Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 Di jalan pulang
Suara ketukan sepatu di lantai marmer kantor terdengar nyaring. Kenzo menatap dari balik monitor. Dia hapal langkah siapa itu.
Fela melangkah masuk ke area ruangan dengan bahu yang terasa berat.
Kenzo terus mengamati gerak-gerik Fela hingga wanita itu masuk ke dalam ruangan kubusnya.
Kenzo tahu ada yang salah. Ia sempat mendengar percakapan Fela dengan orang W-corp yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Pria itu merendahkan Fela. Dia tidak suka mendengarnya. Menurutnya itu tidak gentle sekali.
Kenzo menggenggam pulpennya erat-erat. Menatap layar komputer yang berkedip kosong. Lalu kembali melihat ke arah ruang kubus Fela. Beberapa detik, lalu menghela napas.
"Sepertinya manajer dapat beban," ujar Siska yang ternyata melihat ke arah Fela juga.
Mirin dan Bimo menoleh.
"Apakah akan berpengaruh pada kita?" tanya Bimo cemas.
"Bisa. Karena W-corp adalah klien utama. Kita mendapatkan keuntungan banyak dari mereka kalau berhasil, tapi kalau tidak ... Itu berbahaya," ujar Siska.
"Yah, ini enggak asyik. Apa karena kepala pemasaran yang baru dikenalkan itu?" tanya Bimo yang sudah tahu tentang orang baru di W-corp.
"Benar. Aku enggak suka orang baru, karena kita jadi harus adaptasi lagi. Kadang mereka susah kadang enggak. Repotnya kalau dapat orang yang susah," lanjut Siska.
"Bukan berarti aku enggak suka kamu ya, Kenzo," ujar Siska tiba-tiba klarifikasi. Karena Kenzo kan orang baru disini.
Kenzo yang ikut mendengarkan hanya tersenyum. "Ya. Aku tahu Kak Siska baik, kok."
"Benar. Aku itu baik." Siska langsung setuju. Bimo mencibir.
"Semoga aja orang baru ini tidak menyulitkan kita," kata Mirin memberi kata semangat yang positif.
"Semoga aja," sahut Siska.
Mirin berdiri sambil mengambil map. Lalu berjalan menuju ke ruang kubus. Kenzo memperhatikan.
Tok! Tok!
Fela yang sedang memijit pelipisnya mendongak. "Masuk."
Pintu terdorong dari luar. "Hai," sapa Mirin sambil masuk dan menutup pintu segera.
"Ada apa? Kamu bawa laporan?" tanya Fela karena melihat map di tangan Mirin.
"Bukan. Ini hanya alibi saja." Mirin mendekat dan duduk.
Fela mengerjap tidak paham.
"Siska dan Bimo lagi bahas kamu," ujar Mirin memulai.
"Karena aku memarahi Bimo soal kopi?" Fela ingat terakhir itu yang ia bicarakan.
"Kopi?" Mirin heran.
"Bimo menyuruh Kenzo membuat kopi. Jadi sedikit beri dia nasehat. Aku tidak mau ada pembullyan dalam divisi ku," tegas Fela.
"Oh, itu. Itu Kenzo sendiri yang menawari mereka," ungkap Mirin. "Aku juga ditawari tapi enggak mau. Itu bukan dibully. Kenzo aja iseng mau bikinin minuman mereka. Mungkin karena sejak kamu meeting dengan W-corp agak lama, jadi dia sibuk nyariin kamu."
Fakta ini baru di dengar Fela. "Jadi bocah itu sengaja berkeliaran disana karena mencari aku?"
"Kenzo?" Mirin mengerjap. Dia yang awalnya ingin bicara soal kepala pemasaran yang baru, urung.
"Benar." Fela menghela napas. "Saat aku bicara dengan Dion, dia ada disana."
"Dion mantanmu? Dia ada di kantor kita?" Mirin terkejut.
"Ya. Dia direktur pemasaran W-corp yang baru."
"Jadi yang aku dengar itu memang Dion mantanmu," ujar Mirin tidak percaya. Fela mengangguk malas. "Kamu gimana?"
"Apa?" tanya Fela cepat.
"Kalian kan baru saja gagal menikah. Lalu bertemu dengan cara begini."
"Aku tidak apa-apa. Ya, meski aku masih sakit hati aku tidak apa-apa." Fela menegaskan.
Fela diam seraya melihat ke kaca buram. Dia tidak pernah mengerti. Jika memang tidak sudah tidak ada cinta, bukannya lebih baik pisah dan tidak membuat rencana menikah.
"Yang bikin aku sedih adalah ibu," kata Fela melihat ke arah Mirin.
"Ada apa?"
"Aku belum memberi tahu ibu."
Mirin menatap Fela.
"Aku tidak bisa bilang pada ibu kalau aku gagal menikah." Wajah Fela terlihat sedih. Lebih sedih dan sakit daripada ketika membicarakan Dion.
Bibir Mirin bungkam. Dia paham itu.
"Pria seperti Dion itu kenapa sih bisa berpikir untuk selingkuh? Bukannya sudah berencana untuk menikah ...," ujar Mirin menyesalkan.
***
Langit mulai menggelap. Meskipun tidak ingin, Fela harus ke rumah ibu. Dia harus bisa membuat alasan kenapa acara tunangan yang direncanakan berakhir ke pelaminan ini, tidak jadi diteruskan.
Roda berjalan pelan ketika tiba di lampu lalu lintas.
Tok! Tok!
Pintu kaca diketuk seseorang. Fela menoleh sebentar, lalu kembali menoleh ke depan. Ia merasa tidak kenal.
Tok! Tok!
Kaca kembali diketuk. Fela menoleh dengan kesal. Pria yang naik sepeda motor besar itu melambaikan tangannya.
Alis Fela mengerut merasa pria itu aneh. Namun saat tangan pria itu membuka kaca helm full face-nya, Fela sadar kalau itu si bocah. Fela melempar tatapan tajam dan melihat ke depan lagi. Lampu hijau menyala. Fela menginjak pedal gas.
Ternyata bocah itu mengikutinya. Buktinya ia selalu berada tepat di samping mobilnya.
Fela mengeraskan rahangnya. Ia mencoba menambah kecepatan, berharap bisa meninggalkan motor besar itu di belakang, tetapi Kenzo seolah menempel seperti perangko. Bocah itu tidak hanya mengikuti, tapi sengaja memposisikan motornya di titik buta kaca spion Fela.
Tok! Tok!
Suara ketukan itu terdengar lagi saat Fela terpaksa berhenti di lampu merah berikutnya. Kali ini suara knalpot motor Kenzo yang menderu rendah terdengar sangat mengganggu di telinga Fela yang sudah pening.
Fela menurunkan kaca jendela sedikit, cukup untuk melampiaskan kekesalannya. "Kenzo! Berhenti membuntuti mobilku! Apa yang sebenarnya kamu mau?"
Kenzo tidak tampak takut sedikit pun. Ia justru mematikan mesin motornya, membuat suasana di antara mereka menjadi lebih tenang meski suara bising kendaraan lain tetap beradu.
"Fela, aku tidak membuntuti. Jalur ke rumahku memang lewat sini. Kebetulan saja kita satu arah," elak Kenzo.
Lidah bocah ini sungguh flexible. Di kantor dia memanggilnya senior, jika berdua dia menyebut namanya saja tanpa embel-embel sapaan hormat. Fela awalnya meras aneh kini biasa saja. Lagipula ia tidak bisa meminta bocah ini mengikutinya karena pasti dia akan melakukannya lagi. Seperti mereka dalam umur yang sama saja.
"Jangan berbohong. Kamu tadi sempat berbelok ke arah yang salah sebelum akhirnya memotong jalanku," desis Fela tajam.
Kenzo terkekeh kecil, suara tawanya terdengar renyah di balik helm yang sudah ia gantung di stang motor.
"Oke, aku tertangkap. Baiklah, aku memang sengaja mengikuti. Kamu tadi terlihat sangat kacau saat keluar kantor. Aku tidak tenang membiarkan kamu menyetir dalam kondisi seperti itu." Kenzo bicara seadanya.
"Aku sudah dewasa, Kenzo. Aku bisa menjaga diriku sendiri," sahut Fela sinis. Ia menatap lurus ke depan. Mencoba menghindari tatapan mata Kenzo yang intens. "Jangan bicara padaku sesantai itu."
"Kenapa?"
"Umur kita beda. Aku lebih tua darimu."
"Meskipun begitu, kita sudah melakukan hal yang sama waktu itu," ujar Kenzo sengaja. Pasti itu soal malam seranjang.
Fela memelototkan matanya. "Jangan mulai, bocah. Kamu benar-benar sudah kelewatan."
"Namaku Kenzo. Bukan hanya seorang bocah," ucap Kenzo sambil tersenyum manis
Fela menipiskan bibir meremehkan.