6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - TINGGAL TIGA
Lampu minyak padam. Gelap total. Pintu posko yang tadi digedor keras, kini terbuka dengan sendirinya, menganga lebar seperti mulut yang siap menelan.
Angin dingin yang sangat busuk menerobos masuk. Bau lumpur, bau bangkai, dan bau anyir darah bercampur menjadi satu. Bau itu berasal dari air hitam yang kini membanjiri lantai posko.
Bayu masih menahan pintu dengan punggungnya, padahal pintu itu sudah terbuka. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya terengah-engah tidak beraturan. Matanya melot menatap kegelapan di luar.
"RINI! SINTA! JANGAN LEPAS PEGANGAN MEJA! JANGAN SAMPAI KAKI KALIAN KE TARIK!" Bayu berteriak panik.
Air hitam di lantai semakin tinggi, sudah setinggi mata kaki orang dewasa. Air itu tidak seperti air biasa. Air itu kental, hitam pekat seperti oli, dan dinginnya menusuk sampai ke tulang. Dari dalam air hitam itu, muncul puluhan tangan-tangan pucat kecil. Tangan anak-anak. Tangan-tangan itu memutih, kukunya panjang hitam, berusaha menarik kaki Rini ke bawah lantai.
Rini menjerit histeris. Ia merasa kakinya ditarik dengan sangat kuat. Ia berusaha meraih kaki meja kayu yang berat agar tidak tenggelam. "BAYU! TOLONG AKU! KAKI AKU DITARIK! DINGIN BANGET!"
Sinta yang ada di pojokan dekat dapur sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa menangis histeris tanpa suara. Ia naik ke atas kursi kayu yang sudah rapuh, memeluk lututnya. Air hitam itu sudah mengepung kursi yang ia duduki. Ia melihat ada rambut panjang hitam yang mengambang di dalam air itu, melilit kaki kursinya.
Tiba-tiba, semuanya berhenti total. Gedoran pintu berhenti. Air hitam berhenti bergerak. Tangan-tangan pucat itu diam. Sunyi senyap. Hanya terdengar detak jantung mereka bertiga yang sangat kencang.
Dari pintu yang terbuka lebar itu, muncul sosok yang sangat mereka kenal. Maya.
Tapi Maya yang ini bukan Maya teman KKN mereka. Wajah Maya pucat pasi seperti mayat yang sudah berhari-hari di dalam air. Matanya hitam semua, tanpa ada putihnya sama sekali. Senyumnya robek lebar sampai hampir mencapai telinganya, menunjukkan gigi-gigi hitam runcing. Rambutnya yang basah meneteskan air hitam yang menetes ke lantai.
Di belakang Maya, berdiri Dito. Kondisi Dito lebih parah. Lehernya patah miring, ada bekas cakaran dalam yang menganga di lehernya, mengeluarkan darah hitam kental. Di sebelah Dito, ada dua sosok anak kecil desa. Anak-anak itu yang dulu sering mereka lihat bermain di dekat sumur. Wajah anak-anak itu hancur, penuh lumpur.
Maya memiringkan kepalanya, menatap Rini dengan tatapan kosong.
"Masuk... Rini... Bayu... Sinta... semuanya sudah hangat di dalam sumur... di bawah sana tidak dingin lagi... tidak kesepian lagi... ikut kami..." Suara Maya menggema, bukan satu suara, tapi seperti ribuan suara orang menangis dan tertawa bersamaan.
Bayu yang sudah sangat panik, mengambil gagang sapu kayu yang ada di dekatnya dan memukulkannya sekuat tenaga ke arah tubuh Maya.
WUSSH!
Sapu itu menembus tubuh Maya begitu saja, seperti memukul asap atau kabut. Tidak ada perlawanan. Maya hanya tertawa melengking. Tawa itu sangat keras, sangat melengking, sampai kaca jendela posko bergetar dan pecah berantakan.
"PERGI! JANGAN GANGGU KAMI! KAMI CUMA MAU KKN! KAMI NGGAK SALAH APA-APA!" Bayu berteriak sambil menangis.
Rini yang kakinya masih ditarik, tiba-tiba teringat sesuatu. Kalung pemberian neneknya. Sebelum berangkat KKN, neneknya memberikan sebuah kalung kayu tua dengan liontin kecil berbentuk bulat, dan berpesan, "Pakai terus ya Rin, kalau kamu merasa takut, genggam yang erat dan sebut nama Tuhan."
Dengan tangan gemetar yang basah oleh air hitam, Rini merogoh saku celana kotornya. Ia menemukan kalung itu. Ia menggenggam liontin kayu itu erat-erat di dalam telapak tangannya.
Ia memejamkan mata, mengumpulkan semua keberaniannya yang tersisa.
"ALLAHU AKBAR!!!"
Rini berteriak sekeras-kerasnya, sekuat tenaga, sampai tenggorokannya sakit.
Seketika itu juga, liontin kayu kecil di tangannya mengeluarkan cahaya putih yang sangat terang, sangat menyilaukan. Cahaya itu seperti lampu sorot, menyebar ke seluruh ruangan posko yang gelap.
AAAAAAARGHHHHHH!!!
Maya, Dito, dan sosok anak kecil itu menjerit kesakitan yang luar biasa ketika terkena cahaya putih itu. Tubuh mereka berasap, seperti terbakar. Mereka mundur beberapa langkah, menutup mata hitam mereka dengan tangan pucat mereka.
Air hitam di lantai mendesis seperti air yang terkena besi panas, dan perlahan-lahan surut, kembali masuk ke dalam celah-celah lantai kayu.
Tangan-tangan pucat yang menarik kaki Rini juga meleleh dan menghilang.
"SEKARANG! LARI! KELUAR DARI POSKO SEKARANG!" Rini menarik tangan Sinta yang masih di atas kursi, dan menarik baju Bayu.
Mereka bertiga tidak berpikir panjang lagi. Mereka berlari sekuat tenaga menerobos pintu depan, melewati Maya dan Dito yang masih menjerit kesakitan karena cahaya liontin Rini.
Mereka berlari keluar dari posko KKN yang sudah hampir tenggelam itu, berlari tanpa arah menuju hutan gelap di belakang balai desa. Mereka berlari tanpa menoleh ke belakang, meskipun suara tawa melengking, suara tangisan, dan suara teriakan "JANGAN TINGGALKAN KAMI!!!" masih terdengar sangat jelas mengejar mereka dari belakang.
Napas mereka terengah-engah. Kaki mereka berdarah karena terkena ranting dan batu tajam di hutan.
Setelah berlari jauh, sekitar sepuluh menit, mereka berhenti di bawah pohon beringin besar. Mereka bersandar di pohon itu, kelelahan.
Di belakang mereka, dari kejauhan, mereka bisa melihat posko KKN mereka. Posko itu kini sudah tidak terlihat lagi. Yang terlihat hanya kegelapan pekat yang berputar-putar di atas posko itu, dan air hitam yang perlahan-lahan menelan seluruh bangunan posko ke dalam tanah.
Posko itu hilang. Ditelen sumur keramat.
Bayu melihat jam tangan kecilnya yang masih menyala. Jam menunjukkan pukul 00:15 malam.
Hutan di sekitar mereka sunyi senyap. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara burung. Hanya suara napas mereka bertiga.
Mereka bertiga kini benar-benar sendirian di tengah hutan Desa Mati yang luas dan gelap. Tidak ada posko untuk kembali. Tidak ada jalan keluar. Dan mereka tahu, apa yang ada di sumur itu, pasti akan mengejar mereka sampai ke sini.
Tinggal tiga orang yang masih hidup malam ini.
Sinta masih menangis sesenggukan, bahunya naik turun. Ia memeluk erat tas kecilnya yang basah.
"Bayu... Rini... kita... kita mau kemana sekarang? Posko udah hilang... kita nggak punya tempat..." suara Sinta parau karena terlalu banyak menangis.
Bayu mengusap wajahnya yang kotor penuh lumpur. Ia mencoba berpikir jernih, padahal otaknya masih sangat panik. Ia melihat sekeliling hutan. Gelap. Pohon-pohon tinggi menjulang, akar-akar besar melintang di tanah.
"Kita harus cari balai desa, atau rumah Pak Lurah. Pak Lurah pasti tau cara keluar dari desa ini. Dia yang bilang ada jam keramat," kata Bayu dengan suara gemetar.
Rini menggeleng pelan. Tangannya masih menggenggam erat liontin kayu neneknya. Liontin itu masih terasa hangat, masih mengeluarkan cahaya redup.
"Nggak, Bayu... aku rasa Pak Lurah juga bukan manusia..." Rini berbisik. "Ingat nggak? Waktu pertama kita datang, Pak Lurah nggak pernah keluar siang hari. Matanya juga aneh... dan dia yang nyuruh kita tinggal di posko dekat sumur itu..."
Mendengar perkataan Rini, Bayu dan Sinta langsung merinding. Bulu kuduk mereka berdiri.
"Jadi... jadi Pak Lurah sengaja numbalin kita?" Sinta bertanya lirih.
Belum sempat Rini menjawab, tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari dalam hutan yang gelap.
KRETEK...
Mereka bertiga langsung diam, menahan napas.
KRETEK... KRETEK...
Ada langkah kaki. Langkah kaki berat, menyeret sesuatu di tanah. Dari balik pepohonan gelap, muncul cahaya obor yang temaram.
Itu Pak Lurah.
Pak Lurah berjalan pelan, membawa obor kayu di tangan kanannya, dan di tangan kirinya menyeret sebuah karung goni besar yang basah dan meneteskan air hitam.
Wajah Pak Lurah tersenyum lebar, senyum yang sama persis dengan senyum Maya tadi. Senyum robek sampai ke telinga.
"Anak-anak KKN... kenapa lari? Acara belum selesai... sumur masih lapar... masih butuh tiga lagi..." Pak Lurah berkata dengan suara berat yang menggema di seluruh hutan.
Cahaya obor itu menyoroti karung goni yang diseret Pak Lurah. Karung itu bergerak-gerak, seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya, meronta-ronta ingin keluar.
Dan dari dalam karung itu, terdengar suara tangisan Maya dan Dito.
"TOLONG KAMI... PANAS... DI DALAM SUMUR PANAS..."
Rini langsung menarik tangan Bayu dan Sinta. "LARI!!!"
Mereka bertiga kembali berlari sekencang-kencangnya ke dalam hutan yang lebih dalam, tanpa arah, tanpa tujuan. Di belakang mereka, tawa Pak Lurah menggema sangat keras, diikuti suara karung goni yang diseret semakin cepat mengejar mereka.
Malam masih sangat panjang di Desa Mati.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐