NovelToon NovelToon
Same But Different

Same But Different

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Trauma masa lalu / Teen School/College / Teman lama bertemu kembali / Bullying dan Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kanza Hann

Isya sadarkan diri dalam kondisi amnesia setelah mengalami kecelakaan ketika studi wisata. Amnesia itu membuat Isya lupa akan segala hal yang berkaitan dengan dirinya, bahkan banyak yang menilai jika kepribadiannya pun berubah. Hari demi hari ia jalani tanpa ingatan yang tersisa. Hingga pada suatu ketika Isya bertemu dengan beberapa orang yang merasa mengenalinya namun dengan identitas yang berbeda. Dan pada suatu hari ingatannya telah pulih.

Apa yang terjadi setelah Isya mendapatkan ingatannya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanza Hann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

011 : Keahlian yang Berubah Menjadi Kelemahan

Di jam istirahat kali ini Isya lebih memilih pergi ke perpustakaan daripada makan siang di kantin. Ia pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan soal remidi ulangan fisika sembari mencari buku referensi di sana. Dasar-dasar rumusnya saja sudah lupa apalagi dalam mengaplikasikan rumus ketika menyelesaikan soal, tentu saja bukannya menghasilkan sebuah jawaban tapi lebih mengarah pada jalan buntu yang ia dapatkan.

Isya mencari sebanyak mungkin buku referensi yang berhubungan dengan materi "Termodinamika". Setelah mengambil beberapa buku, Isya pergi ke ruang baca dan berniat langsung mengerjakan soal di sana. Kebetulan ruangan sedang dalam kondisi sepi sehingga ia dapat fokus menyelesaikan soal remidi, "Oke Isya kamu pasti bisa! Semangat!"

Sepuluh menit berlalu belum ada satupun soal yang Isya selesaikan. Ia masih sibuk membolak-balikkan halaman buku guna mencari rumus yang sesuai dengan soal, "Huft... susah juga ternyata! Rumusnya pakai yang mana coba?" Isya terlihat sangat kebingungan. Menentukan rumus untuk dipakai saja sudah kesulitan. Apalagi menyelesaikan soal dengan benar?

Soal remidi itu harus dikumpulkan paling lambat besok pagi. Meski jangka waktunya masih panjang, Isya tidak yakin dapat menyelesaikan semua soal itu sendiri. Di jam istirahat ini saja ia sempatkan pergi ke perpustakaan mencari referensi lain dengan harapan dapat menyelesaikannya secepat mungkin. Karena jika soal remidi itu dikerjakan di rumah pastinya buku referensi yang ia miliki tidak sebanyak di sini. Meski sudah banyak buku referensi pun tetap saja tidak membantu. Memang kemampuannya dalam materi yang berkaitan dengan rumus dan perhitungan sangat payah.

Isya putus asa karena merasa tidak mampu menyelesaikan soal remidi fisika yang ia terima, "Aku harus bagaimana?" kini kepalanya tergeletak lemas di atas meja. Sejenak memejamkan mata sepertinya dapat membuat isi pikiran menjadi lebih tenang. Tiba-tiba ada yang mengetuk meja tempat Isya menyandarkan kepalanya.

Tuk tuk tuk...

Isya terkejut dan langsung bangun. Terlihat jelas Haikal tengah berdiri tepat di sampingnya sambil membawa susu stroberi di tangan kanannya. "Haikal?" hal yang pertama kali terucap oleh bibir Isya saat melihat laki-laki itu adalah menyebut namanya.

"Hai! Tadi aku lihat kamu nggak ada di kantin dan ternyata ada di sini. Kamu sudah makan?"

"Belum. Tapi aku masih kenyang karena sudah sarapan tadi pagi," jawab Isya.

Haikal duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Isya. Kemudian, ia memberikan susu stroberi yang sengaja dibeli untuk gadis itu. "Ini susu stroberi kesukaanmu, minumlah!"

Isya menerimanya dengan senang karena kebetulan ia sudah haus dari tadi namun malas beranjak dari tempatnya sekarang, "Terima kasih."

Pandangan Haikal beralih ke atas meja yang dipenuhi dengan buku-buku fisika, "Kamu membaca semua buku ini? Wah sepertinya kebiasaan lamamu sudah kembali!"

"Aku tidak membaca semuanya, hanya mencari rumus untuk mengerjakan soal remidi ulangan fisika ini!" jari telunjuk Isya mengetuk lembar soal di depannya.

Haikal tidak percaya jika Isya mendapat soal remidi, karena selama ini semua nilainya selalu sempurna. "Kamu remidi ulangan fisika? Masa sih? Bercanda ya?"

"Ih beneran! Nih lihat saja sendiri kalau nggak percaya!" Isya menyodorkan soal remidi miliknya kepada Haikal sebagai bukti. Haikal menerima soal itu, lalu sekilas ia membacanya. "Tapi bagaimana bisa kamu remidi? Memang berapa nilai yang kamu dapatkan tadi?"

"Untuk nilai jangan ditanya! Yang pasti tadi itu nilainya jauh di bawah batas tuntas. Dasar-dasar rumusnya saja aku lupa apalagi mengerjakan soal sampai selesai, ya tentu saja aku tidak bisa!" jawab Isya sambil cemberut.

Melihat pacarnya yang sedang cemberut, Haikal tersenyum. Ia pun berencana memberi sedikit motivasi. "Oh begitu rupanya. Maklum lah, sekarang kondisi ingatanmu kan belum pulih. Jangan terlalu dipaksakan! Nanti kalau kondisimu sudah baik seperti sebelumnya pasti kamu tidak akan kesusahan dalam menyelesaikan soal-soal seperti ini, karena kamu ahlinya dalam materi rumus dan perhitungan. Jadi tetap semangat ya!"

"Aku ahli dalam materi rumus dan perhitungan? Mana ada? Aku rasa itulah hal yang paling sulit untuk aku kuasai," Isya sepenuhnya menyanggah pendapat Haikal mengenai keahlian dalam dirinya yang dirasa mustahil.

Haikal menyarankan suatu ide supaya Isya dapat membuktikan sendiri apakah perkataannya tadi benar atau salah. "Begitukah? Coba lihat saja rapot atau nilaimu di kelas 1 kemarin! Semua nilaimu bagus, termasuk juga nilai mata pelajaran yang berhubungan dengan perhitungan. Sampai di rumah coba cari dan lihat sendiri kalau tidak percaya!"

"Oke, sepertinya aku memang perlu mengetahuinya!" Isya pun juga terpikirkan sebuah ide. Ia mulai memanggil nama pacarnya dengan nada lembut nan manja, "Haikal sayang..."

"Ada apa?" Haikal mulai merasakan suatu hal mencurigakan dari seringai nakal pacarnya.

"Bisa bantu aku mengerjakan soal ini? Hoo... kamu kan sangat pandai pasti mudah kalau mengatasi soal seperti ini! Bisa ya? Bisa ya? Ayolah!" Isya berusaha keras merayu Haikal dengan wajah imut agar mau membantu mengerjakan soal remidi untuknya.

Haikal mencubit gemas hidung gadis cantik nan imut yang tengah merayunya, "Kamu coba merayuku? Nakal sekali kamu!"

"Tidak! Aku hanya coba meminta tolong," ucap Isya sembari berkedip genit dan menggerak-gerakkan bahu dengan irama manja.

"Tanpa kamu bersikap seperti itupun aku pasti akan membantumu," ujar Haikal.

Plak...

Isya menampar keras pundak Haikal karena dirasa usahanya tadi sia-sia dan memiliki kesan memalukan. "Kenapa kamu malah memukulku?" Haikal mengelus-elus pundak yang terasa panas akibat tamparan tadi. "Seharusnya kamu bilang dari awal jika akan membantuku! Jadi aku tidak perlu..." ucapannya terhenti karena terlalu malu untuk menyebut kalimat selanjutnya.

"Tidak perlu merayuku? Begitukah maksudmu?" Haikal menyambung kalimat Isya sesuai apa yang ada di pikirannya.

"Lupakan saja!"

"Oke oke. Kalau boleh tahu darimana kamu belajar merayu seperti itu? Tidak biasanya juga kamu bersikap manja seperti tadi." Haikal mulai penasaran dengan hal baru yang ia lihat dari pacarnya hari ini.

"Sudah kubilang jangan dibahas lagi, huh!" Isya memalingkan wajah seolah sedang kesal dan tidak ingin memberi jawaban pasti dari pertanyaan Haikal karena dia begitu malu untuk mengatakannya.

"Baiklah kalau kamu tidak mau jawab. Aku ngerti kok! Tapi yang penting jangan bersikap seperti itu di depan laki-laki lain ya! Mengerti?" saran Haikal barusan berhasil membuat wajah Isya kian memerah bak kepiting rebus. Ia kembali membuang muka supaya Haikal tidak langsung melihatnya. Namun, Haikal sudah lebih dulu menebak reaksi yang akan terjadi pada Isya dan hal itu pun membuatnya tidak berhasil menahan tawa, "Pfftt… hahaha..."

"Kamu lihat ke mana sih? Lihat ke sini dong! Aku akan mengajarimu cara menyelesaikan soalnya!" Haikal siap menggoreskan tinta pena di atas kertas kosong guna memperlihatkan cara penyelesaian soal yang berujung pada jawaban yang dibutuhkan Isya.

Perlahan Isya melihat lagi ke arah Haikal. Namun, bukannya fokus melihat cara yang dijelaskan, Isya malah lebih fokus melihat ke orang yang menjelaskan. "Hei kenapa kamu malah lihat aku? Kagum ya sama pacarmu ini yang sudah tampan, pandai lagi? Hehe..."

Isya kembali dibuat salah tingkah oleh pacarnya. "Jangan kepedean! Sudah lanjutkan saja penjelasanmu tadi!"

"Oke oke!"

Isya melihat cara yang diajarkan Haikal dalam menyelesaikan setiap soal. Sesekali dia mengamati wajah rupawan pacarnya yang tiada bosan untuk dipandang. Yang jelas Isya merasa sangat senang bisa memiliki Haikal yang selalu ada untuk membantunya setiap dalam kesulitan.

1
Nola
keren
Wy Ky
.
Protocetus
izin promote ya thor bola kok dalam saku
〈⎳ FT. Zira
like sub dan 🌹 untukmu kak Thor🫰🫰
〈⎳ FT. Zira
aku ninggalin jejak di chapter 1 dulu ya kak.. nanti baca secara berkala...

-One Step Closer-
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!