Rubah semakin kesal.
Ia tampak siap menerkam kapan saja.
Chen Mo segera mengangkatnya.
"Tenang."
"Grrr!"
"Jangan gigit orang."
"Grrr!"
"Apalagi sepatu mereka."
Rubah langsung terdiam.
Jelas ia sedang mempertimbangkan usulan itu.
Melihat reaksi binatang kecil tersebut, beberapa murid tidak bisa menahan tawa.
Bahkan murid dari sekte lain ikut tertawa.
Suasana yang sempat tegang akhirnya sedikit mencair.
Meski begitu, ejekan tidak sepenuhnya berhenti.
Sepanjang perjalanan menuju Pegunungan Tengah, berbagai sekte saling mengamati.
Semua orang berusaha menilai kekuatan lawan.
Mencari informasi.
Menentukan siapa yang perlu diwaspadai.
Dan siapa yang bisa diremehkan.
Sayangnya bagi Sekte Awan Hijau...
Kebanyakan sekte menempatkan mereka dalam kategori kedua.
Malam harinya, rombongan tiba di area perkemahan besar yang dibangun di kaki Pegunungan Tengah.
Ratusan tenda memenuhi area tersebut.
Para murid dari berbagai sekte terlihat hilir mudik.
Suasananya jauh lebih ramai dibanding kota kecil.
Saat melihat pemandangan itu, Chen Mo menyadari sesuatu.
Ini bukan lagi kompetisi sederhana antar murid.
Terlalu banyak peserta.
Terlalu banyak kepentingan.
Terlalu banyak sekte yang terlibat.
Ia teringat peringatan Penatua Li sebelum berangkat.
Di dunia kultivasi, ancaman tidak selalu datang dari arena pertarungan.
Terkadang justru datang dari luar arena.
Saat malam semakin larut, Chen Mo berdiri di depan tendanya.
Memandangi ratusan cahaya yang menyala di seluruh perkemahan.
Entah kenapa, ia memiliki firasat aneh.
Ujian kali ini tidak akan sesederhana yang dibayangkannya.
Karena di tempat berkumpulnya begitu banyak sekte...
Persaingan tidak hanya terjadi lewat kekuatan.
Tetapi juga lewat tipu daya, persekutuan, dan intrik yang tersembunyi di balik senyum ramah para kultivator.