NovelToon NovelToon
Miss Truth

Miss Truth

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Perjodohan / Tamat
Popularitas:42.8k
Nilai: 5
Nama Author: HANA NH. asuna

UPDATE SESUAI WAKTU SENGGANG HANA
Ziva adalah gadis berusia 16 tahun yang memiliki trauma pada laki-laki. Karena suatu alasan, membuatnya rela untuk bersekolah di Sekolah biasa yang penuh dengan laki-laki.

Namun, ibunya melakukan perjanjian menikah untuknya dan sayangnya, ia menerimanya karena salah paham.

Pernikahannya pun terjadi, dan penculikan langsung dialaminya, ibunya dibunuh. Suatu keanehan ditemukannya setelah pernikahan, yang belum pernah diketahuinya sejak dahulu.

Apakah Ziva akan mencaritahu semua keanehan ini? Apakah ia akan sembuh dari traumanya? Dan, apakah ia bisa mencintai suami yang dinikahinya karena salah paham?
Atau ia malah membencinya?

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Ikuti terus cerita Halo Tunder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA NH. asuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. HENTINYA BADAI ES ( PART2 )

"Sah!" semua keluarga dekat dua keluarga yang telah menyatu itu mengesahkan penyatuan dua insan muda itu.

Tetapi, sang mempelai wanita masih dipenuhi kekalutan dihatinya. Ia masih ingin bertanya, apakah pengorbanan yang dilakukannya benar? Atau ia hanya suudzon dengan alasan yang timbul secara misterius dipikirannya waktu itu? Apakah ia harus bertanya tentang alasan uminya rela menyerahkannya? Tapi, itu pasti akan menyakiti perasaan ibunya karena berfikir ia tidak ikhlas.

Ziva masih dalam renungannya ketika semua mata menatap ke arahnya untuk berpindah duduk di sisi Sulthan. Ia bahkan tidak sadar dengan pandangan keluarganya yang berubah curiga melihatnya merenung seolah menyesali keputusannya.

Namun ia segera sadar ketika tangan hangat dan kecil mengelus pipi tembamnya. Pandangan matinya pun buyar dan mencari asal sentuhan hangat di pipinya. Tangan ibunya yang keriput, tidak berdaging lagi, hanya menyisakan keriput yang menyayat hati.

"Nak, ayo!" pandangan ibunya sangat hangat. Senyuman dan pandangan mata ibu, membuat matanya berkaca.

"Umi!" serunya. Menyentuh tangan ibu yang ada di pipinya. Memandang mata ibu yang terus saja menelan air matanya.

"Ayo Ziva!" kejut momy. Membuyarkan keharmonisan dari ibu dan anak itu.

Mata Ziva kini beralih pada momy, tangan momy yang menunggu Ziva untuk menggenggam tangannya. Ziva hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum keterakhir kalinya sebelum melangkah ke sisi Sulthan pada ibunya.

Tidak ada yang tahu, bahwa itu akan menjadi senyuman terakhir bagi Ziva. Karena semua sudah ada yang mengatur dan tiada yang tahu, kecuali author.

Kaki-kaki Ziva berjalan melangkah perlahan dengan dijinjing oleh momy. Tetapi, semakin ia berjalan mendekat ke meja arah Sulthan, semakin tercium aroma rendang khas dari kampungnya, kota Pariaman, Padang. Perutnya bergemuruh, mencium aroma makanan favoritnya yang selalu menggoyahkan imannya.

Dan setelah duduk di sisi Sulthan, aroma rendang itu sangat jelas. Ternyata meja hidang terletak dekat dengan meja ijab Kabul. Pandangan matanya terus melarikan diri ke setiap hidangan yang sebagiannya adalah makanan favoritnya.

Sebelum ayahnya berdehem untuk memfokuskannya, mungkin Ziva akan selamanya berenang dalam nafsu makannya yang terus meronta.

Bola matanya yang hitam pekat sedang memandang ayah tercinta, sedang mencoba fokus dari rendang dan gulai gori yang harumnya selalu menyapa hidungnya yang memang belum dibolehkan makan sejak tadi malam.

Untunglah, makanan-makanan itu membuat gadis belia gendut itu teralih dari pobia pada laki-laki. Ia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Sulthan yang ada disisinya, sedang memperhatikannya. Bahkan tertangkap dari kamera, Sulthan menatap Ziva tanpa kedip.

Tetapi, sepertinya Ziva mulai sadar, ketika matanya dan mata Sulthan bertemu. Ziva kikuk. Bau rendang itu tak lagi membiusnya untuk tetap tenang.

Setelah lama berselang, pertanyaan yang seperti sidang itu dimulai. Dan berakhir dengan baik, tanpa hambatan sama sekali dari Ziva ataupun Sulthan.

Namun hal yang ditakutkan akan segera menyambut kuduknya. Yaitu ketika ia harus menyalami tangan Sulthan dengan tangannya. Matanya menatap Sulthan di hadapannya yang terus menunggu, menunggu balasan tangan Ziva untuk menyalaminya.

Tangannya mulai terasa pegal, sudah sekitar 30 detik dan Ziva tak kunjung menyambut tangan Sulthan untuk diciumnya.

Ayahnya kembali berdehem, dan membuat kode. Ziva menoleh kembali menatap Sulthan dan mengindahkan kode ayahnya.

Kini, Sulthan dalam dilema besarnya, apakah ia akan mencium kening Ziva? Atau tidak? Tangannya bergerak pelan, memegang kepala Ziva. Wajahnya semakin mendekat pada wajah Ziva. Mata mereka saling bertatapan.

Tatapan Sulthan yang dalam, terkesan sangat romantic. Dan tatapan polos Ziva yang terkesan seperti bayi besar. Hidung Sulthan yang mancung, mendarat di kening mungil Ziva. Sulthan menghirup keningnya. Bukan dengan kecupan, tetapi ciuman kening dari hidung yang terkesan murni tanpa ada hasrat nafsu.

Dan Ziva, matanya yang terkejut karena ciuman hangat Sulthan. Ia sangat terkejut. Tangannya bergetar hebat di bawah sana. Ia tak bisa bergerak, hanya bisa pasrah. Matanya bergerak ke atas, menatap Sulthan yang menghirup bau keningnya.

...***...

Malam pernikahan telah usai. Semua sanak saudara dari berbagai daerah sudah mulai berpulangan. Yang tinggal di rumah megah itu hanyalah nenek dan kakek Sulthan, yaitu ibu dan ayahnya momy. Sementara nenek kakek dari ayahnya sudah meninggal sejak lama.

Kakek Ziva dari ibu dan ayahnya sudah meninggal, tetapi nenek dari kedua orangtuanya masih hidup dan hadir dipernikahannya. Sekarang, para tetua itu tinggal di rumah megah milik keluarga Sulthan. Tidak salah jika rumah itu disebut megah, karena rumah itu memiliki 4 tingkat. Tingkat pertama adalah ruang tamu, dapur, taman, kamar mandi utama, 4 kamar pembantu rumah tangga, dan kebun. Tingkat kedua ada kamar momy dan ayah, kamar Sulthan, kamar Ziva, kamar nenek dan kakek. Dan di lantai 3 ada 5 kamar tamu yang dibersihkan setiap harinya. Dan tingkat 4 paling atas adalah kolam renang outdoor yang sudah lama tidak diisi airnya, dilengkapi dengan beberapa alat gym, dan kursi santai.

Kemudian desain rumah itu cukup unik, desain rumah yang mirip dengan rumah di era 90-an. Namun dengan sedikit lagi sentuhan kemodern-an. Hal itu terlelak pada bagian jendela yang besar dan lebar, seperti gaya bangunan milik pemerintahan Belanda. Kemodern-annya terlekat pada lampu gantung yang berupa Kristal, beda dengan gaya Belanda yang lampu gantungnya masih berupa lilin gantung, kemudian sofanya bergaya casual. Cat dindingnya berwarna kream, dihiasi dengan warna emas disetiap pinggiran plafonnya.

Dengan tenda putih dan, hiasan dinding yang masih terpasang rapi tanpa perubahan. Semua keluarga berkumpul di ruang tamu, lantai satu. Mulai dari nenek kakek Sulthan, nenek-nenek Ziva, momy dan ayah, umi dan abi, Kania dan dr. Hadji, Alya dan Mehmed, juga Sulthan dan Ziva.

Mereka semua duduk diatas sofa coklat berloreng kream itu.

Semua mata menatap pada pengantin baru itu. Ziva dan Sulthan yang sama sekali tidak terlihat mesra. Ziva yang duduknya diapit kedua neneknya dan Sulthan yang duduk di kursi tunggal. Terutama nenek dan kakek Sulthan yang sudah sangat merindukan suara tangisan bayi di rumah megah yang tanpa kehangatan itu.

Apalagi hanya Sulthanlah yang bisa memberikan mereka harapan kebahagiaan kecil itu. Karena, bu Vina Julaiha adalah anak tunggal. Ia memiliki 3 anak. Yang pertama adalah Muhammad Rifki, yang sudah diusir oleh ayah dari rumah, anak kedua adalah Muhammad Sulthan Assauqi, dan Najwa Sabila, sudah meninggal. Hanya Sulthan yang mereka percaya bisa melanjutkan garis keturunan keluarga mereka.

Kini, nenek dan kakek Sulthan merasa sangat heran dan bingung.

“Nak! Kenapa, kenapa kamu gak duduk di samping Sulthan?" Nenek Sulthan sangat gelisah. Ia ingin secepatnya melihat keluarga baru dalam keluarga mereka.

Ziva termangu dengan pertanyaan nek Kembang, Neneknya Sulthan. Alisnya naik keduanya, tak tahu harus menjawab apa dari pertanyaan nek Kembang yang tak bisa diprediksinya.

"Em, apa Ziva harus duduk di samping bang, Sulthan?" Ziva masih ragu dan asing memanggil nama Sulthan. Nek Kembang dan kek Rata, Kakeknya Sulthan, sangat terkejut dengan jawaban serta reaksi Ziva. Sangat aneh bagi mereka.

"Harus, Nak! Nenek dulu waktu baru menikah dengan kakek kalian, diusia nenek masih 14 tahun, nenek bahkan duduk di pangkuan kakek. Dan diusia nenek 15 tahun, momy kalian lahir. Dan kalian, masa kalian masih seasing ini?" nek Kembang seolah tak terima dengan jarak Ziva dan Sulthan.

Momy terus menatap nek Kembang sejak nek Kembang mulai bertanya. Kini, ia sedang berjalan menghampiri nek Kembang.

"Bu, ada sesuatu yang mau Ina bicarakan. Ayo kita ke teras, Bu!" bu Vina atau momy berbisik pada nek Kembang.

Nek Kembang menatap wajah momy yang menghindari pandangannya. Momy sungguh tahu apa yang sangat diidamnya oleh ibunya yang sudah menua. Ia ingin segera menggendong bayi kecil dari cucunya.

Mereka berdua berjalan hingga ke teras.

"Kenapa, Ina? Ada apa ini? Apa kamu belum ngajarin anak-anak itu caranya? Kalau begitu, apa ibu gak akan bisa menimang anaknya Sulthan sebelum ibu mati?"

"Bukan begitu, Bu. Hanya saja, ini belum waktunya bagi mereka. Mereka masih sekolah," belum selesai perkataan Vina, nek Kembang sudah memotong.

"Jadi kapan waktunya? Mau nunggu sampai ibu mati? Baru kamu mau mengajarkan mereka berhubungan?"

"Bukan, Bu. Tolong sabar dulu, Ina belum selesai bicara. Mereka berdua itu hanya menikah sebagai formalitas, masalah mengenai hubungan mereka itu urusan belakangan setelah Ziva lulus dan bersedia. Saat ini, tolonglah ibu anggap Ziva sebagai cucu ibu. Anggaplah Ziva itu, sebagai pengganti Najwa."

"Apa! Kamu mau buat ibu sakit jantung, Ina? Kenapa kamu rela melakukan ini? kamu pikir pernikahan itu Cuma main-main?"

"Ibu! Tolonglah! Hanya ini yang Ina mohon dari ibu. Jika saatnya tiba, ibu juga akan bisa mendengar suara tangisan bayi kecilnya. Tetapi bukan saat ini, ini hanya masalah waktu, biarkanlah waktu yang menyelesaikan."

Nek Kembang hanya pergi, melangkahkan kakinya melewati ruang tamu, dan langsung menaiki tangga yang bentuknya seperti spiral dengan langkah lemas. Seluruh keluarga sungguh ingin tahu, apa yang dibicarakan oleh momy dan nek Kembang.

...***...

1
HANA.NH
up lagi setelah sekian lamanya
Yoanita_Situmorang
ditunggu kelanjutannya thor🔥
HANA.NH: iya, kak. makasih, sudah terus menunggu.
total 1 replies
Bang Regar
👍
R.F
2 like hadir. cemungut. like balik yw
MayaTika Channel
Terima Kasih Thor sudah menghibur . Adem bacanya kalo suami istri sama" saling ngerti gtu 🥺
HANA.NH: Ulu-ulu, maacih banyak komennya, kak. Seger bener kek abis minum extra jos👍👍
total 1 replies
Komah Xyamat
semoga ziva sama sultan bisa dipersatukan kembali dan bahagia. 😁😀 lanjut kaka aku tungguin nih jangan lama2 kaka semangaka (semangat kaka)
HANA.NH: aamin kk
total 1 replies
Ipah Cakep
penyelidikan di mulai
HANA.NH: eheee....😁
total 1 replies
Ipah Cakep
wajan siapa sih Thor? pa pernah suka ama ziva?
Ipah Cakep: kok bisa baek bgt?
total 3 replies
R.F
semangat kaka.like. like balik ya
HANA.NH: makasih kkk, Hana comeback ya
total 1 replies
Heni Lestari
hai salam kenal aku Heni lestari mapir juga ya kak ke novel ku kisah cintaku dengan adik kelas ku aku juga dah like kak sampai 6 back y author 😂
Ipah Cakep
auto mewek 🤧😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Ipah Cakep
wajan?
Ipah Cakep
astaghfirulloh.. kaget
Ipah Cakep
Kaya itu hati yg tulus
Navizaa
lanjutt kak
HANA.NH: iya kk, makasih❤❤❤
total 1 replies
Susi Ana
like, mampir ya
HANA.NH: iya kk, Hana mampir ya
total 1 replies
R.F
semangat up.like like balik ya
HANA.NH: iya kkk, Hana mampir Ya... makasih karena udah mampir
total 1 replies
Ipah Cakep
Alhamdulillah
Ipah Cakep
Sahabat selamanya 🥰🥰🥰
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim 🥵🥶🤧🤒🤕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!