Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 MUSUH
Pegunungan Es melambai kaku diterpa angin utara yang memotong. Mu Jin menyusuri jalur berbatu, meninggalkan jejak kaki dua biksu yang telah mendahuluinya beberapa jam lalu. Di punggungnya, pedang besi hitam bergoyang perlahan, menyatu dengan irama langkahnya yang makin berat.
Langkahnya terhenti.
Bukan karena rasa lelah, melainkan karena getaran halus di atas tanah yang merayap menembus sol sepatu jeraminya. Di udara yang dingin, bau dupa cendana yang lembut perlahan membaur dengan bau debu kering, aroma khas yang hanya dimiliki oleh para murid elit Puncak Awan Putih.
Di atas sebuah batu cadas tinggi yang menghadang jalan, berdiri seorang pria bergaun sutra putih bertorehkan benang perak. Wajahnya rupawan, tajam, dan angkuh. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang berornamen giok hijau, sebuah senjata yang ditempa khusus untuk para ahli beladiri tingkat atas Sekte Pedang Suci.
Dia adalah Feng Xiao, salah satu eksekutor kepercayaan Lu Chen yang memimpin pembantaian di Sekte Burung Hong.
“Kau melangkah terlalu jauh untuk seorang bangkai berjalan,” suara Feng Xiao bergema bening, sarat akan tenaga dalam yang teratur.
Mu Jin menatap pria di atas batu itu. Wajahnya tidak menunjukkan rasa terkejut atau takut. Tangan kirinya bergerak perlahan, meraba gagang besi hitam di punggungnya. “Orang-orang bertopeng tembaga...”
“Ah, kau mengenali aromanya?” Feng Xiao terkekeh pelan, melompat turun dari batu cadas tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Gerakannya seringan bulu, menandakan tingkat penguasaan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi. “Ketua Lu Chen memang memerintahkan kami untuk membiarkanmu hidup. Katanya, seorang cacing tanah dari Lembah Nian yang mendendam bisa menjadi pion yang berguna untuk memancing si anak haram, Lin Yu.”
Feng Xiao melangkah mendekat, matanya menatap Mu Jin dengan pandangan hina yang mendalam.
“Tapi bagiku, itu pemikiran yang terlalu rumit,” lanjut Feng Xiao sambil menarik pedang gioknya. Bilah besi itu berkilau menakutkan di bawah sinar matahari yang redup. “Kau bukan siapa-siapa, Mu Jin. Kau tidak punya qi, tidak punya sekte, dan tidak punya pengaruh apa pun di Murim ini. Biarkan cacing tetap menjadi cacing. Membiarkanmu bernapas hanya mengotori pemandangan di tanah utara.”
Mu Jin tidak membalas dengan kata-kata. Dia menarik pedang besi hitamnya dari sarung kayu dengan satu sentakan mantap.
SRET!
Besi tebal itu terangkat. Tumpuan kaki Mu Jin merendah, pinggulnya memutar, persis seperti yang dianjurkan Lu Xian dan hasil dari ribuan kali tebasan kaku yang dia lakukan setiap malam.
“Teknik membelah kayu?” Feng Xiao tersenyum mengejek. “Kau mencoba melawan ilmu pedang tingkat tinggi dengan gerakan petani?”
Dalam sekejap mata, sosok Feng Xiao kabur.
WUSH!
Tiga bayangan perak tercipta di udara. Sebelum Mu Jin sempat menyadari arah serangan lawan, sebuah tebasan angin tajam menghantam dadanya. Kain kusam Mu Jin terobek, darah segar menyembur keluar bersamaan dengan rasa panas yang membakar kulitnya.
Mu Jin tidak mundur. Rasa sakit itu justru menjadi pemicu refleksnya. Dia menghentakkan tumit kirinya ke tanah batu, memanfaatkan momentum dorongan tubuhnya untuk mengayunkan pedang besi hitam secara mendatar dari bawah.
Tebasan itu tidak memiliki aura qi, namun massa besi tebal yang bergerak dengan kecepatan penuh itu menciptakan angin pukulan yang sangat masif.
BRAK!
Ujung pedang tebal Mu Jin menghantam tebing batu di dekat Feng Xiao, menghancurkan cadas menjadi serpihan kecil yang berhamburan. Feng Xiao yang melompat menghindari tebasan itu sedikit terkejut. Kecepatan dan bobot pukulan Mu Jin jauh di luar perkiraannya untuk seorang manusia biasa tanpa tenaga dalam.
“Pengalaman bertarung yang kasar...” gumam Feng Xiao di udara. Dia memutar tubuhnya, mendarat di atas bilah pedang Mu Jin yang sedang tertancap di batu, lalu menendang dada Mu Jin dengan dorongan tenaga dalam yang kuat.
DUK!
Mu Jin terlempar lima meter ke belakang, menghantam tanah berdebu. Rusuknya berderak hebat, udara terpaksa keluar dari paru-parunya. Namun, sebelum Feng Xiao sempat mendarat untuk menusuk lehernya, Mu Jin berguling di tanah, mengayunkan kakinya untuk menyapu tumpuan jatuh Feng Xiao.
Feng Xiao terpaksa membalikkan badan di udara untuk menjaga keseimbangan. “Cacing ini... tubuhnya keras seperti batu!”
Mu Jin bangkit kembali dengan cepat. Wajahnya yang berlumuran darah segar tampak makin mengerikan. Dia tidak bertarung seperti seorang pendekar yang menjaga kehormatan. Dia bertarung seperti binatang buas yang terluka. Setiap kali Feng Xiao menebas lukanya, Mu Jin menggunakan rasa sakit itu untuk mengunci arah pergerakan musuh dan melancarkan balasan liar dengan pedang besinya.
KLANG! KLANG! KLANG!
Benturan demi benturan beruntun bergema di celah pegunungan. Pedang giok milik Feng Xiao yang anggun beberapa kali terdorong hebat saat bertubrukan langsung dengan punggung besi tebal Mu Jin. Pergelangan tangan Feng Xiao bahkan mulai terasa panas menahan tolakan benturan mentah yang tidak rasional tersebut.
“Keparat!” desis Feng Xiao, kekesalannya mulai memuncak. Dia, seorang murid elit Puncak Awan Putih, dipaksa bersusah payah dan kehabisan napas oleh seorang tukang kayu yang bahkan tidak bisa mengeluarkan seberkas qi.
Mu Jin terus menerjang maju, mengabaikan luka-luka tebasan baru yang terus bertambah di lengan dan bahunya. Matanya yang mati terkunci lurus pada tenggorokan Feng Xiao. Dalam benak Mu Jin, pria bergaun putih di hadapannya ini adalah salah satu tangan yang memegang obor di desanya tiga tahun lalu, dan selama tangannya masih sanggup menggenggam besi kaku ini, dia tidak akan berhenti mengayun.