"Mas, kamu harus tau. Mantan suamiku dulu, dia sempat menyesal karena mengambil keputusan terlalu cepat dan dalam keadaan emosi."
Menghirup nafas lebih dalam, Rey menyadari kesalahannya. "Dan itu sama dengan yang Mas lakukan ke kamu?"
"Iya,"
Rey menyesali ucapan talaknya yang diucapkan satu kali. Lantas apa yang membuat Fitri hampir dicerai lagi oleh suami keduanya?
Kesalahan apa yang dilakukannya dimasa lalu yang menyebabkan hidupnya di penuhi sejuta luka?
(adult romance)
Jangan lupa siapin tisu sebelum membaca dari bab awal 😢
@ana_miauw
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan laki-laki tampan
Taraaaaa ! Babang Reyhan sudah datang!
Dua tahun kemudian.
Hampir setengah kaki Fitri terbenam di lumpur persawahan dengan kaus kaki yang masih menempel. Tangannya meraba menancapkan bibit padi dengan cepat dan berjalan mundur. Satu kotak sawah lumayan lebar rampung ia tanami bibit padi.
Karena apa? Di Desa ini tidak ada pekerjaan lain selain bercocok tanam. Biasanya Fitri menyuruh seseorang, membayarnya untuk mengerjakan semua ini. Tapi saat ini sedang musim penghujan, hampir semua penduduk di desa ini turut sibuk mengolah sawahnya sendiri-sendiri. Beruntung juga karena cuaca hari ini lumayan mendung.
Dua tahun telah berlalu, bisa dikatakan Fitri ini memang, bodoh. Jika seseorang patah hati, sudah pasti orang itu akan menenangkan diri, tetapi tetap berada di tempat kelahirannya. Tapi yang terjadi dengan Fitri justru lain, Fitri memilih hidup di desa untuk melupakan semuanya.
Ibunya sudah menasehatinya, tidak perlu sampai sejauh itu. Karena ibunya pasti selalu merindukan Fitri. Tapi Fitri tetap bersikukuh tinggal disini. Nyatanya, tempat ini mungkin lebih nyaman untuknya. Ibu tidak bisa melarang.
Hari-hari Fitri diisi dengan menyendiri, diselingi bekerja di rumah menjadi seorang penjahit. Tempat kost yang dulu sudah ditinggalkan, ibu mengirimkan sejumlah uang untuk membeli rumah sederhana. Yang pasti harganya jauh lebih murah karena rumahnya berada di pelosok, masih sangat banyak persawahan dan hutan pinus.
Lama Fitri terdiam menghilangkan lelah, pelipisnya dibasahi keringat. Tangan kirinya menyeka sisa-sisa keringat itu. "Fiuhhh..."
Dia sedang duduk disebuah gubuk, menenggak air di botol minum sampai tandas. Dahaganya langsung terasa berkurang!
Jangan ditanya bagaimana keadaan baju dan hijabnya sekarang. Tidak ada yang selamat dari lumpur, belepotan!
Adzan dzuhur telah berkumandang, Fitri segera meraih botol minumnya dan beberapa barang yang dibawa lalu menuju ke rumah, lokasinya tidak jauh hanya sekitar lima ratus meteran. Tepatnya, sawah itu ada dibelakang rumah.
Belum sampai Fitri menuju ke rumah, di pintu depan terlihat seorang laki-laki tinggi berkemeja putih sedang duduk. Kalau dilihat-lihat, dia seperti bukan orang sini. Siapa dia, apa maksud kedatangannya?
Menyadari kedatangan Fitri, pria itu langsung berdiri. Melihat Fitri dari atas sampai kebawah tanpa berkedip. Mungkin, dia sedang bermonolog pada dirinya sendiri, kenapa badan Fitri sangat kotor? Kaki tanpa sandal namun berkaos kaki. Hmm rupanya Fitri sangat menjaga auratnya selama ini.
"Assalamualaikum..." Fitri mengucapkan salam, membuat pria itu membuyarkan lamunannya.
"Eh, wa'alaikum salam..."
"Cari siapa yah Mas?"
"Aku cari kamu," mendengar pria itu mencarinya, Fitri mengangkat alisnya. "Maksudku, kamu yang namanya Fitri kan?" Tanya pria itu lagi.
"Iya benar namaku Fitri, ada apa ya Mas?" Tanya Fitri balik.
Pria itu mengangkat paper bag di tangannya, "Aku disuruh budheku untuk mengantarkan ini. Beliau sudah menghubungimu tadi, tapi nggak diangkat."
"Owh iya, tadi aku sedang berada di sawah."
Kemungkinan isi paperbag itu adalah jahitan, batin Fitri. "Bude siapa Mas, kalau boleh tau."
"Bude Ningsih, beliau udah ngirim pesan kok. Tinggal kamu baca." Pria itu mengulurkan paperbagnya pada Fitri. Fitri mengulurkan tangan putih bak saljunya menerima paperbag itu.
Pria itu benar-benar terkesima dengan Fitri, cantiknya bukan main. Kok ada ya, bidadari dikampung? Ini di pelosok loh? Meskipun wajah Fitri terciprat lumpur, bajunya kotor, tapi sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikannya.
"Kamu cantik." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut pria itu, padahal niatnya memuji dalam hati.
Entah sudah berapa ratus kali Fitri mendengar pujian cantik itu dari orang-orang. Sebenarnya, sekarang pun Fitri merasa sudah jadi ladang fitnah. Banyak ibu-ibu yang sudah resah karena para suami-suami mereka tergila-gila pada Fitri. Jangan dikira Fitri tidak ada yang melamar selama ini. Baanyaak, tapi ditolaknya secara halus. Sebelum ia benar-benar yakin pada dirinya sendiri. Maklum, dia seorang janda!
"Makasih." Jawab Fitri. Pria itu meringis malu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh pria itu benar-benar ingin mengajaknya berkenalan. Tapi paling tidak, sekarang ia sudah tau namanya. Tadinya pria itu sangat malas ketika disuruh-suruh budenya. Tapi sesampainya disini, pria itu merasa tidak merugi sama sekali. Malah seperti enggan untuk pulang.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Fitri melangkah membuka knop pintu rumahnya, meletakkan paperbag dekat mesin jahitnya, lalu menuju ke kamar mandi membersihkan diri.
***
Setelah membersihkan diri dan shalat dhuhur, Fitri mengambil ponselnya. Benar dugaannya, Ibu Ningsih menyuruhnya untuk menjahitkan bahan yang dia beli, bu Ningsih mengirimkan contoh foto baju jadinya. Jari lentiknya langsung bergerak membuka paper bag itu dan mulai membuat pola jahitan.
Seulas senyum mengembang dibibir Fitri, pria yang tadi bilang Ningsih adalah budenya? Tapi sepertinya dia baru melihat. Kalau diingat-ingat pria itu lumayan tampan. Kemungkinan dia adalah keponakannya yang tinggal di kota. Tiga hari ini tanggal merah, pasti pria itu sedang berkunjung kerumah budenya untuk sekedar berlibur. Mungkin.
Fitri memang pernah gagal berumah tangga, pernah trauma juga. Tapi seiring berjalannya waktu dia juga berfikir. Nggak mungkin kan, selamanya hidup menjanda. Jadi keinginan menikah itu masih ada. Ngga salah kan kalau dia jatuh cinta?
.....
Biar lebih dekat dengan mbak Fitri, follow IG otor yah...
@Ana_miauw
Klik profil aku ya sayang!...❤
pemeran utama pria selalu salah, dia dibohongi ujung2 dia juga yang salah, dia pergi kerja lama dia juga salah, dua ujuga yang dibuat menyesal, mengemis2 maaf, pemeran utama pria di novel selalu dibuat karakter bodoh yang Terima saja diperlakukan apapun dan pada lahir dia dibuat mengemis2 pada istrinya
pemeran utama wanita selalu akan dibenarkan, dia membohongi suami dengan kebohongan yang sangat menyakitkan tapi ujung2 pemeran utama pria juga yang salah dan mengemus maaf, pemeran utama wanita pergi dari rumah dan buat suami kayak pengemis dan menderita novel anggap biasa saja bukan kesalahan yang perlu dibesar2kan dan tidak perlu minta maaf tapi pemeran utama pria pergi karena kerja yang sangat penting udah dibuat jadi kesalahan fatal dan dapat hukuman dan diremehkan pria lain
vano lelaki lain yang suka pada pemeran utama pria terlalu diistimewakan dan tidak pernah dianggap salah dan bisa merasakan tubuh pemeran utama wanita dan bebas memprovokasi pemeran utama pria, kesalahan sangat banyak, meleceh wanita, memaki jalang pada peran utama wanita, menghancurkan rumah tangga adiknya tapi karena tidak dianggap salah dana tidak perlu dapat balasan