"Di kehidupan sebelumnya, Siti Aminah meninggal di tangan suami dan keluarganya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke awal pernikahannya. Mengetahui semua pengkhianatan yang akan terjadi, Aminah tak lagi tinggal diam.
Hal yang pertama ia lakukan adalah memberi pelajaran kepada anak tirinya, mempermalukan ibu mertuanya, dan menghajar suaminya hingga masuk rumah sakit. Tak hanya itu, Aminah juga memastikan keluarganya sendiri hancur sebagai bayaran telah menjual dirinya ke dalam pernikahan ini!
Kali ini, Aminah akan memastikan dirinya bahagia di atas penderitaan musuhnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Pagi itu, Aminah berdiri di depan cermin kecil kamar penginapan. Wajahnya tampak lebih tegas daripada beberapa minggu lalu. Tidak ada lagi keraguan yang samar di matanya. Ia sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.
Uang tunai yang ia ambil dari rumah orang tuanya telah ia hitung berulang kali. Setelah disisihkan untuk kebutuhan harian dan latihan, sebagian besar ia masukkan ke dalam tas kain sederhana. Hari ini, ia akan mengamankannya.
Di bank, antrean tidak terlalu panjang. Aminah mengenakan pakaian sederhana dan berbicara dengan nada tenang ketika membuka rekening tambahan untuk menyimpan uangnya. Ia menyetorkan sebagian besar dana tunai yang ia miliki. Angka di buku tabungan membuatnya menarik napas panjang.
Belum cukup.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memiliki kendali atas sesuatu yang nyata.
Keluar dari bank, ia tidak langsung kembali ke penginapan. Ia berjalan menuju toko emas di pasar lama. Toko itu kecil tetapi cukup terkenal karena menerima jual beli dan tukar tambah perhiasan.
Dari tasnya, ia mengeluarkan sepasang anting dan cincin emas milik Maria—barang yang sebelumnya ia ambil secara diam-diam dari laci rias. Ia masih ingat bagaimana Maria memamerkannya di acara keluarga, menyebutnya “hasil kerja keras”.
Penjual emas menimbangnya dengan timbangan digital kecil.
“Dua puluh dua gram,” katanya.
Harga emas hari itu 88.000 rupiah per gram.
Aminah tidak berniat menjual seluruhnya untuk uang tunai. Ia meminta tukar tambah dengan gelang emas baru seberat sama—dua puluh dua gram—untuk memudahkan penyimpanan dan investasi jangka panjang. Setelah dihitung biaya penukaran dan selisih harga, ia menambahkan 104.000 rupiah.
Gelang emas baru itu terasa dingin di pergelangan tangannya.
Ia tidak memakainya untuk gaya.
Ia memakainya sebagai simbol.
Ini bukan sekadar emas. Ini adalah fondasi masa depan. Uang untuk membeli rumah. Rumah yang tidak bisa diusir siapa pun. Rumah yang bisa ia tempati bersama Rio tanpa takut diancam atau dipaksa menikah demi uang.
Sore harinya, ia naik angkutan kota menuju sebuah kawasan yang masih sepi pembangunan: kompleks perumahan Suana Sutra. Di sekelilingnya masih banyak lahan kosong dan tanah merah, tetapi papan besar di gerbang menunjukkan gambar rumah-rumah megah dengan taman rapi.
Ia berdiri lama membaca brosur harga.
98.000 rupiah per meter persegi.
Rumah terkecil berukuran 52 meter persegi.
Artinya, harga totalnya 5.096.000 rupiah.
Aminah menghitung cepat di dalam hati.
Tabungannya, ditambah nilai emas yang ia miliki, masih belum cukup.
Jaraknya tidak terlalu jauh—tetapi tetap saja belum bisa dijangkau.
Ia tidak merasa putus asa. Justru sebaliknya, angka itu memberinya target yang jelas.
Di papan informasi kecil, ia melihat tulisan tentang Program Subsidi Perumahan 33%. Program itu memungkinkan pembeli membayar hanya sepertiga harga rumah, sisanya ditanggung subsidi dan skema cicilan jangka panjang.
Sepertiga dari 5.096.000 rupiah.
Itu berarti sekitar 1.698.667 rupiah.
Jumlah itu jauh lebih masuk akal.
Mata Aminah berbinar.
Ia tidak tahu persis bagaimana cara mendapatkan kuota program tersebut, tetapi ia tahu satu hal: kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.
“Aku akan cari cara,” gumamnya pelan.
Ia membayangkan sebuah rumah kecil dengan dua kamar. Dapur sederhana tempat Rio bisa memasak. Halaman kecil untuk menjemur pakaian. Tidak besar, tetapi milik mereka sendiri.
Malam itu di penginapan, ia menyusun rencana. Ia harus mencari informasi tentang syarat program subsidi, mungkin melalui kantor kelurahan atau dinas perumahan. Ia juga harus memastikan Rio benar-benar berhenti dari tambang dan kembali secepatnya.
Sementara itu, di sisi lain kota, keadaan di rumah orang tuanya semakin memburuk.
Budi dan Adi semakin sering bolos sekolah. Awalnya hanya satu hari dalam seminggu, lalu menjadi dua, kemudian hampir setiap hari. Guru sempat mengirim pesan melalui tetangga, tetapi Maria terlalu sibuk dengan urusannya sendiri untuk benar-benar memeriksa.
Uang yang mereka curi dari lemari telah habis sebagian besar di mesin permainan arcade.
Namun bukan hanya itu.
Anak-anak jalanan yang mereka kenal mulai mengajak mereka ke tempat yang lebih tersembunyi—sebuah rumah kecil di gang gelap, dengan jendela tertutup kain tebal. Di dalamnya ada televisi tua dan pemutar video.
Di sanalah mereka mulai menonton hal-hal yang seharusnya belum mereka lihat.
Budi awalnya merasa aneh dan malu, tetapi dorongan rasa ingin tahu dan keinginan terlihat “dewasa” di depan teman-temannya membuatnya tetap tinggal. Adi, yang lebih penurut, mengikuti saja.
Setiap hari mereka semakin jauh dari buku pelajaran, semakin dekat pada dunia yang gelap dan liar.
Aminah mengetahui semua itu.
Ia tidak sengaja melihat Budi suatu sore keluar dari gang tersebut dengan wajah pucat dan mata yang berbeda dari biasanya. Ia juga mendengar desas-desus dari anak-anak sekitar tentang uang yang tiba-tiba mengalir deras dari tangan bocah kecil.
Ia mengamati dari jauh, tanpa ikut campur.
Di dalam hatinya, ada kepuasan yang pahit.
Inilah akibatnya.
Keluarga yang menanam ketidakadilan dan kekerasan kini melihat anak kesayangan mereka perlahan menyimpang.
Ia tidak perlu berteriak atau memukul.
Cukup satu dorongan kecil pada waktu yang tepat.
Namun di balik rasa puas itu, ada sesuatu yang samar bergetar di dadanya—bukan penyesalan, tetapi kesadaran bahwa jalan yang ia pilih juga bukan jalan yang bersih.
Ia menepis pikiran itu.
Ini bagian dari dendam, katanya pada diri sendiri.
Mereka ingin menyerahkanku pada Andre.
Mereka ingin hidupku hancur.
Kalau begitu, biarlah mereka merasakan kehilangan.
Di balkon kecil penginapan, Aminah memandang lampu-lampu kota yang berkilau di kejauhan. Kompleks Suana Sutra berdiri di sisi lain kota, masih dalam tahap pembangunan, tetapi di matanya sudah menjadi simbol masa depan.
Ia menggenggam gelang emas di pergelangan tangannya.
ᴛᴏᴘ ᴍᴀʀᴋᴏᴛᴏᴘ...👍👍
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ sᴇᴘᴇʀᴛɪɴʏᴀ...
katana dina dan siti itukan 2 orang anak perempuan jadi 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan empat orang anak kan 🤔🤔