Di kota Plaguehart, Profesor Arya Pratama melakukan eksperimen berbahaya untuk menghidupkan kembali istrinya, Lara, menggunakan sampel darah putrinya, Widya. Namun, eksperimen itu gagal, mengubah Lara menjadi zombie haus darah. Wabah tersebut menyebar cepat, mengubah penduduk menjadi makhluk mengerikan.
Widya, bersama adiknya dan beberapa teman, berjuang melawan zombie dan mencari kebenaran di balik wabah. Dengan bantuan Efri, seorang dosen bioteknologi, mereka menyelidiki lebih dalam, menemukan kebenaran mengerikan tentang ayah dan ibunya. Widya harus menghadapi kenyataan pahit dan mengambil keputusan yang menentukan nasib kota dan hidupnya.
Mampukah Widya menyelamatkan kota dengan bantuan Dosen Efri? Atau justru dia pada akhirnya ikut terinfeksi oleh wabah virus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pramesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Bawah Tanah
Di kampus, di bawah anak tangga, zombie-zombie itu bergerak kaku dan semakin mendekat ke arah mereka. Dengan gesit, Alvin dan Aldo mengayunkan linggis mereka dengan geram, menghantam kepala zombie yang pertama kali mendekat. Eric, dengan kecepatan tinggi, melompat maju dan mulai menggunakan jurus beladiri untuk menendang wajah zombie dengan presisi yang luar biasa. Sedangkan Erin dan Lina berlari ke samping, membantu Eric, menghantam kepala zombie yang muncul dari sisi lain menggunakan tongkat besi pada genggaman erat mereka.
"Hancurkan kepala mereka semua!" teriak Efri, yang ternyata sudah menebaskan dan membelah beberapa kepala zombie menjadi dua menggunakan kapaknya. Sementara itu, Roger yang ada di sisinya, meninju kepala zombie dengan sangat keras. "Sial! Mereka semakin banyak," kata Roger, yang hampir tergigit zombie karena dirinya melawan dengan tangan kosong.
Seketika itu, segerombolan zombie terus menyerbu mereka, geraman kelaparan sangat terdengar jelas dari zombie-zombie. Chaca dan Rossa hanya bisa berteriak ketakutan, dan berlindung di belakang tubuh Alvin dan Aldo.
Salah satu zombie, merangkak dan berhasil meraih kaki Chaca. "Alvin, tolong aku!" teriaknya, dengan suara bergetar.
Alvin yang mendengar teriakan Chaca, segera menoleh ke belakang. Dengan gesit, melompat dan menendang zombie itu yang hendak mencakar kaki Chaca. "Kamu baik-baik saja?" Alvin bertanya, memegang pundak Chaca.
Chaca mengangguk. "Terimakasih," katanya. Namun, tiba-tiba zombie yang berhasil Alvin tendang, kembali bangkit dan hendak melompat ke arahnya.
"Alvin, awas!" teriak Aldo, secepat kilat menghantamkan kepala zombie itu dengan linggisnya. Alvin terkejut, zombie itu ambruk di dekatnya.
Sementara itu, anak tangga yang dipenuhi dengan zombie dan menutupi jalur mereka menuju lantai dua, akhirnya bisa di lewati.
Efri yang berdiri dekat dengan anak tangga, memberi isyarat untuk segera berlari menuju lantai dua. "Ayo, cepat naik!" kata Efri, semuanya mulai berlari dengan sangat tergesa-gesa dan saling dorong.
Setelah berhasil mencapai lantai dua, mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas, namun semuanya terkejut. Ternyata, ada beberapa zombie lagi yang telah menunggu mereka di lorong lantai dua.
Lorong itu tampak sempit dan gelap. "Gawat. Kita terjebak disini," kata Alvin, dengan wajah cemas dan menatap semua wajah temannya.
Sementara itu, Efri memberi arahan untuk masuk ke ruang laboratorium yang ada di ujung lorong lantai dua. "Ayo, ke ruang laboratorium! Aku punya kuncinya!" teriak Efri.
Mereka mengangguk. Dengan cepat, berlari melewati beberapa zombie. Efri memimpin jalan, mengangkat kapaknya, memotong beberapa anggota tubuh zombie. Sedangkan Alvin dan Aldo berlari paling belakang, menggenggam linggis dan langsung menghantam kepala zombie yang hendak mendekat.
Sesampai di pintu laboratorium, Efri meraih kunci dan segera membuka pintu itu dengan tangan bergetar. "Ayo! Cepat!" seru Efri, pintunya berhasil terbuka. Efri masuk terlebih dahulu, di susuli Roger dan beberapa mahasiswanya.
Langkah kaki zombie semakin mendekat, Alvin dan Aldo yang paling belakang hampir mencapai pintu laboratorium. "Cepat! Cepat masuk!" teriak Efri, menunggu di ambang pintu.
Namun, kaki Alvin terasa keram dan terkilir. langkah kakinya terhenti di tempat, Aldo menoleh ke arahnya. "Alvin, kakimu kenapa?" tanya Aldo, membantunya untuk berjalan.
"Kakiku keram. Kamu masuk saja ke laboratorium," jawab Alvin, menolak bantuan Aldo. "Tidak. Kamu harus ikut masuk," balas Aldo, dengan cepat menarik Alvin.
Tanpa kata-kata, Alvin dan Aldo melangkah perlahan memasuki ruang laboratorium. Mereka berdua berhasil masuk, dengan cepat Efri menutup pintu laboratorium dan menguncinya dari dalam.
Semuanya bernapas lega, namun itu hanya sementara. Mereka yang awalnya berencana menuju atap sekolah, malah terperangkap di lantai dua dan harus beristirahat sejenak di dalam ruang laboratorium.
Sementara itu, di ruang bawah tanah dalam rumah kecil yang terlantar. Tubuh Widya terikat terbalik, dan tangannya juga terikat erat. kepalanya hampir menyentuh lantai kotor, darah segar terus mengalir dari luka di kepalanya.
(Hanya Ilustrasi)
Namun, di sudut ruangan, tangan Alexa dan Anna sudah terikat erat. Mereka berdua menangis, dan meminta untuk dilepaskan. "Tolong! Lepaskan kami!" teriak Alexa, dengan nada bergetar.
Para preman yang baru saja menarik dan mengikat zombie di dekat Widya, hanya bisa tertawa. Salah satu preman mendekat, meraih pisaunya dan mengayunkan ke wajah Widya, membelai pipinya dengan ujung pisau.
"Bangunlah, Nona. Aku punya kejutan untukmu," katanya, dengan nada penuh ejekan. Namun, preman itu menatap ke leher Widya. Ada sebuah kalung berlambang anggota militer di lehernya, dan mereka baru menyadari jika yang di hadapan mereka adalah seorang anggota militer.
Preman itu menarik kalung Widya. Dengan cepat, melempar ke preman kedua. "Tangkap ini. Ternyata dia seorang anggota militer," ujar preman pertama, melempar kalung milik Widya.
Preman kedua menangkap kalung itu, lalu menatap kalung tersebut sambil tertawa kencang. "Aku tidak menyangka, bisa mendapatkan anggota militer yang sangat lemah ini sebagai santapan ibuku."
Suara tertawa preman itu menggema di ruang bawah tanah, dan geraman zombie dari ibu kedua preman itu sangat mengerikan. Sedangkan Alexa dan Anna menangis ketakutan, dan terlihat wajah mereka tampak pasrah.
Namun, perlahan mata Widya mulai terbuka. Dan pertama kali yang dilihat adalah sosok zombie yang terikat di sebelahnya, menatap dengan mata kosong. Widya terkejut melihat pemandangan itu, dan satu preman yang ada di dekatnya hanya bisa tertawa.
Dengan pisau di tangan, preman itu mencibir dengan jijik. "Akhirnya, kau bangun juga," kata preman itu dengan terburu-buru. "Tapi, sebelum kami jadikan dirimu sebagai santapan pertama. Sebaiknya, wajahmu yang cantik ini, kami ukir saja," sambungnya, menyeringai jahat dan menekankan ujung pisau ke wajah Widya.
Wajah Widya tergores dengan sangat panjang. Dia berteriak kesakitan, darah segar mengalir dari luka yang tergores di pipi. Namun Widya, meskipun terluka dan terikat, menatap preman itu dengan tatapan penuh kebencian. Tanpa berkata apa-apa, dia meludah keras tepat ke wajahnya. "Blak!"
Preman itu langsung terkejut, wajahnya memerah karena marah. "Sialan!" teriaknya, lalu memberikan tamparan keras ke pipi Widya, membuat darah mengalir dari bibirnya.
Namun, tamparan itu justru membuat Widya semakin marah. Dengan cepat, dia menggertakkan gigi dan menghantukkan kepalanya ke wajah preman itu dengan keras. "Kalian berdua, akan ku bunuh!" teriaknya dengan keras, suaranya penuh dengan amarah dan membuat preman itu terhuyung mundur, memegangi wajahnya yang berdarah.
Pisau yang di genggam preman itu, terjatuh ke lantai. Di saat itu, Widya memanfaatkan kesempatan. Dia berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya dan terus meronta sekuat tenaga. Pada akhirnya, dia berhasil mengendurkan ikatan pada salah satu tangannya. Tangan kanan yang terlepas itu, dengan cepat dia meraih pisau yang terjatuh.
Widya mulai memotong tali yang mengikat kaki dan tangannya. Dalam sekejap, ikatan itu terlepas dan dia berhasil bangkit dalam posisi berdiri tegak.
Namun, preman yang kedua melihatnya berhasil terlepas, langsung meraih pisau kecil yang ada di sakunya. Preman itu menyerang dengan pisau di tangannya. Dengan gesit, Widya melompat ke samping, menghindari serangan pisau yang meluncur cepat ke arahnya. Tanpa buang waktu, dia berputar dan memberikan tendangan keras ke perut preman itu. Sehingga tubuhnya terpental ke cermin yang tertempel di dinding ruang bawah tanah.
Kaca itu pecah berhamburan, mengeluarkan suara keras yang memenuhi ruang bawah tanah.
Sementara itu, Alexa dan Anna yang terikat di sudut ruangan mulai bergerak. Memanfaatkan kesempatan, Alexa mengerakkan tubuhnya ke serpihan kaca dari cermin yang pecah. Dia berhasil mengambil satu serpihan, lalu menggesekkannya pada tali yang mengikat tangannya. Setelah beberapa saat, ikatannya terlepas.
"Anna," kata Alexa, membantu putrinya. Tali yang mengikat tangan Anna juga sudah terlepas. Anna langsung memeluk ibunya, tangisan ketakutannya sangat pecah dan menggema di ruang bawah tanah.
Sementara itu, preman pertama yang melihat Alexa dan Anna sudah terlepas. Dia segera bergerak mendekati zombie dan melepaskan ikatan tubuhnya. Zombie itu langsung berlari dan melompat ke arah Alexa yang hendak berdiri. "GRAHHH!"
Terkejut, mata Widya terbelalak lebar, dan berlari dengan kecepatan luar biasa untuk menyelamatkan Alexa. Namun, preman kedua langsung bangkit, menabrak, mendorong tubuh Widya hingga terpental ke samping.
Sementara Alexa, kini lengannya digigit dengan brutal. Alexa meraung kesakitan, namun berusaha untuk berbicara pada Anna untuk segera lari dan selamatkan dirinya. "Anna, cepat selamatkan dirimu!" serunya, dengan suara yang menahan kesakitan.
"Tapi ibu..." kata Anna, dia melangkah mundur dan buliran air mata terus berjatuhan di pipi. Sementara itu, preman yang satunya mendekati Anna, melangkah dan menangkap Anna.
Widya yang melihat itu, segera melemparkan pisau itu dengan presisi yang luar biasa. Pisau itu tertancap tepat di kepalanya, darah segar mengalir deras dari kepalanya. Tubuh preman itu terjatuh dengan suara gemerincing.
Dengan cepat, Widya memutarkan badannya dan menatap ke arah preman kedua yang berdiri di dekatnya. Tanpa berkata apa-apa, Widya meraih serpihan kaca di lantai. Tanpa ragu, dia bangkit dan menusuk serpihan kaca itu ke tenggorokan preman itu. "CRASH!"
Preman itu terkejut dan terjatuh ke lantai. Darah segar muncrat keluar dari tenggorokannya. Sedangkan Anna, berdiri mematung, menangis sejadi-jadinya. Ia memanggil ibunya, "Ibu! Ibu!" namun Alexa hanya bisa menatapnya, dengan tatapan sedih.
"Putriku. Ikutlah dengan Widya," kata Alexa dengan nada yang terbata-bata. "Maafkan ibu, Anna."
Tiba-tiba, tubuh Alexa sudah tidak bergerak lagi. Hancur, sedih, Anna semakin menangis dengan kencang. Widya yang telah berhasil menumbangkan dua preman, merasa bersalah karena telah gagal menyelamatkan Alexa.
Dengan wajah penuh kesedihan, Widya menatap Alexa yang telah tiada. Saat itu juga, zombie yang sudah menggigit Alexa dengan sangat brutal, memutarkan kepalanya dan melirik ke arah mereka. Zombie itu mengeluarkan suara geraman mengerikan. Dengan gerakan cepat, Widya menarik Anna keluar dari ruang bawah tanah.
Mereka berlari menuju pintu keluar rumah kecil yang terlantar itu. Setibanya di luar, tanpa ragu, Widya dan Anna melompat ke motor harley yang tergeletak di halaman depan. "Anna, peluk aku yang erat!" seru Widya, tanpa pikir panjang, ia memutarkan kunci motor Harley. Mesin itu menyala, suara gahar dari motor Harley terdengar sangat keras dan segera melaju kencang meninggalkan rumah itu.